Tampilkan postingan dengan label 2017. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2017. Tampilkan semua postingan

Spesial; Pengadu Nasib di Ducati (Top & Flop)

Ducati Corse, tim pabrikan Ducati di MotoGP sejak 2003, mempekerjakan 12 pembalap (reguler) sejak keikutsertaan mereka. Jumlah tersebut lebih banyak dari Honda (8) dan Yamaha (7) dalam periode yang sama (2003-2017). Dari semua pembalap yang mereka gunakan, hanya Casey Stoner yang berprestasi (meraih gelar juara dunia). Sementara sisanya, pol-mentok juara seri atau podium, itupun cuma 4 pembalap saja yang bisa.

Hari ini adalah momen istimewa dimana Jorge Lorenzo melakukan debutnya sebagai pembalap ke-12 Ducati dengan mengikuti pre-season di Valencia. Saya pribadi sempat bingung bagaimana mempertanyakan karier JL99 di Ducati besok. Terpikirkan dua pertanyaan, (1) berapa lama ia akan bertahan di Ducati?, atau (2) apakah ia bisa sesukses Casey Stoner? Dua pertanyaan berbeda yang saling berkaitan.

Well, seperti judul di atas, saya akan membahas tentang siapa-siapa saja yang sukses dan gagal bersama Ducati sekaligus sebagai galeri foto perjalanan tim ini dari masa ke masa. Lanjut!

TOP

(1) Casey Stoner



Bukan yang pertama apalagi kedua, tetapi Casey Stoner adalah pembala Ducati terhebat. 23 kemenangan antara 2007-2010 adalah jumlah yang sepertinya sulit untuk ditandingi oleh rider Ducati masa kini. Mungkin di masa depan...

(2) Loris Capirossi



Tujuh kemenangan antara 2003-2007 sekaligus rider Ducati pertama yang menjuarai MotoGP (ia juga pembalap Italia). Sempat berkarier di Suzuki sebelum kembali dan pensiun bersama Ducati pada 2011.

(3) Troy Bayliss



Troy Bayliss adalah rider Ducati kedua yang mampu menjuarai race MotoGP. Tepatnya di race classic Valencia 2006. Ia datang sebagai pembalap pengganti dan juara dunia World Superbike 2006. What a race!

(4) Andrea Iannone



Rider Ducati keempat yang berhasil menjuarai race, sekaligus Italiano terbaik di Ducati sejak Loris Capirossi. Sayang ia harus 'dipaksa' pergi saat masa jayanya dimulai. Oiya, bukan berarti Dovi jelek, cuma Iannone 'lebih baik' bersama Ducati.

(5) Andrea Dovizioso



Another Italiano, rider juara kelima Ducati dan akan membalap di tahun kelimanya bersama si merah. Berpasangan dengan Jorge Lorenzo musim depan, akan sangat menentukan nasib Dovi kedepannya. Karena opsi mengembalikan Iannone mungkin saja terjadi.

FLOP

Valentino Rossi (2011-2012)

Sete Gibernau (2006)

Nicky Hayden (2009-2013)

Marco Melandri (2008)

Carlos Checa (2005)
Cal Crutchlow (2014)


Valentino Rossi, Cal Crutchlow, Nicky Hayden, Marco Melandri, Sete Gibernau, Carlos Checa

Kecuali Nicky Hayden, semua pembalap yang masuk kategori ini merasa 'salah' bergabung dengan Ducati. Terlihat dari kesamaan masa bakti mereka yang mayoritas cuma 1 tahun (Valentino Rossi 2 tahun). Padahal (selalu) ada ekspektasi tinggi saat mereka-mereka bergabung. Toh, nyatanya mereka tak sesukses Casey Stoner.

Perbedaan karakter sehingga menyebabkan susahnya beradaptasi dengan motor Ducati membuat pembalap-pembalap tersebut tidak merasa betah. Atau juga karena masalah cedera, seperti Sete Gibernau. Hanya 1-2 tahun, mereka langsung pindah tim, kembali ke pabrikan yang dulu, atau malah pensiun (sementara) dan kembali lagi memakai motor Ducati, seperti Sete Gibernau.


Sete Gibernau (Ducati privateer 2009)



Pre-season 2017

Jorge Lorenzo (Ducati test 15/11/2016)

Jorge Lorenzo (Ducati test 15/11/2016)


Lalu bagaimana dengan Jorge Lorenzo? Saya sempat terpikirkan satu kemungkinan (jawaban) dari salah satu pertanyaan di bagian atas. Jorge Lorenzo hanya betah 2 tahun di Ducati dan pindah ke tim baru, tidak lain dan tidak bukan adalah Repsol Honda. Kenapa Honda? Karena mereka sudah habis dengan Dani Pedrosa, 2006-2018* tanpa gelar dan sudah waktunya ia pergi. Lalu kemana Dani akan pergi? Kemungkinan besar KTM (dipengaruhi sponsor Red Bull). Akan sangat menyakitkan kalau Dani bergabung ke pabrikan asal Jepang lainnya dimana ia telah mengabdi lebih dari 15 tahun untuk Honda. (rz)

Spesial; Saatnya Mengganti Livery Untuk MotoGP 2017?

