Tampilkan postingan dengan label 2016. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2016. Tampilkan semua postingan

Spesial; Saatnya Mengganti Livery Untuk MotoGP 2017?

Ada satu hal yang unik, livery atau corak tunggangan tim-tim elit MotoGP 2016 sudah berumur sekitar 3 tahunan. Itu artinya, kalau tidak ada perubahan, maka selama 4 tahun kita disuguhi oleh livery yang gitu-gitu aja. Bosen gak sih?

Bosan jelas bosan, karena selain aksi di lintasan, penonton juga pengen melihat sesuatu yang baru di tunggangan pembalap (livery). Kalau jodoh kan bisa ditiru untuk tunggangan pribadi? Hehe

Livery Gen-M dengan model Dani Pedrosa

Livery Repsol Honda saat ini adalah 'generasi Marc Marquez' karena pertama kali diperkenalkan pada 2013. Ciri khasnya, tidak ada dominasi warna hitam (warna hitam hanya untuk beberapa detail saja). Warna cerah mendominasi bodi motor menggantikan livery 'generasi Dani Pedrosa' yang digunakan pada 2006-2012.

Livery Gen-D 2006 masih menggunakan nomor start di buntut motor.

Livery Gen-D 2012 dengan perubahan warna di buntut motor.


Kebetulankah? Repsol Honda mengupdate livery mereka saat mendapatkan dua rider Spanyol sebagai rookie mereka. Lalu, pakah mereka baru akan mengganti livery lagi kalau Dani pindah dan digantikan Jorge Lorenzo? #eh

#GarisBesar Livery Suzuki sejak 2014

Meski baru bertarung lagi di MotoGP dalam dua musim terakhir, tetapi livery Suzuki ini sudah ada sejak 2014 lho (riset). Livery tanpa sponsor seperti ini sudah bertahan selama 3 musim dan hanya terdapat beberapa perubahan minor (panel warna kuning) tiap musimnya. Sementara di masa yang sama (2003-2005), Suzuki memiliki dua desain livery berbeda. Time to change (& challenge)?


Sejak Stoner bergabung (2007), desain logo Marlboro berubah dengan
mengurangi warna putih (sebagai background) dan menggantinya
sebagai warna huruf.

#StonerEffect, Dominasi warna putih dan sedikit perubahan tone
warna merah.

Ducati mulai berubah dengan 'kembali' memakai lebih banyak warna putih dan tone warna merah yang sedikit berbeda sejak Casey Stoner pindah ke Repsol Honda (2011). Sejak saat itu livery Ducati berubah-ubah tiap musimnya tetapi menggunakan satu kombinasi warna yang menurut saya sangat monoton.

Movistar #1 tahun 2014

Yamaha juga mulai 'rese' sejak dapet sponsor dari Movistar. Mereka gak update tampilan motor mereka sejak 2014. Perubahan minor tidak cukup kuat untuk memberikan kesan baru yang lebih menarik. FIAT (2007-2010) juga melakukan hal yang sama, mempertahankan kelir yang hampir sama dalam 4 tahun. Tetapi FIAT mengeluarkan beberapa livery spesial yang sangat fenomenal. FIAT 500 (2 desain), Punto Evo, Abarth, dan livery pribadi untuk Vale (Catalunya 2008) dan Jorge (Valencia 2008). Sementara Movistar?

Movistar #2 tahun 2015

Movistar #3 tahun 2016. Tampak tidak ada perubahan berarti.

Saya sebenernya suka sama sponsor ini, terutama pas mereka bikin gebrakan livery baru dengan Honda Gresini 2005. Tampak lebih bold dan simpel, sebandinglah dengan Gauloises Yamaha pada waktu itu.

Livery 2014, sangat menarik melihat Vale dengan motor putih lagi.

Yamaha justru lebih kreatif saat mereka tidak mempunyai sponsor utama (2011-2014*), mereka mengupdate tampilannya setiap musim. Meski sama-sama menggunakan ciri khas warna Yamaha (biru-putih-hitam), tetapi desainnya sangat menarik. Livery favorit saya pada masa ini justru livery 2014, sesaat sebelum deal dengan Movistar terjadi. Bermain dengan warna tradisional pabrikan saat sedang tidak mempunyai sponsor juga dilakukan oleh Kawasaki. Hasilnya, meski selalu bermain dengan warna hijau, tetapi livery mereka selalu terlihat menarik.

Menurut saya, livery Movistar Yamaha saat ini kurang menarik karena tidak adanya keharmonisan antara warna biru-hitam-putih dan warna 'utama' yaitu hijau (logo Movistar & Monster Energy), Pemasangan warna saklek berurutan biru-hitam-putih berbeda dengan kombinasi warna di livery 2014*. Biru-chrome di muka, lanjut putih di samping fairing, biru, putih, biru, putih, hitam, putih lagi di bagian bawah. Terlihat lebih bertumpuk-tumpuk tetapi lebih harmonis.

Livery 'biru' terbaik Yamaha (1) Gauloises 2005 (2)  race blu 2011

Atau kalau mau lebih ekstreme, buat aja jadi dua warna (biru dominan & hitam bawah). Warna dominan jadi mirip era Gauloises Yamaha. Lebih bold dan sangar.

Pada akhirnya saya berharap ada sebuah perubahan yang cukup besar di MotoGP musim depan. Perubahan seperti ini lebih sering terjadi untuk tim-tim medioker sehingga sering luput dari perhatian. Pengennya sih tim-tim besar yang berubah, karena merekalah yang paling sering terlihat. Tetapi membaca sejarah (1) Repsol Honda mengupdate livery mereka saat ada pembalap spesial dari Spanyol yang bergabung, (2) Yamaha Racing mengupdate livery mereka lebih karena permintaan sponsor. Kasus kedua relatif lebih sulit,.. (rz)

Analisis; Tantangan Sebenarnya Dari Menggelar MotoGP Indonesia!

Ada sebuah kekhawatiran manakala Indonesia berhasil menggelar event MotoGP tetapi 'gagal' dalam tujuan sebenarnya menggelar event tersebut. Tujuan yang saya maksud adalah menampilkan kualitas motorsport terbaik dari dalam negeri (entah lewat prestasi pembalap atau industri terkaitnya) ke mata dunia. Karena saya merasa, berhasil menggelar event MotoGP bukanlah 'prestasi' tetapi tantangan yang benar-benar harus dijawab oleh negara penyelenggara tersebut.


Monlau Competicion, salah satu pelaku utama
industri balap di Spanyol.

Saat Spanyol kebagian jatah 4 Grand Prix dalam semusim, ada yang menyebut hal tersebut berlebihan dan tidak adil. Tetapi melihat bagaimana motorsport di negara mereka, khususnya di roda dua, dan bagaimana kontribusi mereka untuk MotoGP, Spanyol pantas mendapatkan hak itu. Begitu pula event di Italia, Perancis, Belanda, Jerman, Austria, Ceko, Australia, Amerika Serikat, dan Jepang; yang hampir selalu ada di kalender tiap dekadenya, seolah-olah tidak tergantikan, karena memang mereka pantas mendapatkannya.

Dari sekian banyak negara penyelenggara MotoGP, hanya Qatar yang belum mampu menjawab tantangan tersebut. Bisa dibilang Qatar hanya menyelenggarakan MotoGP sebagai ajang unjuk diri bahwa mereka, negara timur tengah pertama, negara kecil, yang mampu menyelenggarakan race mewah di malam hari. Meski begitu, jumlah penonton di sirkuit hanya sekitar 20,000 pasang mata dalam 3 hari event. Jumlah paling sedikit dari seluruh event MotoGP. Miris.


Saeed Al Sulaiti

Sebagai ujung tombak motorsportnya, Qatar mempunyai QMMF Racing Team yang berlaga di Moto2 dan beberapa rider yang dititipkan di tim World Superbike asal Eropa. Tetapi QMMF sudah tidak menggunakan rider asal Qatar dalam beberapa tahun terakhir, bahkan mereka tidak tercantum dalam provisional entry list Moto2 2017. Sementara itu, Saeed Al Sulaiti (Pedercini Racing/World Superbike), hanya mendapatkan 1 poin dari seluruh event WSBK yang ia ikuti pada 2016. Poin terendah yang diraih oleh rider yang membalap selama semusim penuh (mirip-mirip lah dengan prestasi Doni Tata, hehe).


