Tampilkan postingan dengan label 2015. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2015. Tampilkan semua postingan

Analisis Konflik Rossi-Marquez, Konflik Yang Muncul Tanpa Disengaja, Bukan Konspirasi!

Stop kebencian & dukung Vale 100%!


Respon fans pasca konflik Valentino Rossi dan Marc Marquez semakin tidak terkendali. Bahkan sampai mensyukuri jika Marc, Jorge, atau siapapun yang mungkin terlibat saat mereka crash atau terjatuh, dan berdoa supaya hal tersebut lebih sering terjadi di musim-musim depan. Buruk.

Hal tersebut sangat disayangkan karena cukup mencederai sportifitas di kalangan pendukung dan cukup ‘jahat’. Lalu apa bedanya kita dengan mereka kalau sama-sama ‘jahat’?

Saya selalu terbuka menerima banyak opini dan perspektif. Lalu untuk tulisan ini saya sedikit mengubah perspektif saya mengenai kejadian di Phillip Island hinga Valencia kemarin.

Bagaimana kalau semua kejadian yang berujung konflik tersebut muncul karena tidak disengaja ? 100% tidak disengaja.

Anggap saja Vale hanya ingin sedikit ‘memprovokasi’ lawannya dengan trik psikologis di GP Malaysia lalu. Ia mengungkap semua pandangannya tentang kejadian di Australia dengan tujuan  ‘memperingatkan’ Marc tentang aturan tidak tertulis.

Ia mungkin merasa pembalap yang berpotensi mengganggu battlenya dengan Jorge hanyalah duo Repsol Honda, yang justru tampil kompetitif di akhir musim. Dani Pedrosa sudah 30 tahun, kemungkinan besar ia sudah memahaminya. Yang tersisa cuma Marc, si pembalap muda yang kemungkinan belum terlalu paham. Oleh karena itu Vale ‘menyerangnya’ saat itu.

Kejadian di Phillip Island, menurut penjelasan Honda adalah Marc Marquez yang tidak ingin kejadian buruk di PI dua musim sebelumnya terulang kembali. Meskipun Marc tampil sebagai pole sitter, ia ingin tampil santai di race, menjaga ritme balap dan keausan ban, dan merencanakan serangan di akhir lomba.


Sialnya dengan strategi itu, saat balapan justru Marc ‘bergabung’ dengan Vale dan Iannone yang juga kompetitif. Mau tidak mau terjadilah battle ketat antara ketiganya plus Jorge di akhir lomba. Dan akhirnya munculah penilaian Vale (plus diamini Iannone) tentang race tersebut adalah ‘Marc ingin mendukung Jorge dengan menghambat kita di rombongan’. Mulai terlihat strategi menjaga ritme balap dan keausan ban di seri ini justru berakibat ‘fatal’ untuk Marc.
Next stop, GP Malaysia. Marc dituduh sengaja memberi jalan untuk Jorge dan sekali lagi menghambat Vale. Ceritanya di T4 saat ia melebar dan disalip Jorge. Ia pun kehilangan beberapa waktu (melorot hingga 2 detik). Celakanya lagi, di belakangnya kini The Doctor. Marc tampil secara maksimal saat bertarung dengan Vale. Itulah hal yang biasa dilakukan Marc tiap balapan.
Tetapi tidak untuk hari itu, kecepatan dan keagresifan Marc tersebut justru menimbulkan rasa frustasi bagi Vale. Ia mungkin terbayang, apakah prasangka yang ia kemukakan 3 hari sebelumnya akan terbukti benar? Apakah Marc tidak bisa mengerti apa maksud ucapan Vale adalah sebuah peringatan?
Dan akhirnya terjadilah insiden di lap ke-7. Vale melebar dan Marc tetap memaksa merebahkan motornya, padahal disitu tepat berada motor Vale. Saya kira maneuver ini tidak terlalu cerdas karena membahayakan kedua belah pihak. Marc mungkin belum mengerti peringatan Vale (the unwritten rules) dan ia tetap push 100%. Dan terjadilah crash.
Pasca GP Malaysia, semua sepakat untuk memulai hal yang baru di GP Valencia. Tetapi sekali lagi, sebuah kejadian semakin memperjelas tuduhan Valentino Rossi adalah benar adanya. Marc stuck di belakang Jorge sepanjang lomba. Tidak sekalipun ia melakukan percobaan overtaking meskipun gap keduanya hanya 0,3 detik saja. Honda sendiri berdalih hal tersebut disebabkan masalah di roda depan motor mereka.

Saya kira waktu itu tekanan paling besar justru dihadapi Marc. Jika ia memaksa overtake di saat Jorge sedang 100% mengejar gelar, dan hal buruk terjadi (misal Jerez 2013); tentu ia adalah sasaran utama kemarahan atas kegagalan Jorge. Tetapi jika tidak bertindak apapun, sekali lagi justru semakin membuktikan tuduhan Vale adalah benar. Situasi yang sangat tidak menguntungkan.

Puncak dari segala kontroversi adalah ketika Marc sangat agresif merebut posisinya kembali setelah tiba-tiba disalip oleh Pedrosa. Fans semakin mempertanyakan kenapa Marc tidak sekalipun mencoba menyalip Jorge? Padahal gapnya cukup dekat dan sirkuit Valencia (yang sempit dan pendek) masih sangat memungkinkan untuk menyalip (dibuktikan aksinya dengan Pedrosa tersebut dan Vale yang menyalip 21 pembalapd alap 13 lap).

Apakah Marc segan menyalip Jorge? Apakah semakin terbukti kecurigaan Vale? Meskipun berdalih problem di ban depan adalah penyebabnya, rasanya fans akan tetap sulit menerima fakta tersebut. Dan  saya rasa ‘kebencian’ terhadap Marc dan Jorge pun memuncak dan berlanjut hingga tahun-tahun setelahnya.

Dengan melakukan analisis seperti diatas semakin memperluas perspektif saya mengenai konflik antara Vale dan Marc. Konflik yang muncul karena suatu hal yang mungkin tidak disengaja. Yang saya sayangkan hanyalah kejadian di Sepang saat Marc ‘tidak memahami’ arti peringatan Vale. Mungkin karena ia masih sangat muda dan belum mengerti tentang ‘The Unwritten Rules’. Karena susah juga sengaja mengalah untuk duo Yamaha di saat motor Honda-nya berada di kondisi terbagus.
Vale dan Marc, dua sahabat yang kini ‘berseteru’ dan memungkinkan terciptanya Max baru bernama ‘MAX MARQUEZ’.


Note: Marc terbiasa tampil cepat dan agresif, karena tidak ada aturan yang melarang hal tersebut. Tetapi kebiasaan tidak selalu bisa dijadikan sebagai patokan kebenaran, karena arti sebuah kebenaran terkadang sangat tidak terbatas. Marc masih cukup muda dan perlu belajar banyak hal. Ia cuma sial musim ini...


REVIEW MotoGP Valencia 2015: #Lorenzo+KentCHAMP

  
#LorenzoChamp

TAMAT. MotoGP 2015 resmi berakhir dengan peresmian gelar juara dunia ke-5 untuk Jorge Lorezo. Terlepas dari insiden #SepangClash atau hal-hal lainnya, Jorge Lorenzo memang lebih layak juara dibandingkan Valentino Rossi. Kenapa? Karena dia berhasil menjuarai 3 GP lebih banyak dibandingkan Vale. Hal ini sama persis dengan 2006 saat Vale lebih superior daripada Hayden tetapi sayang dia sering tidak konsisten dan Hayden-lah yang akhirnya menjadi juara.