Ada satu hal yang unik, livery atau corak tunggangan tim-tim elit MotoGP 2016 sudah berumur sekitar 3 tahunan. Itu artinya, kalau tidak ada perubahan, maka selama 4 tahun kita disuguhi oleh livery yang gitu-gitu aja. Bosen gak sih?

Bosan jelas bosan, karena selain aksi di lintasan, penonton juga pengen melihat sesuatu yang baru di tunggangan pembalap (livery). Kalau jodoh kan bisa ditiru untuk tunggangan pribadi? Hehe

Livery Gen-M dengan model Dani Pedrosa

Livery Repsol Honda saat ini adalah 'generasi Marc Marquez' karena pertama kali diperkenalkan pada 2013. Ciri khasnya, tidak ada dominasi warna hitam (warna hitam hanya untuk beberapa detail saja). Warna cerah mendominasi bodi motor menggantikan livery 'generasi Dani Pedrosa' yang digunakan pada 2006-2012.

Livery Gen-D 2006 masih menggunakan nomor start di buntut motor.

Livery Gen-D 2012 dengan perubahan warna di buntut motor.


Kebetulankah? Repsol Honda mengupdate livery mereka saat mendapatkan dua rider Spanyol sebagai rookie mereka. Lalu, pakah mereka baru akan mengganti livery lagi kalau Dani pindah dan digantikan Jorge Lorenzo? #eh

#GarisBesar Livery Suzuki sejak 2014

Meski baru bertarung lagi di MotoGP dalam dua musim terakhir, tetapi livery Suzuki ini sudah ada sejak 2014 lho (riset). Livery tanpa sponsor seperti ini sudah bertahan selama 3 musim dan hanya terdapat beberapa perubahan minor (panel warna kuning) tiap musimnya. Sementara di masa yang sama (2003-2005), Suzuki memiliki dua desain livery berbeda. Time to change (& challenge)?


Sejak Stoner bergabung (2007), desain logo Marlboro berubah dengan
mengurangi warna putih (sebagai background) dan menggantinya
sebagai warna huruf.

#StonerEffect, Dominasi warna putih dan sedikit perubahan tone
warna merah.

Ducati mulai berubah dengan 'kembali' memakai lebih banyak warna putih dan tone warna merah yang sedikit berbeda sejak Casey Stoner pindah ke Repsol Honda (2011). Sejak saat itu livery Ducati berubah-ubah tiap musimnya tetapi menggunakan satu kombinasi warna yang menurut saya sangat monoton.

Movistar #1 tahun 2014

Yamaha juga mulai 'rese' sejak dapet sponsor dari Movistar. Mereka gak update tampilan motor mereka sejak 2014. Perubahan minor tidak cukup kuat untuk memberikan kesan baru yang lebih menarik. FIAT (2007-2010) juga melakukan hal yang sama, mempertahankan kelir yang hampir sama dalam 4 tahun. Tetapi FIAT mengeluarkan beberapa livery spesial yang sangat fenomenal. FIAT 500 (2 desain), Punto Evo, Abarth, dan livery pribadi untuk Vale (Catalunya 2008) dan Jorge (Valencia 2008). Sementara Movistar?

Movistar #2 tahun 2015

Movistar #3 tahun 2016. Tampak tidak ada perubahan berarti.

Saya sebenernya suka sama sponsor ini, terutama pas mereka bikin gebrakan livery baru dengan Honda Gresini 2005. Tampak lebih bold dan simpel, sebandinglah dengan Gauloises Yamaha pada waktu itu.

Livery 2014, sangat menarik melihat Vale dengan motor putih lagi.

Yamaha justru lebih kreatif saat mereka tidak mempunyai sponsor utama (2011-2014*), mereka mengupdate tampilannya setiap musim. Meski sama-sama menggunakan ciri khas warna Yamaha (biru-putih-hitam), tetapi desainnya sangat menarik. Livery favorit saya pada masa ini justru livery 2014, sesaat sebelum deal dengan Movistar terjadi. Bermain dengan warna tradisional pabrikan saat sedang tidak mempunyai sponsor juga dilakukan oleh Kawasaki. Hasilnya, meski selalu bermain dengan warna hijau, tetapi livery mereka selalu terlihat menarik.

Menurut saya, livery Movistar Yamaha saat ini kurang menarik karena tidak adanya keharmonisan antara warna biru-hitam-putih dan warna 'utama' yaitu hijau (logo Movistar & Monster Energy), Pemasangan warna saklek berurutan biru-hitam-putih berbeda dengan kombinasi warna di livery 2014*. Biru-chrome di muka, lanjut putih di samping fairing, biru, putih, biru, putih, hitam, putih lagi di bagian bawah. Terlihat lebih bertumpuk-tumpuk tetapi lebih harmonis.

