Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Analisis; Tantangan Sebenarnya Dari Menggelar MotoGP Indonesia!

Ada sebuah kekhawatiran manakala Indonesia berhasil menggelar event MotoGP tetapi 'gagal' dalam tujuan sebenarnya menggelar event tersebut. Tujuan yang saya maksud adalah menampilkan kualitas motorsport terbaik dari dalam negeri (entah lewat prestasi pembalap atau industri terkaitnya) ke mata dunia. Karena saya merasa, berhasil menggelar event MotoGP bukanlah 'prestasi' tetapi tantangan yang benar-benar harus dijawab oleh negara penyelenggara tersebut.


Monlau Competicion, salah satu pelaku utama
industri balap di Spanyol.

Saat Spanyol kebagian jatah 4 Grand Prix dalam semusim, ada yang menyebut hal tersebut berlebihan dan tidak adil. Tetapi melihat bagaimana motorsport di negara mereka, khususnya di roda dua, dan bagaimana kontribusi mereka untuk MotoGP, Spanyol pantas mendapatkan hak itu. Begitu pula event di Italia, Perancis, Belanda, Jerman, Austria, Ceko, Australia, Amerika Serikat, dan Jepang; yang hampir selalu ada di kalender tiap dekadenya, seolah-olah tidak tergantikan, karena memang mereka pantas mendapatkannya.

Dari sekian banyak negara penyelenggara MotoGP, hanya Qatar yang belum mampu menjawab tantangan tersebut. Bisa dibilang Qatar hanya menyelenggarakan MotoGP sebagai ajang unjuk diri bahwa mereka, negara timur tengah pertama, negara kecil, yang mampu menyelenggarakan race mewah di malam hari. Meski begitu, jumlah penonton di sirkuit hanya sekitar 20,000 pasang mata dalam 3 hari event. Jumlah paling sedikit dari seluruh event MotoGP. Miris.


Saeed Al Sulaiti

Sebagai ujung tombak motorsportnya, Qatar mempunyai QMMF Racing Team yang berlaga di Moto2 dan beberapa rider yang dititipkan di tim World Superbike asal Eropa. Tetapi QMMF sudah tidak menggunakan rider asal Qatar dalam beberapa tahun terakhir, bahkan mereka tidak tercantum dalam provisional entry list Moto2 2017. Sementara itu, Saeed Al Sulaiti (Pedercini Racing/World Superbike), hanya mendapatkan 1 poin dari seluruh event WSBK yang ia ikuti pada 2016. Poin terendah yang diraih oleh rider yang membalap selama semusim penuh (mirip-mirip lah dengan prestasi Doni Tata, hehe).


Hafizh Syahrin

Ada yang lebih (atau jauh) lebih baik dari Qatar (tapi masih dibawah negara-negara lainnya), yaitu Malaysia. Prestasi mereka di MotoGP sangat gemilang sejak kemunculan Hafizh Syahrin dan Khairul Idam Pawi. Puluan championship point sudah dikantongi, termasuk dua kemenangan 'Super KIP' di Moto3 tahun ini. Prestasi yang sepertinya sulit ditandingi Indonesia (yang sekarang baru mengumpulkan dua poin saja via Doni Tata, hehe).


Khairul Idham Pawi

Selain prestasi pembalapnya, kita patut mencontoh komitmen Malaysia di Motorsport. Lihatlah bagaimana Petronas, Proton (Lotus), AirAsia, Caterham (Tony Fernandes), dan Sepang International Circuit berbicara banyak di motorsport dunia. Komitmen itulah yang membuat mereka berhasil menggelar 3 kejuaraan dunia dalam satu tahun (F1, MotoGP, World Superbike).

Baik tapi belum setara negara-negara lainnya. Yang saya maksud, rider berprestasi dari Malaysia tersebut dididik oleh kejuaraan di Eropa, bukan dari dalam negeri sendiri. Bandingkan dengan negara-negara lain yang mempunyai kejuaraan bergengsi seperti CEV (Spanyol, Portugal*, Perancis*), IDM (Jerman, Belanda*, Austria*), French SBK (Perancis), British SBK (Inggris Raya), MotoAmerica (USA), FX Superbike (Australia), dan MFJ Superbike (Jepang). Selain itu, banyak sisi historis dan industri terkait dengan motorsport yang berasal dari negara tersebut. Mulai dari pabrikan motor, alat keselamatan, minuman berenergi, bahan bakar & oli, hingga item-item lainnya.

Belum begitu tahu kejuaraan di Argentina, tetapi mereka mempunyai rider hebat kelas dunia seperti Sebastian Porto dan Leandro Mercado. Juga banyak sirkuit di negara tersebut, sepertinya jadi pusat kejuaraan balap motor di Amerika Latin. Begitu juga kejuaraan di Ceko yang sepertinya bekerjasama dengan negara-negara lain seperti Hungaria untuk membuat kejuaraanya sendiri.

Lalu, Indonesia mau seperti apa? Qatar, Malaysia, atau Spanyol (susah)? Hehe. Memang tujuan utama tentu menyelenggarakan dulu event-nya, baru mikirin hal seperti ini. Tetapi setidaknya ada progress sih. Progress nyata kalau motorsport kita berkembang dan berkelas dunia. Malaysia saja baru naik prestasinya, puluhan tahun sejak pertama kali menggelar GP. Itu juga dibarengi dengan komitmen yang kuat tadi.


Doni Tata (2005)

Sementara Indonesia, balik lagi, masih terlihat suram. Belum ada program yang benar-benar oke. Jujur, kekecewaan saya masih sangat besar dengan program Doni Tata (Yamaha 'From Zero to Hero' dan Federal Oil Moto2), dan Rafid Topan (Evalube QMMF Moto2) yang masing-masing hanya berjalan semusim dan bisa dibilang gagal.