Sekali lagi terlepas dari insiden #SepangClash yang berbuah penalty, secara keseluruhan penampilan Vale musim ini sangat-sangat bagus. Hanya 3 kali gagal podium (termasuk di seri Valencia ini), tanpa DNF, dan finish terburuk adalah di P5. Sayang, ia kalah dari Lorenzo di 4 seri (Jerez, Le Mans, Catalunya, dan Mugello) serta P5 di Misano. Semuanya gara-gara Misano -_-

Next, yang cukup mengejutkan adalah cara selebrasi Jorge Lorenzo yang menampilkan ‘4 dirinya’ saat meraih gelar juara dunia sebelumnya. Ide ini sama persis dengan apa yang saya pikirkan jikalau Valentino Rossi yang menjadi juara. Sempat kepikiran, sudah ditulis setengahnya, tetapi lupa upload, hehe. Tetapi repot juga sih kalau Vale yang juara. Dia harus cari 9 temannya untuk ‘menjadi dirinya’ plus memerankan karakter Repsol Honda 2002-2003 (mungkin cuma ini yang agak susah diterima pihak Yamaha).
 
#KentChampion
*****
Another great story, Danny Kent berhasil meraih gelar juara dunia Moto3 yang sempat ‘tertunda’ di Malaysia dan Australia kemarin. Ia finish ke-9 dan sudah sangat cukup untuk mengunci gelar juara dunia; meskipun rival dan calon rekan setimnya di Moto2 2016 besok (Miguel Oliveira) menjuarai 3 GP sejak Australia. Danny Kent adalah juara dunia pertama yang berasal dari Inggris (di semua kelas) sejak terakhir Barry Sheene juara di musim 1977. Selamat!

Well, musim 2015 sudah tamat ; saatnya menantikan ban Michelin kembali beraksi ! sebagai catatan, juara dunia MotoGP terakhir yang menggunakan ban Michelin adalah Nicky Hayden. Secara mengejutkan ia mengalahkan Valentino Rossi #FinalShowdown Valencia 2006. Dan di tempat yang sama pula, 9 tahun setelahnya ; Nicky Hayden dan Bridgestone sama-sama mengakhiri karier MotoGP-nya.

Saya cukup tertarik dengan catatan-catatan seperti ini. Misalnya saja, Honda RC211V adalah mesin 990cc pertama dan terakhir yang menjuarai MotoGP era 990cc via Valentino Rossi (2002) dan Nicky Hayden (2006). Ada juga Casey Stoner, sebagai juara dunia pertama dan terakhir era MotoGP 800cc.

Nah, Lorenzo sebagai juara dunia terakhir pemakai Bridgestone; apakah nasibnya akan sama dengan Hayden?? (Gagal juara dunia setelah merk ban lain mendominasi GP). Kita tunggu saja dua hari lagi di test pra-musim pertama Valencia 2015!

Review MotoGP Malaysia 2015! Hot Race!

Hola amigos, race yang mendebarkan bukan? Tentu bukan cerita kemenangan ke-3 secara beruntun yang diraih pasukan Honda; tetapi clash antara Rossi vs Marquez yang ramai di twitter dengan tagar #SepangClash.

Punch Redding Punch! #MalaysianGP

In my opinion, kejadian seperti ini sebenarnya bukan hal yang baru di MotoGP; tetapi memang jarang sekali terjadi. Tentu kalian masih ingat bagaimana Biaggi ‘menggiring’ Rossi ke sisi luar lintasan di tikungan terakhir Suzuka 2001 yang sangat kencang itu. Atau teknik ngerem mendadak di Laguna Seca 2008 yang sukses membuat Stoner balapan di gravel. Hehe kalau kasus yang pertama emang bahaya banget, tetapi kalau kasus Stoner, Jeremy Burgess bilang kalau trik ngerem mendadak seperti itu sering dilakukan di balap era 80’an. Saya sih nggak tau itu seperti apa tapi percaya aja deh sama master Burgess.

Tempat Kejadian Perkara

Oke lanjut ke kasus #SepangClash ini. Kejadiannya di tikungan 14-15. Sequence bagian selatan sirkuit Sepang memang lokasi favorit overtaking karena menjanjikan 2 kesempatan di satu tikungan. Biasanya pembalap mencoba menyalip tetapi kemudian melebar (out of line) dan pembalap yang akan disalip bisa masuk lagi ke dalam. Unik kan? Seolah gak terjadi apa-apa setelah keluar dari tikungan (padahal nyatanya sempat ada 2 aksi overtake). 

Hal itulah yang terjadi di sirkuit Sepang. Tikungan 14-15 cukup berdekatan sehingga Rossi terlihat seperti satu tikungan. Hampir sama lah dengan hairpin di Misano.  Rossi in di tikungan ke-14, dan seperti biasa manuvernya mulus meskipun sudah bisa dipastikan ia akan out of line alias wide. Lalu Rossi yang sempat nengok ke kiri 2 kali itu pun agaknya memastikan kalau Marquez gak ikut-ikutan wide juga (karena bahaya bro, resikonya jatuh di kecepatan rendah).

Predictable Race Line di tikungan 14-15 sirkuit Sepang
Merah adalah line yang biasa digunakan untuk gantian menyalip
setelah keluar dari tikungan ke-14. Tetapi MM93 gak ambil
line itu....
Next, keduanya pasti sudah paham kalau out of line gitu kecepatannya cukup rendah. Tetapi malah kemudian Marquez merebahkan motornya (bukan menghindari terjadinya senggolan). Kelihatannya dia agak maksa  ikutan nempel terus. Padahal kan sisi lintasan Sepang waktu itu sudah dilapis tarmac jadinya meskipun melebar sedikit gak akan kehilangan waktu banyak. Banyak orang mengira kalau Rossi menendang Marquez. Padahal sepengetahuan saya yang bergerak adalah lutut kiri (refleks setelah terkena helm/kepala Marquez).

Bener aja kalau sengaja Rossi sengaja nendang, pasti dia ikutan jatuh juga. Selagi menikung lambat tentu saja keseimbangan berkurang, ditambah manuver ‘nendang’ tentu tambah tidak stabil.

On the way to meet the race direction...

Fiuhhh, balapan yang panas. Tetapi tetap tahan emosi. Jangan salahkan juga tulisan ini yang seolah-olah membela Rossi banget. Wassalam :D


Update sebelum diposting (Minggu 25/10/2015; 16:08) Race direction memutuskan penalti grid  (start paling belakang) untuk Rossi di GP Valencia. Tetapi masih ada upaya banding dari tim Yamaha MotoGP. Let's see the case in 10 days ahead!


Valencia 2012

NB : Any possibilities of wet race next round? :)

Drama (Jelang) MotoGP Malaysia 2015; Kabut Asap Hingga Konspirasi?!

  • Kabut asap diatas sirkuit Sepang mengganggu pernafasan, penglihatan, dan operasional siaran langsung via helicopter. Race dibatalkan? check
  • Andrea Dovizioso terjebak kabut asap dan harus berkendara 7 jam menuju sirkuit Sepang via laut-darat. check
  • Heboh press-con jelang GP weekend, Marquez berusaha membantu Lorenzo? check


Haze everywhere near Sumatera #pedulikabutasap

Well, menjelang GP Malaysia 2015; perang urat syaraf dan psikologis sudah mulai dilancarkan pembalap. Belum lagi masalah kabut asap yang mengancanm GP akhir pekan nati. Race dibatalkan?

Dari 3 berita diatas saya tertarik membahas berita terakhir. Sebuah pernyataan mengejutkan yang disampaikan oleh Valentino Rossi pada press-con hari ini (22/10). Yuk kita bahas langsung!



Marquez dianggap membantu Lorenzo dalam GP Australia minggu lalu.


Lho kok gitu? Bukannya MM93 overtake JL99 dan berhasil mengamankan 5 poin untuk Rossi? Kalau nggak gitu selisih poinnya sekarang cuma 6 saja lho.


Drama MotoGP emang lebih seru dibanding F1 sekalipun

Pernyataan singkat diatas memang benar. Tetapi Rossi punya perhitungan lain setelah membaca data teknis balapan. Singkatnya, atau kesimpulannya, Marquez adalah manusia tercepat dalam GP Australia tersebut. Dengan paket motor dan fisik yang ada, ia seharusnya bisa lolos di depan sendirian (atau setidaknya bertarung dengan Lorenzo) dan membiarkan pembalap lain dibelakangnya mendekat ke depan.

Tetapi yang terjadi di atas lintasan tidak seperti itu. Meskipun akhirnya Marquez tetap menjadi pemenang setelah melewati battle of group yang ketat, Marquez dianggap sengaja melaju pelan dan terlibat dalam rombongan Rossi-Iannone.