Hafizh Syahrin

Ada yang lebih (atau jauh) lebih baik dari Qatar (tapi masih dibawah negara-negara lainnya), yaitu Malaysia. Prestasi mereka di MotoGP sangat gemilang sejak kemunculan Hafizh Syahrin dan Khairul Idam Pawi. Puluan championship point sudah dikantongi, termasuk dua kemenangan 'Super KIP' di Moto3 tahun ini. Prestasi yang sepertinya sulit ditandingi Indonesia (yang sekarang baru mengumpulkan dua poin saja via Doni Tata, hehe).


Khairul Idham Pawi

Selain prestasi pembalapnya, kita patut mencontoh komitmen Malaysia di Motorsport. Lihatlah bagaimana Petronas, Proton (Lotus), AirAsia, Caterham (Tony Fernandes), dan Sepang International Circuit berbicara banyak di motorsport dunia. Komitmen itulah yang membuat mereka berhasil menggelar 3 kejuaraan dunia dalam satu tahun (F1, MotoGP, World Superbike).

Baik tapi belum setara negara-negara lainnya. Yang saya maksud, rider berprestasi dari Malaysia tersebut dididik oleh kejuaraan di Eropa, bukan dari dalam negeri sendiri. Bandingkan dengan negara-negara lain yang mempunyai kejuaraan bergengsi seperti CEV (Spanyol, Portugal*, Perancis*), IDM (Jerman, Belanda*, Austria*), French SBK (Perancis), British SBK (Inggris Raya), MotoAmerica (USA), FX Superbike (Australia), dan MFJ Superbike (Jepang). Selain itu, banyak sisi historis dan industri terkait dengan motorsport yang berasal dari negara tersebut. Mulai dari pabrikan motor, alat keselamatan, minuman berenergi, bahan bakar & oli, hingga item-item lainnya.

Belum begitu tahu kejuaraan di Argentina, tetapi mereka mempunyai rider hebat kelas dunia seperti Sebastian Porto dan Leandro Mercado. Juga banyak sirkuit di negara tersebut, sepertinya jadi pusat kejuaraan balap motor di Amerika Latin. Begitu juga kejuaraan di Ceko yang sepertinya bekerjasama dengan negara-negara lain seperti Hungaria untuk membuat kejuaraanya sendiri.

Lalu, Indonesia mau seperti apa? Qatar, Malaysia, atau Spanyol (susah)? Hehe. Memang tujuan utama tentu menyelenggarakan dulu event-nya, baru mikirin hal seperti ini. Tetapi setidaknya ada progress sih. Progress nyata kalau motorsport kita berkembang dan berkelas dunia. Malaysia saja baru naik prestasinya, puluhan tahun sejak pertama kali menggelar GP. Itu juga dibarengi dengan komitmen yang kuat tadi.


Doni Tata (2005)

Sementara Indonesia, balik lagi, masih terlihat suram. Belum ada program yang benar-benar oke. Jujur, kekecewaan saya masih sangat besar dengan program Doni Tata (Yamaha 'From Zero to Hero' dan Federal Oil Moto2), dan Rafid Topan (Evalube QMMF Moto2) yang masing-masing hanya berjalan semusim dan bisa dibilang gagal.

Program yang ada sekarang mungkin akan lebih baik. Kadang merasa gemas saja, 'kapan mereka terjun ke MotoGP'? Mungkin tidak lama lagi, semoga. (rz)

Analisis; Bedah Karakter Sirkuit MotoGP Jakabaring (Terbaru)

Beberapa bulan yang lalu saya sempat membahas karakter sirkuit MotoGP di Palembang berdasarkan rancangan sirkuit yang beredar di media sosial. Tetapi ternyata rancangan tersebut bukanlah rancangan yang sebenarnya dan pada 30 Oktober 2016 kemarin muncul rancangan yang lebih meyakinkan. Kenapa rancangan pertama 'kurang meyakinkan'? Karena desainnya mempunyai layout 3D dan muncul tidak lama setelah rencana Palembang menggelar MotoGP dipublikasikan.

Nah, desain terbaru mempunyai layout 2D sehingga lebih bisa dipahami dengan baik mulai dari panjang trek dan karakter tikungannya. Dalam rancangan tersebut juga tercantum panjang trek dan beberapa informasi 'standar dari arsitek' terkait.

Rancangan Sirkuit MotoGP Palembang dari Hermann Tilke

Saya suka rancangan Hermann Tilke kali ini. Karena ia merancang sirkuit dengan lebih memprioritaskan kebutuhan balapan motor daripada balapan mobil. Hal itu bisa dilihat dari karakter sirkuit yang cepat dan tidak adanya trek lurus panjang yang dilanjutkan dengan tikungan patah-sempit khas Tilke yang kita temukan dalam 2 sirkuit 'motor' terakhirnya (Buriram World Superbike dan Austin MotoGP). Dengan layout huruf S kita bisa lebih mudah memperkirakan panjang trek dengan membaginya menjadi 4 bagian (masing-masing sepanjang 1,075 km. Layout trek yang sederhana dan cepat ini mengingatkan kita dengan layout sirkuit Rio Hondo, Argentina.

Nah, satu-satunya tikungan lambat adalah T13 (tikungan terakhir) dengan karakter yang mirip dengan salah satu kompleks tikungan di Aragon. Yaitu kompleks 2 tikungan dengan 'entry corner' yang lebih cepat. Jadi manuver late breaking baru akan efektif di antara T12-T13 (menuju T13) dan bukan saat menuju T12.

Lalu layout sirkuit membentuk huruf S dengan lintasan melengkung panjang dan stadium section di bagian sirkuit lainnya, mengingatkan saya dengan desain yang sama di Shanghai, Phillip Island, dan Jerez. Terutama di bagian trek melengkung, akan sangat menarik karena jika dilihat panjang trek di bagian tersebut bisa sekitar 1 km, Kemampuan rider merebahkan motornya dalam jarak yang panjang dan dalam kecepatan yang tentu saja tinggi, sangat dipertaruhkan di bagian ini.

Stadium section, lintasan melengkung, dan kompleks dua tikungan akhir akan ditambah kompleks tikungan pertama yang sepertinya sangat menyenangkan untuk dilihat. Mulai dari T1-T2 dengan radius yang cukup lebar dan dilanjutkan chicane cepat terlihat seperti interpretasi lain dari desain serupa di sirkuit Le Mans. Kalau di Le Mans kita melihat straight 450 m ditambah trek melengkung panjang (dua apex dengan panjang sekitar 400 m) ditambah satu chicane lambat. maka di sirkuit Jakabaring ini diubah dengan satu straight panjang plus dua tikungan cepat yang lebih pendek dan satu chicane yang lebih cepat. Kombinasi straight dan tikungan seperti ini sepertinya belum pernah dipakai di sirkuit manapun di dunia (sirkuit Navarra, Spanyol hanya mempunyai kemiripan di straight hingga T2 saja).

Menurut rencana, MotoGP Indonesia 2018 akan digelar pada bulan Oktober atau pada penghujung musim saat persaingan sedang panas-panasnya (semoga). Sementara MotoGP di sirkuit cepat (Phillip Island, Mugello, Rio Hondo, Assen) terkenal lebih menarik daripada sirkuit-sirkuit lainnya. Setidaknya itu adalah jaminan bahwa MotoGP Indonesia di Palembang besok akan sangat menarik untuk ditonton!

Review MotoGP 2016 - Peniru MotoGP 2006 Lagi!



Akhirnya benar-benar terbukti kalau MotoGP 2016 hampir seperti tiruan MotoGP 2006!

MotoGP 2006 adalah cerita tersendiri, sangat bersejarah, dramatis, dan tentu saja sangat menyakitkan untuk Valentino Rossi. Yang terjadi musim ini juga hampir sama, meskipun tidak ada unsur dramatis atau menyakitkan seperti MotoGP 2006. Yang lebih mirip justru musim lalu, Vale bisa saja juara dunia kalau Marc mampu menyalip Jorge di Valencia. Tapi spotlight MotoGP 2015 udah dicuri Sepang sih...

