Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Review MotoGP 2016 - Peniru MotoGP 2006 Lagi!



Akhirnya benar-benar terbukti kalau MotoGP 2016 hampir seperti tiruan MotoGP 2006!

MotoGP 2006 adalah cerita tersendiri, sangat bersejarah, dramatis, dan tentu saja sangat menyakitkan untuk Valentino Rossi. Yang terjadi musim ini juga hampir sama, meskipun tidak ada unsur dramatis atau menyakitkan seperti MotoGP 2006. Yang lebih mirip justru musim lalu, Vale bisa saja juara dunia kalau Marc mampu menyalip Jorge di Valencia. Tapi spotlight MotoGP 2015 udah dicuri Sepang sih...

MotoGP 2006 diawali dengan perubahan drastis kapasitas mesin MotoGP yang akan digunakan mulai musim 2007. Beberapa pabrikan sudah mulai curi start pengembangan mesin atau motor 800cc di musim ini. Salah satu yang paling kentara adalah Yamaha, Suzuki, dan Ducati, tetapi korban paling parah dari proyek tersebut tentu saja Yamaha.

Beberapa kali Valentino Rossi gagal finish karena kecelakaan atau masalah teknis. Ia sempat tertinggal 51 poin di tengah musim meski akhirnya unggul 8 poin menjelang seri terakhir di Valencia tetapi justru kalah +5 poin di klasemen akhir karena ia crash saat lomba. Hal yang tentu saja sangat mengejutkan karena ia adalah pole sitter dalam balapan yang dimenangi oleh Troy Bayliss itu.

Ngomong-ngomong soal Troy Bayliss, ia adalah pembalap wildcard Ducati Marlboro yang tampil menggantikan Sete Gibernau. Musim 2006 adalah musim pertamanya di World Superbike bersama Ducati setelah 3 musim sebelumnya bertarung di MotoGP. Itu adalah kemenangan satu-satunya Bayliss di ajang MotoGP sekaligus menjadi orang ke-7 yang berhasil menjuarai seri MotoGP musim itu.

Nah, itu adalah terakhir kalinya dalam satu musim MotoGP mempunyai 7 pembalap berbeda yang menjuarai seri MotoGP. Dan akhirnya rekor tersebut dipatahkan musim ini, 8 pembalap menjuarai 8 race berbeda secara berurutan. Rekor yang sepertinya akan lebih sulit untuk dipatahkan lagi. Karena faktor cuaca dan permainan strategi ban lebih dominan dalam terjadinya rekor tersebut. Berbeda dengan MotoGP 2006 dimana kekuatan 3 mesin juara waktu itu (Honda, Yamaha, Ducati) sangat setara, tidak ada dominasi pada waktu itu.

Kembali ke kesialan Vale, itu adalah pertama kalinya Vale terserang secara mental sehingga dengan mudahnya jatuh saat posisinya sudah cukup aman untuk juara. Kalau tidak salah waktu itu ia jatuh di lap 5, ia start dari pole tapi tercecer 2 posisi dibelakang Hayden. Dari hitung-hitungan poin, Hayden tidak akan juara dunia meskipun finish 2 posisi di depan Vale. Karen kalaupun poin sama, Vale tetap akan menang karena juara seri lebih banyak.

Tapi keajaiban memang nyata. Vale crash dan hanya finish P13 (3 poin) sementara Hayden P3 (16 poin). Dari tertinggal 8 poin menjadi unggul 5 poin. Ironis sebenarnya, karena 5 poin adalah poin yang 'dicuri' Toni Elias dari Valentino Rossi di balapan sebelumnya (Estoril) hanya dengan selisih waktu +0,002 detik! Jadi bisa dibilang, Toni Elias adalah pahlawan Honda yang sebenarnya pada waktu itu. Ia 'menyelamatkan' Hayden yang justru crash dengan rekan setimnya sendiri, Dani Pedrosa.

Lalu apa yang sama? Saat pembalap mengunci gelar juara dunianya, rival terdekatnya (Valentino Rossi) pasti selalu sial. Itu terjadi pada Valencia 2006 (tentu saja), Motegi 2007, dan terakhir Motegi 2016. Tetapi berbeda dengan kejadian di Valencia, dua kejadian terakhir di Motegi lebih mirip. Sialnya Vale (dan Lorenzo terakhir ini) hanya mempercepat rival merayakan gelar juara dunianya. Sementara di Valencia 1000% adalah tentang keajaiban.

Di Motegi 2007, Casey Stoner memulai pestanya lebih cepat karena Vale tergelincir (dan finish P13 ) setelah mengganti motor. Perayaan yang harusnya terjadi di Australia, justru dimulai lebih cepat di Jepang, Ducati juara di kandang Honda. Bravo!

Musim ini terjadi lagi, meski musim ini lebih kompetitif, tetapi Vale dan Jorge kalah poin lebih banyak karena sering DNF; sementara Marc lebih konsisten mendapatkan poin maksimal yang mungkin ia raih. Dua crash untuk dua rider Movistar Yamaha tersebut tentu saja sebuah keajaiban yang membuat pesta juara dunia Marc Marquez dilakukan lebih cepat dan terjadi lagi di Jepang,

Saya kira tulisan ini sekaligus mengakhiri review MotoGP 2016. Karena mau apa lagi? Semua sudah berakhir. 3 seri tersisa akan lebih baik jika digunakan untuk memulai program musim depan. Hanya kelas Moto2 yang masih menarik karena belum ada juara dunianya.

Lalu, apalagi yang akan terjadi di musim depan? Dua musim terakhir hampir sama menariknya dengan MotoGP 2006, meskipun dengan skenario yang berbeda. Apakah musim depan terjadi dominasi lagi? Semoga saja tidak. Semoga MotoGP 2006 terulang lagi tetapi dengan skenario yang berbeda lagi!


