Tampilkan postingan dengan label Video. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Video. Tampilkan semua postingan

Review MotoGP Sachsenring 2016 - Cerita Misano 2015 & Beberapa Hal Menarik ke Depannya!

King of the Ring. Hubungan Marc dengan Sachsenring 'mirip' Vale dengan Mugello.
Anaehnya Malah Bukan dengan Sirkuit di Spanyol.

Saya gak mau nulis panjang lebar tentang review race MotoGP seri Jerman kali ini. Karena (kejadian kali ini) sama persis dengan race MotoGP San Marino musim lalu. Marc tampil nothing to lose, mengganti motornya lebih awal, karena ia tahu kalau kondisi trek akan sangat menguntungkannya kalau mengganti motor (dengan ban slick) lebih awal. Marc memang tampak kesusahan saat balapan dalam kondisi basah. Tetapi saat trek berangsur mengering, Marc adalah 'profesor' di kondisi tersebut.

Hal yang 'sama persis' juga dialami oleh Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo. Duo pesaing terdekat Marc tersebut tampil buruk (lagi) di Grand Prix basah kedua secara beruntun. Bahkan untuk Jorge, mood-nya sudah hilang sejak hari Jumat (mungkin). Saat race ia semakin kehilangan mood-nya dan tampak adem ayem meskipun cuma finish di P15 (1 poin).

Sementara untuk Vale, ini adalah kegagalan ketiga secara beruntun di race yang membutuhkan pergantian motor karena perubahan kondisi lintasan. Misano 2015 dan Argentina 2016 (masih lumayan ia bisa finish P2) adalah dua race sebelumnya. Kalau sampai di kesempatan ke-4 ia masih gagal juga, kayaknya ia harus memakai lagi helm Donkey edisi Misano 2009, hehe.

Oke, review race kali ini cukup segitu aja. Kita lanjut ke hal lain yang menarik untuk kita nantikan!

Next Stop: Red Bull Ring (14 Agustus)

Dari nama sirkuit, bisa dibilang race kali ini adalah 'home race' untuk pembalap Red Bull seperti Marc Marquez, Dani Pedrosa, Jack Miller, Maverick Vinales, hingga Jonas Folger. Khusus untuk duo Repsol Honda (yang timnya juga didukung Red Bull), mereka pernah beberapa kali menguji coba sirkuit ini untuk kepentingan promosi Red Bull. Salah satunya adalah Marc Marquez Racing Science berikut ini.




Marc dan Dani mungkin akrab dengan Red Bull Ring karena faktor sponsor mereka. Tetapi Valentino Rossi adalah satu-satunya pembalap di MotoGP musim ini (untuk semua kelas) yang pernah merasakan balapan Grand Prix di sirkuit bernama asli Osterreichring tersebut. Austrian Grand Prix 1997, kelas 125cc; Valentino Rossi muda finish P2 di belakang Noboru Ueda dengan selisih hanya 0,004 detik! Wow.

Marc, Dani, Vale, udah 'kenal' betul dengan Red Bull Ring, gimana kabar Jorge ya? hehe

Menunggu Keajaiban MotoGP Paruh Kedua

Kondisi kali ini sama persis dengan MotoGP 2006. Rider tim Repsol Honda tampil konsisten dan memimpin 50'an poin dari rival di Yamaha hingga jeda musim panas. Dulu peran ini diambil oleh Nicky Hayden, sekarang oleh Marc Marquez. Tetapi jelas, peran Marc kali ini jauh lebih kuat daripada peran The Kentucky Kid 10 tahun yang lalu.

Menjelang akhir musim 2006, Valentino Rossi berhasil memangkas jarak poin (dari 51 poin di paruh musim) bahkan mengunggulinya pasca Estoril 2006. 'Kejatuhan' Hayden waktu itu dipengaruhi oleh beringasnya pembalap lain, selain Valentino tentu saja, seperti Loris Capirossi (Ducati) hingga rider Honda lainnya seperti Dani Pedrosa dan Marco Melandri. Pembalap-pembalap tersebut mampu 'menahan' Nicky Hayden untuk mengoleksi poin lebih banyak sehingga sangat menguntungkan Valentino Rossi. Akankah hal tersebut bisa terunlang lagi musim ini?

