Tampilkan postingan dengan label Assen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Assen. Tampilkan semua postingan

Review MotoGP Assen 2016 - #AUSTRALIASSEN atau #JACKASSEN!

 #AUSTRALIASSEN atau #JACKASSEN!

Wow-wow-wow! Jika Assen bertemu hujan jawabannya jelas, DRAMA! 2 tahun yang lalu Marc Marquez juara di flag-to-flag race dengan selebrasi ikonik 'berenang' di atas motor. Satu setengah jam sebelumnya, Anthony West juga menjuarai race yang sangat dramatis di kelas Moto2. Itu adalah kemenangan kedua sepanjang karier West di Grand Prix, setelah 11 tahun di sirkuit dan kondisi yang sama, 2003 GP250 Assen!

Anthony West #95 Moto2 2014


Well, saat 5 pembalap terdepan di race pertama (termasuk Hernandez) DNF di race kedua, cerita race kali ini bukanlah 'poin maksimum' yang didapatkan Marquez, melainkan keajaiban Assen saat race basah. Sesaat setelah re-start, Jack Miller mampu menyodok ke posisi 4, jelas karena startnya sangat bagus. Beruntun setelah Dovi dan Vale crash, perhatian langsung ditujukan ke Jack Miller yang tepat berada kurang dari 1 detik di belakang Marc Marquez. Bisakah ia mengovertake MM93?

Done! Jack Miller (Jackass) memimpin (kira-kira) 8 lap terakhir lomba di depan Marc Marquez. Gap-nya melebar hingga 2,5 detik saat finish. Dia berhasil menjaga balapannya untuk tetap stabil dan menjaga jarak aman dengan Marquez. Di pikirannya mungkin, juara atau finish ke-2 di belakang Marquez gak masalah; yang penting finish tentu saja. Podium hanya bonus!

Beruntung Marc terlihat lebih memilih menjaga poin kejuaraan dan tidak beresiko untuk bertarung terbuka dengan Jack. Terlebih dua kompetitornya tampil buruk di race kali ini. 20 poin dari Assen cukup membawanya kokoh di puncak klasemen dengan keunggulan 24 angka dari Jorge Lorenzo. Berturut-turut posisi 3 besar dihuni oleh Marc (145), Jorge (121), dan Vale (103). 

Kemenangan Jack lebih 'spesial' dibandingkan kemungkinan Hernandez juara saat race pertama. Jack, orang Australia, mempunyai 'kelas' tersendiri saat bertarung di Assen yang basah. Saat Hernandez memimpin di race pertama, saya tidak terbayang siapa-siapa. Tetapi saat itu Jack, saya langsung terpikirkan oleh Anthony West! Kemenangan Jack Miller di Assen ini juga yang pertama di luar 'pembalap top' pasca Ben Spies juga menang di Assen 2011.

Assen is home for West. Wait, West or Wet? #JackAssen

Assen adalah tempat yang sangat bagus untuk pembalap Australia, terutama saat ia basah. Tetapi berbeda cerita dengan Assen yang basah untuk pembalap Italia musim ini. Vale, Dovi (juga Iannone) crash, Petrucci gagal teknis. Tidak ada yang patut untuk disalahkan selain diri sendiri saat jatuh di race yang basah. Semua pembalap pasti memahaminya. Dan hasil seri ini mengingatkan saya dengan race 2008. Waktu itu Rossi jatuh di hairpin dan tebak siapa yang juara... Casey Stoner!

Khusus untuk Rossi nih. Karena Jorge tampil buruk dan hanya finish di P11 (5 poin), setidaknya Vale tidak terlalu menyesali hasil race Assen kali ini. Sial memang bisa menimpa siapa saja, termasuk kesialan ketiga (DNF) dalam 8 seri awal di musim ini. Tetapi saat rival cuma dapat 5 poin, not bad lah...

Jarak poinnya dengan Marquez kini menjadi 42 poin, tetapi justru Vale harus tampil lebih kalem dan santai saja, musim masih panjang! Ingat 10 tahun yang lalu saat Vale berhasil menyalip poin Nicky Hayden setelah sempat tertinggal 51 poin di tengah musim. Apa solusinya? Vale membalap dengan tanpa beban apapun. Ia tampil santai, tidak lagi DNF dan akhirnya dapat durian runtuh di seri Portugal. Kesalahan di seri Valencia jelas karena ia tertekan dan tidak tampil apa adanya saja alias penuh beban.