**Ada satu lagi yang mirip ternyata. Saat Casey Stoner juara dunia 2011 di Australia, Vale juga crash saat race. Bedanya ya waktu itu Vale bukan rival utama Casey Stoner. Tetapi dari sisi 'cara yang sama', hal itu juga terjadi untuk Jorge yang crash sebelum balapan dan tidak start untuk Phillip Island 2011. Hal yang sama juga terjadi saat Dani Pedrosa crash di sirkuit yang sama setahun kemudian, Jorge Lorenzo langsung mengunci gelar juara dunia MotoGP 2012. Bisa sama gitu ya?

Review MotoGP Sachsenring 2016 - Cerita Misano 2015 & Beberapa Hal Menarik ke Depannya!

King of the Ring. Hubungan Marc dengan Sachsenring 'mirip' Vale dengan Mugello.
Anaehnya Malah Bukan dengan Sirkuit di Spanyol.

Saya gak mau nulis panjang lebar tentang review race MotoGP seri Jerman kali ini. Karena (kejadian kali ini) sama persis dengan race MotoGP San Marino musim lalu. Marc tampil nothing to lose, mengganti motornya lebih awal, karena ia tahu kalau kondisi trek akan sangat menguntungkannya kalau mengganti motor (dengan ban slick) lebih awal. Marc memang tampak kesusahan saat balapan dalam kondisi basah. Tetapi saat trek berangsur mengering, Marc adalah 'profesor' di kondisi tersebut.

Hal yang 'sama persis' juga dialami oleh Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo. Duo pesaing terdekat Marc tersebut tampil buruk (lagi) di Grand Prix basah kedua secara beruntun. Bahkan untuk Jorge, mood-nya sudah hilang sejak hari Jumat (mungkin). Saat race ia semakin kehilangan mood-nya dan tampak adem ayem meskipun cuma finish di P15 (1 poin).

Sementara untuk Vale, ini adalah kegagalan ketiga secara beruntun di race yang membutuhkan pergantian motor karena perubahan kondisi lintasan. Misano 2015 dan Argentina 2016 (masih lumayan ia bisa finish P2) adalah dua race sebelumnya. Kalau sampai di kesempatan ke-4 ia masih gagal juga, kayaknya ia harus memakai lagi helm Donkey edisi Misano 2009, hehe.

Oke, review race kali ini cukup segitu aja. Kita lanjut ke hal lain yang menarik untuk kita nantikan!

Next Stop: Red Bull Ring (14 Agustus)

Dari nama sirkuit, bisa dibilang race kali ini adalah 'home race' untuk pembalap Red Bull seperti Marc Marquez, Dani Pedrosa, Jack Miller, Maverick Vinales, hingga Jonas Folger. Khusus untuk duo Repsol Honda (yang timnya juga didukung Red Bull), mereka pernah beberapa kali menguji coba sirkuit ini untuk kepentingan promosi Red Bull. Salah satunya adalah Marc Marquez Racing Science berikut ini.




Marc dan Dani mungkin akrab dengan Red Bull Ring karena faktor sponsor mereka. Tetapi Valentino Rossi adalah satu-satunya pembalap di MotoGP musim ini (untuk semua kelas) yang pernah merasakan balapan Grand Prix di sirkuit bernama asli Osterreichring tersebut. Austrian Grand Prix 1997, kelas 125cc; Valentino Rossi muda finish P2 di belakang Noboru Ueda dengan selisih hanya 0,004 detik! Wow.

Marc, Dani, Vale, udah 'kenal' betul dengan Red Bull Ring, gimana kabar Jorge ya? hehe

Menunggu Keajaiban MotoGP Paruh Kedua

Kondisi kali ini sama persis dengan MotoGP 2006. Rider tim Repsol Honda tampil konsisten dan memimpin 50'an poin dari rival di Yamaha hingga jeda musim panas. Dulu peran ini diambil oleh Nicky Hayden, sekarang oleh Marc Marquez. Tetapi jelas, peran Marc kali ini jauh lebih kuat daripada peran The Kentucky Kid 10 tahun yang lalu.

Menjelang akhir musim 2006, Valentino Rossi berhasil memangkas jarak poin (dari 51 poin di paruh musim) bahkan mengunggulinya pasca Estoril 2006. 'Kejatuhan' Hayden waktu itu dipengaruhi oleh beringasnya pembalap lain, selain Valentino tentu saja, seperti Loris Capirossi (Ducati) hingga rider Honda lainnya seperti Dani Pedrosa dan Marco Melandri. Pembalap-pembalap tersebut mampu 'menahan' Nicky Hayden untuk mengoleksi poin lebih banyak sehingga sangat menguntungkan Valentino Rossi. Akankah hal tersebut bisa terunlang lagi musim ini?

Saya kira akan sangat sulit. Kenapa? Karena tidak ada lagi peran seperti Loris Capirossi dan Marco Melandri di musim ini. Bahkan Dani Pedrosa pun (yang masih aktif membalap) tidak bisa mengulangi hal yang sama. Duo Ducati serta Maverick Vinales bisa saja menjadi pengganti Loris dan Melandri, meskipun tetap saja akan sulit.


Siapa yang Bisa Gantiin Peran Loris-Dani-Melandri untuk Vale Musim ini?

Review MotoGP Assen 2016 - #AUSTRALIASSEN atau #JACKASSEN!

 #AUSTRALIASSEN atau #JACKASSEN!

Wow-wow-wow! Jika Assen bertemu hujan jawabannya jelas, DRAMA! 2 tahun yang lalu Marc Marquez juara di flag-to-flag race dengan selebrasi ikonik 'berenang' di atas motor. Satu setengah jam sebelumnya, Anthony West juga menjuarai race yang sangat dramatis di kelas Moto2. Itu adalah kemenangan kedua sepanjang karier West di Grand Prix, setelah 11 tahun di sirkuit dan kondisi yang sama, 2003 GP250 Assen!