Saya kira akan sangat sulit. Kenapa? Karena tidak ada lagi peran seperti Loris Capirossi dan Marco Melandri di musim ini. Bahkan Dani Pedrosa pun (yang masih aktif membalap) tidak bisa mengulangi hal yang sama. Duo Ducati serta Maverick Vinales bisa saja menjadi pengganti Loris dan Melandri, meskipun tetap saja akan sulit.


Siapa yang Bisa Gantiin Peran Loris-Dani-Melandri untuk Vale Musim ini?

Analisis Motocross; Kalender Balap MXGP 2017 (termasuk seri Indonesia!)

Oktober tahun lalu saya memposting info tentang kalender balap MXGP musim ini. Dan kurang dari setahun setelahnya, saya sudah memposting info yang sama untuk musim depan. Terimakasih untuk press release FIM tertanggal 5 Juli 2016 sehingga saya bisa menganalisa kalender MXGP musim depan!



SOUTH EAST ASIAN SERIES

Salah satu kejutan di kalender balap MXGP musim depan adalah masuknya seri Indonesia untuk menggantikan seri Thailand yang sudah ada sejak musim 2013. Hilangnya seri MXGP Thailand sudah bisa diprediksi karena sering terjadi pemindahan venue tiap tahunnya, terutama di 3 musim terakhir. Terhitung sejak 2013-2016, MXGP Thailand sudah digelar di 4 trek berbeda mulai dari Si Racha (2013-2014), Nakhonchaisri (2015) dan terakhir Suphanburi (2016). Selain itu seri MXGP Malaysia juga tampak tidak akan kembali lagi tahun depan setelah dicoret untuk musim ini. Jangan sampai seri MXGP Indonesia bernasib sama dengan seri Malaysia.

MINOR CHANGES

Selain kembalinya seri MXGP Indonesia, dan 'hilangnya' seri Malaysia dan Thailand, perubahan minor lainnya juga terjadi di kalender musim 2017. Yaitu seri Spanyol dan Amerika Serikat (berkurang dari 2 seri menjadi 1 saja). Khusus untuk Spanyol, tanda-tanda hilangnya seri mereka sudah terlihat saat draft kalender musim ini hanya berisikan kata TBA untuk tanggal yang akhirnya menjadi seri mereka. Sedangkan seri MXGP Amerika Serikat musim depan akan berkurang karena mereka juga akan menggelar seri Motocross of Nations di bulan Oktober. Glen Helen sebenarnya adalah venue MXoN musim depan, tetapi di draft kalender masih tertulis TBA

USA FOCUS

Menarik untuk melihat sirkuit apakah yang akan digunakan untuk MXGP seri Amerika Serikat musim depan. Karena kalau mempertahankan trek musim ini (dibangun non-permanen di atas trek drag race 'zMAX Dragway'). Trek ini akan menjadi versi Motocross dari trek Daytona Supercross. Jujur saya bukanlah penggemar trek Motocross non-permanen, karena sangat plastik! 3 seri motocross ternama dibangun secara non-permanen, Assen, Lausitzring dan Miller Motorsport Park (ex-venue World Superbike) dan semuanya mengecewakan. Saya justru berharap seri MXGP Amerika Serikat bisa digelar di trek permanen yang 'Amerika' banget seperti Freestone mungkin? Semoga saja!




Bagus sih, rame sih, tetapi ini Motocross bukan Supercross! (Charlotte MXGP 2016)

3 TBA SERIES

Oiya, ada juga 3 seri TBA termasuk satu seri yang bahkan belum ketahuan siapa negara penyelenggaranya, apakah mungkin Spanyol atau USA 2? (atau USA 3 lebih tepatnya). Seri TBA lainnya adalah Italy 1 dan Jerman. Saya memprediksi seri Italy 1 akan menjadi milik Pietramurata (sama seperti tahun ini) atau Maggiora (yang tahun ini menggelar MXoN). Dan terakhir seri Jerman kemungkinan besar tetap berada di Teutschental, tetapi saya berharap seri mereka bisa 'pindah' ke Gaildorf atau sirkuit Jerman lainnya (biar gak bosen).