Program yang ada sekarang mungkin akan lebih baik. Kadang merasa gemas saja, 'kapan mereka terjun ke MotoGP'? Mungkin tidak lama lagi, semoga. (rz)

Redesign Layout Sirkuit Sentul - Kalau Saja...

Sirkuit internasional baru di Palembang untuk MotoGP sudah mulai kelihatan wujudnya. Tampak seksi dan beda dengan sirkuit internasional sebelumnya (Sentul). Dengan persaingan ini, sirkuit Sentul wajib berbenah supaya tidak kalah telak.

Salah satu caranya sudah jelas, mereka harus berbenah dan berubah total. Karena praktis, fasilitas yang ada saat ini (termasuk layout sirkuit) sudah sangat jadul dan gak menarik. Tidak ada keunikan, ciri khas atau karakter sirkuit ini jika digunakan untuk balapan internasional. Kita berkaca pada dua sirkuit internasional lawas yang sudah berubah untuk menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Kedua sirkuit tersebut adalah Albacete dan Kyalami.

Keduanya adalah sirkuit yang terakhir kali menggelar kejuaraan internasional selevel Superbike, lebih dari 5 tahun yang lalu. Tetapi posisi kedua sirkuit tersebut cukup berbeda, Albacete terletak di Spanyol, wajar kalau kurang populer karena fasilitas mereka tidak selengkap Jerez, Catalunya, Valencia, atau Aragon. Dengan berbagai renovasi pun, ajang balap yang bisa mereka hadirkan baru sebatas kejuaraan nasional.

Sementara Kyalami adalah ikon motorsport Afrika Selatan, khususnya untuk olahraga balap mobil (olahraga balap motor lebih akrab dengan sirkuit Phakisa). Sirkuit ini mengalami perubahan sejak dibeli oleh Porsche Afrika Selatan. Jutaan dollar dana dikeluarkan untuk merenovasi fasilitas dan perubahan layout sirkuit. Meski terlihat minor, tetapi layout sirkuit baru menawarkan konsep yang berbeda dibandingkan layout terdahulu.

Ngomongin soal Sentul lagi nih. Dengan kemunculan sirkuit Palembang untuk MotoGP, sepertinya Sentul harus menentukan konsep 'pasar' mereka mau seperti apa. Karena saya seorang desainer dan pecinta desain sirkuit (khususnya layout), maka saya hanya akan membahas tentang layout sirkuit Sentul 'JIKA SAYA ADALAH PEMILIK SIRKUIT TERSEBUT' dan mempunyai dana untuk mengubahnya, hehe.

Maka setelah pembahasan konsep, saya menentukan sirkuit Sentul akan menjadi kiblat dunia balap mobil di Indonesia dengan mengutamakan kecepatan. Pada dasarnya saya melihat layout sirkuit Sentul yang sederhana ini mirip dengan sirkuit Monza. Tetapi kenapa Monza lebih populer untuk balapan internasional?

Mengesampingkan tentang Italia sebagai salah satu pemain motorsport terbesar di dunia, Monza menawarkan konsep sirkuit cepat dengan variasi tikungan dan trek lurus panjang. Kita lihat ada dua chicane, satu triangle, dua tikungan kembar (Lesmo), satu tikungan melengkung panjang (Curva Grande), dan Parabolica. Hal itu jelas berbeda dengan Sentul yang minim variasi tikungan; 3 chicane & 2 double-apex-hairpin.

Lalu setelah melewati proses desain, saya membuat sirkuit yang cepat dan tidak lupa juga mengakomodasi untuk keperluan balap motor. Panjang sirkuit mungkin tidak berubah (atau malah berkurang 100-300 m tergantung konfigurasi yang digunakan), tetapi inilah layout yang saya suka. Bebas, lha wong ini sirkuit milik saya, hahaha.

Overall Layout hasil redesign

Hanya beberapa bagian yang diubah, diantaranya T3-4 dan sektor sekitar dua chicane di belakang sirkuit. Inti dari perubahan desain ini adalah membuat sirkuit tampak lebih melengkung karena akan membuat penonton layar kaca merasa balapan lebih cepat. Gak begitu paham atau tahu tentang teori terkait, tetapi trek melengkung menghasilkan laju kendaraan yang disorot kamera tampak lebih cepat (contohnya di sirkuit Imola antara Tosa-Piratella dan Variante Alta-Rivazza).

Lalu dari layout diatas bisa digunakan menjadi dua layout berbeda, dengan infield section untuk balap motor dan flat out back straight untuk balap mobil. Perbedaan layout ini menyebabkan sirkuit untuk balap mobil lebih pendek sekitar 250 m dari sirkuit balap motor. Kenapa layout sirkuit untuk balap mobil lebih sederhana dan cepat? Sebenarnya trek cepat adalah favorit untuk setiap olahraga bermotor (tetapi bukan stop-and-go juga lho ya) dan saya melihat apa yang terjadi di NASCAR saat mereka menggunakan layout yang sederhana, cepat, dan lebih pendek untuk event di Sonoma dan Watkins Glen.

Sirkuit Balap Mobil (layout orange) dengan panjang 3,7 km*

Sirkuit balap motor menggunakan infield section mengakibatkan sirkuit lebih lambat tetapi lebih banyak tikungan. Pas dengan konsep balap motor yang durasinya pendek sehingga harus mempunyai banyak kesempatan overtaking dan balapan menjadi menarik. Satu hal saya pelajari dari sirkuit cepat-lambat untuk balap motor-mobil adalah, balapan motor kalau kompetitif; di sirkuit apa saja balapannya bakalan menarik.