Anthony West #95 Moto2 2014


Well, saat 5 pembalap terdepan di race pertama (termasuk Hernandez) DNF di race kedua, cerita race kali ini bukanlah 'poin maksimum' yang didapatkan Marquez, melainkan keajaiban Assen saat race basah. Sesaat setelah re-start, Jack Miller mampu menyodok ke posisi 4, jelas karena startnya sangat bagus. Beruntun setelah Dovi dan Vale crash, perhatian langsung ditujukan ke Jack Miller yang tepat berada kurang dari 1 detik di belakang Marc Marquez. Bisakah ia mengovertake MM93?

Done! Jack Miller (Jackass) memimpin (kira-kira) 8 lap terakhir lomba di depan Marc Marquez. Gap-nya melebar hingga 2,5 detik saat finish. Dia berhasil menjaga balapannya untuk tetap stabil dan menjaga jarak aman dengan Marquez. Di pikirannya mungkin, juara atau finish ke-2 di belakang Marquez gak masalah; yang penting finish tentu saja. Podium hanya bonus!

Beruntung Marc terlihat lebih memilih menjaga poin kejuaraan dan tidak beresiko untuk bertarung terbuka dengan Jack. Terlebih dua kompetitornya tampil buruk di race kali ini. 20 poin dari Assen cukup membawanya kokoh di puncak klasemen dengan keunggulan 24 angka dari Jorge Lorenzo. Berturut-turut posisi 3 besar dihuni oleh Marc (145), Jorge (121), dan Vale (103). 

Kemenangan Jack lebih 'spesial' dibandingkan kemungkinan Hernandez juara saat race pertama. Jack, orang Australia, mempunyai 'kelas' tersendiri saat bertarung di Assen yang basah. Saat Hernandez memimpin di race pertama, saya tidak terbayang siapa-siapa. Tetapi saat itu Jack, saya langsung terpikirkan oleh Anthony West! Kemenangan Jack Miller di Assen ini juga yang pertama di luar 'pembalap top' pasca Ben Spies juga menang di Assen 2011.

Assen is home for West. Wait, West or Wet? #JackAssen

Assen adalah tempat yang sangat bagus untuk pembalap Australia, terutama saat ia basah. Tetapi berbeda cerita dengan Assen yang basah untuk pembalap Italia musim ini. Vale, Dovi (juga Iannone) crash, Petrucci gagal teknis. Tidak ada yang patut untuk disalahkan selain diri sendiri saat jatuh di race yang basah. Semua pembalap pasti memahaminya. Dan hasil seri ini mengingatkan saya dengan race 2008. Waktu itu Rossi jatuh di hairpin dan tebak siapa yang juara... Casey Stoner!

Khusus untuk Rossi nih. Karena Jorge tampil buruk dan hanya finish di P11 (5 poin), setidaknya Vale tidak terlalu menyesali hasil race Assen kali ini. Sial memang bisa menimpa siapa saja, termasuk kesialan ketiga (DNF) dalam 8 seri awal di musim ini. Tetapi saat rival cuma dapat 5 poin, not bad lah...

Jarak poinnya dengan Marquez kini menjadi 42 poin, tetapi justru Vale harus tampil lebih kalem dan santai saja, musim masih panjang! Ingat 10 tahun yang lalu saat Vale berhasil menyalip poin Nicky Hayden setelah sempat tertinggal 51 poin di tengah musim. Apa solusinya? Vale membalap dengan tanpa beban apapun. Ia tampil santai, tidak lagi DNF dan akhirnya dapat durian runtuh di seri Portugal. Kesalahan di seri Valencia jelas karena ia tertekan dan tidak tampil apa adanya saja alias penuh beban.


#Rekor Jack Miller
  1. Juara seri MotoGP Dutch TT pertama yang digelar di hari Minggu.
  2. Pembalap tim satelit/independen pertama yang menjuarai seri MotoGP setelah Toni Elias (MotoGP Portugal 2006, Fortuna Honda Gresini).
  3. Aussie ketiga yang menjuarai seri MotoGP modern setelah Casey Stoner dan Chris Vermeulen. Uniknya kemengan Jack dan Chris sama-sama diraih di race basah.
  4. Rider Honda ke-14 yang menjuarai seri MotoGP setelah Rossi, Ukawa, Barros, Gibernau, Biaggi, Tamada, Hayden, Melandri, Pedrosa, Elias, Dovizioso, Stoner, Marquez.
  5. Rider non-unggulan pertama yang juara seri MotoGP setelah Ben Spies di Assen 2011.

Tentang Jack Miller pasca #JackAssen

Jack Miller sempat kalah dari Alex Marquez di perebutan gelar juara dunia Moto3 2014. Tetapi sebelum Marquez junior tembus ke MotoGP atau paling tidak podium di Moto2, Jack sudah juara seri MotoGP, hehe. Prestasi Jack di Dutch TT 2016 ini jelas pertanda saat ini ia adalah rider Honda terbaik setelah Marc Marquez dan Dani Pedrosa (mungkin setara Cal Crutchlow juga sih). Jack pantas mendapat dukungan factory bike untuk dua musim kedepan 'sebelum' ia menggantikan Dani Pedrosa di tim Repsol Honda (semoga saja ya).

Review MotoGP Catalunya 2016 – Catalunya Berwajah Dua!

Dua dari 3 pembalap terbaik abad 20, satu lainnya alm. Daijiro Kato...


SEBELUM RACE

Semua pasti setuju kalau sirkuit Catalunya adalah salah satu sirkuit terbaik di MotoGP, sejajar dengan Assen, Jerez, Mugello, Phillip Island, Sachsenring, dan Laguna Seca*. Saat banyak pembalap kompetitif, sudah bisa dipastikan akan terjadi race yang menarik dan ketat. Tetapi sirkuit ini juga mempunyai potensi bahaya yang cukup besar.

Saya pertama kali menyadari potensi tersebut saat melihat foto satelit sirkuit Catalunya sekitar 8 tahun yang lalu. Ternyata run-off di luar tikungan 11 dan 12 (stadium section) sangat dekat dengan lintasan, jaraknya hanya sekitar 12-20 meter saja. Jarak yang cukup dekat seperti itu agak susah disadari kalau kita menonton race dari angle kamera yang berada di sisi lintasan.