Ia dianggap sengaja menahan Rossi dan Iannone sepanjang balapan untuk kemudian gaspol di akhir lomba, menyalip Lorenzo dan menang. Memang terlihat licik, tapi itulah strategi balapan. Sah-sah saja. Keputusan Marquez menyalip Lorenzo juga bisa dianggap sebagai 'membayar' kesalahannya menahan Valentino Rossi sepanjang lomba.

Kemungkinan besar Rossi berniat untuk mendekat kepada Lorenzo dan memaksa terjadinya battle yang ketat karena dia yakin Lorenzo selevel dengan dirinya, Dengan begitu kemungkinan Rossi finish di depan Lorenzo (berapapun posisinya) semakin terbuka lebar. Tetapi hal tersebut tidak terwujud karena Marquez "mengganggu" sehingga Lorenzo berhasil menciptakan pace yang sempurna dan gagal didekati Rossi.

Percaya nggak? Entahlah. Kalaupun benar gak akan ngaruh apa-apa, sah-sah saja karena itu strategi balapan. Tapi aneh juga, balapan terbaik dekade ini terindikasi sebagai settingan yang direncanakan oleh Marquez. Keren lho! Bisa-bisa kemudian Marquez dijuluki the Director (nyaingin the Doctor-nya Valentino Rossi) hehe...

Saya lebih mengira kalau ini sebagai perang psikologis. Sebuah warning untuk Marquez agar tidak mengganggu battlenya dengan Lorenzo. Mungkin Rossi teringat kejadian Toni Elias yang menggagalkan kemenangannya di Estoril 2006 disaat ia bertarung ketat dengan Hayden di tabel klasemen.

Yang pasti, drama ini akan terus berlanjut hingga setidaknya 8 November. Akan sangat menarik ditunggu akhir dari MotoGP Silly Season 2015 ini (eits, kenapa Silly Season? tunggu jawabannya di posting selanjutnya!). Keep on fight guys! (rz)

*tulisan diatas merupakan hasil analisis pribadi dari berita yang dimuat di crash.net ini.


Review MotoGP Australia 2015

Cerita dari burung

10 tahun lebih nonton MotoGP Phillip Island, Australia ; baru kali ini secara langsung saya melihat seekor burung ditabrak oleh rider pas race dan live di TV! Wow!

Meskipun bisa dipastikan burung tersebut mati, tetapi untunglah hanya terkena helm atau bagian atas fairing motor Andrea Iannone. Coba kalau sampai masuk saluran angin seperti ini, bisa jadi #29 gak bakalan bisa fight di race yang seru ini.

Beruntung tidak terjadi seperti ini

Oke, komentator Nick Harris bilang kalau race ini adalah salah satu race (battle of group) terbaik di 10 tahun terakhir. Saya setuju tetapi tidak sepenuhnya. Karena race battle of group seperti ini juga pernah terjadi di Sachsenring 2006. Tetapi bedanya cuma di sirkuit aja sih sebenernya. Sachsenring adalah sirkuit lambat sementara Phillip Island adalah sirkuit super cepat (dan berbahaya, layaknya Daytona di AMA Superbike).

Valentino Rossi start ke-7 dan sempat tertahan traffic di posisi ke-6 di awal race. Hingga pertengahan lomba, Lorenzo sudah bisa menjaga pace di depan; dan dibelakangnya Marquez, Rossi, dan Iannone (yang menjelang akhir lomba mampu merapatkan gap dengan dua rider didepannya. Hal ini sangat menarik karena ia sudah tertinggal hampir 1 detik di lap-lap sebelumnya).

Power Ducati yang luar biasa di home straight berkali-kali memotong Marquez, Rossi, hingga Lorenzo saat perebutan P2. Tapi khusus Lorenzo, ia hanya merasakan P3 di setengah tikungan saja (tepatnya di tikungan pertama).

Saya sangat kagum dengan kemampuan Marquez mengembangkan kecepatannya. Meskipun sempat berada di P2-P4, tetapi dengan tenang dan tak terduga tiba-tiba ia sudah bisa berada 0,5 detik di belakang Lorenzo. Padahal di lap-lap sebelumnya gap mencapai 1,4 detik. Wow!

Disaat Marquez berhasil mengembangkan kecepatannya,
Lorenzo hanya mampu menjaga pace maksimal 1,4 detik.

Puncaknya saat lap terakhir. Komposisi pembalap adalah Lorenzo memimpin dengan gap sekitar 0,5-0,8; sementara dibelakangnya (battle of group), Marquez, Iannone, dan Rossi. Manuver pertama dilakukan Rossi dengan menyalip Iannone di hairpin (Honda Corner/T4). Tapi sayang Iannone kembali meraih posisinya saat keluar tikungan dan keduanya berakhir cukup lambat setelah tikungan ini.

Dan tidak disangka-sangka, Marquez sudah melepaskan diri dari rombongan setelah keluar dari tikungan Siberia (T6). Terlihat dari helicopter camera, gap Lorenzo-Marquez hanya sekitar 0,3 detik di tikungan 7-8. Puncaknya di Lukey Heights, Marquez sudah berada tepat dibelakang Lorenzo, pun Rossi dibelakang Iannone. Dan menjelang MG Corner (T10), keduanya bersiap melakukan overtaking. Marquez sukses, Rossi gagal!

The Real Winner! MM93 pole position dan kemenangannya
kali ini sangat istimewa. Selamat! 

Begitulah akhirnya race terseru tahun ini berakhir dengan P1-P4: Marc Marquez (first point & first win in PI in MotoGP class), Jorge Lorenzo, Andrea Iannone, Valentino Rossi. Hasil ini masih menempatkan Valentino Rossi di posisi puncak klasemen dengan margin 11 poin saja. Dan kedua kalinya di musim ini Rossi gagal podium.

Kalau dilihat secara teknis, paket motor Honda di Phillip Island kali ini sedikit lebih baik dibandingkan Yamaha. Sementara Ducati mempunyai catatan khusus dimana mereka sangat kuat di home straight (900’an meter). Dan kelebihan Honda (Marc Marquez) kali ini adalah mampu mengembangkan kecepatan dengan konsisten dan tidak tertinggal cukup jauh saat Ducati (Andrea Iannone) ‘mengacaukan’ race di home straight. (rz)

Review MotoGP Jepang 2015

Sebelum mulai review kali ini, ada baiknya saya memberitahukan kalau tulisan review MotoGP hanya akan dibuat kalau race-nya berlangsung seru (oleh karena itu race Aragon lalu tidak dibuat reviewnya di blog ini, hehe).

Menyambung tulisan WOW Japan 2015 beberapa hari yang lalu, race Jepang kali ini memang sangat-sangat seru. Bukan aksi overtaking, tetapi bagaimana rider mengatasi trek basah (yang berangsur-angsur mengering). Trek basah sendiri boleh dibilang adalah ‘panggung drama’ yang paling utama. Tentu kita masih sangat ingat bagaimana race Misano sebulan yang lalu.

Oke, kecermatan Dani Pedrosa menjaga keausan bannya di Motegi kali ini adalah salah satu kunci juara utama. Race kali ini mengingatkan saya dengan bagaimana Ralf Waldmann mengejar gelar juara GP250 Donington Park 2000.

Balapan berjalan cukup membosankan, Lorenzo P1 dan Rossi P2 selama hampir setengah balapan. Dan kemudian Pedrosa yang sejak awal race berada di P4 secara perlahan menyalip Dovizioso dan menipiskan gap, sebagai penonton saya sudah berangan-angan bahwa hasil akhir race kali ini akan sangat tidak terduga. Apalagi kondisi trek kali ini sangat mendukung!

Memangkas gap dari 3 detik menjadi 1,4 detik dalam 1 lap adalah hal yang luar biasa. Dan dalam beberapa tikungan setelahnya Pedrosa sudah mampu menyalip Lorenzo. Luar biasanya lagi Rossi juga mampu menyalip Lorenzo dan mendapatkan keuntungan poin.