Sirkuit Balap Motor (layout orange) dengan panjang 3,9 km*

Pada akhirnya hal-hal seperti diatas mungkin tidak terjadi untuk sirkuit Sentul (renovasi dengan layout karya saya), tetapi saya berharap supaya sirkuit legendaris ini mampu bertahan di tengah persaingan dunia motorsport modern ini. Sepang, Buriram, Palembang, tiga sirkuit yang sudah dan akan mengovertake eksistensi sirkuit Sentul. (rz)

Analisis; Permasalahan Tentang Grand Prix di Beberapa Negara Termasuk MotoGP Indonesia yang Carut-Marut!

MotoGP Inggris di Circuit of Wales sampai sekarang belum jelas kapan pembangunannya akan dimulai. Proyek sirkuit senilai 300'an juta pounds ini terkendala oleh pendanaan yang semakin tidak jelas, 3 tahun setelah masterplan sirkuit ini dipublikasikan!

Sirkuit karya arsitek Populous ini sudah mendapatkan kontrak untuk menggelar MotoGP selama 5 tahun antara 2015-2019. Tetapi setelah sirkuit tidak siap untuk digunakan musim 2015-2016, maka gelaran MotoGP tetap akan berlangsung di Silverstone (sebelumnya direncanakan di Donington Park tetapi gagal).

MotoGP Hungaria di sirkuit Balatonring direncanakan akan digelar mulai musim 2009 lalu. Tetapi karena krisis ekonomi global pada waktu itu membuat gelaran MotoGP Hungaria ditunda hingga 2010. Dan akhirnya pada Maret 2010 proyek MotoGP tersebut resmi dibatalkan (bukan lagi ditunda) dan tidak ada kabar selanjutnya sampai sekarang. Padahal sirkuit sudah dibangun sejak 2008 dan manajemen sirkuit sempat mensponsori Gabor Talmacsi (Hungaria) di ajang GP250 musim 2009. Proyek sirkuit tersebut kini mangkrak dan meninggalkan 'bekas' layout aspal yang belum terselesaikan.


Proyek Mangkrak MotoGP Hungaria, Setidaknya Sirkuit Mereka Sudah Bisa 'Dilihat'

Formula 1 Perancis gagal menemukan 'rumah' yang tepat selama lebih dari 20 tahun. Sirkuit Magny-Cours adalah sirkuit terakhir yang menggelar F1 Perancis. Tetapi sirkuit tersebut tidak bisa memuaskan publik F1 karena tidak se-spektakuler sirkuit Spa, Monaco atau Monza. Gelaran F1 di Perancis sebelumnya dilaksanakan di Paul Ricard, tetapi masalahya tetap sama dengan Magny-Cours, sirkuitnya membosankan!

Salah satu venue yang dirasa paling ideal untuk F1 Perancis adalah sirkuit Le Mans Bugatti, bagian kecil dari sirkuit legendaris la Sarthe (Le Mans). Tetapi rencana 'mengembalikan' F1 ke Le Mans ditolak mentah-mentah oleh organizer setempat, ACO. Le Mans Bugatti pernah menyelenggarakan F1 pada musim 1967. Tetapi waktu itu sirkuit tersebut 'dibenci' karena terlalu monoton dan boring. Makanya F1 di Le Mans cuma berlangsung sekali dan sekarang mereka justru menginginkan sirkuit tersebut (setelah dilakukan pengembangan selama puluhan tahun). Gila kan? Salah satu negara terkuat di balap mobil secara tegas menolak F1!

Well, hampir di setiap negara penyelenggara Grand Prix pasti mengalami berbagai masalahnya sendiri-sendiri. Mulai dari Silverstone hingga Austin. Semuanya mempunyai masalah sendiri-sendiri, mulai tentang fans, hukum setempat, aksi balapan, dan lain sebagainya. Hanya ada beberapa negara dengan seri GP yang 'adem-ayem' saja, minim masalah dan langgeng selama bertahun-tahun. Sebut saja Sepang dan Losail. Khusus untuk Losail, gelaran MotoGP mereka awet karena GP Qatar adalah satu-satunya balapan MotoGP di 'gurun' dan berlangsung malam hari. Suka-tidak-suka dengan Losail, race mereka adalah 'satu-satunya; di dunia.

Proyek MotoGP Indonesia juga mempunyai masalah tersendiri. Meskipun hampir sama dengan dua proyek MotoGP sebelumnya (Wales dan Hungaria), tetapi kasus di Indonesia ini agak berbeda. Kalau di Wales dan Hungaria faktor pendanaan adalah hal yang utama, di Indonesia masalah tersebut (pendanaan) harus ditambah dengan organizer lokal (sampai Menteri terkait) yang gak paham soal MotoGP. Objektif mereka hanyalah MotoGP sebagai ajang pariwisata dan keuntungan finansial untuk negara.

Pemahaman mereka belum sampai 'menyelenggarakan MotoGP karena kita mencintai motorsport dan efek positif motorsport untuk pembentukan karakter masyarakat, khususnya pecinta motorsport'. Saya yakin belum sampai pemahaman itu.

Kalau benar Kemenpora menginginkan MotoGP, haruslah mereka membuat satu tim khusus untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk ajang tersebut. April 2015, pihak sirkuit Sentul menyebutkan kalau mereka dan Kemenpora akan bekerja sama untuk mengembalikan MotoGP ke Indonesia. Dan beberapa bulan kemudian mereka (kedua belah pihak) mengumumkan penandatanganan kontrak MotoGP selama 3 musim mulai tahun 2017. Sampai disini mereka cukup oke, termasuk mempersiapkan draft rancangan renovasi sirkuit Sentul sesuai dengan yang diinginkan MotoGP.