OPINION & FANTASY

Dari sekian banyak seri di kalender musim depan, saya tertarik dengan seri Belanda yang masih berada di Assen. Entah apa maksudnya seri 'MXGP yang digelar di sirkuit MotoGP' tersebut bertahan hingga 3 musim lamanya. Padahal jelas-jelas trek Assen 'gak masuk akal' dan akan lebih baik digelar di Lierop. Atau Valkenswaard jadi seri Belanda dan Bastogne (Belgia) jadi seri Eropa. Emang sih seri di Belanda jadi berkurang satu, tapi Bastogne 'kan sama saja masih termasuk Benelux.

CONCLUSION

Pada akhirnya dalam setiap postingan yang membahas kalender balap musim selanjutnya, saya selalu berharap ada perubahan-perubahan trek atau kalender sehingga saya bisa tahu lebih banyak lagi tentang sirkuit-sirkuit indah di seluruh dunia. Apalagi ini motocross kan? Pasti berhubungan dengan alam dan pemandangan di sekitar sirkuit.

Penjelajah Sirkuit - Circuit International Automobile Moulay El Hassan

Circuit International Automobile Moulay El Hassan atau lebih dikenal dengan nama Marrakech Street Circuit adalah sirkuit jalan raya 'rumah' dari kejuaraan balap mobil WTCC seri Maroko sejak 2009. Selain digunakan untuk WTCC, sirkuit ini juga pernah digunakan untuk kejuaraan Formula 2 dan AutoGP (kejuaraan yang menggunakan mobil ex-A1GP 2005-2008).

Layout Trek 2009-2015 via racingcircuits.info

Antara 2009-2015, sirkuit ini menggunakan layout sederhana berbentuk setengah paperklip dan segitiga runcing. Trek sepanjang 4,5 km tersebut didominasi oleh straight lurus dan chicane. Lap record untuk sirkuit ini dicetak oleh Narain Karthikeyan (AutoGP 2013) dengan catatan waktu 68,45 detik.

Untuk musim balap 2016 sirkuit ini mengalami perubahan cukup signifikan dengan 'membuang' sebagian besar trek jalan raya berbentuk oval paperklip dan menggabungkannya dengan jalanan baru di sekitar triangle dan kompleks paddock. Total panjang sirkuit hanya tersisa 2/3-nya saja atau sekitar 3 km. Revisi layout ini dikerjakan oleh desainer sirkuit kenamaan, Hermann Tilke. Status sirkuit kini menjadi FIA Grade 2 'Semi-Permanent' karena area paddock dan sekitarnya merupakan bangunan permanen untuk sirkuit ini.

Layout Trek 2016 via racingcircuits.info

Trek baru ditunjukkan oleh garis hijau, mengelilingi
kompleks paddock yang ditandai oleh garis kuning.


Poor me! Saya sempat mempertanyakan sirkuit apa yang akan digunakan untuk balap Formula E Maroko akhir tahun ini. Dan ternyata sirkuit sepanjang 3 km inilah yang akan digunakan untuk Marrakech ePrix**. Ini murni kesalahan saya yang 'telat' mengupdate info tentang renovasi sirkuit Marrakech.

Tujuan utama renovasi sirkuit Marrakech ini sebenarnya untuk meningkatkan animo motorsport lokal karena dengan 'pengecilan' sirkuit ini membuat penggunaan trek bisa diperpanjang hingga 1 tahun penuh. Bukan hanya satu bulan saja saat ada event WTCC di Marrakech. Perubahan layout juga mengakibatkan perubahan karakter sirkuit menjadi lebih teknikal, ini jelas sebuah kemajuan karena sirkuit tidak melulu sekedar trek lurus atau chicane. Sirkuit teknikal membuat kemampuan pembalap lebih terasah.

Sebagai bonus, mari kita saksikan race WTCC Maroko 2016 yang digelar pada 8 Mei lalu. Cekidot!





Well, ini sangat menarik. Melihat tahun 'kelahiran' sirkuit ini, 2009, saya menjadi teringat dengan sirkuit yang muncul di tahun yang sama, Lippo Village Street Circuit yang 'mati' sebelum benar-benar hidup. Menyedihkan.