Livery 'biru' terbaik Yamaha (1) Gauloises 2005 (2)  race blu 2011

Atau kalau mau lebih ekstreme, buat aja jadi dua warna (biru dominan & hitam bawah). Warna dominan jadi mirip era Gauloises Yamaha. Lebih bold dan sangar.

Pada akhirnya saya berharap ada sebuah perubahan yang cukup besar di MotoGP musim depan. Perubahan seperti ini lebih sering terjadi untuk tim-tim medioker sehingga sering luput dari perhatian. Pengennya sih tim-tim besar yang berubah, karena merekalah yang paling sering terlihat. Tetapi membaca sejarah (1) Repsol Honda mengupdate livery mereka saat ada pembalap spesial dari Spanyol yang bergabung, (2) Yamaha Racing mengupdate livery mereka lebih karena permintaan sponsor. Kasus kedua relatif lebih sulit,.. (rz)

Analisis; Permasalahan Tentang Grand Prix di Beberapa Negara Termasuk MotoGP Indonesia yang Carut-Marut!

MotoGP Inggris di Circuit of Wales sampai sekarang belum jelas kapan pembangunannya akan dimulai. Proyek sirkuit senilai 300'an juta pounds ini terkendala oleh pendanaan yang semakin tidak jelas, 3 tahun setelah masterplan sirkuit ini dipublikasikan!

Sirkuit karya arsitek Populous ini sudah mendapatkan kontrak untuk menggelar MotoGP selama 5 tahun antara 2015-2019. Tetapi setelah sirkuit tidak siap untuk digunakan musim 2015-2016, maka gelaran MotoGP tetap akan berlangsung di Silverstone (sebelumnya direncanakan di Donington Park tetapi gagal).

MotoGP Hungaria di sirkuit Balatonring direncanakan akan digelar mulai musim 2009 lalu. Tetapi karena krisis ekonomi global pada waktu itu membuat gelaran MotoGP Hungaria ditunda hingga 2010. Dan akhirnya pada Maret 2010 proyek MotoGP tersebut resmi dibatalkan (bukan lagi ditunda) dan tidak ada kabar selanjutnya sampai sekarang. Padahal sirkuit sudah dibangun sejak 2008 dan manajemen sirkuit sempat mensponsori Gabor Talmacsi (Hungaria) di ajang GP250 musim 2009. Proyek sirkuit tersebut kini mangkrak dan meninggalkan 'bekas' layout aspal yang belum terselesaikan.


Proyek Mangkrak MotoGP Hungaria, Setidaknya Sirkuit Mereka Sudah Bisa 'Dilihat'

Formula 1 Perancis gagal menemukan 'rumah' yang tepat selama lebih dari 20 tahun. Sirkuit Magny-Cours adalah sirkuit terakhir yang menggelar F1 Perancis. Tetapi sirkuit tersebut tidak bisa memuaskan publik F1 karena tidak se-spektakuler sirkuit Spa, Monaco atau Monza. Gelaran F1 di Perancis sebelumnya dilaksanakan di Paul Ricard, tetapi masalahya tetap sama dengan Magny-Cours, sirkuitnya membosankan!

Salah satu venue yang dirasa paling ideal untuk F1 Perancis adalah sirkuit Le Mans Bugatti, bagian kecil dari sirkuit legendaris la Sarthe (Le Mans). Tetapi rencana 'mengembalikan' F1 ke Le Mans ditolak mentah-mentah oleh organizer setempat, ACO. Le Mans Bugatti pernah menyelenggarakan F1 pada musim 1967. Tetapi waktu itu sirkuit tersebut 'dibenci' karena terlalu monoton dan boring. Makanya F1 di Le Mans cuma berlangsung sekali dan sekarang mereka justru menginginkan sirkuit tersebut (setelah dilakukan pengembangan selama puluhan tahun). Gila kan? Salah satu negara terkuat di balap mobil secara tegas menolak F1!

Well, hampir di setiap negara penyelenggara Grand Prix pasti mengalami berbagai masalahnya sendiri-sendiri. Mulai dari Silverstone hingga Austin. Semuanya mempunyai masalah sendiri-sendiri, mulai tentang fans, hukum setempat, aksi balapan, dan lain sebagainya. Hanya ada beberapa negara dengan seri GP yang 'adem-ayem' saja, minim masalah dan langgeng selama bertahun-tahun. Sebut saja Sepang dan Losail. Khusus untuk Losail, gelaran MotoGP mereka awet karena GP Qatar adalah satu-satunya balapan MotoGP di 'gurun' dan berlangsung malam hari. Suka-tidak-suka dengan Losail, race mereka adalah 'satu-satunya; di dunia.

Proyek MotoGP Indonesia juga mempunyai masalah tersendiri. Meskipun hampir sama dengan dua proyek MotoGP sebelumnya (Wales dan Hungaria), tetapi kasus di Indonesia ini agak berbeda. Kalau di Wales dan Hungaria faktor pendanaan adalah hal yang utama, di Indonesia masalah tersebut (pendanaan) harus ditambah dengan organizer lokal (sampai Menteri terkait) yang gak paham soal MotoGP. Objektif mereka hanyalah MotoGP sebagai ajang pariwisata dan keuntungan finansial untuk negara.