MotoGP 2006 diawali dengan perubahan drastis kapasitas mesin MotoGP yang akan digunakan mulai musim 2007. Beberapa pabrikan sudah mulai curi start pengembangan mesin atau motor 800cc di musim ini. Salah satu yang paling kentara adalah Yamaha, Suzuki, dan Ducati, tetapi korban paling parah dari proyek tersebut tentu saja Yamaha.

Beberapa kali Valentino Rossi gagal finish karena kecelakaan atau masalah teknis. Ia sempat tertinggal 51 poin di tengah musim meski akhirnya unggul 8 poin menjelang seri terakhir di Valencia tetapi justru kalah +5 poin di klasemen akhir karena ia crash saat lomba. Hal yang tentu saja sangat mengejutkan karena ia adalah pole sitter dalam balapan yang dimenangi oleh Troy Bayliss itu.

Ngomong-ngomong soal Troy Bayliss, ia adalah pembalap wildcard Ducati Marlboro yang tampil menggantikan Sete Gibernau. Musim 2006 adalah musim pertamanya di World Superbike bersama Ducati setelah 3 musim sebelumnya bertarung di MotoGP. Itu adalah kemenangan satu-satunya Bayliss di ajang MotoGP sekaligus menjadi orang ke-7 yang berhasil menjuarai seri MotoGP musim itu.

Nah, itu adalah terakhir kalinya dalam satu musim MotoGP mempunyai 7 pembalap berbeda yang menjuarai seri MotoGP. Dan akhirnya rekor tersebut dipatahkan musim ini, 8 pembalap menjuarai 8 race berbeda secara berurutan. Rekor yang sepertinya akan lebih sulit untuk dipatahkan lagi. Karena faktor cuaca dan permainan strategi ban lebih dominan dalam terjadinya rekor tersebut. Berbeda dengan MotoGP 2006 dimana kekuatan 3 mesin juara waktu itu (Honda, Yamaha, Ducati) sangat setara, tidak ada dominasi pada waktu itu.

Kembali ke kesialan Vale, itu adalah pertama kalinya Vale terserang secara mental sehingga dengan mudahnya jatuh saat posisinya sudah cukup aman untuk juara. Kalau tidak salah waktu itu ia jatuh di lap 5, ia start dari pole tapi tercecer 2 posisi dibelakang Hayden. Dari hitung-hitungan poin, Hayden tidak akan juara dunia meskipun finish 2 posisi di depan Vale. Karen kalaupun poin sama, Vale tetap akan menang karena juara seri lebih banyak.

Tapi keajaiban memang nyata. Vale crash dan hanya finish P13 (3 poin) sementara Hayden P3 (16 poin). Dari tertinggal 8 poin menjadi unggul 5 poin. Ironis sebenarnya, karena 5 poin adalah poin yang 'dicuri' Toni Elias dari Valentino Rossi di balapan sebelumnya (Estoril) hanya dengan selisih waktu +0,002 detik! Jadi bisa dibilang, Toni Elias adalah pahlawan Honda yang sebenarnya pada waktu itu. Ia 'menyelamatkan' Hayden yang justru crash dengan rekan setimnya sendiri, Dani Pedrosa.

Lalu apa yang sama? Saat pembalap mengunci gelar juara dunianya, rival terdekatnya (Valentino Rossi) pasti selalu sial. Itu terjadi pada Valencia 2006 (tentu saja), Motegi 2007, dan terakhir Motegi 2016. Tetapi berbeda dengan kejadian di Valencia, dua kejadian terakhir di Motegi lebih mirip. Sialnya Vale (dan Lorenzo terakhir ini) hanya mempercepat rival merayakan gelar juara dunianya. Sementara di Valencia 1000% adalah tentang keajaiban.

Di Motegi 2007, Casey Stoner memulai pestanya lebih cepat karena Vale tergelincir (dan finish P13 ) setelah mengganti motor. Perayaan yang harusnya terjadi di Australia, justru dimulai lebih cepat di Jepang, Ducati juara di kandang Honda. Bravo!

Musim ini terjadi lagi, meski musim ini lebih kompetitif, tetapi Vale dan Jorge kalah poin lebih banyak karena sering DNF; sementara Marc lebih konsisten mendapatkan poin maksimal yang mungkin ia raih. Dua crash untuk dua rider Movistar Yamaha tersebut tentu saja sebuah keajaiban yang membuat pesta juara dunia Marc Marquez dilakukan lebih cepat dan terjadi lagi di Jepang,

Saya kira tulisan ini sekaligus mengakhiri review MotoGP 2016. Karena mau apa lagi? Semua sudah berakhir. 3 seri tersisa akan lebih baik jika digunakan untuk memulai program musim depan. Hanya kelas Moto2 yang masih menarik karena belum ada juara dunianya.

Lalu, apalagi yang akan terjadi di musim depan? Dua musim terakhir hampir sama menariknya dengan MotoGP 2006, meskipun dengan skenario yang berbeda. Apakah musim depan terjadi dominasi lagi? Semoga saja tidak. Semoga MotoGP 2006 terulang lagi tetapi dengan skenario yang berbeda lagi!


**Ada satu lagi yang mirip ternyata. Saat Casey Stoner juara dunia 2011 di Australia, Vale juga crash saat race. Bedanya ya waktu itu Vale bukan rival utama Casey Stoner. Tetapi dari sisi 'cara yang sama', hal itu juga terjadi untuk Jorge yang crash sebelum balapan dan tidak start untuk Phillip Island 2011. Hal yang sama juga terjadi saat Dani Pedrosa crash di sirkuit yang sama setahun kemudian, Jorge Lorenzo langsung mengunci gelar juara dunia MotoGP 2012. Bisa sama gitu ya?

Review MotoGP Sachsenring 2016 - Cerita Misano 2015 & Beberapa Hal Menarik ke Depannya!

King of the Ring. Hubungan Marc dengan Sachsenring 'mirip' Vale dengan Mugello.
Anaehnya Malah Bukan dengan Sirkuit di Spanyol.

Saya gak mau nulis panjang lebar tentang review race MotoGP seri Jerman kali ini. Karena (kejadian kali ini) sama persis dengan race MotoGP San Marino musim lalu. Marc tampil nothing to lose, mengganti motornya lebih awal, karena ia tahu kalau kondisi trek akan sangat menguntungkannya kalau mengganti motor (dengan ban slick) lebih awal. Marc memang tampak kesusahan saat balapan dalam kondisi basah. Tetapi saat trek berangsur mengering, Marc adalah 'profesor' di kondisi tersebut.

Hal yang 'sama persis' juga dialami oleh Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo. Duo pesaing terdekat Marc tersebut tampil buruk (lagi) di Grand Prix basah kedua secara beruntun. Bahkan untuk Jorge, mood-nya sudah hilang sejak hari Jumat (mungkin). Saat race ia semakin kehilangan mood-nya dan tampak adem ayem meskipun cuma finish di P15 (1 poin).

Sementara untuk Vale, ini adalah kegagalan ketiga secara beruntun di race yang membutuhkan pergantian motor karena perubahan kondisi lintasan. Misano 2015 dan Argentina 2016 (masih lumayan ia bisa finish P2) adalah dua race sebelumnya. Kalau sampai di kesempatan ke-4 ia masih gagal juga, kayaknya ia harus memakai lagi helm Donkey edisi Misano 2009, hehe.

Oke, review race kali ini cukup segitu aja. Kita lanjut ke hal lain yang menarik untuk kita nantikan!

Next Stop: Red Bull Ring (14 Agustus)

Dari nama sirkuit, bisa dibilang race kali ini adalah 'home race' untuk pembalap Red Bull seperti Marc Marquez, Dani Pedrosa, Jack Miller, Maverick Vinales, hingga Jonas Folger. Khusus untuk duo Repsol Honda (yang timnya juga didukung Red Bull), mereka pernah beberapa kali menguji coba sirkuit ini untuk kepentingan promosi Red Bull. Salah satunya adalah Marc Marquez Racing Science berikut ini.




Marc dan Dani mungkin akrab dengan Red Bull Ring karena faktor sponsor mereka. Tetapi Valentino Rossi adalah satu-satunya pembalap di MotoGP musim ini (untuk semua kelas) yang pernah merasakan balapan Grand Prix di sirkuit bernama asli Osterreichring tersebut. Austrian Grand Prix 1997, kelas 125cc; Valentino Rossi muda finish P2 di belakang Noboru Ueda dengan selisih hanya 0,004 detik! Wow.