Beberapa bulan berselang mulai muncul masalah baru. Sirkuit Sentul harus merenovasi sirkuit dengan dana mereka sendiri. Pemerintah enggan membantu dengan APBN karena itu melanggar undang-undang (Sentul adalah milik swasta yang tidak boleh dibantu oleh pemerintah). Setelah itu sempat dikabarkan MotoGP Indonesia batal digelar di Sentul dan pemerintah mendapatkan opsi sirkuit baru di Palembang. Bahkan gubernur Sumsel sudah memastikan bisa membangun sirkuit tanpa dana dari pemerintah. Masalah terselesaikan? No.


Ini Siteplan Sirkuit Wales, Bagian dari Masterplan yang Sangat Detail

Ini Masih Rancangan Kasar Sirkuit, Sekedar di Print di Kertas A4.

Sampai bulan Juli 2016 banyak berita di media massa yang simpang siur tentang MotoGP Indonesia dan semuanya gak jelas. Saya sampai bosan membacanya. Lalu Juli 2016 sudah bisa dipastikan MotoGP Indonesia 2017 (di sirkuit Sentul terutama) batal dilaksanakan karena sampai H-15 bulan tersebut belum ada masterplan renovasi Sentul (atau sirkuit baru di Palembang) yang disetorkan ke FIM/Dorna. Atau bahasa mudahnya, hingga H-15 bulan, tidak ada progress dalam persiapan MotoGP Indonesia untuk musim depan.

"Sentul yang Batal Gelar MotoGP, Bukan Indonesia" 

Pernyataan Menpora menanggapi 'gagalnya MotoGP Indonesia 2017'. Dia bilang yang gagal Sentul (karena tidak bisa mendapatkan dana sendiri untuk renovasi sirkuit plus soal progress yang masih 0%), Menpora juga bilang 'harus' untuk penyelenggaraan MotoGP 2017. tetapi belum tahu mau diadakan dimana. Kalaupun benar di Palembang, mana masterplan-nya? Terlalu mepet karena tinggal 15 bulan. Bisa sih kalau dikebut, tetapi jelas dananya akan membengkak dan kualitasnya 'dipertanyakan'.

Nah begitulah masalah yang kita hadapi. Hampir sama tetapi jelas berbeda dengan kasus di Wales dan Hungaria. Indonesia dengan pede-nya mengumumkan kontrak padahal hanya bermodal rancangan kasar sirkuit Sentul yang dicetak di selembar kertas A4. Juga hanya berjarak dua tahun tetapi sampai H-15 bulan event gak tampak satupun progress persiapan yang serius. Opsi pemunduran event menjadi 2018 menurut saya adalah blunder yang memalukan.

Wales dan Hungaria sudah menyiapkan masterplan detail bahkan sudah mulai membangun sirkuit, wajar kalau MotoGP mereka ditunda (dan dibatalkan) kalau masalahnya hanya 'sekedar' pendanaan. Sementara di Indonesia lebih kacau, buru-buru mengambil keputusan dan menandatangani kontrak tapi gak konsekuen dengan keputusan tersebut. Terlihat sangat tidak profesional karena terbentur masalah hukum setelah penandatanganan kontrak atau penyerahan masterplan sirkuit, dan terbukti, progress 0%.

"Lawmaker Blames Sports Ministry for MotoGP Cancellation"

Dan akhirnya saling menyalahkan. Sentul gagal, Menpora nyalahin. MotoGP gagal gantian DPR yang nyalah-nyalahin. Ibarat pesta, Menpora pengen bikin pesta MotoGP. Sebagian dana untuk PESTA didapatkan lewat DPR. Sentul gak bisa jadi tuan rumah, Menpora & DPR marah, saling tunjuk siapa yang salah, Meanwhile, Palembang yang sempet ngasih harapan malah melipir, apalagi kementerian pariwisata. wkwkwk.

Wassalam...

Bedah Karakter Sirkuit MotoGP "Jakabaring Sports City"

Beredarnya rancangan layout sirkuit Jakabaring Sports City untuk Indonesian Motorcycle Grand Prix di sosial media, membangun keoptimisan saya bahwa MotoGP Indonesia akan segera kembali!



Entah siapa perancang sirkuit Jakabaring, tapi jelas saya kira bukan karya Hermann Tilke karena tidak ada tikungan lambat disitu, tetapi sirkuit dengan panjang medium ini sangat menarik. Oke memang ada 3 U-turn, tetapi terlihat radiusnya cukup lebar. 

Dengan panjang 4100 m (atau cuma lebih panjang 100 m dari Donington Park & Valencia), kesan pertama yang saya lihat adalah Jakabaring is Indonesian version of Jerez! Straight pendek dan tikungan cepat, plus sama-sama punya 3 tikungan terlambat, 3 U-Turn di Jakabaring radiusnya lebih lebar dibanding Jerez. Akan lebih menarik kalau tikungan tersebut bersudut atau banking macam hairpin di Assen. Tong Setan!

Ngomongin soal kemiripan karakter Jakabaring  dengan sirkuit yang sudah ada, saya melihat ada kesan Mugello dan Jerez yang cukup kental, plus Zandvoort di sektor terakhir sirkuit. Karakter Jerez jelas terlihat dari kombinasi straight pendek dan tikungan cepat sehingga memungkinkan pembalap  dan motornya "menari" diatas lintasan.

Lalu karakter Mugello muncul sebelum U-turn kedua hingga satu tikungan menuju U-turn ketiga. Dan yang terakhir sangat Zandvoort, tetapi digabung dengan Circuit of the Americas sehingga lebih cepat.

Menggelar F1?

Jangan sedih, tetapi kalau untuk menggelar F1 kayaknya gak usah dulu deh. Pertama, sirkuit ini bakalan menjadi sirkuit terpendek kedua setelah Monaco. Panjang ideal minimum adalah 4,3 km dengan karakter cepat (Montreal & Interlagos). Memang kalau untuk F1 sirkuit Jakabaring bakalan mirip dengan Hungaroring (pendek-pendek). Tetapi Jakabaring gak punya home straight minimal 800-900 m (kalau saya lihat longest straight Jakabaring hanya sekitar 600-700 m, setara dengan Jerez).