Jika saat Lorenzo P1 dan Rossi P2 selisih poin hanya 9, maka setelah race selisih poin menjadi bertambah 2 kali lipat menjadi 18 point! Wow. Dengan selisih tersebut Rossi sebenarnya merupakan keuntungan dan cukup bermain konsisten di 3 race tersisa gelar juara dunia yang telah terlepas selama 6 tahun akan kembali.

Rossi hanya perlu finish tepat dibelakang Lorenzo di 3 race tersisa. Tak peduli kalau Lorenzo juara di 3 race tersebut, Rossi hanya perlu finish kedua. Maka di akhir musim selisih poin Rossi dan Lorenzo adalah 3 poin, VALE 10!

#RossiVsLorenzo


Oke, kita bahas hal menarik lainnya. GP Jepang yang digelar di kondisi basah memang sering memakan banyak korban. Salah satunya adalah Pol Espargaro yang harus terjatuh cukup keras di tikungan ke-11. GP Jepang yang selalu dinantikannya setelah kesuksesan di Suzuka 8Hours ternyata harus berakhir pahit. Mungkinkah jodoh Pol Espargaro bukan Motegi tetapi Suzuka? Entahlah :D

Jepang yang kali ini tak menyenangkan bagi Pol Espargaro

Oiya satu lagi hal yang cukup penting dan menggembirakan bagi Pedrosa selain gelar juara perdananya di musim ini. Dengan P1 di Motegi kali ini, total Pedrosa telah mengoleksi 50 gelar juara GP (8x125cc, 15x250cc, 27xMotoGP). Kemenangan pertama Pedrosa diraih di kelas 125cc Assen 2002.

Seperti yang terlihat di video klasik ini, Pedrosa sempat tertangkap kamera sedang menonton race MotoGP Assen 2002 dari pitwall. Ia menyaksikan race menarik antara motor 2-tak dan 4-tak yang akhirnya dimenangi oleh Valentino Rossi; orang yang sama dengan yang ia kalahkan di MotoGP Motegi 13 tahun setelahnya. Congrats! (rz)


WOW! MotoGP Jepang 2015!

Just wow! Cerita menarik seputar dunia MotoGP, khususnya yang akan berlangsung yaitu MotoGP Jepang 2015 ternyata sudah dimulai beberapa hari sebelum race hari minggu dimulai. Apa pasal? Yuk kita bahas satu per satu!

#1 JOHANN ZARCO

Zarco 1st

Bagaimana rasanya jika mendapatkan gelar juara dunia sebelum race dimulai? Atau bahkan, gak usah balapan di 4 seri tersisa pun gelar juara dunianya akan tetap aman.

Johann Zarco adalah salah satu pembalap yang mendapatkan keuntungan super seperti diatas. Ia dipastikan meraih gelar juara dunia Moto2 2015 bahkan sebelum race seri ke-15 di Motegi dimulai! Kenapa begitu?

Hal itu disebabkan absennya Tito Rabat di GP Jepang ini setelah hanya merampungkan 8 lap di Free Practice 1. Rabat merasa fisiknya sudah tidak memungkinkan untuk menyelesaikan GP Jepang akibat cidera yang ia dapatkan saat berlatih di Spanyol seminggu lalu. Otomatis dengan absennya si juara bertahan, poin antara Zarco (P1) dan Rabat (P2) setelah seri ke-15 ini minimal adalah 78 poin. Sudah tidak mungkin terkejar dengan 3 balapan tersisa.

Keuntungan kedua adalah, gak usah nerusin balapan di 4 seri tersisa pun gelar juara dunianya tidak akan terganggu. Absennya Rabat justru di seri Asia-Australia yang terkenal rapat (3 balapan beruntun dalam 3 minggu), menimbulkan ketidakpastian apakah Rabat akan kembali ke Moto2 dalam waktu dekat atau tidak.

Hal tersebut membuat persaingan antara Zarco dan Rabat beralih ke Zarco dan Rins. Karena selisih poin antara Zarco dan Alex Rins di posisi ketiga adalah pas 100 poin pas dengan jumlah poin maksimal yang tersedia di 4 seri tersisa. Jikalau Zarco absen hingga akhir musim dan Rins mampu menjuarai keempat seri tersebut pun poinnya tetap akan sama dengan Zarco.

Dan dengan poin yang sama, Zarco akan tetap menjadi juara dunia karena mempunyai jumlah kemenangan yang lebih banyak (6 vs 5). Vamos Zarco!

#WILDCARD

Yang menarik dari GP Jepang adalah wildcard di kelas MotoGP. Sekarang ini mungkin hanya seri Jepang saja yang bisa menghadirkan pembalap wildcard lokal di kelas tertinggi MotoGP. Beberapa negara seperti Amerika Serikat memang pernah mengirimkan pembalap wildcard lokalnya, terutama antara musim 2005-2008. Tetapi setelah itu paling mentok hanya mengirimkan wakilnya di kelas CRT/Open.

Dua rider wildcard di GP Jepang kali ini adalah Katsuyuki Nakasuga (Yamaha) dan Takumi Takahashi (Honda). Keduanya adalah rider terbaik yang dimiliki Yamaha dan Honda di Jepang saat ini. Saya tidak terlalu tertarik dengan kehadiran Kats-san (karena ini adalah partisipasinya yang ke-4 secara beruntun di GP Jepang). Jadi sudah cerita lama kali ya, hehe.

Kehadiran Takumi Takahashi kali ini lebih menarik karena saya pernah membahas ini, ia adalah rider Honda Jepang terbaik (yang paling pantas membalap di MotoGP) setelah era Hiroshi Aoyama. Cukup berikan ia kesempatan selama 2-3 musim di MotoGP dan kita akan lihat hasilnya. Semoga saja ia bisa bersinar :D

Di GP Jepang kali ini tim yang menaungi Takumi Takahashi adalah Team HRC with Nissin. Nomor start 72 menjadi unik  karena nomor ini selalu digunakan rider wildcard Honda di GP Jepang sejak era Shinichi Ito (setidaknya itu yang saya ketahui pada GP Jepang 2002 dan 2011).

Team HRC with Nissin

Dengan munculnya pembalap wildcard tentu saja muncul desain livery motor yang baru. Untuk motor Takumi Takahashi, desain livery motornya cukup sederhana dengan warna utama putih dan sapuan warna biru-merah sesuai warna HRC dan Nissin. Corak warna putih-biru-merah ini mengingatkan saya dengan livery Repsol 40th di seri Valencia 2008.


Yamaha Factory Racing

Sementara itu livery klasik Yamaha (kuning-hitam-putih) akan kembali lagi ke MotoGP setelah 10 tahun (terakhir digunakan di MotoGP Laguna Seca 2005). Livery ini akan digunakan Katsuyuki Nakasuga. Menarik!

Well, segitu dulu aja ya kita bahas menariknya GP Jepang kali ini. Semoga race hari minggu besok juga menyenangkan dan menegangkan! See ya... (rz)

Update Sirkuit TT Assen (Pasca MXGP)

Beruntung MotoGP Assen digelar jauh sebelum MXGP Assen. Kalau tidak, pemandangan sirkuit sirkuit seperti inilah yang akan terlihat di MotoGP. Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, sirkuit motocross Assen untuk kejuaraan MXGP akhir Agustus 2015 kemarin dibangun diatas trek aspal dan rumput di sektor terakhir (triangle) sirkuit Assen. Hasilnya setelah ajang MXGP tersebut rumput-rumput di sisi lintasan rusak dan ditambah cuaca hujan jadilah kubangan air dan lumpur.


























Gambar diatas diambil dari kejuaran British Superbike seri ke-10 di sirkuit Assen, tepat 3 minggu setelah kejuaraan MXGP. Kotor deh :(

Well, meskipun kotor, saya kasih bonus aja deh highlights MXGP Assen 2015. Musim ini benar-benar kebangkitan tim-tim selain Red Bull KTM. Tidak ada nama-nama 'tradisional' seperti Antonio Cairoli dan Jeffrey Herlings yang mendominasi MXGP beberapa tahun terakhir.