Marc, Dani, Vale, udah 'kenal' betul dengan Red Bull Ring, gimana kabar Jorge ya? hehe

Menunggu Keajaiban MotoGP Paruh Kedua

Kondisi kali ini sama persis dengan MotoGP 2006. Rider tim Repsol Honda tampil konsisten dan memimpin 50'an poin dari rival di Yamaha hingga jeda musim panas. Dulu peran ini diambil oleh Nicky Hayden, sekarang oleh Marc Marquez. Tetapi jelas, peran Marc kali ini jauh lebih kuat daripada peran The Kentucky Kid 10 tahun yang lalu.

Menjelang akhir musim 2006, Valentino Rossi berhasil memangkas jarak poin (dari 51 poin di paruh musim) bahkan mengunggulinya pasca Estoril 2006. 'Kejatuhan' Hayden waktu itu dipengaruhi oleh beringasnya pembalap lain, selain Valentino tentu saja, seperti Loris Capirossi (Ducati) hingga rider Honda lainnya seperti Dani Pedrosa dan Marco Melandri. Pembalap-pembalap tersebut mampu 'menahan' Nicky Hayden untuk mengoleksi poin lebih banyak sehingga sangat menguntungkan Valentino Rossi. Akankah hal tersebut bisa terunlang lagi musim ini?

Saya kira akan sangat sulit. Kenapa? Karena tidak ada lagi peran seperti Loris Capirossi dan Marco Melandri di musim ini. Bahkan Dani Pedrosa pun (yang masih aktif membalap) tidak bisa mengulangi hal yang sama. Duo Ducati serta Maverick Vinales bisa saja menjadi pengganti Loris dan Melandri, meskipun tetap saja akan sulit.


Siapa yang Bisa Gantiin Peran Loris-Dani-Melandri untuk Vale Musim ini?

Analisis; Permasalahan Tentang Grand Prix di Beberapa Negara Termasuk MotoGP Indonesia yang Carut-Marut!

MotoGP Inggris di Circuit of Wales sampai sekarang belum jelas kapan pembangunannya akan dimulai. Proyek sirkuit senilai 300'an juta pounds ini terkendala oleh pendanaan yang semakin tidak jelas, 3 tahun setelah masterplan sirkuit ini dipublikasikan!

Sirkuit karya arsitek Populous ini sudah mendapatkan kontrak untuk menggelar MotoGP selama 5 tahun antara 2015-2019. Tetapi setelah sirkuit tidak siap untuk digunakan musim 2015-2016, maka gelaran MotoGP tetap akan berlangsung di Silverstone (sebelumnya direncanakan di Donington Park tetapi gagal).

MotoGP Hungaria di sirkuit Balatonring direncanakan akan digelar mulai musim 2009 lalu. Tetapi karena krisis ekonomi global pada waktu itu membuat gelaran MotoGP Hungaria ditunda hingga 2010. Dan akhirnya pada Maret 2010 proyek MotoGP tersebut resmi dibatalkan (bukan lagi ditunda) dan tidak ada kabar selanjutnya sampai sekarang. Padahal sirkuit sudah dibangun sejak 2008 dan manajemen sirkuit sempat mensponsori Gabor Talmacsi (Hungaria) di ajang GP250 musim 2009. Proyek sirkuit tersebut kini mangkrak dan meninggalkan 'bekas' layout aspal yang belum terselesaikan.


Proyek Mangkrak MotoGP Hungaria, Setidaknya Sirkuit Mereka Sudah Bisa 'Dilihat'

Formula 1 Perancis gagal menemukan 'rumah' yang tepat selama lebih dari 20 tahun. Sirkuit Magny-Cours adalah sirkuit terakhir yang menggelar F1 Perancis. Tetapi sirkuit tersebut tidak bisa memuaskan publik F1 karena tidak se-spektakuler sirkuit Spa, Monaco atau Monza. Gelaran F1 di Perancis sebelumnya dilaksanakan di Paul Ricard, tetapi masalahya tetap sama dengan Magny-Cours, sirkuitnya membosankan!

Salah satu venue yang dirasa paling ideal untuk F1 Perancis adalah sirkuit Le Mans Bugatti, bagian kecil dari sirkuit legendaris la Sarthe (Le Mans). Tetapi rencana 'mengembalikan' F1 ke Le Mans ditolak mentah-mentah oleh organizer setempat, ACO. Le Mans Bugatti pernah menyelenggarakan F1 pada musim 1967. Tetapi waktu itu sirkuit tersebut 'dibenci' karena terlalu monoton dan boring. Makanya F1 di Le Mans cuma berlangsung sekali dan sekarang mereka justru menginginkan sirkuit tersebut (setelah dilakukan pengembangan selama puluhan tahun). Gila kan? Salah satu negara terkuat di balap mobil secara tegas menolak F1!

Well, hampir di setiap negara penyelenggara Grand Prix pasti mengalami berbagai masalahnya sendiri-sendiri. Mulai dari Silverstone hingga Austin. Semuanya mempunyai masalah sendiri-sendiri, mulai tentang fans, hukum setempat, aksi balapan, dan lain sebagainya. Hanya ada beberapa negara dengan seri GP yang 'adem-ayem' saja, minim masalah dan langgeng selama bertahun-tahun. Sebut saja Sepang dan Losail. Khusus untuk Losail, gelaran MotoGP mereka awet karena GP Qatar adalah satu-satunya balapan MotoGP di 'gurun' dan berlangsung malam hari. Suka-tidak-suka dengan Losail, race mereka adalah 'satu-satunya; di dunia.

Proyek MotoGP Indonesia juga mempunyai masalah tersendiri. Meskipun hampir sama dengan dua proyek MotoGP sebelumnya (Wales dan Hungaria), tetapi kasus di Indonesia ini agak berbeda. Kalau di Wales dan Hungaria faktor pendanaan adalah hal yang utama, di Indonesia masalah tersebut (pendanaan) harus ditambah dengan organizer lokal (sampai Menteri terkait) yang gak paham soal MotoGP. Objektif mereka hanyalah MotoGP sebagai ajang pariwisata dan keuntungan finansial untuk negara.

Pemahaman mereka belum sampai 'menyelenggarakan MotoGP karena kita mencintai motorsport dan efek positif motorsport untuk pembentukan karakter masyarakat, khususnya pecinta motorsport'. Saya yakin belum sampai pemahaman itu.

Kalau benar Kemenpora menginginkan MotoGP, haruslah mereka membuat satu tim khusus untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk ajang tersebut. April 2015, pihak sirkuit Sentul menyebutkan kalau mereka dan Kemenpora akan bekerja sama untuk mengembalikan MotoGP ke Indonesia. Dan beberapa bulan kemudian mereka (kedua belah pihak) mengumumkan penandatanganan kontrak MotoGP selama 3 musim mulai tahun 2017. Sampai disini mereka cukup oke, termasuk mempersiapkan draft rancangan renovasi sirkuit Sentul sesuai dengan yang diinginkan MotoGP.

Beberapa bulan berselang mulai muncul masalah baru. Sirkuit Sentul harus merenovasi sirkuit dengan dana mereka sendiri. Pemerintah enggan membantu dengan APBN karena itu melanggar undang-undang (Sentul adalah milik swasta yang tidak boleh dibantu oleh pemerintah). Setelah itu sempat dikabarkan MotoGP Indonesia batal digelar di Sentul dan pemerintah mendapatkan opsi sirkuit baru di Palembang. Bahkan gubernur Sumsel sudah memastikan bisa membangun sirkuit tanpa dana dari pemerintah. Masalah terselesaikan? No.


Ini Siteplan Sirkuit Wales, Bagian dari Masterplan yang Sangat Detail

Ini Masih Rancangan Kasar Sirkuit, Sekedar di Print di Kertas A4.

Sampai bulan Juli 2016 banyak berita di media massa yang simpang siur tentang MotoGP Indonesia dan semuanya gak jelas. Saya sampai bosan membacanya. Lalu Juli 2016 sudah bisa dipastikan MotoGP Indonesia 2017 (di sirkuit Sentul terutama) batal dilaksanakan karena sampai H-15 bulan tersebut belum ada masterplan renovasi Sentul (atau sirkuit baru di Palembang) yang disetorkan ke FIM/Dorna. Atau bahasa mudahnya, hingga H-15 bulan, tidak ada progress dalam persiapan MotoGP Indonesia untuk musim depan.