Dan mungkin saya setuju dengan headline berita media online di Indonesia yang menyebutkan ‘Catalunya Memakan Tumbal’. Karena memang tinggal menunggu waktu saja kejadian seperti itu terjadi di MotoGP. Motor yang semakin kencang dan kompleks terkadang menciptakan banyak hal tidak terduga seperti kecelakaan Luis Salom di tikungan 12.

Saat merasa nyaman di satu trek (yang sebenarnya tidak aman) dalam waktu yang cukup lama, terkadang safety menjadi hal yang tidak begitu terpikirkan. Mungkin dalam 15 tahun terakhir hanya sirkuit Suzuka lah yang di-cap sebagai trek yang tidak aman. Ironisnya klaim tersebut muncul setelah Suzuka ‘memakan tumbalnya’. Dan hal yang sama juga terjadi di Catalunya. Wajah Catalunya yang kedua akhirnya muncul!

MotoGP bergerak cepat dengan langsung memakai layout trek F1 untuk 2 hari terakhir Catalan GP 2016. Meskipun layout tersebut sempat diprotes oleh duo Movistar Yamaha, toh akhirnya justru Vale yang keluar sebagai juara, mengalahkan rider terbaik Honda yang merasa lebih cocok dengan layout F1.

Sebelum race Catalan GP, saya selalu merasa catatan waktu atau pencapaian pembalap di warm-up adalah hal yang tidak berguna. Tetapi kemudan saya mengoreksinya. Vale yang sempat tercecer di awal sesi di layout F1, termasuk di kualifikasi, membuktikan kualitasnya di warm-up dengan menjadi pembalap tercepat.

RACE MOTOGP

Saat race dimulai, ‘penyakit’ lama Vale muncul lagi, start yang buruk. Waktu itu saya tidak yakin kalau Vale akan bisa memenangi race kali ini. Hingga akhirnya Vale berhasil meraih posisi 4 dan semakin mendekatkan jarak dengan Pedrosa, optimisme saya muncul lagi.

Dalam beberapa lap Vale berhasil mengambil alih pimpinan lomba dari Lorenzo, yang akhirnya malah harus DNF, dan konsisten memimpin 0,4 detik dari Marc Marquez.  Lima lap terakhir barulah terjadi pertarungan yang selama ini ditunggu-tunggu publik Catalunya. Marc mengambil alih P1 di trek lurus, Vale mengambil lagi posisinya di T1, Marc mencoba lagi di T10, tapi disalip lagi di exit, kali ini Marc yang menang di T1, dan Vale membalasnya di tempat yang sama 1 lap kemudian ; 6 manuver dalam battle keduanya cukup menghibur seluruh penggemar MotoGP siang itu.

Meskipun tidak seketat race 2009, pemenang di tentukan di tikungan terakhir, tapi race kali ini membuktikan, salah satunya adalah, kematangan Marc Marquez melihat situasi. Dia sempat melebar di tikungan 7 yang membuatnya gagal menjuarai race kali ini, meskipun masih tersisa 1,5 lap lagi. Marc memilih untuk lebih santai dan akhirnya finish 2,6 detik di belakang Vale.

REKONSILIASI

Di raceday terburuk abad 20 (karena ada pembalap yang meninggal 2 hari sebelum raceday), Vale menang, Marc lebih dewasa, dan Jorge DNF; tidak ada yang lebih baik selain rekonsiliasi. Vale berjabat tangan dengan Marc di parc ferme, ngobrol di podium, dan ngobrol lagi saat press-con, saya rasa Vale sudah menemukan ‘waktu yang tepat’ untuk berdamai dengan Marc.

Bicara soal insiden Sepang Clash tahun lalu dan segala teori konspirasi yang dikemukakan oleh Vale, saya rasa itu semua adalah ‘murni kesalahan’ Vale dalam berstrategi. Tuduhan Marc membantu Jorge hanyalah trik psikologis yang mengandung pesan bahwa ‘jangan ganggu pertarungan kita (Vale vs Jorge). Pesan itu ditujukan untuk semua pembalap, terutama Marc yang masih muda.

Tapi saat race trik tersebut justru berubah menjadi ‘senjata makan tuan’. Saya rasa Vale berpikir ‘gile lu Marc, gak ngerti-ngerti juga maksud gue kemarin’ dan ‘masa sih bener Marc bantu Jorge ?!’.  Puncak dari rasa emosi dan kekhawatiran tersebut adalah jatuhnya Marc…

Soal race Valencia 2015, saya rasa beban terberat justru ada di pundak Marc. Dia bisa menentukan siapa yang akan juara dunia musim itu. Marc menang, Vale juara ; Marc kalah, Jorge juara. Dan yang harus dicermati adalah, Jorge selalu tampil agresif di Valencia, di race yang sangat menentukan.  Ingat Valencia 2013.

Bisa dipastikan kalau Marc juga tampil agresif dengan bertarung terbuka dengan Jorge, justru akan meningkatkan potensi crash diantara keduanya. Siapa yang dirugikan?  Dan kalau Marc tidak agresif, tidak berani menyalip Jorge, siapa yang dirugikan?  Saya rasa Vale juga mengetahui kondisi tersebut.

Memasuki musim baru, harus ada momen rekonsiliasi. Peran media dan fans berhasil membuat kejadian musim lalu menjadi sangat buruk untuk hubungan Vale dan Marc. Dan MotoGP Catalunya adalah momen yang tepat untuk Vale ‘meminta maaf’ kepada Marc. Karena Marc sukses dijadikan kambing hitam kegagalan Vale di akhir musim 2015 lalu. Senang rasanya melihat keduanya bisa akrab lagi, dan bertarung sengit di lintasan dengan penuh respect.

Review MotoGP Italia 2016 - Karakter Mugello Yang Sebenarnya!

Untuk kali ini sayan bangga dengan Marc.