Kedua, masalah biaya. Kalau cuma dukung Rio Haryanto senilai 15 juta pounds saja banyak yang protes, mending gak usah bikin F1 sekalian di Indonesia. Karena biayanya muahall banget. Hampir3x biaya Rio masuk ke F1 (untuk sekali lomba).

Ketiga, Indonesia belum siap dengan F1, khususnya menyajikan hal yang baru di dunia F1. Apa keunikan sirkuit ini sehingga F1 harus mempir ke Indonesia? Buatlah sebuah keunikan supaya GP menjadi berkesan dan tentunya membawa lebih banyak keuntungan, terutama untuk biaya penyelenggaraan.

So, menarik untuk ditunggu munculnya sirkuit Jakabaring Sports City untuk menggelar MotoGP dan kejuaraan-kejuaraan Internasional lainnya. Minimal 4 kejuaraan lah!

Panduan Real Road Racing Indonesia

Akhirnya semalam (30/1) tayang juga Real Road Racing Series di TV nasional Indonesia. Untuk episode pertama, ditayangken balapan Cookstown 100 edisi 2013. Untuk Cookstown 100 sendiri, balapan ini masih cukup 'bersahabat' jika dibandingkan dengan Triple Crown ajang Real Road Racing.

Oke, Cookstown 100 memang keren; terutama lingkungan khas Inggris di sekitarnya. Tetapi untuk pecinta adrenalin, masih ada banyak balapan yang lebih menantang. Dan berikut adalah chart sekaligus panduan mini Real Road Racing versi saya pribadi (ups, Isle of Man TT bukan di posisi pertama). Yuk!


1. Ulster Grand Prix

Balapan di Dundrod, County Antrim, Irlandia Utara ini berpredikat The Fastest Road Racing Series in the World. Balapan paling cepat di dunia dengan rataan kecepatan 200 m/h. jauh lebih cepat dibandingkan MotoGP. 'Paling cepat' diatas dihasilkan oleh layout sirkuit yang mengalir sepanjang 13 km, dengan hanya satu titik terlambat yaitu Lindsay Hairpin.

Format balapan asli (dilepas bergerombolan di grid untuk beberapa lap) menambah kengerian balapan ini. Alhasil pembalap tidak cuma melawan ganasnya sirkuit Dundrod, tetapi juga perlawanan pembalap-pembalap lain. Otomatis resiko celaka jauh lebih besar. Tetapi anehnya, tingkat kecelakaan atau bahkan korban jiwa dalam balapan ini justru berada di bawah Isle of Man TT.

Ulster Grand Prix mempunyai channel YouTube resmi. Disitu kalian bisa menonton balapan-balapan terbaik pilihan staff dan track guide berupa onboard lap dan guide lap. Check aja disini.

2. Macau Grand Prix

Balap jalanan di sekitaran pemukiman-kota di Macau ini bisa dibilang The Real Street Racing. Berbeda dengan sirkuit-sirkuit 'Countryside' di Inggris, trek Macau sangat khas balapan mobil. Tembok beton atau armco di sepanjang sisi trek plus 'ratusan' tikungan dan karakter mengalir sirkuit ini, sangat pas untuk pecinta 'balet motor balap' (liukannya aduhai). Spot menarik ada di salah satu hairpin yang sangat-sangat tajam. Lebar pemisahnya hanya sekitar 1-2 meter saja.

Balapan Macau Grand Prix bisa kita saksikan di YouTube meskipun tidak ada channel resmi Macau GP. Balapan terbaru (edisi 2015) bisa kalian saksikan melalui channel 123PNZ ini.

3. Isle of Man TT

Satu-satunya alasan kenapa Isle of Man TT berada di peringkat ke-3 chart versi saya ini adalah format balapan berupa time trial (pembalap dilepas sendiri-sendiri dengan selisih waktu 2 menit). Meski begitu format ini tetap memungkinkan terjadinya overtaking, tetapi hanya untuk sekali saja (tidak ada urgensi untuk balik overtaking).

Trek Snaefell Mountain Course, 60 km, ratusan tikungan, lap time 18 menit, durasi balapan 5 lap (Senior TT), sangat-sangat menguras fisik dan mental pembalap. Sepertinya itulah kenapa format untuk balapan ini adalah time trial, bukan seperti Ulster atau Macau. Apakah balapan ini bisa tayang di NET.? Bisa saja. tetapi mungkin format acaranya adalah Highlight Event, bukan balapan full-lap. Tahu sendiri kalau 1 lap saja 18 menit, untuk satu kelas bisa hampir 2 jam acara.

4. North West 200

Masih terletak di Irlandia Utara, balapan ini hampir mirip dengan Ulster GP. Bedanya cuma di karakter trek 'Segitiga Colleraine' sepanjang 14 km. Tiga sisi segitiga adalah trek pinggir laut bergaya jalanan kota yang mengalir, kemudian masuk ke jalur drag race panjang menuju ujung sirkuit, dan diakhiri dengan jalur drag race kedua yang kali ini diwarnai oleh dua sektor chicane untuk melambatkan balapan. Memang terlihat monoton, tetapi sektor pertama sirkuit adalah favorit saya, sangat Inggris sekali! *beberapa balapan bisa disaksikan di YouTube.

5. Cemetery Road Race

Boxing day, street road racing, New Zealand! Penutup ajang balap Real Road Racing tiap tahunnya ada di bagian selatan bumi. Trek jalan raya sepanjang 1,5 km (!) terletak di Wanganui, New Zealand, sangat unik karena mirip dengan trek ala road race di Indonesia atau Malaysia; tetapi kali ini dilibas oleh monster-monster Superbike hingga Supermoto. Banyak pembalap top Real Road Racing di Eropa yang hadir di balapan ini, semisal Guy Martin. *beberapa balapan bisa disaksikan di YouTube.