"Sentul yang Batal Gelar MotoGP, Bukan Indonesia" 

Pernyataan Menpora menanggapi 'gagalnya MotoGP Indonesia 2017'. Dia bilang yang gagal Sentul (karena tidak bisa mendapatkan dana sendiri untuk renovasi sirkuit plus soal progress yang masih 0%), Menpora juga bilang 'harus' untuk penyelenggaraan MotoGP 2017. tetapi belum tahu mau diadakan dimana. Kalaupun benar di Palembang, mana masterplan-nya? Terlalu mepet karena tinggal 15 bulan. Bisa sih kalau dikebut, tetapi jelas dananya akan membengkak dan kualitasnya 'dipertanyakan'.

Nah begitulah masalah yang kita hadapi. Hampir sama tetapi jelas berbeda dengan kasus di Wales dan Hungaria. Indonesia dengan pede-nya mengumumkan kontrak padahal hanya bermodal rancangan kasar sirkuit Sentul yang dicetak di selembar kertas A4. Juga hanya berjarak dua tahun tetapi sampai H-15 bulan event gak tampak satupun progress persiapan yang serius. Opsi pemunduran event menjadi 2018 menurut saya adalah blunder yang memalukan.

Wales dan Hungaria sudah menyiapkan masterplan detail bahkan sudah mulai membangun sirkuit, wajar kalau MotoGP mereka ditunda (dan dibatalkan) kalau masalahnya hanya 'sekedar' pendanaan. Sementara di Indonesia lebih kacau, buru-buru mengambil keputusan dan menandatangani kontrak tapi gak konsekuen dengan keputusan tersebut. Terlihat sangat tidak profesional karena terbentur masalah hukum setelah penandatanganan kontrak atau penyerahan masterplan sirkuit, dan terbukti, progress 0%.

"Lawmaker Blames Sports Ministry for MotoGP Cancellation"

Dan akhirnya saling menyalahkan. Sentul gagal, Menpora nyalahin. MotoGP gagal gantian DPR yang nyalah-nyalahin. Ibarat pesta, Menpora pengen bikin pesta MotoGP. Sebagian dana untuk PESTA didapatkan lewat DPR. Sentul gak bisa jadi tuan rumah, Menpora & DPR marah, saling tunjuk siapa yang salah, Meanwhile, Palembang yang sempet ngasih harapan malah melipir, apalagi kementerian pariwisata. wkwkwk.

Wassalam...

Review MotoGP Assen 2016 - #AUSTRALIASSEN atau #JACKASSEN!

 #AUSTRALIASSEN atau #JACKASSEN!

Wow-wow-wow! Jika Assen bertemu hujan jawabannya jelas, DRAMA! 2 tahun yang lalu Marc Marquez juara di flag-to-flag race dengan selebrasi ikonik 'berenang' di atas motor. Satu setengah jam sebelumnya, Anthony West juga menjuarai race yang sangat dramatis di kelas Moto2. Itu adalah kemenangan kedua sepanjang karier West di Grand Prix, setelah 11 tahun di sirkuit dan kondisi yang sama, 2003 GP250 Assen!

Anthony West #95 Moto2 2014


Well, saat 5 pembalap terdepan di race pertama (termasuk Hernandez) DNF di race kedua, cerita race kali ini bukanlah 'poin maksimum' yang didapatkan Marquez, melainkan keajaiban Assen saat race basah. Sesaat setelah re-start, Jack Miller mampu menyodok ke posisi 4, jelas karena startnya sangat bagus. Beruntun setelah Dovi dan Vale crash, perhatian langsung ditujukan ke Jack Miller yang tepat berada kurang dari 1 detik di belakang Marc Marquez. Bisakah ia mengovertake MM93?

Done! Jack Miller (Jackass) memimpin (kira-kira) 8 lap terakhir lomba di depan Marc Marquez. Gap-nya melebar hingga 2,5 detik saat finish. Dia berhasil menjaga balapannya untuk tetap stabil dan menjaga jarak aman dengan Marquez. Di pikirannya mungkin, juara atau finish ke-2 di belakang Marquez gak masalah; yang penting finish tentu saja. Podium hanya bonus!

Beruntung Marc terlihat lebih memilih menjaga poin kejuaraan dan tidak beresiko untuk bertarung terbuka dengan Jack. Terlebih dua kompetitornya tampil buruk di race kali ini. 20 poin dari Assen cukup membawanya kokoh di puncak klasemen dengan keunggulan 24 angka dari Jorge Lorenzo. Berturut-turut posisi 3 besar dihuni oleh Marc (145), Jorge (121), dan Vale (103). 

Kemenangan Jack lebih 'spesial' dibandingkan kemungkinan Hernandez juara saat race pertama. Jack, orang Australia, mempunyai 'kelas' tersendiri saat bertarung di Assen yang basah. Saat Hernandez memimpin di race pertama, saya tidak terbayang siapa-siapa. Tetapi saat itu Jack, saya langsung terpikirkan oleh Anthony West! Kemenangan Jack Miller di Assen ini juga yang pertama di luar 'pembalap top' pasca Ben Spies juga menang di Assen 2011.

Assen is home for West. Wait, West or Wet? #JackAssen

Assen adalah tempat yang sangat bagus untuk pembalap Australia, terutama saat ia basah. Tetapi berbeda cerita dengan Assen yang basah untuk pembalap Italia musim ini. Vale, Dovi (juga Iannone) crash, Petrucci gagal teknis. Tidak ada yang patut untuk disalahkan selain diri sendiri saat jatuh di race yang basah. Semua pembalap pasti memahaminya. Dan hasil seri ini mengingatkan saya dengan race 2008. Waktu itu Rossi jatuh di hairpin dan tebak siapa yang juara... Casey Stoner!

Khusus untuk Rossi nih. Karena Jorge tampil buruk dan hanya finish di P11 (5 poin), setidaknya Vale tidak terlalu menyesali hasil race Assen kali ini. Sial memang bisa menimpa siapa saja, termasuk kesialan ketiga (DNF) dalam 8 seri awal di musim ini. Tetapi saat rival cuma dapat 5 poin, not bad lah...

Jarak poinnya dengan Marquez kini menjadi 42 poin, tetapi justru Vale harus tampil lebih kalem dan santai saja, musim masih panjang! Ingat 10 tahun yang lalu saat Vale berhasil menyalip poin Nicky Hayden setelah sempat tertinggal 51 poin di tengah musim. Apa solusinya? Vale membalap dengan tanpa beban apapun. Ia tampil santai, tidak lagi DNF dan akhirnya dapat durian runtuh di seri Portugal. Kesalahan di seri Valencia jelas karena ia tertekan dan tidak tampil apa adanya saja alias penuh beban.


#Rekor Jack Miller
  1. Juara seri MotoGP Dutch TT pertama yang digelar di hari Minggu.
  2. Pembalap tim satelit/independen pertama yang menjuarai seri MotoGP setelah Toni Elias (MotoGP Portugal 2006, Fortuna Honda Gresini).
  3. Aussie ketiga yang menjuarai seri MotoGP modern setelah Casey Stoner dan Chris Vermeulen. Uniknya kemengan Jack dan Chris sama-sama diraih di race basah.
  4. Rider Honda ke-14 yang menjuarai seri MotoGP setelah Rossi, Ukawa, Barros, Gibernau, Biaggi, Tamada, Hayden, Melandri, Pedrosa, Elias, Dovizioso, Stoner, Marquez.
  5. Rider non-unggulan pertama yang juara seri MotoGP setelah Ben Spies di Assen 2011.

Tentang Jack Miller pasca #JackAssen

Jack Miller sempat kalah dari Alex Marquez di perebutan gelar juara dunia Moto3 2014. Tetapi sebelum Marquez junior tembus ke MotoGP atau paling tidak podium di Moto2, Jack sudah juara seri MotoGP, hehe. Prestasi Jack di Dutch TT 2016 ini jelas pertanda saat ini ia adalah rider Honda terbaik setelah Marc Marquez dan Dani Pedrosa (mungkin setara Cal Crutchlow juga sih). Jack pantas mendapat dukungan factory bike untuk dua musim kedepan 'sebelum' ia menggantikan Dani Pedrosa di tim Repsol Honda (semoga saja ya).