Gantinya adalah Romain Febvre (Yamaha), Shaun Simpson (KTM), Max Anstie (Kawasaki), dan Tim Gajser (Honda) yang menjuarai MXGP seri Assen ini. Plus nama Glen Coldenhoff, crosser tuan rumah yang berhasil runner-up race 2. Uniknya ia memakai nomor start 259 (nomor James Stewart sebelum mendapatkan nomor karier). Merata juaranya!





Gak kalah menarik juga race ke-2 British Superbike seri Assen ini. Balapan ini digelar di kondisi trek yang gak menentu. Dan Linfoot berjudi dengan memakai ban basah di trek yang mulai mengering. Efeknya sih lumayan di awal race. Dari P8 di tikungan pertama hingga P1 di tikungan terakhir lap pertama. Tapi sayang hasil akhirnya ia hanya finish di posisi 22.

Tapi yang menarik juga adalah double win Josh Brookes (Yamaha). Dengan hasil seri Assen ini ia kini memimpin klasemen dengan keunggulan 26 angka dari Shane Byrne di posisi kedua (577). Selain itu performa Yamaha R1 yang dikendarai Brookes juga menunjukkan bahwa mesin ini sudah cukup siap untuk berlaga di World Superbike. Saya sendiri menunggu debut mesin ini di World Superbike (entah kapan), dan jika mendapatkan rider yang cocok; besar kemungkinan Yamaha R1 bisa langsung menjuarai WSBK. (Harapan saya duo America, Cameron Beaubier atau Josh Herrin bisa mengulang sukses Ben Spies di 2009 lalu).


Review MotoGP San Marino 2015

Ini pertama kalinya saya bikin review balap MotoGP. Grand Premio TIM di San Marino e Della Riviera di Rimini adalah GP pertama yang akan saya review.

Entah berhubungan atau tidak, helm 'ikan' Vale merefleksikan
keadaan lintasan saat raceday, Bad luck Vale!

Oke. Sekali lagi gambling cuaca bikin MotoGP kali ini kurang seru. Kondisi kering-basah-kering membuat balap tidak lagi tentang aksi overtaking, tetapi lebih ke pemilihan strategi penggunaan ban dan kapan masuk pitlane untuk ganti motor.

Sampai lap 16 atau 17 saya lupa, Marquez sudah masuk pit untuk mengganti motornya ke settingan kering (settingan awal). Sementara itu Lorenzo dan Rossi masing-masing bergantian mengganti motor lap berikutnya.

Pitlane's traffic

Saya sangat terkejut ketika mengetahui perbedaan lap-time Rossi (P1) dan Marquez (P3 setelah ganti motor kedua) sekitar 6 detik per lap (lebih cepat Marquez). Wow! Disini optimisme saya kalau Rossi bakalan menang (atau podium) semakin menipis.

Coba hitung dengan perhitungan sederhana. Jika lap sebelum top 3 mengganti motor kedua cuma berbeda 2 detik diantaranya (+4s antara Rossi dan Marquez). Sementara anggap saja waktu yang dibutuhkan oleh masing-masing pembalap untuk mengganti motor dan melintasi pitlane adalah 20 detik, berarti Marquez sudah tertinggal 24 detik dari Rossi saat ia keluar dari pitlane.

Tapi dengan keuntungan 6 detik per lap yang dimiliki Marquez membuat ia hanya berjarak 12 detik saat The Doctor masuk ke pitlane 2 lap setelahnya. Otomatis setelah Rossi kembali ke lintasan, gap antara keduanya kini cuma sekitar 8 detik (20s-12s). Ditambah adaptasi lintasan setelah Rossi kembali, gap yang diciptakan tentu lebih besar lagi. (Perhitungan diatas hanya perkiraan saja biar lebih sederhana hehe).

Mengejar gap kurang lebih 8 detik di 5 lap menjelang finish untuk Rossi adalah hal yang mustahil. Terlebih setelah melihat hasil resmi yang dirilis MotoGP.com, gap sebenarnya antara Rossi (P5) dan Marquez (P1) adalah 33 detik. Wow!

Balap di kondisi tak menentu seperti MotoGP Misano ini memang cenderung mengundang drama. Semua pasti masing ingat bagaimana Alex Barros (Camel Honda), Marco Melandri (Fortuna Honda), dan Chris Vermuelen (Rizla Suzuki) secara tidak terduga menjuarai MotoGP Portugal 2005, MotoGP Australia 2006, dan MotoGP Perancis 2007 di kondisi yang serupa. Untuk MotoGP Misano kali ini kejutan terbesar menurut saya adalah hasil yang sangat tidak terduga yang diraih Bradley Smith, Scott Redding, dan Loris Baz (P2-P4). Catatan untuk Scott Redding, ia bahkan sempat terjatuh di awal lomba saat masih menggunakan motor kering di trek basah. Luck!

Dan untuk MotoGP modern ini (1000cc), Marc Marquez adalah rider paling beruntung karena (seingat saya) dia berhasil menjuarai 3 GP di kondisi serupa. Selain Misano 2015, ia berhasil menjuarai Assen 2014 dan Sachsenring 2014. Sementara itu mungkin Valentino Rossi adalah rider yang selalu kurang beruntung. Setau saya ia belum pernah menjuarai balap di kondisi seperti ini. Bahkan memori terburuk adalah saat ia terjatuh di Le Mans 2009, beberapa lap setelah ia mengganti motornya.

Marc Marquez menjadi lebih santai menjalani sisa musim 2015.

Yang pasti posisi 5 Valentino Rossi kali ini setidaknya menambah keuntungan 11 poin di klasemen. 'Terimakasih' untuk Jorge Lorenzo yang DNF sehingga posisi keduanya kini di klasemen terpaut 23 angka. Dengan 5 balapan tersisa, pertarungan MotoGP menjadi lebih seru. Selisih 63 poin antara Rossi dan Marquez juga masih bisa dikejar tetapi kemungkinannya sangat tipis.

Klasemen MotoGP 2015 (setelah seri ke-13)

1              247         Valentino Rossi
2              224         Jorge Lorenzo (+23)
3              184         Marc Marquez (+63)
4              159         Andrea Iannone (+88)
5              135         Bradley Smith (+112)

#Sekali lagi Rossi kurang beruntung & strategi yang sangat jitu dari Marquez (belajar dari Aragon 2014 mungkin, hehe) (rz)

Opini; Sirkuit Baru MotoGP 2016 & Apakah Amerika Serikat Mulai Tidak Tertarik dengan MotoGP?

Oke, hari ini ada satu berita penting yaitu tentang kalender sementara MotoGP 2016 yang dirilis oleh Dorna. Dan dari 1 berita ini ternyata mempunyai banyak cerita di dalamnya. Apa sajakah itu ?

Pertama adalah tentang sirkuit-sirkuit baru yang selama ini diberitakan akan masuk ke kalender serta beberapa sirkuit yang harus angkat kaki di Grand Prix. Sirkuit Red Bull Ring (Spielberg) di Austria secara resmi masuk ke kalender. Perkiraan saya, GP Austria akan sedikit banyak menarik animo  penonton yang berasal dari Jerman karena kedekatan geografis dan budaya dua negara. Sementara itu sirkuit Condegua (GP Chile) tak nampak dalam kalender.

Osterreichring a.k.a Spielberg a.k.a Red Bull Ring (favorit)

Jumlah seri akan tetap 18 Grand Prix (sama dengan musim 2015) hasil dari dihapusnya GP Indianapolis. Slot waktunya persis diisi oleh GP Austria. Itu artinya sirkus MotoGP tidak usah ‘berkelana’ ke benua Amerika hanya untuk satu seri saja (Indianapolis). Sirkuit Spielberg sendiri adalah salah satu favorit saya. Sirkuit ini telah menggelar F1 lagi sejak dibeli oleh Red Bull. Treknya sangat indah, berada di pegunungan khas eropa tengah, dan banyak variasi elevasi. Salah satu bagian trek yang menurut saya paling menarik adalah trek lurus ketiga (antara R2/Remus dan R3/Gosser). Karakter trek lurus yang melengkung dan menurun plus jarak dengan pembatas trek yang cukup dekat, mengingatkan saya dengan backstraight sirkuit Salzburgring yang menurut Mick Doohan seperti "threading a motorcycle through the eye of a needle at 180mph whilst banging fairings with your competitors with armco barriers on each side"

Kedua, secara tidak langsung  dihapusnya GP Indianapolis menunjukkan bahwa Amerika Serikat mulai tidak tertarik dengan Grand Prix (atau balap motor secara keseluruhan). Kondisi yang ada saat ini sangat berbeda dengan 10 tahun lalu saat Laguna Seca kembali menggelar GP Amerika Serikat setelah 12 tahun absen. Amerika mulai kehilangan satu per satu Grand Prixnya. Dan pertanyaan apakah sirkuit CoTA (Austin) yang lebih kental dengan F1 akan berakhir sama dengan Shanghai atau Istanbul yang hanya bertahan beberapa musim saja? Ataukah GP AS akan kembali lagi ke Laguna Seca? Semoga saja.