Pemahaman mereka belum sampai 'menyelenggarakan MotoGP karena kita mencintai motorsport dan efek positif motorsport untuk pembentukan karakter masyarakat, khususnya pecinta motorsport'. Saya yakin belum sampai pemahaman itu.

Kalau benar Kemenpora menginginkan MotoGP, haruslah mereka membuat satu tim khusus untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk ajang tersebut. April 2015, pihak sirkuit Sentul menyebutkan kalau mereka dan Kemenpora akan bekerja sama untuk mengembalikan MotoGP ke Indonesia. Dan beberapa bulan kemudian mereka (kedua belah pihak) mengumumkan penandatanganan kontrak MotoGP selama 3 musim mulai tahun 2017. Sampai disini mereka cukup oke, termasuk mempersiapkan draft rancangan renovasi sirkuit Sentul sesuai dengan yang diinginkan MotoGP.

Beberapa bulan berselang mulai muncul masalah baru. Sirkuit Sentul harus merenovasi sirkuit dengan dana mereka sendiri. Pemerintah enggan membantu dengan APBN karena itu melanggar undang-undang (Sentul adalah milik swasta yang tidak boleh dibantu oleh pemerintah). Setelah itu sempat dikabarkan MotoGP Indonesia batal digelar di Sentul dan pemerintah mendapatkan opsi sirkuit baru di Palembang. Bahkan gubernur Sumsel sudah memastikan bisa membangun sirkuit tanpa dana dari pemerintah. Masalah terselesaikan? No.


Ini Siteplan Sirkuit Wales, Bagian dari Masterplan yang Sangat Detail

Ini Masih Rancangan Kasar Sirkuit, Sekedar di Print di Kertas A4.

Sampai bulan Juli 2016 banyak berita di media massa yang simpang siur tentang MotoGP Indonesia dan semuanya gak jelas. Saya sampai bosan membacanya. Lalu Juli 2016 sudah bisa dipastikan MotoGP Indonesia 2017 (di sirkuit Sentul terutama) batal dilaksanakan karena sampai H-15 bulan tersebut belum ada masterplan renovasi Sentul (atau sirkuit baru di Palembang) yang disetorkan ke FIM/Dorna. Atau bahasa mudahnya, hingga H-15 bulan, tidak ada progress dalam persiapan MotoGP Indonesia untuk musim depan.

"Sentul yang Batal Gelar MotoGP, Bukan Indonesia" 

Pernyataan Menpora menanggapi 'gagalnya MotoGP Indonesia 2017'. Dia bilang yang gagal Sentul (karena tidak bisa mendapatkan dana sendiri untuk renovasi sirkuit plus soal progress yang masih 0%), Menpora juga bilang 'harus' untuk penyelenggaraan MotoGP 2017. tetapi belum tahu mau diadakan dimana. Kalaupun benar di Palembang, mana masterplan-nya? Terlalu mepet karena tinggal 15 bulan. Bisa sih kalau dikebut, tetapi jelas dananya akan membengkak dan kualitasnya 'dipertanyakan'.

Nah begitulah masalah yang kita hadapi. Hampir sama tetapi jelas berbeda dengan kasus di Wales dan Hungaria. Indonesia dengan pede-nya mengumumkan kontrak padahal hanya bermodal rancangan kasar sirkuit Sentul yang dicetak di selembar kertas A4. Juga hanya berjarak dua tahun tetapi sampai H-15 bulan event gak tampak satupun progress persiapan yang serius. Opsi pemunduran event menjadi 2018 menurut saya adalah blunder yang memalukan.

Wales dan Hungaria sudah menyiapkan masterplan detail bahkan sudah mulai membangun sirkuit, wajar kalau MotoGP mereka ditunda (dan dibatalkan) kalau masalahnya hanya 'sekedar' pendanaan. Sementara di Indonesia lebih kacau, buru-buru mengambil keputusan dan menandatangani kontrak tapi gak konsekuen dengan keputusan tersebut. Terlihat sangat tidak profesional karena terbentur masalah hukum setelah penandatanganan kontrak atau penyerahan masterplan sirkuit, dan terbukti, progress 0%.

"Lawmaker Blames Sports Ministry for MotoGP Cancellation"

Dan akhirnya saling menyalahkan. Sentul gagal, Menpora nyalahin. MotoGP gagal gantian DPR yang nyalah-nyalahin. Ibarat pesta, Menpora pengen bikin pesta MotoGP. Sebagian dana untuk PESTA didapatkan lewat DPR. Sentul gak bisa jadi tuan rumah, Menpora & DPR marah, saling tunjuk siapa yang salah, Meanwhile, Palembang yang sempet ngasih harapan malah melipir, apalagi kementerian pariwisata. wkwkwk.

Wassalam...