Penjelajah Sirkuit - Circuit International Automobile Moulay El Hassan

Circuit International Automobile Moulay El Hassan atau lebih dikenal dengan nama Marrakech Street Circuit adalah sirkuit jalan raya 'rumah' dari kejuaraan balap mobil WTCC seri Maroko sejak 2009. Selain digunakan untuk WTCC, sirkuit ini juga pernah digunakan untuk kejuaraan Formula 2 dan AutoGP (kejuaraan yang menggunakan mobil ex-A1GP 2005-2008).

Layout Trek 2009-2015 via racingcircuits.info

Antara 2009-2015, sirkuit ini menggunakan layout sederhana berbentuk setengah paperklip dan segitiga runcing. Trek sepanjang 4,5 km tersebut didominasi oleh straight lurus dan chicane. Lap record untuk sirkuit ini dicetak oleh Narain Karthikeyan (AutoGP 2013) dengan catatan waktu 68,45 detik.

Untuk musim balap 2016 sirkuit ini mengalami perubahan cukup signifikan dengan 'membuang' sebagian besar trek jalan raya berbentuk oval paperklip dan menggabungkannya dengan jalanan baru di sekitar triangle dan kompleks paddock. Total panjang sirkuit hanya tersisa 2/3-nya saja atau sekitar 3 km. Revisi layout ini dikerjakan oleh desainer sirkuit kenamaan, Hermann Tilke. Status sirkuit kini menjadi FIA Grade 2 'Semi-Permanent' karena area paddock dan sekitarnya merupakan bangunan permanen untuk sirkuit ini.

Layout Trek 2016 via racingcircuits.info

Trek baru ditunjukkan oleh garis hijau, mengelilingi
kompleks paddock yang ditandai oleh garis kuning.


Poor me! Saya sempat mempertanyakan sirkuit apa yang akan digunakan untuk balap Formula E Maroko akhir tahun ini. Dan ternyata sirkuit sepanjang 3 km inilah yang akan digunakan untuk Marrakech ePrix**. Ini murni kesalahan saya yang 'telat' mengupdate info tentang renovasi sirkuit Marrakech.

Tujuan utama renovasi sirkuit Marrakech ini sebenarnya untuk meningkatkan animo motorsport lokal karena dengan 'pengecilan' sirkuit ini membuat penggunaan trek bisa diperpanjang hingga 1 tahun penuh. Bukan hanya satu bulan saja saat ada event WTCC di Marrakech. Perubahan layout juga mengakibatkan perubahan karakter sirkuit menjadi lebih teknikal, ini jelas sebuah kemajuan karena sirkuit tidak melulu sekedar trek lurus atau chicane. Sirkuit teknikal membuat kemampuan pembalap lebih terasah.

Sebagai bonus, mari kita saksikan race WTCC Maroko 2016 yang digelar pada 8 Mei lalu. Cekidot!





Well, ini sangat menarik. Melihat tahun 'kelahiran' sirkuit ini, 2009, saya menjadi teringat dengan sirkuit yang muncul di tahun yang sama, Lippo Village Street Circuit yang 'mati' sebelum benar-benar hidup. Menyedihkan.

Spesial; 6 Sirkuit Baru Untuk Formula E Musim Depan!

Sebagai pecinta sirkuit jalan raya, kemunculan kalender balap Formula E selalu saya tunggu-tunggu tiap musimnya. Dan untuk musim ketiga Formula E (2016-17) terdapat 4 balapan lebih banyak dibanding musim ini (2015-16), dan dari 12 sirkuit yang digunakan; separuhnya adalah sirkuit baru! Wow.


Draf Kalender Formula E 2016-17

Musim depan akan berlangsung selama 14 balapan di 12 sirkuit, New York dan Montreal masing-masing akan menggelar 2 seri. Keduanya merupakan sirkuit baru yang bergabung dengan seri Marrakesh, Hong Kong, Singapura, dan Brussels sebagai pendatang baru di Formula E musim depan. Sirkuit jalan raya Monaco juga melakukan comeback setelah setahun absen. Sementara itu seri Beijing, Putrajaya, Uruguay, dan London tidak termasuk di kalender musim depan.

YANG HARUS CABUT

Khusus untuk seri Beijing, ini adalah kali ketiga ibukota China tersebut ‘gagal’ merawat suatu balapan lebih dari dua musim. Ingat ‘percobaan’ mereka menggelar balapan internasional di sirkuit jalan raya  seperti A1GP dan Superleague Formula yang selalu gagal bertahan lebih dari dua musim. Sirkuit ePrix di sekitar kompleks Olimpiade 2008 sebenarnya cukup bagus, lebih bagus dari dua sirkuit jalan raya Beijing sebelumnya. Hanya mungkin, animo penonton yang masih sangat kurang.

Secara mengejutkan seri Malaysia di Putrajaya juga harus disingkirkan demi seri Singapura. Setelah Kuala Lumpur gagal menggelar Supercars musim ini, Putrajaya juga harus angkat kaki dari ePrix. Lalu sirkuit Punta del Este di Uruguay yang bukan merupakan favorit saya juga harus cabut. Layoutnya aneh, sama seperti seri Berlin di Tempelhof Airport, untunglah keduanya tidak lagi masuk di kalender. Dan terakhir tentang sirkuit Battersea Park di London, suasana di taman legendaries tersebut sangatlah baik. Sayang trek yang dihasilkan sangat sempit.

YANG HARUS DISAMBUT

Dari 6 seri baru ePrix musim depan, saya kira semuanya adalah sirkuit baru; termasuk untuk seri Singapura dan Marrakesh. Kenapa? Karena penjadwalan kedua seri tersebut ‘berjauhan’ dengan ajang balap utama di tempat yang sama. Seri Singapura dan Marrakesh tidak seperti seri Long Beach dan Monaco yang digelar beberapa minggu sebelum acara utama, yaitu IndyCar Long Beach dan F1 GP Monaco.

Marrakesh yang dikenal menggelar WTCC di awal tahun, akan menjadi tuan rumah ePrix di akhir tahun, tepatnya pada tanggal 12 November 2016. Sementara Singapura yang rutin menggelar F1 tiap bulan September akan menggelar ePrix pada tanggal 22 April 2017. Seri ePrix Singapura pada bulan April, berimbas atau merupakan imbas F1 Singapura 2017 dimajukan ke bulan Mei? No, saya rasa F1 Singapura sudah nyaman berada di bulan September. Memajukan seri hingga bulan Mei berarti memperpendek jarak antara GP musim ini dan musim depan. Agak merepotkan dalam urusan persiapan sirkuit jalan raya yang terkenal ribet, apalagi untuk balapan malam di Singapura. Baru sebulan katakanlah selesai dibongkar, eh harus dibangun lagi. Kecuali kalau mau repot sih gakpapa, hehe. Mari kita tunggu kalender F1 musim 2017.

Next, seri Hong Kong adalah Brussels seri yang paling layak untuk kita tunggu. Kenapa? Karena kota atau negara tersebut tidak terlalu ‘familiar’ dengan ajang balapan di sirkuit jalan raya, meskipun sebenarnya Spa-Francorchamps (dulu) adalah sirkuit jalan raya.


Hong Kong akan menjadi seri pembuka, menggantikan Beijing, pada tanggal 9 Oktober 2016. Trackmap dan beberapa foto mengenai sirkuit jalan raya mereka sudah dipublikasikan. Trek sepanjang 2 km akan dibangun antara Lung Wo Road dan Star Ferry. Meskipun dekat dengan’perairan’, sirkuit ini tidak akan seperti sirkuit Macau yang legendaries, melainkan tetap seperti sirkuit Beijing.




Begitupun seri ePrix di Brussels. Kemungkinan besar sirkuit akan dibangun dekat dengan stadion King Badouin dengan wujud seperti sirkuit ePrix di Berlin 2016. Hmm…




Dan dua seri terakhir akan berlangsung di kota yang sudah akrab dengan motorsport, New York dan Montreal. Belum ada konfirmasi layout dan lokasi trek karena kedua seri tersebut baru akan dilakukan di bulan Juli 2017 atau tepat di akhir musim. Tetapi yang pasti, kedua kota tersebut akan menghadirkan sirkuit jalan raya yang benar-benar baru. Patut untuk ditunggu!