Nicky Hayden, Laguna Seca 2005


Jika kita tarik ke belakang. kembalinya Laguna Seca pada 2005 lalu juga mencuatkan semangat juang pembalap Amerika Serikat hingga Nicky Hayden berhasil menjuarai MotoGP 2006. Pada waktu itu juga ada 5 pembalap dari benua Amerika (dari AS dan negara Amerika Latin) sebagai pembalap MotoGP regular (Hopkins, Roberts, Edwards, Porto, Barros). Jadi wajar jika MotoGP di Amerika mulai bergeliat lagi, apalagi ditambah munculnya the Elbows (Ben Spies) di pentas dunia. Buktinya adalah muncul GP Indianapolis (2008) yang disusul GP Americas (2013) dan GP Argentina (2014).

Tapi yang terjadi sekarang berbeda. Regenerasi pembalap dari benua Amerika (pada umumnya) kurang mulus. Praktis hanya Nicky Hayden dan Yonny Hernandez yang bertarung di kelas utama MotoGP. Josh Herrin yang musim lalu mencoba peruntungan di Moto2, musim ini kembali ke MotoAmerica karena gagal bersaing (karena cedera dan tim permasalahan internal tim Caterham).

Kompetisi dalam negeri Amerika Serikat (MotoAmerica) juga tengah mengalami krisis. Animo pembalap dan penonton yang semakin menurun (terutama di kelas Superbike) adalah salah satu masalah utama. Pengelola balapan juga dikritik karena tidak bisa menyajikan tontonan balap berkualitas yang ramah kepada penonton, jika dibandingkan dengan kompetisi superbike terbaik di dunia; British Superbike.

Hanya ada satu balap Grand Prix di Amerika Serikat adalah rekor terendah sejak 2008. Bahkan jika dibandingkan dengan dua musim lalu, jumlah balap internasional di Amerika Serikat menurun drastis. Dari 3 GP dan 1 Superbike pada 2013, menjadi hanya 1 GP dan 1 Superbike pada musim 2016.

Turunnya animo balap seperti di atas dan berimbas kepada jumlah pembalap yang beradu di pentas dunia sebenarnya pernah dialami Jepang pasca meninggalnya Daijiro Kato. Disusul dengan hilangnya sirkuit Suzuka dan meninggalnya Norick Abe plus Shoya Tomizawa. Kini Jepang hanya diwakili Takaaki Nakagami (23 th) di kelas Moto2. Pembalap lain yang dinilai lebih berpengalaman seperti Ryuichi Kyonari (BSB), Katsuyuki Nakasuga (MFJ-JSB1000) dan Yuki Takahashi (Asia) dirasa sudah cukup ‘tua’.
Takumi Takahashi, Motegi 2014

Harapan saya sih Takumi Takahashi (26 th, Honda) memulai debut di pentas dunia, hehe

. Salam speed (rz)

Opini; Sirkuit Yang Seharusnya Masih Menggelar MotoGP

Jujur saja, saya masih kurang puas dengan kalender MotoGP sekarang ini. Banyak sirkuit baru yang menggantikan sirkuit-sirkuit lama, tapi justru menurut saya kurang cocok untuk MotoGP. Kelima sirkuit yang seharusnya masih menggelar GP itu adalah:

Suzuka

Suzuka

Seharusnya MotoGP masih bertahan di sirkuit Suzuka dan mungkin Motegi tetap menggelar GP dengan title Pacific Grand Prix atau bahkan Asian Grand Prix (seperti di F1 ada European Grand Prix). Kenapa dua GP? Wajar saja sih, pabrikan Jepang kan dominan di MotoGP.

Oke, sirkuit Suzuka memang lebih disukai fans. Layoutnya teknikal, cepat, dan menantang. Selain itu akses fans di sirkuit ini lebih baik dibanding Motegi. Tapi masalahnya sirkuit Suzuka dinilai masih kurang aman untuk balap sekelas MotoGP. Mungkin lisensi sirkuit Suzuka FIM Grade B (maksimal hanya boleh menggelar balap Superbike).

Tapi jika ada sedikit keinginan untuk mempertahankan MotoGP dengan cara merenovasi sirkuit demi meningkatkan sisi keselamatan, Suzuka pasti bisa. Menurut analisis saya, masalah utama cuma pada R1, Spoon Curve dan 130R. R1 dan Spoon Curve cukup didesain ulang (diperpendek) untuk menyediakan extra run-off area. Kemudian untuk 130R, imajinasi saya sih sangat memungkinkan untuk dibuat chicane baru di sisi dalam 130R. Fungsinya untuk mengurangi kecepatan di exit 130R hingga Casino Triangle.

Dan pada akhirnya, semua itu tergantung keputusan Honda. Mengingat dua sirkuit di Jepang yang menggelar Grand Prix (F1 dan MotoGP), semuanya milik Honda.

Donington Park

Donington Park

Keputusan memindahkan venue British Grand Prix dari Donington Park ke Silverstone adalah salah satu keputusan yang paling saya sesalkan. Selama beberapa tahun mindset saya telah terbentuk bahwa; Silverstone itu untuk F1, dan Donington Park itu untuk MotoGP. Begitu pula saat rencana MotoGP Inggris akan diadakan di Circuit of Wales; saya masih pesimistis dengan CoW itu.

Trek Donington Park lebih cocok untuk MotoGP. Dilihat dari panjang trek yang cuma 4 km.Otomatis balap disana lebih banyak lapnya, lebih banyak tikungan, dan lebih banyak kesempatan overtake. Ditambah lagi sirkuit Donington Park lebih menantang karena variasi elevasi trek.

British Grand Prix seringkali digelar dalam kondisi wet race, termasuk di Silverstone. Tetapi drama yang tersaji di Donington Park jauh lebih mendebarkan dibanding di Silverstone 2015 kemarin. Tentu pecinta MotoGP masih ingat bagaimana Ralf Waldmann mampu menjuarai GP250 setelah tertinggal puluhan detik dari Olivier Jacque (P1) hingga 3 lap terakhir. Atau drama 12 pembalap yang berhasil finish di MotoGP 2005; waktu itu Valentino Rossi benar-benar mengukuhkan dirinya sebagai the Rain Master.

Laguna Seca

Laguna Seca

Jika disuruh memilih Laguna Seca, Austin, atau Indianapolis; tentu saya memilih Laguna Seca. Sirkuit ini cepat, roller-coaster, dan terbukti mampu menyajikan battle menarik. Contohnya saja MotoGP 2008 (Stoner vs Rossi) dan MotoGP 2013 (Marquez vs Rossi). Dan dari itu semua, daya tarik utama adalah chicane Corkscrew.

Tapi sayang, kejadian terakhir di sirkuit ini saat duo pembalap Spanyol tewas di race superbike MotoAmerica 2015 menimbulkan kekhawatiran tentang sisi keselamatan sirkuit Laguna Seca. Memang sih kejadian itu lebih kepada race accident. Tetapi kalau dilihat dari foto satelit, jarak dinding pembatas trek memang cukup dekat dengan sisi lintasan. Hmmm…

Estoril

Estoril

Estoril atau Grand Prix Portugal hanya menggelar balapan sebanyak 13 kali dari tahun 2000-2012. Jujur saya belum tahu kenapa GP tidak kembali lagi ke sirkuit ini. Memang kalau dilihat dari animo balap motor Portugal memang masih kurang, dibandingkan dengan negara tetangga ; Spanyol. Hanya Miguel Oliveira saja yang mampu kompetitif dan mewakili Portugal di MotoGP.