Valentino Rossi di Mugello 2016 bukan Vale yang 'biasanya'. Oke, salah satu kunci kemenangannya di Jerez lalu adalah agresif sejak awal, tetapi strategi itu terbukti tidak berhasil di Mugello. Saat kemampuan pembalap setara, menyalip di Mugello terasa sangat menyusahkan. Trek lurus yang tidak benar-benar lurus dan banyak tikungan cepat, melebar setiap kali berusaha mengovertake adalah sajian rutin di race Mugello.

Tetapi sebenarnya Vale, dan juga Marc, lebih unggul sedikit dari Jorge di Mugello 2015. Terbukti beberapa kali melebar di San Donato dan usaha overtaking yang gagal, hanya kurang dari 1 lap saja mereka sudah bisa mendekati Jorge lagi, dan berusaha mengovertake lagi. Itu artinya 'Jorge masih bisa dikejar'. Hanya tinggal menunggu momen yang tepat.

Vale jelas salah perhitungan strategi di balap kali ini. Kalah start adalah cerita lama, hal yang sampai saat ini belum bisa ia perbaiki. Kelemahan Vale dan Vinales di saat start dimanfaatkan betul oleh Jorge. Melesat dari P5 ke P1 di tikungan pertama selepas start adalah keuntungan besar baginya. Mugello menunjukkan 'jati diri' yang sebenarnya sebagai sirkuit yang sangat susah digunakan untuk mengovertake saat kemampuan pembalap sama rata. Saya belum mengetahui alasan gagal mesin Vale pada balapan itu, tetapi yang jelas, Vale dan juga Marc agak sedikit memaksa dan berlebihan di lap-lap awal tersebut. Efeknya, Yamaha mengalami kerusakan mesin kedua di hari Minggu, Jorge di warm-up dan Vale di race.

Seakan mengulangi insiden jatuh bersamaan di Le Mans lalu, di awal balap kali ini sempat Vale, Marc dan Dovizioso sama-sama melebar di San Donato saat berusaha menyalip lawan masing-masing.

Kejadian itu mungkin membuat Marc untuk mengubah strategi balapnya. Ia memilih untuk menjaga jarak ideal dengan Jorge Lorenzo dan menyiapkan serangan di akhir lomba. Dan ajaibnya berhasil! Chicane cepat terakhir sebelum tikungan akhir menjadi kuncian kemenangan Marc. Tetapi masih ada 800 meter sebelum garis finish. Marc masih memimpin saat keluar tikungan terakhir dan ia justru menggunakan manuver 'meliuk-liuk' supaya Jorge tidak bisa mencuri angin. Saya sebut itu keputusan yang salah karena justru membuat jarak tempuh menuju garis finish menjadi semakin panjang, dan di saat yang sama Jorge memilih racing line lurus seperti biasa, otomatis jarak tempuh lebih pendek dari Marc. Dan ia berhasil juara. 

Menurut saya ya, untuk pabrikan Mercedes dan Yamaha yang mendominasi F1 dan MotoGP, kejadian gagal mesin jauh lebih memalukan daripada kedua pembalapnya saling bertabrakan di lintasan. Karena jelas, untuk kasus pertama pabrikan yang salah  dan untuk kasus kedua, pembalap yang salah.

Saya kira, kemenangan Jorge dan GP Italia secara keseluruhan adalah tentang strategi. Suzuki, Honda, Yamaha, Ducati menunjukkan progres yang menyenangkan di 6 seri awal musim 2016 ini, mereka semua kompetitif. Dan satu pembalap yang agak kedodoran di awal race dengan persaingan yang kompetitif tersebut adalah Dani Pedrosa. Dani semakin jarang menginjakkan kakinya di podium musim ini. Saya berharap KTM bisa mengikuti jejak kompetitif Suzuki untuk musim depan. Semoga! 

REVIEW MotoGP Valencia 2015: #Lorenzo+KentCHAMP

  
#LorenzoChamp

TAMAT. MotoGP 2015 resmi berakhir dengan peresmian gelar juara dunia ke-5 untuk Jorge Lorezo. Terlepas dari insiden #SepangClash atau hal-hal lainnya, Jorge Lorenzo memang lebih layak juara dibandingkan Valentino Rossi. Kenapa? Karena dia berhasil menjuarai 3 GP lebih banyak dibandingkan Vale. Hal ini sama persis dengan 2006 saat Vale lebih superior daripada Hayden tetapi sayang dia sering tidak konsisten dan Hayden-lah yang akhirnya menjadi juara.

Sekali lagi terlepas dari insiden #SepangClash yang berbuah penalty, secara keseluruhan penampilan Vale musim ini sangat-sangat bagus. Hanya 3 kali gagal podium (termasuk di seri Valencia ini), tanpa DNF, dan finish terburuk adalah di P5. Sayang, ia kalah dari Lorenzo di 4 seri (Jerez, Le Mans, Catalunya, dan Mugello) serta P5 di Misano. Semuanya gara-gara Misano -_-

Next, yang cukup mengejutkan adalah cara selebrasi Jorge Lorenzo yang menampilkan ‘4 dirinya’ saat meraih gelar juara dunia sebelumnya. Ide ini sama persis dengan apa yang saya pikirkan jikalau Valentino Rossi yang menjadi juara. Sempat kepikiran, sudah ditulis setengahnya, tetapi lupa upload, hehe. Tetapi repot juga sih kalau Vale yang juara. Dia harus cari 9 temannya untuk ‘menjadi dirinya’ plus memerankan karakter Repsol Honda 2002-2003 (mungkin cuma ini yang agak susah diterima pihak Yamaha).
 
#KentChampion
*****
Another great story, Danny Kent berhasil meraih gelar juara dunia Moto3 yang sempat ‘tertunda’ di Malaysia dan Australia kemarin. Ia finish ke-9 dan sudah sangat cukup untuk mengunci gelar juara dunia; meskipun rival dan calon rekan setimnya di Moto2 2016 besok (Miguel Oliveira) menjuarai 3 GP sejak Australia. Danny Kent adalah juara dunia pertama yang berasal dari Inggris (di semua kelas) sejak terakhir Barry Sheene juara di musim 1977. Selamat!

