Team Red Bull KTM MotoGP (2017)

Setelah Suzuki dan Aprilia comeback tahun ini, mulai musim 2017 MotoGP akan kedatangan pemain lama yang kini turun sebagai factory team. Selamat datang tim Red Bull KTM MotoGP!

Shane Byrne 2005

KTM bukanlah pemain baru di MotoGP. Sepuluh tahun yang lalu pabrikan ini pernah bekerjasama dengan Team Roberts menghasilkan motor bernama Proton KR KTM yang dikendarai oleh Shane Byrne. Tapi sayang, tim ini hanya berhasil mengoleksi 1 poin yang didapat dari seri Laguna Seca.

Hanya setahun KTM berlaga di MotoGP, mereka memilih fokus ke proyek GP125 dan GP250, juga Moto3. Tetapi keinginan untuk berlaga di kelas tertinggi tetap ada di tim ini. Akhirnya pada pertengahan 2014, KTM mengkonfirmasi akan ikut serta di kelas MotoGP mulai musim 2017. Lalu kenapa 2017? Mungkin karena KTM ingin mempelajari data ban Michelin yang akan digunakan  MotoGP mulai musim 2016 besok.

Berikut ini adalah foto-foto motor KTM RC16 MotoGP yang berhasil diabadikan saat uji coba di sirkuit Red Bull Ring.






Terlihat fairing depan cukup kecil dan agak datar, mirip dengan Ducati GP15. Meskipun secara keseluruhan justru mirip Honda RC213V dipadukan lubang angin khas Kalex Moto2 2015. Desain buntut juga cukup unik, terlihat bongsor dan besar. Mirip buntu Ducati Desmosedici edisi awal 2003-2004'an. Tetapi secara keseluruhan desain motor ini masih terlihat kompak. Serasi dengan postur test rider Alex Hofmann.

Yang menarik juga adalah 'munculnya' Red Bull sebagai sponsor utama tim MotoGP. Terakhir kali  Red Bull tampil di Laguna Seca 2005 khusus untuk mendukung tim Suzuki MotoGP. Nah, berapa persenkah dukungan Red Bull ke KTM besok? Kalau support penuh, kemungkinan besar warna motor tim ini adalah biru tua dan logo Red Bull, plus aksen oranye khas KTM. Livery GSV-R ini bisa menginspirasi.

Laguna Seca 2005
Red Bull Suzuki MotoGP, Laguna Seca 2005

Atau kalau dukungan berimbang, mungkin logo KTM bisa lebih menonjol seperti ini.

Sketsa livery motor balap KTM

Nahh, apapun itu; musim balap 2017 sangat layak kita nantikan. Karena bukan cuma tim baru yang muncul, tetapi kemungkinan transfer pembalap yang cukup besar. Mengingat banyak pembalap top yang kontraknya habis di akhir musim 2016 nanti. (rz)

Analisis; Sirkuit Tercepat dan Terlambat di MotoGP (+)

Gak akan ada yang menyangka kalau sirkuit dengan trek lurus terpanjang di MotoGP, Circuit of the Americas (Austin) adalah sirkuit terlambat kedua di MotoGP diatas sirkuit Valencia. Hal ini menjadi catatan yang cukup unik mengingat hampir semua trek MotoGP yang dirancang oleh Hermann Tilke kecepatan rata-ratanya maksimal 171 km/h (Istanbul Park). Sirkuit Sepang sendiri termasuk sirkuit medium dengan kecepatan rata-rata 165 km/h. Berikut adalah data lengkapnya.
  1. 177.6 km/h         Phillip Island
  2. 173.7 km/h         Mugello
  3. 173.3 km/h         Rio Hondo
  4. 173.2 km/h         Assen
  5. 167.8 km/h         Aragon
  6. 166.7 km/h         Losail
  7. 166.3 km/h         Brno
  8. 165.3 km/h         Catalunya
  9. 163.7 km/h         Sepang
  10. 161.1 km/h         Indianapolis
  11. 161.0 km/h         Sachsenring
  12. 160.7 km/h         Le Mans
  13. 159.3 km/h         Jerez
  14. 158.6 km/h         Austin
  15. 154.4 km/h         Valencia (data 2014)
  16. 153.0 km/h         Silverstone (wet race, 173.3 km/h 2014)
  17. 147.5 km/h         Motegi (wet race, 163.2 km/h 2014)
  18. 146.6 km/h         Misano (wet race, 160.4 km/h 2014)
*Semua data adalah versi 2015, kecuali data sirkuit Valencia dan 3 sirkuit di musim ini yang menggelar wet race sehingga data 2014 juga ikut disertakan.