#Rekor Jack Miller
  1. Juara seri MotoGP Dutch TT pertama yang digelar di hari Minggu.
  2. Pembalap tim satelit/independen pertama yang menjuarai seri MotoGP setelah Toni Elias (MotoGP Portugal 2006, Fortuna Honda Gresini).
  3. Aussie ketiga yang menjuarai seri MotoGP modern setelah Casey Stoner dan Chris Vermeulen. Uniknya kemengan Jack dan Chris sama-sama diraih di race basah.
  4. Rider Honda ke-14 yang menjuarai seri MotoGP setelah Rossi, Ukawa, Barros, Gibernau, Biaggi, Tamada, Hayden, Melandri, Pedrosa, Elias, Dovizioso, Stoner, Marquez.
  5. Rider non-unggulan pertama yang juara seri MotoGP setelah Ben Spies di Assen 2011.

Tentang Jack Miller pasca #JackAssen

Jack Miller sempat kalah dari Alex Marquez di perebutan gelar juara dunia Moto3 2014. Tetapi sebelum Marquez junior tembus ke MotoGP atau paling tidak podium di Moto2, Jack sudah juara seri MotoGP, hehe. Prestasi Jack di Dutch TT 2016 ini jelas pertanda saat ini ia adalah rider Honda terbaik setelah Marc Marquez dan Dani Pedrosa (mungkin setara Cal Crutchlow juga sih). Jack pantas mendapat dukungan factory bike untuk dua musim kedepan 'sebelum' ia menggantikan Dani Pedrosa di tim Repsol Honda (semoga saja ya).

Update Sirkuit TT Assen (Pasca MXGP)

Beruntung MotoGP Assen digelar jauh sebelum MXGP Assen. Kalau tidak, pemandangan sirkuit sirkuit seperti inilah yang akan terlihat di MotoGP. Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, sirkuit motocross Assen untuk kejuaraan MXGP akhir Agustus 2015 kemarin dibangun diatas trek aspal dan rumput di sektor terakhir (triangle) sirkuit Assen. Hasilnya setelah ajang MXGP tersebut rumput-rumput di sisi lintasan rusak dan ditambah cuaca hujan jadilah kubangan air dan lumpur.


























Gambar diatas diambil dari kejuaran British Superbike seri ke-10 di sirkuit Assen, tepat 3 minggu setelah kejuaraan MXGP. Kotor deh :(

Well, meskipun kotor, saya kasih bonus aja deh highlights MXGP Assen 2015. Musim ini benar-benar kebangkitan tim-tim selain Red Bull KTM. Tidak ada nama-nama 'tradisional' seperti Antonio Cairoli dan Jeffrey Herlings yang mendominasi MXGP beberapa tahun terakhir.

Gantinya adalah Romain Febvre (Yamaha), Shaun Simpson (KTM), Max Anstie (Kawasaki), dan Tim Gajser (Honda) yang menjuarai MXGP seri Assen ini. Plus nama Glen Coldenhoff, crosser tuan rumah yang berhasil runner-up race 2. Uniknya ia memakai nomor start 259 (nomor James Stewart sebelum mendapatkan nomor karier). Merata juaranya!





Gak kalah menarik juga race ke-2 British Superbike seri Assen ini. Balapan ini digelar di kondisi trek yang gak menentu. Dan Linfoot berjudi dengan memakai ban basah di trek yang mulai mengering. Efeknya sih lumayan di awal race. Dari P8 di tikungan pertama hingga P1 di tikungan terakhir lap pertama. Tapi sayang hasil akhirnya ia hanya finish di posisi 22.

Tapi yang menarik juga adalah double win Josh Brookes (Yamaha). Dengan hasil seri Assen ini ia kini memimpin klasemen dengan keunggulan 26 angka dari Shane Byrne di posisi kedua (577). Selain itu performa Yamaha R1 yang dikendarai Brookes juga menunjukkan bahwa mesin ini sudah cukup siap untuk berlaga di World Superbike. Saya sendiri menunggu debut mesin ini di World Superbike (entah kapan), dan jika mendapatkan rider yang cocok; besar kemungkinan Yamaha R1 bisa langsung menjuarai WSBK. (Harapan saya duo America, Cameron Beaubier atau Josh Herrin bisa mengulang sukses Ben Spies di 2009 lalu).


Analisis (Lanjutan); Betapa Bahayanya Tikungan Tajam & Lambat!

Menyambung tulisan kemarin tentang bahayanya T12 (tikungan terakhir) sirkuit Buriram; saya baru sadar beberapa sirkuit di dunia telah memodifikasi sirkuit dengan menghilangkan tikungan-tikungan tajam yang super lambat demi meningkatkan keselamatan, khususnya untuk balap superbike.

Salah satunya adalah sirkuit Monza dengan chicane pertama yang cukup lambat dan rawan kecelakaan. Apalagi diawali dengan main straight yang cukup panjang, lap pertama tikungan pertama menjadi sangat beresiko. Oleh karena itu khusus untuk balap Superbike sirkuit ini menyediakan variasi chicane yang bisa dilibas lebih cepat.