Penjelajah Sirkuit - Bangsaen Street Circuit

Saya adalah tipe pecinta motorsport karena faktor sirkuit. Maksudnya, saya suka apapun itu jenis balapnya kalau dilakukan di sirkuit yang baru saya kenal. Seperti tahun 2015 lalu saya baru mengenal sirkuit Kuala Lumpur (Malaysia), Mine (Jepang), Hengelo (Belanda), dan Ahvenisto (Finlandia). Saya tidak mempedulikan hasil atau jalannya balap di sirkuit-sirkuit itu karena saya hanya ingin melihat bagaimana wujud sirkuit yang baru saya kenal tersebut.

Nah, 2016 ini masih agak seret. Setidaknya hanya 2 sirkuit baru yang saya kenal hingga bulan Mei 2016, yaitu sirkuit jalan raya di Paris dan Berlin. Keduanya adalah sirkuit kategori FIA Grade 3 untuk balapan Formula E. Sama seperti sirkuit ePrix yang baru dikenalkan tahun lalu, saya belum menemukan sesuatu yang spesial dari sirkuit-sirkuit tersebut. Masih biasa saja.

Bangsaen Street Circuit Trackmap




Masuk di bulan Juni, saya akhirnya mengenal sirkuit jalan raya Bangsaen di Chonburi, Thailand. I
ni sirkuit lama tetapi baru saya kenal beberapa hari terakhir. Suasananya unik, mirip seperti Macau tetapi 'khas' Asia Tenggara banget. Bukan berlatarbelakang kota besar dengan banyak gedung pencakar langin seperti di KL, atau suasana taman seperti di Lippo Village. Bangsaen lebih kental nuansa kota tradisional Thailand di pinggiran laut. Sirkuit ini digunakan untuk balap mobil touring car dan GT di Thailand Super Series.

Bangsaen adalah 'hidangan pembuka' yang sangat bagus untuk kemudian kita menikmati sajian sirkuit jalan raya dengan ciri khas yang cukup kuat, Baku Street Circuit...

Channel Youtube - Thailand Super Series


Analisis: Spanyol Mulai Luntur?

Jumlah mereka masih banyak, tetapi yang di depan semakin sedikit.


Oke, menjelang seri ke-7 MotoGP musim 2016, saya rasa ini adalah waktu yang tepat (meskipun sebenarnya saya juga baru menyadarinya) untuk mengatakan bahwa dominasi Spanyol sudah mulai luntur!

Saya tentu tidak berbicara tentang kelas MotoGP yang masih dikuasai Jorge Lorenzo dan Marc Marquez. Begitu pula Dani Pedrosa, Maverick Vinales dan Aleix Espargaro yang masih kuat di baris kedua. Tetapi memang kenyataannya, di kelas junior, terjadi penurunan prestasi (atau dominasi) pembalap Spanyol.

Lihat saja di klasemen Moto2. Hanya ada nama Alex Rins yang mengisi posisi 5 besar. Pembalap Spanyol terbaik lainnya, Luis Salom, berada di posisi ke-10. Berturut turut setelah itu ada Axel Pons (12), Julian Simon (21), dan Alex Marquez (22). Menarik saat melihat dua juara dunia GP125/Moto3 terlempar diluar 20 besar.

Lalu di kelas Moto3, Jorge Navarro juga berada di posisi kedua klasemen, 6 posisi lebih baik dari pembalap Spanyol lainnya, Joan Mir (rookie). Berturut-turut setelah itu ada Aron Canet (15/rookie), Juanfran Guevara (16), Jorge Martin (21) dan Maria Herrera (26).

Secara jumlah partisipan di masing-masing kelas, Spanyol memang masih mendominasi. Rata-rata ada 8 pembalap per kelasnya. Jumlah rookie lulusan CEV Repsol pun masih cukup bagus, 2 di Moto3 dan 4 di Moto2.

Tapi memang secara keseluruhn mereka sudah tidak mendominasi lagi. Tidak ada lagi 3-4 pembalap Spanyol yang bertarung sengit di pack terdepan lomba atau di klasemen. Semua lebih cair. Makin banyak pembalap dari negara lain yang ikut bersaing, termasuk Malaysia.