Well, musim 2015 sudah tamat ; saatnya menantikan ban Michelin kembali beraksi ! sebagai catatan, juara dunia MotoGP terakhir yang menggunakan ban Michelin adalah Nicky Hayden. Secara mengejutkan ia mengalahkan Valentino Rossi #FinalShowdown Valencia 2006. Dan di tempat yang sama pula, 9 tahun setelahnya ; Nicky Hayden dan Bridgestone sama-sama mengakhiri karier MotoGP-nya.

Saya cukup tertarik dengan catatan-catatan seperti ini. Misalnya saja, Honda RC211V adalah mesin 990cc pertama dan terakhir yang menjuarai MotoGP era 990cc via Valentino Rossi (2002) dan Nicky Hayden (2006). Ada juga Casey Stoner, sebagai juara dunia pertama dan terakhir era MotoGP 800cc.

Nah, Lorenzo sebagai juara dunia terakhir pemakai Bridgestone; apakah nasibnya akan sama dengan Hayden?? (Gagal juara dunia setelah merk ban lain mendominasi GP). Kita tunggu saja dua hari lagi di test pra-musim pertama Valencia 2015!

Review MotoGP Malaysia 2015! Hot Race!

Hola amigos, race yang mendebarkan bukan? Tentu bukan cerita kemenangan ke-3 secara beruntun yang diraih pasukan Honda; tetapi clash antara Rossi vs Marquez yang ramai di twitter dengan tagar #SepangClash.

Punch Redding Punch! #MalaysianGP

In my opinion, kejadian seperti ini sebenarnya bukan hal yang baru di MotoGP; tetapi memang jarang sekali terjadi. Tentu kalian masih ingat bagaimana Biaggi ‘menggiring’ Rossi ke sisi luar lintasan di tikungan terakhir Suzuka 2001 yang sangat kencang itu. Atau teknik ngerem mendadak di Laguna Seca 2008 yang sukses membuat Stoner balapan di gravel. Hehe kalau kasus yang pertama emang bahaya banget, tetapi kalau kasus Stoner, Jeremy Burgess bilang kalau trik ngerem mendadak seperti itu sering dilakukan di balap era 80’an. Saya sih nggak tau itu seperti apa tapi percaya aja deh sama master Burgess.

Tempat Kejadian Perkara

Oke lanjut ke kasus #SepangClash ini. Kejadiannya di tikungan 14-15. Sequence bagian selatan sirkuit Sepang memang lokasi favorit overtaking karena menjanjikan 2 kesempatan di satu tikungan. Biasanya pembalap mencoba menyalip tetapi kemudian melebar (out of line) dan pembalap yang akan disalip bisa masuk lagi ke dalam. Unik kan? Seolah gak terjadi apa-apa setelah keluar dari tikungan (padahal nyatanya sempat ada 2 aksi overtake). 

Hal itulah yang terjadi di sirkuit Sepang. Tikungan 14-15 cukup berdekatan sehingga Rossi terlihat seperti satu tikungan. Hampir sama lah dengan hairpin di Misano.  Rossi in di tikungan ke-14, dan seperti biasa manuvernya mulus meskipun sudah bisa dipastikan ia akan out of line alias wide. Lalu Rossi yang sempat nengok ke kiri 2 kali itu pun agaknya memastikan kalau Marquez gak ikut-ikutan wide juga (karena bahaya bro, resikonya jatuh di kecepatan rendah).

Predictable Race Line di tikungan 14-15 sirkuit Sepang
Merah adalah line yang biasa digunakan untuk gantian menyalip
setelah keluar dari tikungan ke-14. Tetapi MM93 gak ambil
line itu....
Next, keduanya pasti sudah paham kalau out of line gitu kecepatannya cukup rendah. Tetapi malah kemudian Marquez merebahkan motornya (bukan menghindari terjadinya senggolan). Kelihatannya dia agak maksa  ikutan nempel terus. Padahal kan sisi lintasan Sepang waktu itu sudah dilapis tarmac jadinya meskipun melebar sedikit gak akan kehilangan waktu banyak. Banyak orang mengira kalau Rossi menendang Marquez. Padahal sepengetahuan saya yang bergerak adalah lutut kiri (refleks setelah terkena helm/kepala Marquez).

Bener aja kalau sengaja Rossi sengaja nendang, pasti dia ikutan jatuh juga. Selagi menikung lambat tentu saja keseimbangan berkurang, ditambah manuver ‘nendang’ tentu tambah tidak stabil.

On the way to meet the race direction...

Fiuhhh, balapan yang panas. Tetapi tetap tahan emosi. Jangan salahkan juga tulisan ini yang seolah-olah membela Rossi banget. Wassalam :D


Update sebelum diposting (Minggu 25/10/2015; 16:08) Race direction memutuskan penalti grid  (start paling belakang) untuk Rossi di GP Valencia. Tetapi masih ada upaya banding dari tim Yamaha MotoGP. Let's see the case in 10 days ahead!


Valencia 2012

NB : Any possibilities of wet race next round? :)

Review MotoGP Australia 2015

Cerita dari burung

10 tahun lebih nonton MotoGP Phillip Island, Australia ; baru kali ini secara langsung saya melihat seekor burung ditabrak oleh rider pas race dan live di TV! Wow!

Meskipun bisa dipastikan burung tersebut mati, tetapi untunglah hanya terkena helm atau bagian atas fairing motor Andrea Iannone. Coba kalau sampai masuk saluran angin seperti ini, bisa jadi #29 gak bakalan bisa fight di race yang seru ini.

Beruntung tidak terjadi seperti ini

Oke, komentator Nick Harris bilang kalau race ini adalah salah satu race (battle of group) terbaik di 10 tahun terakhir. Saya setuju tetapi tidak sepenuhnya. Karena race battle of group seperti ini juga pernah terjadi di Sachsenring 2006. Tetapi bedanya cuma di sirkuit aja sih sebenernya. Sachsenring adalah sirkuit lambat sementara Phillip Island adalah sirkuit super cepat (dan berbahaya, layaknya Daytona di AMA Superbike).

