Tampilkan postingan dengan label Analisis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Analisis. Tampilkan semua postingan

Analisis; Tantangan Sebenarnya Dari Menggelar MotoGP Indonesia!

Ada sebuah kekhawatiran manakala Indonesia berhasil menggelar event MotoGP tetapi 'gagal' dalam tujuan sebenarnya menggelar event tersebut. Tujuan yang saya maksud adalah menampilkan kualitas motorsport terbaik dari dalam negeri (entah lewat prestasi pembalap atau industri terkaitnya) ke mata dunia. Karena saya merasa, berhasil menggelar event MotoGP bukanlah 'prestasi' tetapi tantangan yang benar-benar harus dijawab oleh negara penyelenggara tersebut.


Monlau Competicion, salah satu pelaku utama
industri balap di Spanyol.

Saat Spanyol kebagian jatah 4 Grand Prix dalam semusim, ada yang menyebut hal tersebut berlebihan dan tidak adil. Tetapi melihat bagaimana motorsport di negara mereka, khususnya di roda dua, dan bagaimana kontribusi mereka untuk MotoGP, Spanyol pantas mendapatkan hak itu. Begitu pula event di Italia, Perancis, Belanda, Jerman, Austria, Ceko, Australia, Amerika Serikat, dan Jepang; yang hampir selalu ada di kalender tiap dekadenya, seolah-olah tidak tergantikan, karena memang mereka pantas mendapatkannya.

Dari sekian banyak negara penyelenggara MotoGP, hanya Qatar yang belum mampu menjawab tantangan tersebut. Bisa dibilang Qatar hanya menyelenggarakan MotoGP sebagai ajang unjuk diri bahwa mereka, negara timur tengah pertama, negara kecil, yang mampu menyelenggarakan race mewah di malam hari. Meski begitu, jumlah penonton di sirkuit hanya sekitar 20,000 pasang mata dalam 3 hari event. Jumlah paling sedikit dari seluruh event MotoGP. Miris.


Saeed Al Sulaiti

Sebagai ujung tombak motorsportnya, Qatar mempunyai QMMF Racing Team yang berlaga di Moto2 dan beberapa rider yang dititipkan di tim World Superbike asal Eropa. Tetapi QMMF sudah tidak menggunakan rider asal Qatar dalam beberapa tahun terakhir, bahkan mereka tidak tercantum dalam provisional entry list Moto2 2017. Sementara itu, Saeed Al Sulaiti (Pedercini Racing/World Superbike), hanya mendapatkan 1 poin dari seluruh event WSBK yang ia ikuti pada 2016. Poin terendah yang diraih oleh rider yang membalap selama semusim penuh (mirip-mirip lah dengan prestasi Doni Tata, hehe).


Hafizh Syahrin

Ada yang lebih (atau jauh) lebih baik dari Qatar (tapi masih dibawah negara-negara lainnya), yaitu Malaysia. Prestasi mereka di MotoGP sangat gemilang sejak kemunculan Hafizh Syahrin dan Khairul Idam Pawi. Puluan championship point sudah dikantongi, termasuk dua kemenangan 'Super KIP' di Moto3 tahun ini. Prestasi yang sepertinya sulit ditandingi Indonesia (yang sekarang baru mengumpulkan dua poin saja via Doni Tata, hehe).


Khairul Idham Pawi

Selain prestasi pembalapnya, kita patut mencontoh komitmen Malaysia di Motorsport. Lihatlah bagaimana Petronas, Proton (Lotus), AirAsia, Caterham (Tony Fernandes), dan Sepang International Circuit berbicara banyak di motorsport dunia. Komitmen itulah yang membuat mereka berhasil menggelar 3 kejuaraan dunia dalam satu tahun (F1, MotoGP, World Superbike).

Baik tapi belum setara negara-negara lainnya. Yang saya maksud, rider berprestasi dari Malaysia tersebut dididik oleh kejuaraan di Eropa, bukan dari dalam negeri sendiri. Bandingkan dengan negara-negara lain yang mempunyai kejuaraan bergengsi seperti CEV (Spanyol, Portugal*, Perancis*), IDM (Jerman, Belanda*, Austria*), French SBK (Perancis), British SBK (Inggris Raya), MotoAmerica (USA), FX Superbike (Australia), dan MFJ Superbike (Jepang). Selain itu, banyak sisi historis dan industri terkait dengan motorsport yang berasal dari negara tersebut. Mulai dari pabrikan motor, alat keselamatan, minuman berenergi, bahan bakar & oli, hingga item-item lainnya.