Analisis Motocross; Kalender Balap MXGP 2017 (termasuk seri Indonesia!)

Oktober tahun lalu saya memposting info tentang kalender balap MXGP musim ini. Dan kurang dari setahun setelahnya, saya sudah memposting info yang sama untuk musim depan. Terimakasih untuk press release FIM tertanggal 5 Juli 2016 sehingga saya bisa menganalisa kalender MXGP musim depan!



SOUTH EAST ASIAN SERIES

Salah satu kejutan di kalender balap MXGP musim depan adalah masuknya seri Indonesia untuk menggantikan seri Thailand yang sudah ada sejak musim 2013. Hilangnya seri MXGP Thailand sudah bisa diprediksi karena sering terjadi pemindahan venue tiap tahunnya, terutama di 3 musim terakhir. Terhitung sejak 2013-2016, MXGP Thailand sudah digelar di 4 trek berbeda mulai dari Si Racha (2013-2014), Nakhonchaisri (2015) dan terakhir Suphanburi (2016). Selain itu seri MXGP Malaysia juga tampak tidak akan kembali lagi tahun depan setelah dicoret untuk musim ini. Jangan sampai seri MXGP Indonesia bernasib sama dengan seri Malaysia.

MINOR CHANGES

Selain kembalinya seri MXGP Indonesia, dan 'hilangnya' seri Malaysia dan Thailand, perubahan minor lainnya juga terjadi di kalender musim 2017. Yaitu seri Spanyol dan Amerika Serikat (berkurang dari 2 seri menjadi 1 saja). Khusus untuk Spanyol, tanda-tanda hilangnya seri mereka sudah terlihat saat draft kalender musim ini hanya berisikan kata TBA untuk tanggal yang akhirnya menjadi seri mereka. Sedangkan seri MXGP Amerika Serikat musim depan akan berkurang karena mereka juga akan menggelar seri Motocross of Nations di bulan Oktober. Glen Helen sebenarnya adalah venue MXoN musim depan, tetapi di draft kalender masih tertulis TBA

USA FOCUS

Menarik untuk melihat sirkuit apakah yang akan digunakan untuk MXGP seri Amerika Serikat musim depan. Karena kalau mempertahankan trek musim ini (dibangun non-permanen di atas trek drag race 'zMAX Dragway'). Trek ini akan menjadi versi Motocross dari trek Daytona Supercross. Jujur saya bukanlah penggemar trek Motocross non-permanen, karena sangat plastik! 3 seri motocross ternama dibangun secara non-permanen, Assen, Lausitzring dan Miller Motorsport Park (ex-venue World Superbike) dan semuanya mengecewakan. Saya justru berharap seri MXGP Amerika Serikat bisa digelar di trek permanen yang 'Amerika' banget seperti Freestone mungkin? Semoga saja!




Bagus sih, rame sih, tetapi ini Motocross bukan Supercross! (Charlotte MXGP 2016)

3 TBA SERIES

Oiya, ada juga 3 seri TBA termasuk satu seri yang bahkan belum ketahuan siapa negara penyelenggaranya, apakah mungkin Spanyol atau USA 2? (atau USA 3 lebih tepatnya). Seri TBA lainnya adalah Italy 1 dan Jerman. Saya memprediksi seri Italy 1 akan menjadi milik Pietramurata (sama seperti tahun ini) atau Maggiora (yang tahun ini menggelar MXoN). Dan terakhir seri Jerman kemungkinan besar tetap berada di Teutschental, tetapi saya berharap seri mereka bisa 'pindah' ke Gaildorf atau sirkuit Jerman lainnya (biar gak bosen).

OPINION & FANTASY

Dari sekian banyak seri di kalender musim depan, saya tertarik dengan seri Belanda yang masih berada di Assen. Entah apa maksudnya seri 'MXGP yang digelar di sirkuit MotoGP' tersebut bertahan hingga 3 musim lamanya. Padahal jelas-jelas trek Assen 'gak masuk akal' dan akan lebih baik digelar di Lierop. Atau Valkenswaard jadi seri Belanda dan Bastogne (Belgia) jadi seri Eropa. Emang sih seri di Belanda jadi berkurang satu, tapi Bastogne 'kan sama saja masih termasuk Benelux.

CONCLUSION

Pada akhirnya dalam setiap postingan yang membahas kalender balap musim selanjutnya, saya selalu berharap ada perubahan-perubahan trek atau kalender sehingga saya bisa tahu lebih banyak lagi tentang sirkuit-sirkuit indah di seluruh dunia. Apalagi ini motocross kan? Pasti berhubungan dengan alam dan pemandangan di sekitar sirkuit.

Spesial; 6 Sirkuit Baru Untuk Formula E Musim Depan!

Sebagai pecinta sirkuit jalan raya, kemunculan kalender balap Formula E selalu saya tunggu-tunggu tiap musimnya. Dan untuk musim ketiga Formula E (2016-17) terdapat 4 balapan lebih banyak dibanding musim ini (2015-16), dan dari 12 sirkuit yang digunakan; separuhnya adalah sirkuit baru! Wow.