Sudah sejak dulu Spanyol menggilai balap motor (GP) lebih dari ajang balapan lainnya, termasuk World Superbike. Sirkuit-sirkuit permanen bertaraf internasional mulai muncul hingga Valencia (1999) lalu Aragon (2010). Kejuraan domestik dan internasional rutin digelar untuk meningkatkan mutu motorsport mereka. Tetapi dari semua usaha itu, mereka baru bisa meraih prestasi tertinggi saat Alex Criville memenangi GP500, tepat setelah Mick Doohan pensiun. Di tahun yang sama, Emilio Alzamora (GP125) juga meraih gelar juara dunia.





Dua kemenangan bersama di 1999 itu terbukti mampu melecut semangat Spanyol sehingga mampu mendominasi MotoGP lebih dari 15 tahun. Dani Pedrosa, Jorge Lorenzo, Alvaro Bautista, Julian Simon, Marc Marquez, Nicolas Terol, Maverick Vinales, Tito Rabat, dan Alex Marquez adalah juara-juara dunia asal Spanyol setelah era Alzamora-Criville.

Tidak bisa dipastikan apakah dominasi yang mulai meluntur tersebut hanya berlangsung musim ini atau sampai musim-musim selanjutnya, yang pasti Spanyol masih sangat antusias di olahraga ini. 17 pembalap di kelas Moto2 dan Moto3 jauh lebih banyak dari seluruh pembalap Asia yang ada musim ini. Mereka tetap menyalurkan bakat-bakat terbaik di negara mereka di MotoGP. Dan mungkin saja di tahun-tahun mendatang mereka bisa menang lagi, mendominasi lagi. Siapa yang tahu?

Yang terpenting adalah MotoGP harus selalu kompetitif tiap tahunnya!

Analisis Motocross; Kalender Balap MXGP 2016!

Halo ASIA!

Anda pecinta travelling dan motocross? Berbahagialah karena tahun depan akan ada 2 seri MXGP yang akan digelar di Thailand dan Malaysia yang hanya berjarak satu minggu saja. Seri di Thailand masih menunggu konfirmasi, sementara seri di Malaysia sudah dipastikan akan digelar di sirkuit Sepang.

  1. 27 Februari // MXGP of Qatar (Losail)
  2. 6 Maret // MXGP of Thailand (Suphanburi/TBC)
  3. 13 Maret // MXGP of Malaysia (Sepang)
  4. 27 Maret //MXGP of Patagonia-Argentina (Neuquen)
  5. 3 April // MXGP of Leon-Mexico (Leon)
  6. 17 April // MXGP of Europe (Valkenswaard, Belanda)
  7. 1 Mei // MXGP of Latvia (Kegums)
  8. 8 Mei // MXGP of Germany (Teutschenthal)
  9. 15 Mei // MXGP of Trentino (Pietramurata, Italia)
  10. 29 Mei // TBA
  11. 5 Juni // MXGP of France (St Jean d’Angely)
  12. 19 Juni // MXGP of Great Britain (Matterley Basin)
  13. 26 Juni // MXGP of Lombardia-Italy (Mantova)
  14. 24 Juli // MXGP of Czech Rep (Loket)
  15. 31 Juli // MXGP of Belgium (Lommel)
  16. 7 Agustus // MXGP of Switzerland (Frauenfeld/Gachnang)
  17. 28 Agustus // MXGP of The Netherlands (Assen)
  18. 3 September // MXGP of the Americas (Charlotte Motor Speedway)
  19. 11 September // MXGP of the USA (Glen Helen)
  20. 25 September // Motocross of Nations (Maggiora, Italia)


Dari kalender sementara tersebut bisa kita pelajari beberapa hal, khususnya mengenai trend pemilihan venue untuk MXGP dan perkembangan Motocross modern ini.

EKSPANSI ASIA

Setelah Jepang terdepak dari kalender MXGP pada 2008, baru pada 2013 MXGP kembali ke Asia tepatnya di Losail, Qatar. Untuk musim 2016 seri Asia akan bertambah menjadi 3 setelah seri Malaysia masuk ke kalender. Lumayan untuk menambah jam internasional pembalap Asean.

Lalu Indonesia? Hanya disaat kejurnas Motocross atau Supercross bisa tayang di TV dan mendapatkan rating yang bagus. Ditambah berkembangnya kultur Motocross yang kuat di tanah air barulah Indonesia akan kembali menggelar GP. Kangen juga nonton seri GP di Indonesia seperti seri klasik MXGP Yogyakarta 1996 ini. Yuk nonton!