Valentino Rossi start ke-7 dan sempat tertahan traffic di posisi ke-6 di awal race. Hingga pertengahan lomba, Lorenzo sudah bisa menjaga pace di depan; dan dibelakangnya Marquez, Rossi, dan Iannone (yang menjelang akhir lomba mampu merapatkan gap dengan dua rider didepannya. Hal ini sangat menarik karena ia sudah tertinggal hampir 1 detik di lap-lap sebelumnya).

Power Ducati yang luar biasa di home straight berkali-kali memotong Marquez, Rossi, hingga Lorenzo saat perebutan P2. Tapi khusus Lorenzo, ia hanya merasakan P3 di setengah tikungan saja (tepatnya di tikungan pertama).

Saya sangat kagum dengan kemampuan Marquez mengembangkan kecepatannya. Meskipun sempat berada di P2-P4, tetapi dengan tenang dan tak terduga tiba-tiba ia sudah bisa berada 0,5 detik di belakang Lorenzo. Padahal di lap-lap sebelumnya gap mencapai 1,4 detik. Wow!

Disaat Marquez berhasil mengembangkan kecepatannya,
Lorenzo hanya mampu menjaga pace maksimal 1,4 detik.

Puncaknya saat lap terakhir. Komposisi pembalap adalah Lorenzo memimpin dengan gap sekitar 0,5-0,8; sementara dibelakangnya (battle of group), Marquez, Iannone, dan Rossi. Manuver pertama dilakukan Rossi dengan menyalip Iannone di hairpin (Honda Corner/T4). Tapi sayang Iannone kembali meraih posisinya saat keluar tikungan dan keduanya berakhir cukup lambat setelah tikungan ini.

Dan tidak disangka-sangka, Marquez sudah melepaskan diri dari rombongan setelah keluar dari tikungan Siberia (T6). Terlihat dari helicopter camera, gap Lorenzo-Marquez hanya sekitar 0,3 detik di tikungan 7-8. Puncaknya di Lukey Heights, Marquez sudah berada tepat dibelakang Lorenzo, pun Rossi dibelakang Iannone. Dan menjelang MG Corner (T10), keduanya bersiap melakukan overtaking. Marquez sukses, Rossi gagal!

The Real Winner! MM93 pole position dan kemenangannya
kali ini sangat istimewa. Selamat! 

Begitulah akhirnya race terseru tahun ini berakhir dengan P1-P4: Marc Marquez (first point & first win in PI in MotoGP class), Jorge Lorenzo, Andrea Iannone, Valentino Rossi. Hasil ini masih menempatkan Valentino Rossi di posisi puncak klasemen dengan margin 11 poin saja. Dan kedua kalinya di musim ini Rossi gagal podium.

Kalau dilihat secara teknis, paket motor Honda di Phillip Island kali ini sedikit lebih baik dibandingkan Yamaha. Sementara Ducati mempunyai catatan khusus dimana mereka sangat kuat di home straight (900’an meter). Dan kelebihan Honda (Marc Marquez) kali ini adalah mampu mengembangkan kecepatan dengan konsisten dan tidak tertinggal cukup jauh saat Ducati (Andrea Iannone) ‘mengacaukan’ race di home straight. (rz)

Review MotoGP Jepang 2015

Sebelum mulai review kali ini, ada baiknya saya memberitahukan kalau tulisan review MotoGP hanya akan dibuat kalau race-nya berlangsung seru (oleh karena itu race Aragon lalu tidak dibuat reviewnya di blog ini, hehe).

Menyambung tulisan WOW Japan 2015 beberapa hari yang lalu, race Jepang kali ini memang sangat-sangat seru. Bukan aksi overtaking, tetapi bagaimana rider mengatasi trek basah (yang berangsur-angsur mengering). Trek basah sendiri boleh dibilang adalah ‘panggung drama’ yang paling utama. Tentu kita masih sangat ingat bagaimana race Misano sebulan yang lalu.

Oke, kecermatan Dani Pedrosa menjaga keausan bannya di Motegi kali ini adalah salah satu kunci juara utama. Race kali ini mengingatkan saya dengan bagaimana Ralf Waldmann mengejar gelar juara GP250 Donington Park 2000.

Balapan berjalan cukup membosankan, Lorenzo P1 dan Rossi P2 selama hampir setengah balapan. Dan kemudian Pedrosa yang sejak awal race berada di P4 secara perlahan menyalip Dovizioso dan menipiskan gap, sebagai penonton saya sudah berangan-angan bahwa hasil akhir race kali ini akan sangat tidak terduga. Apalagi kondisi trek kali ini sangat mendukung!

Memangkas gap dari 3 detik menjadi 1,4 detik dalam 1 lap adalah hal yang luar biasa. Dan dalam beberapa tikungan setelahnya Pedrosa sudah mampu menyalip Lorenzo. Luar biasanya lagi Rossi juga mampu menyalip Lorenzo dan mendapatkan keuntungan poin.

Jika saat Lorenzo P1 dan Rossi P2 selisih poin hanya 9, maka setelah race selisih poin menjadi bertambah 2 kali lipat menjadi 18 point! Wow. Dengan selisih tersebut Rossi sebenarnya merupakan keuntungan dan cukup bermain konsisten di 3 race tersisa gelar juara dunia yang telah terlepas selama 6 tahun akan kembali.

Rossi hanya perlu finish tepat dibelakang Lorenzo di 3 race tersisa. Tak peduli kalau Lorenzo juara di 3 race tersebut, Rossi hanya perlu finish kedua. Maka di akhir musim selisih poin Rossi dan Lorenzo adalah 3 poin, VALE 10!