Update (25/6/2016) - Sirkuit jalan raya Marrakech sudah mengalami perubahan untuk balapan tahun ini (WTCC dan Formula E). Sirkuit tersebut mengalami perubahan layout dan karakter menjadi lebih teknikal. Proyek renovasi ini didesain oleh Hermann Tilke. Panjang sirkuit menjadi  tersisa 2/3-nya saja atau sekitar 3 km. Khusus untuk perubahan layout sirkuit ini bisa disimak di post 'Penjelajah Sirkuit' terbaru.

Penjelajah Sirkuit - Bangsaen Street Circuit

Saya adalah tipe pecinta motorsport karena faktor sirkuit. Maksudnya, saya suka apapun itu jenis balapnya kalau dilakukan di sirkuit yang baru saya kenal. Seperti tahun 2015 lalu saya baru mengenal sirkuit Kuala Lumpur (Malaysia), Mine (Jepang), Hengelo (Belanda), dan Ahvenisto (Finlandia). Saya tidak mempedulikan hasil atau jalannya balap di sirkuit-sirkuit itu karena saya hanya ingin melihat bagaimana wujud sirkuit yang baru saya kenal tersebut.

Nah, 2016 ini masih agak seret. Setidaknya hanya 2 sirkuit baru yang saya kenal hingga bulan Mei 2016, yaitu sirkuit jalan raya di Paris dan Berlin. Keduanya adalah sirkuit kategori FIA Grade 3 untuk balapan Formula E. Sama seperti sirkuit ePrix yang baru dikenalkan tahun lalu, saya belum menemukan sesuatu yang spesial dari sirkuit-sirkuit tersebut. Masih biasa saja.

Bangsaen Street Circuit Trackmap




Masuk di bulan Juni, saya akhirnya mengenal sirkuit jalan raya Bangsaen di Chonburi, Thailand. I
ni sirkuit lama tetapi baru saya kenal beberapa hari terakhir. Suasananya unik, mirip seperti Macau tetapi 'khas' Asia Tenggara banget. Bukan berlatarbelakang kota besar dengan banyak gedung pencakar langin seperti di KL, atau suasana taman seperti di Lippo Village. Bangsaen lebih kental nuansa kota tradisional Thailand di pinggiran laut. Sirkuit ini digunakan untuk balap mobil touring car dan GT di Thailand Super Series.

Bangsaen adalah 'hidangan pembuka' yang sangat bagus untuk kemudian kita menikmati sajian sirkuit jalan raya dengan ciri khas yang cukup kuat, Baku Street Circuit...

Channel Youtube - Thailand Super Series


Review MotoGP Catalunya 2016 – Catalunya Berwajah Dua!

Dua dari 3 pembalap terbaik abad 20, satu lainnya alm. Daijiro Kato...


SEBELUM RACE

Semua pasti setuju kalau sirkuit Catalunya adalah salah satu sirkuit terbaik di MotoGP, sejajar dengan Assen, Jerez, Mugello, Phillip Island, Sachsenring, dan Laguna Seca*. Saat banyak pembalap kompetitif, sudah bisa dipastikan akan terjadi race yang menarik dan ketat. Tetapi sirkuit ini juga mempunyai potensi bahaya yang cukup besar.

Saya pertama kali menyadari potensi tersebut saat melihat foto satelit sirkuit Catalunya sekitar 8 tahun yang lalu. Ternyata run-off di luar tikungan 11 dan 12 (stadium section) sangat dekat dengan lintasan, jaraknya hanya sekitar 12-20 meter saja. Jarak yang cukup dekat seperti itu agak susah disadari kalau kita menonton race dari angle kamera yang berada di sisi lintasan.

Dan mungkin saya setuju dengan headline berita media online di Indonesia yang menyebutkan ‘Catalunya Memakan Tumbal’. Karena memang tinggal menunggu waktu saja kejadian seperti itu terjadi di MotoGP. Motor yang semakin kencang dan kompleks terkadang menciptakan banyak hal tidak terduga seperti kecelakaan Luis Salom di tikungan 12.

Saat merasa nyaman di satu trek (yang sebenarnya tidak aman) dalam waktu yang cukup lama, terkadang safety menjadi hal yang tidak begitu terpikirkan. Mungkin dalam 15 tahun terakhir hanya sirkuit Suzuka lah yang di-cap sebagai trek yang tidak aman. Ironisnya klaim tersebut muncul setelah Suzuka ‘memakan tumbalnya’. Dan hal yang sama juga terjadi di Catalunya. Wajah Catalunya yang kedua akhirnya muncul!

MotoGP bergerak cepat dengan langsung memakai layout trek F1 untuk 2 hari terakhir Catalan GP 2016. Meskipun layout tersebut sempat diprotes oleh duo Movistar Yamaha, toh akhirnya justru Vale yang keluar sebagai juara, mengalahkan rider terbaik Honda yang merasa lebih cocok dengan layout F1.

Sebelum race Catalan GP, saya selalu merasa catatan waktu atau pencapaian pembalap di warm-up adalah hal yang tidak berguna. Tetapi kemudan saya mengoreksinya. Vale yang sempat tercecer di awal sesi di layout F1, termasuk di kualifikasi, membuktikan kualitasnya di warm-up dengan menjadi pembalap tercepat.

RACE MOTOGP

Saat race dimulai, ‘penyakit’ lama Vale muncul lagi, start yang buruk. Waktu itu saya tidak yakin kalau Vale akan bisa memenangi race kali ini. Hingga akhirnya Vale berhasil meraih posisi 4 dan semakin mendekatkan jarak dengan Pedrosa, optimisme saya muncul lagi.

Dalam beberapa lap Vale berhasil mengambil alih pimpinan lomba dari Lorenzo, yang akhirnya malah harus DNF, dan konsisten memimpin 0,4 detik dari Marc Marquez.  Lima lap terakhir barulah terjadi pertarungan yang selama ini ditunggu-tunggu publik Catalunya. Marc mengambil alih P1 di trek lurus, Vale mengambil lagi posisinya di T1, Marc mencoba lagi di T10, tapi disalip lagi di exit, kali ini Marc yang menang di T1, dan Vale membalasnya di tempat yang sama 1 lap kemudian ; 6 manuver dalam battle keduanya cukup menghibur seluruh penggemar MotoGP siang itu.

Meskipun tidak seketat race 2009, pemenang di tentukan di tikungan terakhir, tapi race kali ini membuktikan, salah satunya adalah, kematangan Marc Marquez melihat situasi. Dia sempat melebar di tikungan 7 yang membuatnya gagal menjuarai race kali ini, meskipun masih tersisa 1,5 lap lagi. Marc memilih untuk lebih santai dan akhirnya finish 2,6 detik di belakang Vale.

REKONSILIASI

Di raceday terburuk abad 20 (karena ada pembalap yang meninggal 2 hari sebelum raceday), Vale menang, Marc lebih dewasa, dan Jorge DNF; tidak ada yang lebih baik selain rekonsiliasi. Vale berjabat tangan dengan Marc di parc ferme, ngobrol di podium, dan ngobrol lagi saat press-con, saya rasa Vale sudah menemukan ‘waktu yang tepat’ untuk berdamai dengan Marc.

Bicara soal insiden Sepang Clash tahun lalu dan segala teori konspirasi yang dikemukakan oleh Vale, saya rasa itu semua adalah ‘murni kesalahan’ Vale dalam berstrategi. Tuduhan Marc membantu Jorge hanyalah trik psikologis yang mengandung pesan bahwa ‘jangan ganggu pertarungan kita (Vale vs Jorge). Pesan itu ditujukan untuk semua pembalap, terutama Marc yang masih muda.

Tapi saat race trik tersebut justru berubah menjadi ‘senjata makan tuan’. Saya rasa Vale berpikir ‘gile lu Marc, gak ngerti-ngerti juga maksud gue kemarin’ dan ‘masa sih bener Marc bantu Jorge ?!’.  Puncak dari rasa emosi dan kekhawatiran tersebut adalah jatuhnya Marc…

Soal race Valencia 2015, saya rasa beban terberat justru ada di pundak Marc. Dia bisa menentukan siapa yang akan juara dunia musim itu. Marc menang, Vale juara ; Marc kalah, Jorge juara. Dan yang harus dicermati adalah, Jorge selalu tampil agresif di Valencia, di race yang sangat menentukan.  Ingat Valencia 2013.