Belum begitu tahu kejuaraan di Argentina, tetapi mereka mempunyai rider hebat kelas dunia seperti Sebastian Porto dan Leandro Mercado. Juga banyak sirkuit di negara tersebut, sepertinya jadi pusat kejuaraan balap motor di Amerika Latin. Begitu juga kejuaraan di Ceko yang sepertinya bekerjasama dengan negara-negara lain seperti Hungaria untuk membuat kejuaraanya sendiri.

Lalu, Indonesia mau seperti apa? Qatar, Malaysia, atau Spanyol (susah)? Hehe. Memang tujuan utama tentu menyelenggarakan dulu event-nya, baru mikirin hal seperti ini. Tetapi setidaknya ada progress sih. Progress nyata kalau motorsport kita berkembang dan berkelas dunia. Malaysia saja baru naik prestasinya, puluhan tahun sejak pertama kali menggelar GP. Itu juga dibarengi dengan komitmen yang kuat tadi.


Doni Tata (2005)

Sementara Indonesia, balik lagi, masih terlihat suram. Belum ada program yang benar-benar oke. Jujur, kekecewaan saya masih sangat besar dengan program Doni Tata (Yamaha 'From Zero to Hero' dan Federal Oil Moto2), dan Rafid Topan (Evalube QMMF Moto2) yang masing-masing hanya berjalan semusim dan bisa dibilang gagal.

Program yang ada sekarang mungkin akan lebih baik. Kadang merasa gemas saja, 'kapan mereka terjun ke MotoGP'? Mungkin tidak lama lagi, semoga. (rz)

Analisis; Permasalahan Tentang Grand Prix di Beberapa Negara Termasuk MotoGP Indonesia yang Carut-Marut!

MotoGP Inggris di Circuit of Wales sampai sekarang belum jelas kapan pembangunannya akan dimulai. Proyek sirkuit senilai 300'an juta pounds ini terkendala oleh pendanaan yang semakin tidak jelas, 3 tahun setelah masterplan sirkuit ini dipublikasikan!

Sirkuit karya arsitek Populous ini sudah mendapatkan kontrak untuk menggelar MotoGP selama 5 tahun antara 2015-2019. Tetapi setelah sirkuit tidak siap untuk digunakan musim 2015-2016, maka gelaran MotoGP tetap akan berlangsung di Silverstone (sebelumnya direncanakan di Donington Park tetapi gagal).

MotoGP Hungaria di sirkuit Balatonring direncanakan akan digelar mulai musim 2009 lalu. Tetapi karena krisis ekonomi global pada waktu itu membuat gelaran MotoGP Hungaria ditunda hingga 2010. Dan akhirnya pada Maret 2010 proyek MotoGP tersebut resmi dibatalkan (bukan lagi ditunda) dan tidak ada kabar selanjutnya sampai sekarang. Padahal sirkuit sudah dibangun sejak 2008 dan manajemen sirkuit sempat mensponsori Gabor Talmacsi (Hungaria) di ajang GP250 musim 2009. Proyek sirkuit tersebut kini mangkrak dan meninggalkan 'bekas' layout aspal yang belum terselesaikan.


Proyek Mangkrak MotoGP Hungaria, Setidaknya Sirkuit Mereka Sudah Bisa 'Dilihat'

Formula 1 Perancis gagal menemukan 'rumah' yang tepat selama lebih dari 20 tahun. Sirkuit Magny-Cours adalah sirkuit terakhir yang menggelar F1 Perancis. Tetapi sirkuit tersebut tidak bisa memuaskan publik F1 karena tidak se-spektakuler sirkuit Spa, Monaco atau Monza. Gelaran F1 di Perancis sebelumnya dilaksanakan di Paul Ricard, tetapi masalahya tetap sama dengan Magny-Cours, sirkuitnya membosankan!