7 GRAND PRIX DI 3 NEGARA!

Dari sekian negara hanya Belanda, Italia, dan Amerika Serikat yang menggelar lebih dari satu seri di negara mereka. Hal ini sama dengan Spanyol, Amerika Serikat (lagi), dan Italia di MotoGP. Italia selalu mendapatkan minimal 2 seri MXGP tiap tahunnya. Di Amerika Serikat baru mulai 2016 akan menggelar 2 GP di waktu yang berdekatan. Hal ini berkaitan dengan ekspansi MXGP di Amerika Utara yang ingin menggelar balapan di West Coast dan East Coast.

Belanda juga sama saja, tetapi bedanya sejak tahun ini kejuaraan diselenggarakan di Valkenswaard dan TT Assen. Pemilihan TT Assen menggantikan Lierop berkaitan dengan konsep penyelenggara yang ingin venue bergaya ala ‘stadium’ seperti Supercross tetapi dengan karakter Motocross.

STADIUM-STYLE VENUE

Seperti yang saya bahas di poin sebelumnya, untuk musim 2016 kira-kira akan ada 3 venue bergaya ala ‘stadium’ layaknya venue Supercross. Yaitu; Assen, Sepang, dan Charlotte Motor Speedway. Hanya satu venue di Thailand yang saya belum mengetahui layout dan lokasinya seperti apa. Kalau trek Losail sih trek non permanen yang hanya memanfaatkan lahan kosong di dalam sirkuit dan jadilah night race motocross yang… sepi.

Mungkin penyelenggara ingin memanfaatkan tribun sirkuit untuk memanjakan penonton, tetapi tetap saja trek ini kurang diminati fans karena mencampur adukkan Motocross dengan Supercross. Yang terjadi di Amerika Serikat, seri Utah National di Miller Motorsport Park sudah didrop dari kalender untuk musim 2016 dan digantikan trek klasik Southwick (Moto-X 338). Hal tersebut menunjukkan seri dengan trek non-permanen kurang disukai fans (setidaknya di Amerika Serikat). Mungkin berbeda dengan fans di Eropa yang menikmati balap motocross di TT Assen. Prediksi saya untuk trek di Sepang kemungkinan besar akan dibangun di depan tribun backstraight. Untung saja F1 dan MotoGP digelar di akhir tahun sehingga masih cukup waktu untuk memperbaiki sirkuit pasca MXGP.

SAYONARA!

Beberapa seri MXGP yang dulu selalu muncul di kalender kini, satu per satu mulai hilang. Mulai dari seri Portugal (Agueda), Bulgaria (Sevlievo), dan kemungkinan besar musim depan akan kehilangan seri Spanyol dan Swedia. Hal seperti itu biasanya disebabkan animo penonton, pembalap, atau organizer lokal yang sudah menurun dan tidak menguntungkan lagi di mata penyelenggara.

Dari kalender sementara hanya tersisa satu seri yang akan belum fix. Kemungkinan besar salah satu dari dua seri tersebut akan menjadi pengisinya. Tetapi saya memprediksi seri Swedia akan tetap di kalender musim depan. Kenapa? Karena Spanyol kurang begitu greget kalau soal Motocross. Berbeda dengan mereka di MotoGP.

Well then, banyak kejutan-kejutan baru di MXGP musim depan yang mungkin akan menyenangkan. Setidaknya masih ada beberapa trek klasik seperti Glen Helen, Valkenswaard, Loket, St Jean d’Angely, dan trek terbaik MXGP 2015, Neuquen, yang akan berpadu dengan trek-trek gaya baru seperti Assen, Sepang, dan CMS. Sangat menarik karena di Amerika Serikat sendiri, karena musim depan justru seluruh seri akan benar-benar kembali ke 'trek alam' dan tidak akan ada lagi artificial track. (rz)

Review MotoGP Jepang 2015

Sebelum mulai review kali ini, ada baiknya saya memberitahukan kalau tulisan review MotoGP hanya akan dibuat kalau race-nya berlangsung seru (oleh karena itu race Aragon lalu tidak dibuat reviewnya di blog ini, hehe).