Terlepas dari itu semua, race MotoGP Estoril 2006 adalah bukti nyata bagaimana sirkuit ini mampu menghasilkan battle yang menarik. Layout sirkuit ini mirip dengan sirkuit Catalunya, tempat battle paling menarik selanjutnya, Rossi vs Lorenzo, terjadi 3 tahun setelah race 2006 tadi. Jadi sudah sangat jelas jika dua sirkuit dengan layout ala hewan kepiting ini sebenarnya ‘saudara jauh’, sama-sama mampu menghasilkan battle berkelas, hehe.

Phakisa

Phakisa

Kalau melihat Grand Prix sebagai kejuaraan dunia; sudah pasti mereka harus singgah di benua Afrika. Dan salah satu venue paling memungkinkan untuk menggelar GP adalah Phakisa Freeway (Welkom). Sirkuit ini terakhir kali menggelar GP pada musim 2004. Karakter sirkuit yang pendek-pendek dan mengalir (mirip dengan Assen) adalah jaminan race bakalan menarik.

Dan menurut saya jika Phakisa ingin kembali menggelar GP (atau Superbike seperti tahun 2014 yang kemudian gagal); sirkuit ini harus berbenah memperbaiki akses atau infratruktur penunjang guna meningkatkan animo penonton lokal dan global. Terlihat dari foto satelit ini, sirkuit Phakisa seperti in the middle of nowhere dengan tribun penonton yang minimalis (hampir sama dengan gurun Losail)


Kalender MotoGP Ideal (20 balapan)
  1. Losail
  2. Suzuka
  3. Sentul*
  4. Rio Hondo
  5. Laguna Seca
  6. Jerez
  7. Le Mans
  8. Mugello
  9. Catalunya
  10. Assen
  11. Sachsenring
  12. Phakisa
  13. Brno
  14. Spielberg
  15. Misano
  16. Donington Park
  17. Motegi
  18. Phillip Island
  19. Sepang
  20. Valencia

(rz)

Favorit: Budaya Motorsport Jepang

Jika disuruh menyebutkan 2 negara dengan budaya motorsport terbaik, tanpa ragu saya akan menjawab Jepang dan Amerika Serikat-lah 2 negara itu. Memang saya sengaja mengesampingkan negara-negara lain seperti Inggris, Perancis, Italia, Jerman, dan Australia. Kenapa Jepang? Karena disana sangat komplit! Simpel dan efisien.

Dari segi infratruktur balap, Jepang mempunyai Suzuka, Motegi, Fuji, Sugo, Okayama, Autopolis, dan Tokachi. Satu sirkuit kini telah menjadi properti private dari Mazda, yaitu sirkuit Mine. Hampir semua ajang balap mayor di dunia pernah digelar di negara ini. Mulai dari NASCAR hingga World Superbike.

Salah satu hal yang menjadi favorit saya adalah generasi emas pembalap Jepang di GP dan Superbike pada era 90'an hingga awal 2001. Waktu itu hampir di setiap GP Jepang di sirkuit Suzuka atau Motegi, juga Superbike di Sugo; pembalap asal Jepang selalu mendominasi race, baik itu pembalap reguler ataupun wildcard. Beberapa diantaranya bahkan mampu memenangi titel juara dunia, seperti Tetsuya Harada, Daijiro Kato, dan Haruchika Aoki.

Selidik punya selidik, ternyata generasi emas itu muncul karena iklim kompetisi dalam negeri yang cukup baik. Selain itu rata-rata pembalap di generasi emas itu lahir pada tahun 1965-1975 (plus minus 2 tahun), sehingga usia saat mereka berlaga di kejuaraan nasional awal 90'an sekitar dibawah 25'an tahun.

Golden era tersebut lahir juga karena infrastruktur balap yang memadai. Terhitung 4 sirkuit internasional hadir di era 90'an, Sugo, Autopolis, Okayama, dan Motegi (serta beberapa sirkuit level klub lainnya). Tentu saja sinergi iklim kompetisi yang baik, dukungan manufaktur dari The Big 4 serta infrastruktur balap yang baik adalah kunci kesuksesan generasi 90'an ini. Salah satu bukti nyata adalah kesuksesan pembalap Jepang, baik reguler ataupun wildcard, saat balapan GP singgah di sirkuit mereka. Untuk predikat local hero, favorit saya adalah Norick Abe dan Daijiro Kato.

Ngomongin soal The Big 4 alias Honda, Yamaha, Kawasaki, dan Suzuki; kiprah keempatnya sudah tidak diragukan lagi di Grand Prix. Mungkin cuma Kawasaki yang belum menunjukkan tajinya.

Tetapi di kancah World Superbike, The Big 4 sudah cukup mendominasi. Terhitung sejak 2005, keempat pabrikan tersebut berhasil mengantarkan pembalapnya memenangi title juara dunia World Superbike. Dan uniknya, keempat pembalap juara dan satu kemungkinannya adalah pembalap yang berasal dari negara berbahasa nasional Inggris.

  1. 2005 Suzuki - Troy Corser AUS
  2. 2007 Honda - James Toseland GBR
  3. 2009 Yamaha - Ben Spies USA
  4. 2013 Kawasaki - Tom Sykes GBR
  5. 2015 Kawasaki - Jonathan Rea GBR (kemungkinan besar)

Jangan lupakan juga di Motocross (MXGP atau AMA/Amerika Serikat). Yang terbaru adalah Romain Febvre menjuarai MXGP 2015 bersama Yamaha YZF450!


********************

Jepang adalah sedikit negara yang mampu menggelar kejuaraan nasional balap mobil single seater yang levelnya diatas Formula 3. Super Formula atau dulu dikenal dengan nama Formula Nippon adalah balap mobil single seater kasta kedua yang menjadi destinasi pembalap yang ingin atau yang tersingkir dari arena GP dunia. Kazuki Nakajima, Vitantonio Liuzzi, dan Narain Karthikeyan adalah beberapa contohnya.

Toyota dan Honda bersaing menciptakan mesin yang mumpuni untuk ajang balap ini. Sementara itu Dallara didaulat menjadi penyuplai sasis (Dallara adalah penyuplai sasis untuk balap GP2 dan Indycar). Pembalap-pembalap Jepang dan internasional saling bertarung di kejuaraan ini. Uniknya, sebagian besar dari mereka juga turun di balap Super GT Japan (Grand Touring) karena sistem sharing driver yang digunakan.

Ngomongin soal Super GT, balap ini adalah salah satu balapan GT di dunia dimana semua mobil yang berlaga di kelas utama adalah mobil lokal (satu lainnya adalah balap DTM Jerman). Honda, Lexus (Toyota) dan Nissan adalah pemain utama di Super GT kelas GT500 (kelas utama). Tiap-tiap pabrikan diwakili oleh beberapa tim dan masing-masing tim hanya mengutus satu mobil saja.

Ini adalah salah satu favorit saya karena tiap-tiap mobil dinamai dengan nama sponsor mereka. Misalnya Keihin NSX, Motul GTR, atau Petronas RCF. Di negara lain, misalnya di NASCAR, tiap-tiap mobil dinamai berdasarkan nomornya, misal #43 atau #7.


********************

Well, beberapa hal patut kita contoh dari kesuksesan Jepang di dunia balap motor; terutama munculnya generasi emas 90'an yang sangat mengerikan tadi. Juga kemampuan Jepang menghidupi kejuaraan nasionalnya dengan balap-balap mobil berkelas dari manufaktur ternama di dunia. Sepertinya hanya ada beberapa negara yang mampu seperti mereka.

Spanyol yang mendominasi GP akhir-akhir ini pun saya rasa masih butuh banyak waktu untuk menyamai prestasi Jepang mendominasi motorsport dalam dan luar negeri. Salut (rz)

Analisis (Lanjutan); Betapa Bahayanya Tikungan Tajam & Lambat!