Salah satu venue yang dirasa paling ideal untuk F1 Perancis adalah sirkuit Le Mans Bugatti, bagian kecil dari sirkuit legendaris la Sarthe (Le Mans). Tetapi rencana 'mengembalikan' F1 ke Le Mans ditolak mentah-mentah oleh organizer setempat, ACO. Le Mans Bugatti pernah menyelenggarakan F1 pada musim 1967. Tetapi waktu itu sirkuit tersebut 'dibenci' karena terlalu monoton dan boring. Makanya F1 di Le Mans cuma berlangsung sekali dan sekarang mereka justru menginginkan sirkuit tersebut (setelah dilakukan pengembangan selama puluhan tahun). Gila kan? Salah satu negara terkuat di balap mobil secara tegas menolak F1!

Well, hampir di setiap negara penyelenggara Grand Prix pasti mengalami berbagai masalahnya sendiri-sendiri. Mulai dari Silverstone hingga Austin. Semuanya mempunyai masalah sendiri-sendiri, mulai tentang fans, hukum setempat, aksi balapan, dan lain sebagainya. Hanya ada beberapa negara dengan seri GP yang 'adem-ayem' saja, minim masalah dan langgeng selama bertahun-tahun. Sebut saja Sepang dan Losail. Khusus untuk Losail, gelaran MotoGP mereka awet karena GP Qatar adalah satu-satunya balapan MotoGP di 'gurun' dan berlangsung malam hari. Suka-tidak-suka dengan Losail, race mereka adalah 'satu-satunya; di dunia.

Proyek MotoGP Indonesia juga mempunyai masalah tersendiri. Meskipun hampir sama dengan dua proyek MotoGP sebelumnya (Wales dan Hungaria), tetapi kasus di Indonesia ini agak berbeda. Kalau di Wales dan Hungaria faktor pendanaan adalah hal yang utama, di Indonesia masalah tersebut (pendanaan) harus ditambah dengan organizer lokal (sampai Menteri terkait) yang gak paham soal MotoGP. Objektif mereka hanyalah MotoGP sebagai ajang pariwisata dan keuntungan finansial untuk negara.

Pemahaman mereka belum sampai 'menyelenggarakan MotoGP karena kita mencintai motorsport dan efek positif motorsport untuk pembentukan karakter masyarakat, khususnya pecinta motorsport'. Saya yakin belum sampai pemahaman itu.

Kalau benar Kemenpora menginginkan MotoGP, haruslah mereka membuat satu tim khusus untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk ajang tersebut. April 2015, pihak sirkuit Sentul menyebutkan kalau mereka dan Kemenpora akan bekerja sama untuk mengembalikan MotoGP ke Indonesia. Dan beberapa bulan kemudian mereka (kedua belah pihak) mengumumkan penandatanganan kontrak MotoGP selama 3 musim mulai tahun 2017. Sampai disini mereka cukup oke, termasuk mempersiapkan draft rancangan renovasi sirkuit Sentul sesuai dengan yang diinginkan MotoGP.

Beberapa bulan berselang mulai muncul masalah baru. Sirkuit Sentul harus merenovasi sirkuit dengan dana mereka sendiri. Pemerintah enggan membantu dengan APBN karena itu melanggar undang-undang (Sentul adalah milik swasta yang tidak boleh dibantu oleh pemerintah). Setelah itu sempat dikabarkan MotoGP Indonesia batal digelar di Sentul dan pemerintah mendapatkan opsi sirkuit baru di Palembang. Bahkan gubernur Sumsel sudah memastikan bisa membangun sirkuit tanpa dana dari pemerintah. Masalah terselesaikan? No.


Ini Siteplan Sirkuit Wales, Bagian dari Masterplan yang Sangat Detail

Ini Masih Rancangan Kasar Sirkuit, Sekedar di Print di Kertas A4.

Sampai bulan Juli 2016 banyak berita di media massa yang simpang siur tentang MotoGP Indonesia dan semuanya gak jelas. Saya sampai bosan membacanya. Lalu Juli 2016 sudah bisa dipastikan MotoGP Indonesia 2017 (di sirkuit Sentul terutama) batal dilaksanakan karena sampai H-15 bulan tersebut belum ada masterplan renovasi Sentul (atau sirkuit baru di Palembang) yang disetorkan ke FIM/Dorna. Atau bahasa mudahnya, hingga H-15 bulan, tidak ada progress dalam persiapan MotoGP Indonesia untuk musim depan.