Menyambung tulisan WOW Japan 2015 beberapa hari yang lalu, race Jepang kali ini memang sangat-sangat seru. Bukan aksi overtaking, tetapi bagaimana rider mengatasi trek basah (yang berangsur-angsur mengering). Trek basah sendiri boleh dibilang adalah ‘panggung drama’ yang paling utama. Tentu kita masih sangat ingat bagaimana race Misano sebulan yang lalu.

Oke, kecermatan Dani Pedrosa menjaga keausan bannya di Motegi kali ini adalah salah satu kunci juara utama. Race kali ini mengingatkan saya dengan bagaimana Ralf Waldmann mengejar gelar juara GP250 Donington Park 2000.

Balapan berjalan cukup membosankan, Lorenzo P1 dan Rossi P2 selama hampir setengah balapan. Dan kemudian Pedrosa yang sejak awal race berada di P4 secara perlahan menyalip Dovizioso dan menipiskan gap, sebagai penonton saya sudah berangan-angan bahwa hasil akhir race kali ini akan sangat tidak terduga. Apalagi kondisi trek kali ini sangat mendukung!

Memangkas gap dari 3 detik menjadi 1,4 detik dalam 1 lap adalah hal yang luar biasa. Dan dalam beberapa tikungan setelahnya Pedrosa sudah mampu menyalip Lorenzo. Luar biasanya lagi Rossi juga mampu menyalip Lorenzo dan mendapatkan keuntungan poin.

Jika saat Lorenzo P1 dan Rossi P2 selisih poin hanya 9, maka setelah race selisih poin menjadi bertambah 2 kali lipat menjadi 18 point! Wow. Dengan selisih tersebut Rossi sebenarnya merupakan keuntungan dan cukup bermain konsisten di 3 race tersisa gelar juara dunia yang telah terlepas selama 6 tahun akan kembali.

Rossi hanya perlu finish tepat dibelakang Lorenzo di 3 race tersisa. Tak peduli kalau Lorenzo juara di 3 race tersebut, Rossi hanya perlu finish kedua. Maka di akhir musim selisih poin Rossi dan Lorenzo adalah 3 poin, VALE 10!

#RossiVsLorenzo


Oke, kita bahas hal menarik lainnya. GP Jepang yang digelar di kondisi basah memang sering memakan banyak korban. Salah satunya adalah Pol Espargaro yang harus terjatuh cukup keras di tikungan ke-11. GP Jepang yang selalu dinantikannya setelah kesuksesan di Suzuka 8Hours ternyata harus berakhir pahit. Mungkinkah jodoh Pol Espargaro bukan Motegi tetapi Suzuka? Entahlah :D

Jepang yang kali ini tak menyenangkan bagi Pol Espargaro

Oiya satu lagi hal yang cukup penting dan menggembirakan bagi Pedrosa selain gelar juara perdananya di musim ini. Dengan P1 di Motegi kali ini, total Pedrosa telah mengoleksi 50 gelar juara GP (8x125cc, 15x250cc, 27xMotoGP). Kemenangan pertama Pedrosa diraih di kelas 125cc Assen 2002.

Seperti yang terlihat di video klasik ini, Pedrosa sempat tertangkap kamera sedang menonton race MotoGP Assen 2002 dari pitwall. Ia menyaksikan race menarik antara motor 2-tak dan 4-tak yang akhirnya dimenangi oleh Valentino Rossi; orang yang sama dengan yang ia kalahkan di MotoGP Motegi 13 tahun setelahnya. Congrats! (rz)


THE BEST LAST LAP BATTLE! Grand Prix Klasik Era 90'an

Sambil menunggu tayangan MotoGP San Marino 2015 yang tayang sore hari ini di Trans 7, tidak ada salahnya kita lihat lagi pertarungan-pertarungan menarik balapan kelas junior di Grand Prix era 90'an.

Pertarungan-pertarungan menarik dibawah ini baru saja saya ketahui setelah menjelajahi YouTube untuk menyaksikan Grand Prix klasik, terutama untuk kelas junior (250cc-125cc). Dan saya pilihkan battle lap terakhir di GP125 Spanyol 1995 dan GP250 Jerman 1997.