Itulah 5 balapan terbaik di serial Real Road Racing Series. Sebenarnya masih ada satu balapan lagi yang sangat menarik (terutama treknya yang keren), namanya Hengelo (Dutch Superbike Series). Bisa kalian saksikan di YouTube! Ciao!

Review MotoGP San Marino 2015

Ini pertama kalinya saya bikin review balap MotoGP. Grand Premio TIM di San Marino e Della Riviera di Rimini adalah GP pertama yang akan saya review.

Entah berhubungan atau tidak, helm 'ikan' Vale merefleksikan
keadaan lintasan saat raceday, Bad luck Vale!

Oke. Sekali lagi gambling cuaca bikin MotoGP kali ini kurang seru. Kondisi kering-basah-kering membuat balap tidak lagi tentang aksi overtaking, tetapi lebih ke pemilihan strategi penggunaan ban dan kapan masuk pitlane untuk ganti motor.

Sampai lap 16 atau 17 saya lupa, Marquez sudah masuk pit untuk mengganti motornya ke settingan kering (settingan awal). Sementara itu Lorenzo dan Rossi masing-masing bergantian mengganti motor lap berikutnya.

Pitlane's traffic

Saya sangat terkejut ketika mengetahui perbedaan lap-time Rossi (P1) dan Marquez (P3 setelah ganti motor kedua) sekitar 6 detik per lap (lebih cepat Marquez). Wow! Disini optimisme saya kalau Rossi bakalan menang (atau podium) semakin menipis.

Coba hitung dengan perhitungan sederhana. Jika lap sebelum top 3 mengganti motor kedua cuma berbeda 2 detik diantaranya (+4s antara Rossi dan Marquez). Sementara anggap saja waktu yang dibutuhkan oleh masing-masing pembalap untuk mengganti motor dan melintasi pitlane adalah 20 detik, berarti Marquez sudah tertinggal 24 detik dari Rossi saat ia keluar dari pitlane.

Tapi dengan keuntungan 6 detik per lap yang dimiliki Marquez membuat ia hanya berjarak 12 detik saat The Doctor masuk ke pitlane 2 lap setelahnya. Otomatis setelah Rossi kembali ke lintasan, gap antara keduanya kini cuma sekitar 8 detik (20s-12s). Ditambah adaptasi lintasan setelah Rossi kembali, gap yang diciptakan tentu lebih besar lagi. (Perhitungan diatas hanya perkiraan saja biar lebih sederhana hehe).

Mengejar gap kurang lebih 8 detik di 5 lap menjelang finish untuk Rossi adalah hal yang mustahil. Terlebih setelah melihat hasil resmi yang dirilis MotoGP.com, gap sebenarnya antara Rossi (P5) dan Marquez (P1) adalah 33 detik. Wow!

Balap di kondisi tak menentu seperti MotoGP Misano ini memang cenderung mengundang drama. Semua pasti masing ingat bagaimana Alex Barros (Camel Honda), Marco Melandri (Fortuna Honda), dan Chris Vermuelen (Rizla Suzuki) secara tidak terduga menjuarai MotoGP Portugal 2005, MotoGP Australia 2006, dan MotoGP Perancis 2007 di kondisi yang serupa. Untuk MotoGP Misano kali ini kejutan terbesar menurut saya adalah hasil yang sangat tidak terduga yang diraih Bradley Smith, Scott Redding, dan Loris Baz (P2-P4). Catatan untuk Scott Redding, ia bahkan sempat terjatuh di awal lomba saat masih menggunakan motor kering di trek basah. Luck!

Dan untuk MotoGP modern ini (1000cc), Marc Marquez adalah rider paling beruntung karena (seingat saya) dia berhasil menjuarai 3 GP di kondisi serupa. Selain Misano 2015, ia berhasil menjuarai Assen 2014 dan Sachsenring 2014. Sementara itu mungkin Valentino Rossi adalah rider yang selalu kurang beruntung. Setau saya ia belum pernah menjuarai balap di kondisi seperti ini. Bahkan memori terburuk adalah saat ia terjatuh di Le Mans 2009, beberapa lap setelah ia mengganti motornya.

Marc Marquez menjadi lebih santai menjalani sisa musim 2015.

Yang pasti posisi 5 Valentino Rossi kali ini setidaknya menambah keuntungan 11 poin di klasemen. 'Terimakasih' untuk Jorge Lorenzo yang DNF sehingga posisi keduanya kini di klasemen terpaut 23 angka. Dengan 5 balapan tersisa, pertarungan MotoGP menjadi lebih seru. Selisih 63 poin antara Rossi dan Marquez juga masih bisa dikejar tetapi kemungkinannya sangat tipis.

Klasemen MotoGP 2015 (setelah seri ke-13)

1              247         Valentino Rossi
2              224         Jorge Lorenzo (+23)
3              184         Marc Marquez (+63)
4              159         Andrea Iannone (+88)
5              135         Bradley Smith (+112)

#Sekali lagi Rossi kurang beruntung & strategi yang sangat jitu dari Marquez (belajar dari Aragon 2014 mungkin, hehe) (rz)

Opini; Sirkuit Yang Seharusnya Masih Menggelar MotoGP

Jujur saja, saya masih kurang puas dengan kalender MotoGP sekarang ini. Banyak sirkuit baru yang menggantikan sirkuit-sirkuit lama, tapi justru menurut saya kurang cocok untuk MotoGP. Kelima sirkuit yang seharusnya masih menggelar GP itu adalah:

Suzuka

Suzuka

Seharusnya MotoGP masih bertahan di sirkuit Suzuka dan mungkin Motegi tetap menggelar GP dengan title Pacific Grand Prix atau bahkan Asian Grand Prix (seperti di F1 ada European Grand Prix). Kenapa dua GP? Wajar saja sih, pabrikan Jepang kan dominan di MotoGP.