Dari data di atas terlihat, sirkuit-sirkuit dengan berkecepatan tinggi justru mampu menyajikan pertarungan yang menegangkan di musim ini. Phillip Island, Rio Hondo, Aragon, Losail adalah beberapa diantaranya. Sementara Mugello cukup terkenal dengan battle MM dan JL pada musim lalu.

Sirkuit ini tidak cocok untuk MotoGP!

Sebaliknya, dari data diatas juga bisa disimpulkan kalau sirkuit-sirkuit lambat, terutama Austin, sangat tidak menarik untuk dijadikan sebagai venue balapan. Dari 9 pembalap yang kompetitif di babak kualifikasi (total hanya berjarak 1 detik antara grid 1 dan 9). Tetapi pada saat race hanya tersisa 3 pembalap saja yang bisa battle di depan. 

Sirkuit Austin ini berkarakter stop-and-go dengan banyak tikungan lambat. 3 tikungan lambat yang menurut saya paling menyebalkan adalah tikungan pertama serta 2 tikungan sebelum dan sesudah backstraight. Seharusnya hal ini bisa dijadikan pertumbangan kalau race seri Amerika Serikat lebih baik diadakan lagi di Laguna Seca yang sangat menantang!

Sementara itu sirkuit lain dengan kecepatan yang cukup lambat, terutama di Eropa, masih lebih baik dibandingkan Austin. Karena berkarakter technical, bukan stop-and-go seperti di Austin. Fakta menarik seputar kecepatan sirkuit dan hubungannya dengan race yang akan disajikan, bisa digunnakan sebagai pedoman perancang sirkuit dalam bekerja. Karena MotoGP lebih suka dengan sirkuit yang cepat atau lambat tetapi technical. #saran


Remus-Gosser, tantangan terberat

PLUS: Menarik untuk dinantikan aksi di sirkuit Spielberg (Red Bull Ring) musim depan dimana sirkuit ini juga berkarakter semi-stop-and-go dengan dua tikungan yang cukup tajam.


Analisis Spesial; Rio Haryanto ke F1, Maka....

Dahaga balap mobil hampir terobati,,,

Jika Rio Haryanto ke F1 maka...

F1 bakalan tayang lagi di TV nasional Indonesia.
Masak iya sih aksi pembalap negeri sendiri gak ditayangin? Hampir 2 tahun tayangan F1 absen di TV nasional Indonesia, masyarakatpun kecewa. Tetapi dengan masuknya Rio ke F1, otomatis tayangan tersebut akan kembali lagi di TV nasional Indonesia. Biar makin afdol tayangin juga sesi kualifikasinya.

Penggalangan dana harus tetap dilanjutkan
Penggalangan dana harus tetap berlangsung meskipun Rio sudah gabung tim Manor. Belajar dari pengalaman Max Chilton (ex-rekan Rio di GP2 dan pembalap Marussia/Manor), bertarung di tim papan bawah dengan modal membawa dana sponsor gak akan bertahan lama. Kalau prestasinya gitu-gitu aja dan sponsor ngerasa rugi, dukungannya bisa dicabut. Maka mengantisipasi hal itu tentu harus ada dana cadangan untuk tahun-tahun kedepannya. Tentu dibarengi performa drivernya sendiri yang harus ciamik sehingga bisa dikontrak tim lain, sebagai test-driver pun nggak masalah.

Larisin dagangan milik sponsor Rio..
Yang biasanya pake oli A, B, C, sekarang mulai dibiasakan menggunakan oli Pertamina. Begitu pula untuk sponsor-sponsor lain yang sekarang ini masih abu-abu (belum jelas). Prediksi saya sih maskapai penerbangan, operator telekomunikasi, industri makanan dan industri pertambangan akan mendukung Rio di F1. Semoga saja.. amin.

Perlukah Indonesia bikin balapan F1?
Nggak usah mikirin hal-hal kayak gitu! Dananya gede banget dan gak ada efek apapun untuk Indonesia. Kalau gak bisa nyuguhin sirkuit ciamik macam Spa-Francorchamps, nasib Indonesia bakalan seperti Korea dan India. Apalagi kita sudah kalah sama Malaysia dan Singapura. Mending dukung pembalapnya aja tampil di F1. Lumayan kan kalau pembalapnya bisa menang di Malaysia atau Singapura? hehe.