Draf Kalender Formula E 2016-17

Musim depan akan berlangsung selama 14 balapan di 12 sirkuit, New York dan Montreal masing-masing akan menggelar 2 seri. Keduanya merupakan sirkuit baru yang bergabung dengan seri Marrakesh, Hong Kong, Singapura, dan Brussels sebagai pendatang baru di Formula E musim depan. Sirkuit jalan raya Monaco juga melakukan comeback setelah setahun absen. Sementara itu seri Beijing, Putrajaya, Uruguay, dan London tidak termasuk di kalender musim depan.

YANG HARUS CABUT

Khusus untuk seri Beijing, ini adalah kali ketiga ibukota China tersebut ‘gagal’ merawat suatu balapan lebih dari dua musim. Ingat ‘percobaan’ mereka menggelar balapan internasional di sirkuit jalan raya  seperti A1GP dan Superleague Formula yang selalu gagal bertahan lebih dari dua musim. Sirkuit ePrix di sekitar kompleks Olimpiade 2008 sebenarnya cukup bagus, lebih bagus dari dua sirkuit jalan raya Beijing sebelumnya. Hanya mungkin, animo penonton yang masih sangat kurang.

Secara mengejutkan seri Malaysia di Putrajaya juga harus disingkirkan demi seri Singapura. Setelah Kuala Lumpur gagal menggelar Supercars musim ini, Putrajaya juga harus angkat kaki dari ePrix. Lalu sirkuit Punta del Este di Uruguay yang bukan merupakan favorit saya juga harus cabut. Layoutnya aneh, sama seperti seri Berlin di Tempelhof Airport, untunglah keduanya tidak lagi masuk di kalender. Dan terakhir tentang sirkuit Battersea Park di London, suasana di taman legendaries tersebut sangatlah baik. Sayang trek yang dihasilkan sangat sempit.

YANG HARUS DISAMBUT

Dari 6 seri baru ePrix musim depan, saya kira semuanya adalah sirkuit baru; termasuk untuk seri Singapura dan Marrakesh. Kenapa? Karena penjadwalan kedua seri tersebut ‘berjauhan’ dengan ajang balap utama di tempat yang sama. Seri Singapura dan Marrakesh tidak seperti seri Long Beach dan Monaco yang digelar beberapa minggu sebelum acara utama, yaitu IndyCar Long Beach dan F1 GP Monaco.

Marrakesh yang dikenal menggelar WTCC di awal tahun, akan menjadi tuan rumah ePrix di akhir tahun, tepatnya pada tanggal 12 November 2016. Sementara Singapura yang rutin menggelar F1 tiap bulan September akan menggelar ePrix pada tanggal 22 April 2017. Seri ePrix Singapura pada bulan April, berimbas atau merupakan imbas F1 Singapura 2017 dimajukan ke bulan Mei? No, saya rasa F1 Singapura sudah nyaman berada di bulan September. Memajukan seri hingga bulan Mei berarti memperpendek jarak antara GP musim ini dan musim depan. Agak merepotkan dalam urusan persiapan sirkuit jalan raya yang terkenal ribet, apalagi untuk balapan malam di Singapura. Baru sebulan katakanlah selesai dibongkar, eh harus dibangun lagi. Kecuali kalau mau repot sih gakpapa, hehe. Mari kita tunggu kalender F1 musim 2017.

Next, seri Hong Kong adalah Brussels seri yang paling layak untuk kita tunggu. Kenapa? Karena kota atau negara tersebut tidak terlalu ‘familiar’ dengan ajang balapan di sirkuit jalan raya, meskipun sebenarnya Spa-Francorchamps (dulu) adalah sirkuit jalan raya.


Hong Kong akan menjadi seri pembuka, menggantikan Beijing, pada tanggal 9 Oktober 2016. Trackmap dan beberapa foto mengenai sirkuit jalan raya mereka sudah dipublikasikan. Trek sepanjang 2 km akan dibangun antara Lung Wo Road dan Star Ferry. Meskipun dekat dengan’perairan’, sirkuit ini tidak akan seperti sirkuit Macau yang legendaries, melainkan tetap seperti sirkuit Beijing.




Begitupun seri ePrix di Brussels. Kemungkinan besar sirkuit akan dibangun dekat dengan stadion King Badouin dengan wujud seperti sirkuit ePrix di Berlin 2016. Hmm…




Dan dua seri terakhir akan berlangsung di kota yang sudah akrab dengan motorsport, New York dan Montreal. Belum ada konfirmasi layout dan lokasi trek karena kedua seri tersebut baru akan dilakukan di bulan Juli 2017 atau tepat di akhir musim. Tetapi yang pasti, kedua kota tersebut akan menghadirkan sirkuit jalan raya yang benar-benar baru. Patut untuk ditunggu!