Oke, sirkuit Suzuka memang lebih disukai fans. Layoutnya teknikal, cepat, dan menantang. Selain itu akses fans di sirkuit ini lebih baik dibanding Motegi. Tapi masalahnya sirkuit Suzuka dinilai masih kurang aman untuk balap sekelas MotoGP. Mungkin lisensi sirkuit Suzuka FIM Grade B (maksimal hanya boleh menggelar balap Superbike).

Tapi jika ada sedikit keinginan untuk mempertahankan MotoGP dengan cara merenovasi sirkuit demi meningkatkan sisi keselamatan, Suzuka pasti bisa. Menurut analisis saya, masalah utama cuma pada R1, Spoon Curve dan 130R. R1 dan Spoon Curve cukup didesain ulang (diperpendek) untuk menyediakan extra run-off area. Kemudian untuk 130R, imajinasi saya sih sangat memungkinkan untuk dibuat chicane baru di sisi dalam 130R. Fungsinya untuk mengurangi kecepatan di exit 130R hingga Casino Triangle.

Dan pada akhirnya, semua itu tergantung keputusan Honda. Mengingat dua sirkuit di Jepang yang menggelar Grand Prix (F1 dan MotoGP), semuanya milik Honda.

Donington Park

Donington Park

Keputusan memindahkan venue British Grand Prix dari Donington Park ke Silverstone adalah salah satu keputusan yang paling saya sesalkan. Selama beberapa tahun mindset saya telah terbentuk bahwa; Silverstone itu untuk F1, dan Donington Park itu untuk MotoGP. Begitu pula saat rencana MotoGP Inggris akan diadakan di Circuit of Wales; saya masih pesimistis dengan CoW itu.

Trek Donington Park lebih cocok untuk MotoGP. Dilihat dari panjang trek yang cuma 4 km.Otomatis balap disana lebih banyak lapnya, lebih banyak tikungan, dan lebih banyak kesempatan overtake. Ditambah lagi sirkuit Donington Park lebih menantang karena variasi elevasi trek.

British Grand Prix seringkali digelar dalam kondisi wet race, termasuk di Silverstone. Tetapi drama yang tersaji di Donington Park jauh lebih mendebarkan dibanding di Silverstone 2015 kemarin. Tentu pecinta MotoGP masih ingat bagaimana Ralf Waldmann mampu menjuarai GP250 setelah tertinggal puluhan detik dari Olivier Jacque (P1) hingga 3 lap terakhir. Atau drama 12 pembalap yang berhasil finish di MotoGP 2005; waktu itu Valentino Rossi benar-benar mengukuhkan dirinya sebagai the Rain Master.

Laguna Seca

Laguna Seca

Jika disuruh memilih Laguna Seca, Austin, atau Indianapolis; tentu saya memilih Laguna Seca. Sirkuit ini cepat, roller-coaster, dan terbukti mampu menyajikan battle menarik. Contohnya saja MotoGP 2008 (Stoner vs Rossi) dan MotoGP 2013 (Marquez vs Rossi). Dan dari itu semua, daya tarik utama adalah chicane Corkscrew.

Tapi sayang, kejadian terakhir di sirkuit ini saat duo pembalap Spanyol tewas di race superbike MotoAmerica 2015 menimbulkan kekhawatiran tentang sisi keselamatan sirkuit Laguna Seca. Memang sih kejadian itu lebih kepada race accident. Tetapi kalau dilihat dari foto satelit, jarak dinding pembatas trek memang cukup dekat dengan sisi lintasan. Hmmm…

Estoril

Estoril

Estoril atau Grand Prix Portugal hanya menggelar balapan sebanyak 13 kali dari tahun 2000-2012. Jujur saya belum tahu kenapa GP tidak kembali lagi ke sirkuit ini. Memang kalau dilihat dari animo balap motor Portugal memang masih kurang, dibandingkan dengan negara tetangga ; Spanyol. Hanya Miguel Oliveira saja yang mampu kompetitif dan mewakili Portugal di MotoGP.

Terlepas dari itu semua, race MotoGP Estoril 2006 adalah bukti nyata bagaimana sirkuit ini mampu menghasilkan battle yang menarik. Layout sirkuit ini mirip dengan sirkuit Catalunya, tempat battle paling menarik selanjutnya, Rossi vs Lorenzo, terjadi 3 tahun setelah race 2006 tadi. Jadi sudah sangat jelas jika dua sirkuit dengan layout ala hewan kepiting ini sebenarnya ‘saudara jauh’, sama-sama mampu menghasilkan battle berkelas, hehe.

Phakisa

Phakisa

Kalau melihat Grand Prix sebagai kejuaraan dunia; sudah pasti mereka harus singgah di benua Afrika. Dan salah satu venue paling memungkinkan untuk menggelar GP adalah Phakisa Freeway (Welkom). Sirkuit ini terakhir kali menggelar GP pada musim 2004. Karakter sirkuit yang pendek-pendek dan mengalir (mirip dengan Assen) adalah jaminan race bakalan menarik.

Dan menurut saya jika Phakisa ingin kembali menggelar GP (atau Superbike seperti tahun 2014 yang kemudian gagal); sirkuit ini harus berbenah memperbaiki akses atau infratruktur penunjang guna meningkatkan animo penonton lokal dan global. Terlihat dari foto satelit ini, sirkuit Phakisa seperti in the middle of nowhere dengan tribun penonton yang minimalis (hampir sama dengan gurun Losail)


Kalender MotoGP Ideal (20 balapan)
  1. Losail
  2. Suzuka
  3. Sentul*
  4. Rio Hondo
  5. Laguna Seca
  6. Jerez
  7. Le Mans
  8. Mugello
  9. Catalunya
  10. Assen
  11. Sachsenring
  12. Phakisa
  13. Brno
  14. Spielberg
  15. Misano
  16. Donington Park
  17. Motegi
  18. Phillip Island
  19. Sepang
  20. Valencia

(rz)

Analisis (Lanjutan); Betapa Bahayanya Tikungan Tajam & Lambat!