Spesial, Analisis & Komentar Pembalap Professional Mengenai Insiden Sepang 2015

Masih anget gak sih topic #SepangClash kemaren? Kayaknya dua hari berlalu orang-orang mulai meninggalkan topic itu. Hanya tindakan Iannone pagi tadi yang memposting fotonya bersama Rossi di podium, sebagai sampul Facebook, kembali ‘menggairahkan’ optimisme fans Rossi kalau ia akan ‘mendukung’ VR46 menjadi juara dunia. Entah apa yang akan ia lakukan di Valencia besok.

Grid spesial MotoGP Valencia 2015. Jajajajaja!

Next, saya agak miris dengan komen-komen ‘kasar’ pendukung Rossi di sosial media yang ditujukan untuk Marc, Jorge, Dorna, dan MotoGP. Mirisnya karena, banyak dari mereka orang Indonesia. Duh, semoga aja damai dan nggak bikin orang lain takut ya J

Jadi lebih afdol kalau kita lihat komentar dari pembalap-pembalap professional. Tentu bukan pembalap MotoGP (karena mungkin mereka tidak ingin bicara terlalu jauh yang justru memprovokasi, kecuali Lorenzo sih). Jadi saya memilih mengutip isi cuitan pembalap Superbike professional, khususnya British Superbike (BSB). Tetapi kenapa BSB? Karena menurut saya BSB adalah balapan terbaik selain MotoGP dan kultur kompetisi disana sangat menyenangkan),

Setelah saya telusuri, saya tertarik dengan 4 komentar dari Michael Laverty (ex-MotoGP), Josh Brookes (juara BSB 2015), Dan Linfoot (top rider Honda BSB), serta James Ellison (ex-MotoGP). Kita mulai dari Michael Laverty.

Marc broke the unwritten rule; always RESPECT those fighting for a Championship when you’re not. Vale got enraged and hung him out to dry – Michael Laverty

Ia menyebut kalau semestinya kita, sebagai orang yang tidak terlibat dalam perebutan gelar juara, tidak ikut campur ke dalam pertarungan seperti itu. Menurut Mlav, hal tersebut termasuk sebagai peraturan yang tidak tertulis dalam dunia balap.




Ia mungkin mencontohkan race BSB Brands Hatch final 2011 dimana ia ‘memberikan’ posisi keduanya untuk diperebutkan oleh kandidat juara musim itu, Tommy Hill dan John Hopkins. Ia sendiri akhirnya finish di posisi ke-4. Tentu saja ia tidak akan menyesal melakukan hal itu, karena yang terjadi kemudian adalah race super seru (salah satu race terseru dalam sejarah BSB) dan ia terlibat di dalamnya. Sebagai pecinta balap tentu ia sangat menyukai hal-hal seperti itu.

MM could’ve turned back & got up the inside but he stayed outside & continued to push on VR, then fell onto him, that dragged VR’s leg off. MM was riding like a dick to block VR. VR gave him looks of warning & MM din’t accept. You try ride on outside & catch, it’s what happens. - Josh Brookes

Next, Josh Brookes. Juara BSB terbaru ini sebenarnya mengatakan hal yang sama dengan yang saya kemukakan di review kemarin, hehehe. Vale memang out of line, tetapi jika Marc lebih cerdik; ia bisa mengambil jalur dalam yang kosong-melompong setelah Vale out. Vale sudah memperingatkan (dengan beberapa kali tolehan ke arah Marc) tetapi tidak ada respon. Jadilah insiden tersebut.

1 rider takes another out & 1 rider passes on yellow flags. Stick them both back of grid in VLC (Valencia) and let them race for championship, simples - Dan Linfoot

Dan Linfoot justru menawarkan sebuah solusi sederhana. Equal and fair. Race like a gentlemen. Spot on!

If you play with fire MM you’ll get burned! Hope VR can cut through the field at Valencia & fight for championship #GOAT - James Ellison

Kalau yang terakhir James Ellison, dia justru lebih frontal membela Rossi. Poin terakhir yang saya suka dari pernyataannya adalah The GOAT (the greatest of all time).

*********

Dari sekian banyak komentar pembalap professional BSB mayoritas tidak menyangkal kalau manuver Vale (melebar)  cukup berbahaya. Tetapi mereka juga menyayangkan respon Marc yang agak berlebihan (sehingga ia jatuh) dan penalty point yang membuat fans menjadi kurang nyaman dengan  MotoGP Valencia 8 November besok.


Untungnya kejadian tersebut terjadi pada kecepatan rendah… kata Troy Bayliss (rz)