Update (25/6/2016) - Sirkuit jalan raya Marrakech sudah mengalami perubahan untuk balapan tahun ini (WTCC dan Formula E). Sirkuit tersebut mengalami perubahan layout dan karakter menjadi lebih teknikal. Proyek renovasi ini didesain oleh Hermann Tilke. Panjang sirkuit menjadi  tersisa 2/3-nya saja atau sekitar 3 km. Khusus untuk perubahan layout sirkuit ini bisa disimak di post 'Penjelajah Sirkuit' terbaru.

Tentang Red Bull KTM MotoGP 2017 (Part 2) dan Waktu yang Tepat Untuk Pindah Tim!

Akhirnya Red Bull turun gunug juga!


Hola!

Saya pernah menulis tentang tim Red Bull KTM ini, Oktober 2015 lalu, saat tim baru saja mempublikasikan wujud motor mereka untuk MotoGP 2017. Delapan bulan kemudian tim ini sudah memastikan skuad dua pembalap mereka untuk debut (kedua) mereka di MotoGP.

Yamaha Tech 3 mencapai kesuksesan di MotoGP 2012 bersama pembalap Andrea Dovizioso dan Cal Crutchlow. Sayang kerjasama itu hanya bertahan satu musim saja karena Dovi memilih untuk 'pulang kampung' ke Ducati pada 2013. Setahun berselang giliran Cal yang ikut pergi ke Ducati, reuni singkat dengan Dovi, sebelum akhirnya pindah lagi ke LCR Honda.

Tetapi musim depan lebih spesial. Skuad Yamaha Tech 3 musim ini akan pindah bersama-sama ke Red Bull KTM musim depan. Smith dan Pol meninggalkan Monster demi Red Bull...

Keputusan keduanya untuk pindah menurut saya adalah keputusan yang baik. Mereka berdua masing-masing menghabiskan 4 dan 3 tahun di Yamaha Tech3 sejak debutnya di MotoGP. Dalam jangka waktu seperti itu, saat pembalap belum juga bisa berprestasi, pindah tim adalah opsi terbaik. Ada kalanya sukses bisa didapat di tempat lain bukan?

Dari sekian banyak pembalap MotoGP di grid saat ini, terhitung hanya Jorge Lorenzo, Marc Marquez dan Dani Pedrosa saja yang sangat setia dengan satu tim. Valentino Rossi tidak termasuk dalam daftar tersebut, meskipun sudah 11 tahun membela Yamaha, Vale pernah 4 tahun di Honda dan 2 tahun di Yamaha. Peristiwa pindahnya Vale dari Honda yang superior ke Yamaha yang lemah 12 tahun lalu adalah cerita terbaik sepanjang masa di MotoGP modern.

Ada pengecualian tambahan sebenarnya untuk Jorge yang akhirnya musim depan akan pindah ke Ducati, mengakhiri 9 tahun kerjasamanya dengan Yamaha.

11 tahun, 9 tahun, tetap tidak akan bisa mengalahkan kesetiaan Dani Pedrosa ke Honda (16 tahun) atau Marc Marquez dengan Repsol (sejak meniti karier di CEV). Perpanjangan kontrak Marc dengan HRC hingga 2018 membuat dirinya akan membalap untuk Repsol Honda selama 6 tahun. Catatan yang cukup bagus!

Eh tapi ada satu lagi cerita tentang kesetian yang lebih mengagumkan. Tentu saja dari Jepang! Bahkan hampir mayoritas pembalap Jepang setia dengan tim atau brand yang membesarkan namanya. Misalnya saja Tadayuki Okada, Akira Yanagawa, dan alm. Norick Abe.

Khusus untuk yang terakhir, saya kagum banget, Norick Abe setia dengan Yamaha sejak 1994 hingga menjelang akhir hayatnya (2007). Meskipun sebenarnya ia memulai karier di All Japan bersama Honda sih...

Fun Analysis; Topi Podium!

Bridgestones Podium

*******

Kenapa topi yang digunakan pembalap di podium harus bertuliskan sponsor ban? Saya belum mengetahui jawaban pastinya, tetapi dari ‘topi’ ini kita bisa belajar beberapa hal baru.


Kuning Dunlop Klasik

Pertama, warna topi untuk tiap pabrikan ban ternyata berbeda; mungkin sebagai identitas untuk tiap-tiap pabrikan. Merah untuk Bridgestone, biru untuk Michelin, hitam untuk Pirelli dan Metzeler (karena satu induk perusahaan), dan kuning untuk Dunlop. Topi-topi ini umumnya dipakai oleh balapan internasional yang menerapkan aturan pemasok ban tunggal.

Sombrero!

Cowboy Hat

Kedua, jenis baseball cap adalah topi yang paling sering digunakan di podium. Tetapi untuk beberapa negara dan kesempatan tertentu, ada juga jenis topi lain yang digunakan. Seperti Sombrero untuk F1 Meksiko dan Cowboy Hat untuk F1 Amerika Serikat. Valentino Rossi juga pernah memakai topi Toga berwarna hitam (dengan logo kecil Michelin berwarna biru-putih) saat menjuarai MotoGP Mugello 2005. Dan memang untuk jenis topi-topi diatas, warna yang paling cocok digunakan adalah hitam. Kebetulan sekali Pirelli adalah sponsor ban F1. Coba bayangkan kalau topi Sombrero yang berukuran cukup besar berwarna merah atau biru, lumayan garing jadinya.