#1 Bagaimana Mengalahkan Lawan Menjelang 200 m dari Garis Finish ala Haruchika Aoki!




Tikungan 13 atau tikungan terakhir sirkuit Jerez adalah tempat favorit pembalap MotoGP untuk mengunci kemenangannya. Wajar saja karena tikungan tersebut adalah tikungan lambat dan garis finish sudah cukup dekat dari tikungan itu.

Tapi hal tersebut tidak terjadi di last lap battle antara Stefano Perugini dan Haruchika Aoki di kelas 125cc Jerez 1995 ini. Perugini yang masih memimpin balap hingga menuju garis finish justru dikalahkan Aoki yang sedikit sempat memperagakan teknik slip stream!

Terlihat dari video di atas bagaimana Haruchika Aoki memenangi balapan adalah teknik memilih racing line menjelang tikungan terakhir. Ia memilih racing line yang agak melebar (keluar) sementara Perugini lebih ke dalam. Dengan radius putar yang lebih panjang dibanding Perugini, Haruchika Aoki mempunyai keuntungan karena motornya bisa langsung berakselerasi dengan kencang saat keluar tikungan. Dan teknik menggiring lawan meliuk di main straight cukup untuk mengalahkan sang leader. What a race?!


#2 Kemenangan Luar Biasa Tetsuya Harada di Nurburgring 1997. Akselerasi yang mengagumkan!



Bagaimana mungkin seorang pembalap yang tertinggal hingga 1 detik dari pembalap terdepan hingga 3 tikungan terakhir tetapi justru berhasil memenangi lomba? Sekali lagi Tetsuya Harada-san menunjukkan kelasnya dengan satu teknik pengintaian lapangan yang luar biasa dan dengan sekali akselerasi yang mengagumkan ia berhasil memenangi balapan.

Kemenangan Harada juga tidak terlepas dari manuver berbahaya Olivier Jacque di chicane terakhir sirkuit Nurburgring. Pada waktu itu ia sedang berebut posisi terdepan dengan Max Biaggi. Karena manuver late braking yang tidak sempurna, membuat Biaggi maupun Jacque sama-sama terpaksa keluar dari racing line dan itu cukup memangkas banyak gap dengan posisi 3 (Ralf Waldmann) dan posisi 4 (Tetsuya Harada).

Harada yang melihat kondisi tersebut langsung saja menyalip Waldmann yang ikut panik dengan satu manuver cantik di exit chicane dan dengan sekali akselerasi ia juga mampu menyalip Biaggi dan Jacque yang juga sedang melaju pelan. What a race?!

Well, sekian dulu video edisi kali ini. Thanks banget untuk channel YouTube Tak525 dan whitewhiteaj plus MotoGP tentunya! (rz)

Klasik! Valentino Rossi Jatuh Saat Battle di GP250 Johor, Malaysia 1998

Tidak ada salahnya sembari mendukung Valentino Rossi menjuarai gelar Grand Prix ke-10'nya kita lihat kembali aksi Vale junior saat masih bertarung di kelas GP250 ini.

Valentino Rossi yang terkenal jago overtaking dan setiap manuvernya selalu mulus (tidak membahayakan siapapun) justru pernah sial saat disalip oleh lawannya.

Musim 1998 adalah musim debutnya di kelas GP250. Vale memulai musim dengan buruk saat ia DNF di balapan pembuka di Suzuka, Jepang. Beruntung ia bisa bangkit di seri kedua di Johor, Malaysia.

Tapi sayang, setelah ia berhasil memimpin lomba di lap ke-26, ia harus mendapatkan perlawanan sengit dari veteran GP250 di lap ke-28 (lap terakhir); Tetsuya Harada. Manuver Harada-san di tikungan terakhir itu justru direspon dengan sangat buruk oleh Valentino Rossi. Ia highside saat keluar tikungan dan berakhir DNF untuk keduakalinya di awal musim.

Tanpa banyak basa-basi lagi, lihat saja aksi seru video ini. Terimakasih untuk channel whitewhiteaj. Oiya, di channel itu masih banyak video balapan lainnya. Termasuk battle menarik di lap terakhir yang berujung crash. Selamat menyaksikan! (rz)