Chicane lambat (kiri) digunakan untuk balap mobil, sementara chicane
yang lebih cepat (kanan) digunakan untuk balap motor

Penampakan chicane baru untuk balap motor (SBK Monza 2013)
Ada juga T8 atau tikungan pertama setelah back straight sirkuit Assen yang juga dimodifikasi ulang untuk balap motor sehingga rider bisa lebih cepat masuk dan keluar tikungan. Dan salah satu tikungan lambat paling berkesan menurut saya adalah tikungan terakhir sirkuit Laguna Seca. Semua pasti masih ingat bagaimana teknik late braking Valentino Rossi pada 2008 mampu membuat Casey Stoner kelabakan dan akhirnya terjatuh. Atau pada MotoGP 2005 saat Marco Melandri dan Alex Barros kecelakaan di lap pertama.

Jadi menurut saya sih, tikungan lambat seperti di sirkuit Buriram memang gak cocok untuk balap motor. Kayaknya harus dirubah menjadi lebih rounded supaya bisa dilibas dengan kecepatan motor yang lebih ideal.

Sirkuit Motocross Assen, Gaya Baru Sirkuit Motocross Modern?

Akhir pekan lalu saya ‘dikejutkan’ oleh seri ke-16 MXGP yang berlangsung di sirkuit legendaries, TT Assen.  Sebenarnya pemilihan venue sirkuit Assen untuk gelaran MXGP of The Netherlands ini sudah diketahui sejak awal musim, tapi detail layout atau bentuk sirkuit motocrossnya baru saya ketahui kemarin (maklum sudah jarang update berita MXGP, kecuali bagian Ryan Villopoto atau Romain Febvre).

Kembali ke topik awal, beberapa tahun yang lalu memang sudah sering sirkuit-sirkuit aspal terkenal yang menjadi venue kejuaraan motocross. Misalnya sirkuit Donington Park dan Franciacorta yang menggelar kejuaraan MXoN 2008 dan 2009. Tapi waktu itu sirkuit motocross dibangun di lahan kosong di bagian dalam atau sekitar sirkuit. Tapi untuk sirkuit TT Assen ini tidak!


Sirkuit non-permanen ini 80% dibangun diatas lintasan aspal yang sudah ada (menimbun lintasan aspal dengan tanah dan pasir). Area start diposisikan di chicane terakhir sebelum trek lurus sirkuit Assen. Trek tanah dan pasir, khas MXGP di area Benelux, kemudian menjalar hingga depan tribun utama sirkuit (area kosong sebelah main straight) kemudian ke pit lane (!) dan berakhir di tempat parkir sirkuit sebelum kemudian kembali ke garis finish di sebelah area start.


Area start trek MXGP Assen 2015
Layout trek MXGP Assen 2015 (sebelum revisi)
Gambar layout trek di atas adalah versi awal sebelum sektor di depan tribun utama dipanjangkan hingga melintasi mayoritas main straight dan pit lane sirkuit Assen.

Layout yang ‘tidak biasa’ ini sebenarnya pernah dilakukan sirkuit Lausitzring untuk menggelar MXGP of Germany pada 2013. Lausitzring adalah sirkuit tri-oval khas balap Amerika Serikat yang pernah menggelar kejuaraan World Superbike dan A1GP di "Infield Track"-nya.

Pada waktu itu sebagian besar trek diposisikan di run-off area tikungan pertama "Infield Track". Trek tersebut kemudian menjalar hingga sebagian braking area di ujung main straight sirkuit. Tapi sayangnya sirkuit motocross non-permanen ini hanya digunakan sekali saja dan tidak berlanjut untuk tahun-tahun setelahnya. Wajar sih, soalnya waktu itu sirkuit Lausitzring hanya sebagai ‘pengganti’ karena sirkuit utama MXGP of Germany, Teutschental, akan digunakan untuk venue MXoN 2013.

Trek MXGP Lausitzring 2013

Tapi ternyata respon fans untuk sirkuit non-permanen seperti ini justru cenderung negatif. Karakternya lebih mirip sirkuit supercross dan menghilangkan sisi 'alami' yang sangat kental di sirkuit motocross pada umumnya. Jadi wajar jika sirkuit ini tidak terlalu awet dan hanya sekali digunakan Lausitzring.

Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa sirkuit seperti ini muncul lagi dan kali ini justu ada di sirkuit legendaris, TT Assen? Padahal masih banyak sirkuit-sirkuit motocross berkualitas di Belanda.

Dan akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan (analisis pribadi). Sirkuit non-permanen seperti ini ingin memanfaatkan tribun penonton yang sudah ada sebagai salah satu keunggulan untuk menarik perhatian penonton lebih baik lagi. (rz)