Menyambung tulisan kemarin tentang bahayanya T12 (tikungan terakhir) sirkuit Buriram; saya baru sadar beberapa sirkuit di dunia telah memodifikasi sirkuit dengan menghilangkan tikungan-tikungan tajam yang super lambat demi meningkatkan keselamatan, khususnya untuk balap superbike.

Salah satunya adalah sirkuit Monza dengan chicane pertama yang cukup lambat dan rawan kecelakaan. Apalagi diawali dengan main straight yang cukup panjang, lap pertama tikungan pertama menjadi sangat beresiko. Oleh karena itu khusus untuk balap Superbike sirkuit ini menyediakan variasi chicane yang bisa dilibas lebih cepat.

Chicane lambat (kiri) digunakan untuk balap mobil, sementara chicane
yang lebih cepat (kanan) digunakan untuk balap motor

Penampakan chicane baru untuk balap motor (SBK Monza 2013)
Ada juga T8 atau tikungan pertama setelah back straight sirkuit Assen yang juga dimodifikasi ulang untuk balap motor sehingga rider bisa lebih cepat masuk dan keluar tikungan. Dan salah satu tikungan lambat paling berkesan menurut saya adalah tikungan terakhir sirkuit Laguna Seca. Semua pasti masih ingat bagaimana teknik late braking Valentino Rossi pada 2008 mampu membuat Casey Stoner kelabakan dan akhirnya terjatuh. Atau pada MotoGP 2005 saat Marco Melandri dan Alex Barros kecelakaan di lap pertama.

Jadi menurut saya sih, tikungan lambat seperti di sirkuit Buriram memang gak cocok untuk balap motor. Kayaknya harus dirubah menjadi lebih rounded supaya bisa dilibas dengan kecepatan motor yang lebih ideal.

Analisis; Kenapa Tikungan Terakhir Buriram International Circuit Rawan Kecelakaan?

Hal inilah yang (menurut saya) paling sering dibahas host tayangan balap ARRC 2015 seri Thailand di iNewsTV akhir pekan kemarin. Kenapa sering banget terjadi kecelakaan di tikungan terakhir (T12) sirkuit Buriram?

Well, karena saya adalah analisis motorsport amatir; saya pengen berpendapat sedikit mengenai hal tersebut sesuai dengan keamatiran saya :D



Buriram T12 "The Slowest Corner"

Seperti yang kita tahu, layout trek Buriram itu cukup simple sebenernya. Trek model huruf U dengan satu sisi lebih panjang dibanding sisi lainnya yang lebih berkelok-kelok. Secara umum model trek seperti ini mirip dengan sirkuit Queensland Raceway di Australia, simpel.



U-Style, Queensland Raceway

Satu-satunya catatan tentang tikungan terakhir ini adalah, T12 adalah tikungan paling lambat dari seluruh tikungan di trek Buriram (juga cenderung datar!). Dan kalau kita melihat sirkuit-sirkuit di dunia yang sering menggelar balap MotoGP, Superbike atau Formula 1; tikungan terakhir yang cenderung tajam dan lambat memang rawan banget kecelakaan. Apalagi kalau race berjalan ketat dan para pembalap berduel sengit sampai tikungan terakhir.

Contohnya tikungan terakhir sirkuit Jerez dan Valencia. Battle Lorenzo-Marquez atau Rossi-Gibernau adalah bukti nyata. Lalu tikungan terakhir sirkuit Valencia, buat yang masih inget; battle  for 1st place antara Carlos Checa dan Max Neukirchner di race pertama World Superbike 2008 memakan korban saat keduanya bersenggolan dan terjatuh. Beruntung Checa masih bisa lanjut ke garis finish di posisi 5 tapi sayang Max justru retired.

Atau battle di Formula 1 Spa-Francorchamps 2008 antara Kimi Raikkonen dan Lewis Hamilton menuju chicane terakhir. Keduanya bersenggolan dan memaksa Raikkonen retired. Hamilton yang selamat dan podium 1 harus rela terkena penalti karena dianggap bersalah atas kejadian tersebut dan gelar juaranya pun dicabut.

Jadi kesimpulannya, tikungan terakhir yang tajam dan cenderung lambat (apalagi datar) memang sangat rawan kecelakaan, apalagi jika race berlangsung ketat dan tikungan terakhir adalah 'kesempatan terakhir untuk menang' (apalagi kalau race-nya macam kelas Underbone/AP250 yang selalu ketat dan tikungan terakhir menjadi segala-galanya -_-). (rz)

Sirkuit Motocross Assen, Gaya Baru Sirkuit Motocross Modern?

Akhir pekan lalu saya ‘dikejutkan’ oleh seri ke-16 MXGP yang berlangsung di sirkuit legendaries, TT Assen.  Sebenarnya pemilihan venue sirkuit Assen untuk gelaran MXGP of The Netherlands ini sudah diketahui sejak awal musim, tapi detail layout atau bentuk sirkuit motocrossnya baru saya ketahui kemarin (maklum sudah jarang update berita MXGP, kecuali bagian Ryan Villopoto atau Romain Febvre).

Kembali ke topik awal, beberapa tahun yang lalu memang sudah sering sirkuit-sirkuit aspal terkenal yang menjadi venue kejuaraan motocross. Misalnya sirkuit Donington Park dan Franciacorta yang menggelar kejuaraan MXoN 2008 dan 2009. Tapi waktu itu sirkuit motocross dibangun di lahan kosong di bagian dalam atau sekitar sirkuit. Tapi untuk sirkuit TT Assen ini tidak!


Sirkuit non-permanen ini 80% dibangun diatas lintasan aspal yang sudah ada (menimbun lintasan aspal dengan tanah dan pasir). Area start diposisikan di chicane terakhir sebelum trek lurus sirkuit Assen. Trek tanah dan pasir, khas MXGP di area Benelux, kemudian menjalar hingga depan tribun utama sirkuit (area kosong sebelah main straight) kemudian ke pit lane (!) dan berakhir di tempat parkir sirkuit sebelum kemudian kembali ke garis finish di sebelah area start.


Area start trek MXGP Assen 2015
Layout trek MXGP Assen 2015 (sebelum revisi)
Gambar layout trek di atas adalah versi awal sebelum sektor di depan tribun utama dipanjangkan hingga melintasi mayoritas main straight dan pit lane sirkuit Assen.

Layout yang ‘tidak biasa’ ini sebenarnya pernah dilakukan sirkuit Lausitzring untuk menggelar MXGP of Germany pada 2013. Lausitzring adalah sirkuit tri-oval khas balap Amerika Serikat yang pernah menggelar kejuaraan World Superbike dan A1GP di "Infield Track"-nya.

Pada waktu itu sebagian besar trek diposisikan di run-off area tikungan pertama "Infield Track". Trek tersebut kemudian menjalar hingga sebagian braking area di ujung main straight sirkuit. Tapi sayangnya sirkuit motocross non-permanen ini hanya digunakan sekali saja dan tidak berlanjut untuk tahun-tahun setelahnya. Wajar sih, soalnya waktu itu sirkuit Lausitzring hanya sebagai ‘pengganti’ karena sirkuit utama MXGP of Germany, Teutschental, akan digunakan untuk venue MXoN 2013.

Trek MXGP Lausitzring 2013

Tapi ternyata respon fans untuk sirkuit non-permanen seperti ini justru cenderung negatif. Karakternya lebih mirip sirkuit supercross dan menghilangkan sisi 'alami' yang sangat kental di sirkuit motocross pada umumnya. Jadi wajar jika sirkuit ini tidak terlalu awet dan hanya sekali digunakan Lausitzring.

Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa sirkuit seperti ini muncul lagi dan kali ini justu ada di sirkuit legendaris, TT Assen? Padahal masih banyak sirkuit-sirkuit motocross berkualitas di Belanda.

Dan akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan (analisis pribadi). Sirkuit non-permanen seperti ini ingin memanfaatkan tribun penonton yang sudah ada sebagai salah satu keunggulan untuk menarik perhatian penonton lebih baik lagi. (rz)