#RossiVsLorenzo


Oke, kita bahas hal menarik lainnya. GP Jepang yang digelar di kondisi basah memang sering memakan banyak korban. Salah satunya adalah Pol Espargaro yang harus terjatuh cukup keras di tikungan ke-11. GP Jepang yang selalu dinantikannya setelah kesuksesan di Suzuka 8Hours ternyata harus berakhir pahit. Mungkinkah jodoh Pol Espargaro bukan Motegi tetapi Suzuka? Entahlah :D

Jepang yang kali ini tak menyenangkan bagi Pol Espargaro

Oiya satu lagi hal yang cukup penting dan menggembirakan bagi Pedrosa selain gelar juara perdananya di musim ini. Dengan P1 di Motegi kali ini, total Pedrosa telah mengoleksi 50 gelar juara GP (8x125cc, 15x250cc, 27xMotoGP). Kemenangan pertama Pedrosa diraih di kelas 125cc Assen 2002.

Seperti yang terlihat di video klasik ini, Pedrosa sempat tertangkap kamera sedang menonton race MotoGP Assen 2002 dari pitwall. Ia menyaksikan race menarik antara motor 2-tak dan 4-tak yang akhirnya dimenangi oleh Valentino Rossi; orang yang sama dengan yang ia kalahkan di MotoGP Motegi 13 tahun setelahnya. Congrats! (rz)


Review MotoGP San Marino 2015

Ini pertama kalinya saya bikin review balap MotoGP. Grand Premio TIM di San Marino e Della Riviera di Rimini adalah GP pertama yang akan saya review.

Entah berhubungan atau tidak, helm 'ikan' Vale merefleksikan
keadaan lintasan saat raceday, Bad luck Vale!

Oke. Sekali lagi gambling cuaca bikin MotoGP kali ini kurang seru. Kondisi kering-basah-kering membuat balap tidak lagi tentang aksi overtaking, tetapi lebih ke pemilihan strategi penggunaan ban dan kapan masuk pitlane untuk ganti motor.

Sampai lap 16 atau 17 saya lupa, Marquez sudah masuk pit untuk mengganti motornya ke settingan kering (settingan awal). Sementara itu Lorenzo dan Rossi masing-masing bergantian mengganti motor lap berikutnya.

Pitlane's traffic

Saya sangat terkejut ketika mengetahui perbedaan lap-time Rossi (P1) dan Marquez (P3 setelah ganti motor kedua) sekitar 6 detik per lap (lebih cepat Marquez). Wow! Disini optimisme saya kalau Rossi bakalan menang (atau podium) semakin menipis.

Coba hitung dengan perhitungan sederhana. Jika lap sebelum top 3 mengganti motor kedua cuma berbeda 2 detik diantaranya (+4s antara Rossi dan Marquez). Sementara anggap saja waktu yang dibutuhkan oleh masing-masing pembalap untuk mengganti motor dan melintasi pitlane adalah 20 detik, berarti Marquez sudah tertinggal 24 detik dari Rossi saat ia keluar dari pitlane.

Tapi dengan keuntungan 6 detik per lap yang dimiliki Marquez membuat ia hanya berjarak 12 detik saat The Doctor masuk ke pitlane 2 lap setelahnya. Otomatis setelah Rossi kembali ke lintasan, gap antara keduanya kini cuma sekitar 8 detik (20s-12s). Ditambah adaptasi lintasan setelah Rossi kembali, gap yang diciptakan tentu lebih besar lagi. (Perhitungan diatas hanya perkiraan saja biar lebih sederhana hehe).

Mengejar gap kurang lebih 8 detik di 5 lap menjelang finish untuk Rossi adalah hal yang mustahil. Terlebih setelah melihat hasil resmi yang dirilis MotoGP.com, gap sebenarnya antara Rossi (P5) dan Marquez (P1) adalah 33 detik. Wow!

Balap di kondisi tak menentu seperti MotoGP Misano ini memang cenderung mengundang drama. Semua pasti masing ingat bagaimana Alex Barros (Camel Honda), Marco Melandri (Fortuna Honda), dan Chris Vermuelen (Rizla Suzuki) secara tidak terduga menjuarai MotoGP Portugal 2005, MotoGP Australia 2006, dan MotoGP Perancis 2007 di kondisi yang serupa. Untuk MotoGP Misano kali ini kejutan terbesar menurut saya adalah hasil yang sangat tidak terduga yang diraih Bradley Smith, Scott Redding, dan Loris Baz (P2-P4). Catatan untuk Scott Redding, ia bahkan sempat terjatuh di awal lomba saat masih menggunakan motor kering di trek basah. Luck!

Dan untuk MotoGP modern ini (1000cc), Marc Marquez adalah rider paling beruntung karena (seingat saya) dia berhasil menjuarai 3 GP di kondisi serupa. Selain Misano 2015, ia berhasil menjuarai Assen 2014 dan Sachsenring 2014. Sementara itu mungkin Valentino Rossi adalah rider yang selalu kurang beruntung. Setau saya ia belum pernah menjuarai balap di kondisi seperti ini. Bahkan memori terburuk adalah saat ia terjatuh di Le Mans 2009, beberapa lap setelah ia mengganti motornya.

Marc Marquez menjadi lebih santai menjalani sisa musim 2015.

Yang pasti posisi 5 Valentino Rossi kali ini setidaknya menambah keuntungan 11 poin di klasemen. 'Terimakasih' untuk Jorge Lorenzo yang DNF sehingga posisi keduanya kini di klasemen terpaut 23 angka. Dengan 5 balapan tersisa, pertarungan MotoGP menjadi lebih seru. Selisih 63 poin antara Rossi dan Marquez juga masih bisa dikejar tetapi kemungkinannya sangat tipis.

Klasemen MotoGP 2015 (setelah seri ke-13)

1              247         Valentino Rossi
2              224         Jorge Lorenzo (+23)
3              184         Marc Marquez (+63)
4              159         Andrea Iannone (+88)
5              135         Bradley Smith (+112)

#Sekali lagi Rossi kurang beruntung & strategi yang sangat jitu dari Marquez (belajar dari Aragon 2014 mungkin, hehe) (rz)