Ketiga, untuk kejuaraan yang tidak menerapkan aturan ban tunggal; tentu pihak promotor harus menyediakan topi yang berbeda sesuai dengan merk ban yang ikut di balapan. Seperti di Super GT Jepang yang diikuti Dunlop, Michelin, Bridgestone, dan Yokohama.

Beberapa merk ban lain juga cukup eksis di dunia motorsport. Firestone dan Hankook berperan sebagai pemasok band untuk kejuaraan IndyCar dan DTM. Untuk Firestone karena termasuk ke dalam keluarga Bridgestone, maka topi mereka berwarna merah dengan tulisan putih. Sementara Hankook menggunakan warna hitam dan tulisan berwarna putih, plus aksen di ujung topi depang berwarna oranye.

Warna hitam juga digunakan untuk Maxxis dan Yokohama. Maxxis yang lebih eksis di motocross memadukan warna hitam dengan warna tulisan berwarna oranye. Sementara Yokohama Tires yang menyupport beberapa tim di Super GT memakai warna putih untuk tulisan dan merah untuk logo. Ada juga Cooper Tires yang pernah mendukung A1GP di 3 musim pertamanya. Mereka menggunakan topi berwarna biru tua serta logo dan tulisan berwarna putih.

Cooper Tires A1GP

Nah, menjelang MotoGP Indonesia 2017; apakah pihak promotor lokal tertarik untuk menggunakan ide topi unik seperti poin kedua diatas? Indonesia sangat kaya budaya dan tradisi lokal, termasuk salah satunya desain-desain topi yang unik dan menarik. Apalagi keunikan topi Indonesia adalah bahannya yang alami dan mempunyai warna khas tersendiri. Menarik untuk dipertahankan warnanya dan dipadukan dengan logo-warna merk ban. 

Mungkin sudah bisa dipilih topi jenis apa yang akan digunakan? (rz)


Team Red Bull KTM MotoGP (2017)

Setelah Suzuki dan Aprilia comeback tahun ini, mulai musim 2017 MotoGP akan kedatangan pemain lama yang kini turun sebagai factory team. Selamat datang tim Red Bull KTM MotoGP!

Shane Byrne 2005

KTM bukanlah pemain baru di MotoGP. Sepuluh tahun yang lalu pabrikan ini pernah bekerjasama dengan Team Roberts menghasilkan motor bernama Proton KR KTM yang dikendarai oleh Shane Byrne. Tapi sayang, tim ini hanya berhasil mengoleksi 1 poin yang didapat dari seri Laguna Seca.

Hanya setahun KTM berlaga di MotoGP, mereka memilih fokus ke proyek GP125 dan GP250, juga Moto3. Tetapi keinginan untuk berlaga di kelas tertinggi tetap ada di tim ini. Akhirnya pada pertengahan 2014, KTM mengkonfirmasi akan ikut serta di kelas MotoGP mulai musim 2017. Lalu kenapa 2017? Mungkin karena KTM ingin mempelajari data ban Michelin yang akan digunakan  MotoGP mulai musim 2016 besok.

Berikut ini adalah foto-foto motor KTM RC16 MotoGP yang berhasil diabadikan saat uji coba di sirkuit Red Bull Ring.






Terlihat fairing depan cukup kecil dan agak datar, mirip dengan Ducati GP15. Meskipun secara keseluruhan justru mirip Honda RC213V dipadukan lubang angin khas Kalex Moto2 2015. Desain buntut juga cukup unik, terlihat bongsor dan besar. Mirip buntu Ducati Desmosedici edisi awal 2003-2004'an. Tetapi secara keseluruhan desain motor ini masih terlihat kompak. Serasi dengan postur test rider Alex Hofmann.

Yang menarik juga adalah 'munculnya' Red Bull sebagai sponsor utama tim MotoGP. Terakhir kali  Red Bull tampil di Laguna Seca 2005 khusus untuk mendukung tim Suzuki MotoGP. Nah, berapa persenkah dukungan Red Bull ke KTM besok? Kalau support penuh, kemungkinan besar warna motor tim ini adalah biru tua dan logo Red Bull, plus aksen oranye khas KTM. Livery GSV-R ini bisa menginspirasi.

Laguna Seca 2005
Red Bull Suzuki MotoGP, Laguna Seca 2005

Atau kalau dukungan berimbang, mungkin logo KTM bisa lebih menonjol seperti ini.

Sketsa livery motor balap KTM

Nahh, apapun itu; musim balap 2017 sangat layak kita nantikan. Karena bukan cuma tim baru yang muncul, tetapi kemungkinan transfer pembalap yang cukup besar. Mengingat banyak pembalap top yang kontraknya habis di akhir musim 2016 nanti. (rz)