Menyambung tulisan kemarin tentang bahayanya T12 (tikungan terakhir) sirkuit Buriram; saya baru sadar beberapa sirkuit di dunia telah memodifikasi sirkuit dengan menghilangkan tikungan-tikungan tajam yang super lambat demi meningkatkan keselamatan, khususnya untuk balap superbike.

Salah satunya adalah sirkuit Monza dengan chicane pertama yang cukup lambat dan rawan kecelakaan. Apalagi diawali dengan main straight yang cukup panjang, lap pertama tikungan pertama menjadi sangat beresiko. Oleh karena itu khusus untuk balap Superbike sirkuit ini menyediakan variasi chicane yang bisa dilibas lebih cepat.

Chicane lambat (kiri) digunakan untuk balap mobil, sementara chicane
yang lebih cepat (kanan) digunakan untuk balap motor

Penampakan chicane baru untuk balap motor (SBK Monza 2013)
Ada juga T8 atau tikungan pertama setelah back straight sirkuit Assen yang juga dimodifikasi ulang untuk balap motor sehingga rider bisa lebih cepat masuk dan keluar tikungan. Dan salah satu tikungan lambat paling berkesan menurut saya adalah tikungan terakhir sirkuit Laguna Seca. Semua pasti masih ingat bagaimana teknik late braking Valentino Rossi pada 2008 mampu membuat Casey Stoner kelabakan dan akhirnya terjatuh. Atau pada MotoGP 2005 saat Marco Melandri dan Alex Barros kecelakaan di lap pertama.

Jadi menurut saya sih, tikungan lambat seperti di sirkuit Buriram memang gak cocok untuk balap motor. Kayaknya harus dirubah menjadi lebih rounded supaya bisa dilibas dengan kecepatan motor yang lebih ideal.

Sirkuit Motocross Assen, Gaya Baru Sirkuit Motocross Modern?

Akhir pekan lalu saya ‘dikejutkan’ oleh seri ke-16 MXGP yang berlangsung di sirkuit legendaries, TT Assen.  Sebenarnya pemilihan venue sirkuit Assen untuk gelaran MXGP of The Netherlands ini sudah diketahui sejak awal musim, tapi detail layout atau bentuk sirkuit motocrossnya baru saya ketahui kemarin (maklum sudah jarang update berita MXGP, kecuali bagian Ryan Villopoto atau Romain Febvre).

Kembali ke topik awal, beberapa tahun yang lalu memang sudah sering sirkuit-sirkuit aspal terkenal yang menjadi venue kejuaraan motocross. Misalnya sirkuit Donington Park dan Franciacorta yang menggelar kejuaraan MXoN 2008 dan 2009. Tapi waktu itu sirkuit motocross dibangun di lahan kosong di bagian dalam atau sekitar sirkuit. Tapi untuk sirkuit TT Assen ini tidak!


Sirkuit non-permanen ini 80% dibangun diatas lintasan aspal yang sudah ada (menimbun lintasan aspal dengan tanah dan pasir). Area start diposisikan di chicane terakhir sebelum trek lurus sirkuit Assen. Trek tanah dan pasir, khas MXGP di area Benelux, kemudian menjalar hingga depan tribun utama sirkuit (area kosong sebelah main straight) kemudian ke pit lane (!) dan berakhir di tempat parkir sirkuit sebelum kemudian kembali ke garis finish di sebelah area start.


Area start trek MXGP Assen 2015
Layout trek MXGP Assen 2015 (sebelum revisi)
Gambar layout trek di atas adalah versi awal sebelum sektor di depan tribun utama dipanjangkan hingga melintasi mayoritas main straight dan pit lane sirkuit Assen.

Layout yang ‘tidak biasa’ ini sebenarnya pernah dilakukan sirkuit Lausitzring untuk menggelar MXGP of Germany pada 2013. Lausitzring adalah sirkuit tri-oval khas balap Amerika Serikat yang pernah menggelar kejuaraan World Superbike dan A1GP di "Infield Track"-nya.

Pada waktu itu sebagian besar trek diposisikan di run-off area tikungan pertama "Infield Track". Trek tersebut kemudian menjalar hingga sebagian braking area di ujung main straight sirkuit. Tapi sayangnya sirkuit motocross non-permanen ini hanya digunakan sekali saja dan tidak berlanjut untuk tahun-tahun setelahnya. Wajar sih, soalnya waktu itu sirkuit Lausitzring hanya sebagai ‘pengganti’ karena sirkuit utama MXGP of Germany, Teutschental, akan digunakan untuk venue MXoN 2013.

Trek MXGP Lausitzring 2013

Tapi ternyata respon fans untuk sirkuit non-permanen seperti ini justru cenderung negatif. Karakternya lebih mirip sirkuit supercross dan menghilangkan sisi 'alami' yang sangat kental di sirkuit motocross pada umumnya. Jadi wajar jika sirkuit ini tidak terlalu awet dan hanya sekali digunakan Lausitzring.

Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa sirkuit seperti ini muncul lagi dan kali ini justu ada di sirkuit legendaris, TT Assen? Padahal masih banyak sirkuit-sirkuit motocross berkualitas di Belanda.

Dan akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan (analisis pribadi). Sirkuit non-permanen seperti ini ingin memanfaatkan tribun penonton yang sudah ada sebagai salah satu keunggulan untuk menarik perhatian penonton lebih baik lagi. (rz)