Bisa dipastikan kalau Marc juga tampil agresif dengan bertarung terbuka dengan Jorge, justru akan meningkatkan potensi crash diantara keduanya. Siapa yang dirugikan?  Dan kalau Marc tidak agresif, tidak berani menyalip Jorge, siapa yang dirugikan?  Saya rasa Vale juga mengetahui kondisi tersebut.

Memasuki musim baru, harus ada momen rekonsiliasi. Peran media dan fans berhasil membuat kejadian musim lalu menjadi sangat buruk untuk hubungan Vale dan Marc. Dan MotoGP Catalunya adalah momen yang tepat untuk Vale ‘meminta maaf’ kepada Marc. Karena Marc sukses dijadikan kambing hitam kegagalan Vale di akhir musim 2015 lalu. Senang rasanya melihat keduanya bisa akrab lagi, dan bertarung sengit di lintasan dengan penuh respect.

Tentang Red Bull KTM MotoGP 2017 (Part 2) dan Waktu yang Tepat Untuk Pindah Tim!

Akhirnya Red Bull turun gunug juga!


Hola!

Saya pernah menulis tentang tim Red Bull KTM ini, Oktober 2015 lalu, saat tim baru saja mempublikasikan wujud motor mereka untuk MotoGP 2017. Delapan bulan kemudian tim ini sudah memastikan skuad dua pembalap mereka untuk debut (kedua) mereka di MotoGP.

Yamaha Tech 3 mencapai kesuksesan di MotoGP 2012 bersama pembalap Andrea Dovizioso dan Cal Crutchlow. Sayang kerjasama itu hanya bertahan satu musim saja karena Dovi memilih untuk 'pulang kampung' ke Ducati pada 2013. Setahun berselang giliran Cal yang ikut pergi ke Ducati, reuni singkat dengan Dovi, sebelum akhirnya pindah lagi ke LCR Honda.

Tetapi musim depan lebih spesial. Skuad Yamaha Tech 3 musim ini akan pindah bersama-sama ke Red Bull KTM musim depan. Smith dan Pol meninggalkan Monster demi Red Bull...

Keputusan keduanya untuk pindah menurut saya adalah keputusan yang baik. Mereka berdua masing-masing menghabiskan 4 dan 3 tahun di Yamaha Tech3 sejak debutnya di MotoGP. Dalam jangka waktu seperti itu, saat pembalap belum juga bisa berprestasi, pindah tim adalah opsi terbaik. Ada kalanya sukses bisa didapat di tempat lain bukan?

Dari sekian banyak pembalap MotoGP di grid saat ini, terhitung hanya Jorge Lorenzo, Marc Marquez dan Dani Pedrosa saja yang sangat setia dengan satu tim. Valentino Rossi tidak termasuk dalam daftar tersebut, meskipun sudah 11 tahun membela Yamaha, Vale pernah 4 tahun di Honda dan 2 tahun di Yamaha. Peristiwa pindahnya Vale dari Honda yang superior ke Yamaha yang lemah 12 tahun lalu adalah cerita terbaik sepanjang masa di MotoGP modern.

Ada pengecualian tambahan sebenarnya untuk Jorge yang akhirnya musim depan akan pindah ke Ducati, mengakhiri 9 tahun kerjasamanya dengan Yamaha.

11 tahun, 9 tahun, tetap tidak akan bisa mengalahkan kesetiaan Dani Pedrosa ke Honda (16 tahun) atau Marc Marquez dengan Repsol (sejak meniti karier di CEV). Perpanjangan kontrak Marc dengan HRC hingga 2018 membuat dirinya akan membalap untuk Repsol Honda selama 6 tahun. Catatan yang cukup bagus!

Eh tapi ada satu lagi cerita tentang kesetian yang lebih mengagumkan. Tentu saja dari Jepang! Bahkan hampir mayoritas pembalap Jepang setia dengan tim atau brand yang membesarkan namanya. Misalnya saja Tadayuki Okada, Akira Yanagawa, dan alm. Norick Abe.

Khusus untuk yang terakhir, saya kagum banget, Norick Abe setia dengan Yamaha sejak 1994 hingga menjelang akhir hayatnya (2007). Meskipun sebenarnya ia memulai karier di All Japan bersama Honda sih...

Analisis: Spanyol Mulai Luntur?

Jumlah mereka masih banyak, tetapi yang di depan semakin sedikit.


Oke, menjelang seri ke-7 MotoGP musim 2016, saya rasa ini adalah waktu yang tepat (meskipun sebenarnya saya juga baru menyadarinya) untuk mengatakan bahwa dominasi Spanyol sudah mulai luntur!

Saya tentu tidak berbicara tentang kelas MotoGP yang masih dikuasai Jorge Lorenzo dan Marc Marquez. Begitu pula Dani Pedrosa, Maverick Vinales dan Aleix Espargaro yang masih kuat di baris kedua. Tetapi memang kenyataannya, di kelas junior, terjadi penurunan prestasi (atau dominasi) pembalap Spanyol.

Lihat saja di klasemen Moto2. Hanya ada nama Alex Rins yang mengisi posisi 5 besar. Pembalap Spanyol terbaik lainnya, Luis Salom, berada di posisi ke-10. Berturut turut setelah itu ada Axel Pons (12), Julian Simon (21), dan Alex Marquez (22). Menarik saat melihat dua juara dunia GP125/Moto3 terlempar diluar 20 besar.

Lalu di kelas Moto3, Jorge Navarro juga berada di posisi kedua klasemen, 6 posisi lebih baik dari pembalap Spanyol lainnya, Joan Mir (rookie). Berturut-turut setelah itu ada Aron Canet (15/rookie), Juanfran Guevara (16), Jorge Martin (21) dan Maria Herrera (26).

Secara jumlah partisipan di masing-masing kelas, Spanyol memang masih mendominasi. Rata-rata ada 8 pembalap per kelasnya. Jumlah rookie lulusan CEV Repsol pun masih cukup bagus, 2 di Moto3 dan 4 di Moto2.

Tapi memang secara keseluruhn mereka sudah tidak mendominasi lagi. Tidak ada lagi 3-4 pembalap Spanyol yang bertarung sengit di pack terdepan lomba atau di klasemen. Semua lebih cair. Makin banyak pembalap dari negara lain yang ikut bersaing, termasuk Malaysia.

Sudah sejak dulu Spanyol menggilai balap motor (GP) lebih dari ajang balapan lainnya, termasuk World Superbike. Sirkuit-sirkuit permanen bertaraf internasional mulai muncul hingga Valencia (1999) lalu Aragon (2010). Kejuraan domestik dan internasional rutin digelar untuk meningkatkan mutu motorsport mereka. Tetapi dari semua usaha itu, mereka baru bisa meraih prestasi tertinggi saat Alex Criville memenangi GP500, tepat setelah Mick Doohan pensiun. Di tahun yang sama, Emilio Alzamora (GP125) juga meraih gelar juara dunia.





Dua kemenangan bersama di 1999 itu terbukti mampu melecut semangat Spanyol sehingga mampu mendominasi MotoGP lebih dari 15 tahun. Dani Pedrosa, Jorge Lorenzo, Alvaro Bautista, Julian Simon, Marc Marquez, Nicolas Terol, Maverick Vinales, Tito Rabat, dan Alex Marquez adalah juara-juara dunia asal Spanyol setelah era Alzamora-Criville.

Tidak bisa dipastikan apakah dominasi yang mulai meluntur tersebut hanya berlangsung musim ini atau sampai musim-musim selanjutnya, yang pasti Spanyol masih sangat antusias di olahraga ini. 17 pembalap di kelas Moto2 dan Moto3 jauh lebih banyak dari seluruh pembalap Asia yang ada musim ini. Mereka tetap menyalurkan bakat-bakat terbaik di negara mereka di MotoGP. Dan mungkin saja di tahun-tahun mendatang mereka bisa menang lagi, mendominasi lagi. Siapa yang tahu?

Yang terpenting adalah MotoGP harus selalu kompetitif tiap tahunnya!