"Sentul yang Batal Gelar MotoGP, Bukan Indonesia" 

Pernyataan Menpora menanggapi 'gagalnya MotoGP Indonesia 2017'. Dia bilang yang gagal Sentul (karena tidak bisa mendapatkan dana sendiri untuk renovasi sirkuit plus soal progress yang masih 0%), Menpora juga bilang 'harus' untuk penyelenggaraan MotoGP 2017. tetapi belum tahu mau diadakan dimana. Kalaupun benar di Palembang, mana masterplan-nya? Terlalu mepet karena tinggal 15 bulan. Bisa sih kalau dikebut, tetapi jelas dananya akan membengkak dan kualitasnya 'dipertanyakan'.

Nah begitulah masalah yang kita hadapi. Hampir sama tetapi jelas berbeda dengan kasus di Wales dan Hungaria. Indonesia dengan pede-nya mengumumkan kontrak padahal hanya bermodal rancangan kasar sirkuit Sentul yang dicetak di selembar kertas A4. Juga hanya berjarak dua tahun tetapi sampai H-15 bulan event gak tampak satupun progress persiapan yang serius. Opsi pemunduran event menjadi 2018 menurut saya adalah blunder yang memalukan.

Wales dan Hungaria sudah menyiapkan masterplan detail bahkan sudah mulai membangun sirkuit, wajar kalau MotoGP mereka ditunda (dan dibatalkan) kalau masalahnya hanya 'sekedar' pendanaan. Sementara di Indonesia lebih kacau, buru-buru mengambil keputusan dan menandatangani kontrak tapi gak konsekuen dengan keputusan tersebut. Terlihat sangat tidak profesional karena terbentur masalah hukum setelah penandatanganan kontrak atau penyerahan masterplan sirkuit, dan terbukti, progress 0%.

"Lawmaker Blames Sports Ministry for MotoGP Cancellation"

Dan akhirnya saling menyalahkan. Sentul gagal, Menpora nyalahin. MotoGP gagal gantian DPR yang nyalah-nyalahin. Ibarat pesta, Menpora pengen bikin pesta MotoGP. Sebagian dana untuk PESTA didapatkan lewat DPR. Sentul gak bisa jadi tuan rumah, Menpora & DPR marah, saling tunjuk siapa yang salah, Meanwhile, Palembang yang sempet ngasih harapan malah melipir, apalagi kementerian pariwisata. wkwkwk.

Wassalam...

Analisis Motocross; Kalender Balap MXGP 2017 (termasuk seri Indonesia!)

Oktober tahun lalu saya memposting info tentang kalender balap MXGP musim ini. Dan kurang dari setahun setelahnya, saya sudah memposting info yang sama untuk musim depan. Terimakasih untuk press release FIM tertanggal 5 Juli 2016 sehingga saya bisa menganalisa kalender MXGP musim depan!



SOUTH EAST ASIAN SERIES

Salah satu kejutan di kalender balap MXGP musim depan adalah masuknya seri Indonesia untuk menggantikan seri Thailand yang sudah ada sejak musim 2013. Hilangnya seri MXGP Thailand sudah bisa diprediksi karena sering terjadi pemindahan venue tiap tahunnya, terutama di 3 musim terakhir. Terhitung sejak 2013-2016, MXGP Thailand sudah digelar di 4 trek berbeda mulai dari Si Racha (2013-2014), Nakhonchaisri (2015) dan terakhir Suphanburi (2016). Selain itu seri MXGP Malaysia juga tampak tidak akan kembali lagi tahun depan setelah dicoret untuk musim ini. Jangan sampai seri MXGP Indonesia bernasib sama dengan seri Malaysia.

MINOR CHANGES

Selain kembalinya seri MXGP Indonesia, dan 'hilangnya' seri Malaysia dan Thailand, perubahan minor lainnya juga terjadi di kalender musim 2017. Yaitu seri Spanyol dan Amerika Serikat (berkurang dari 2 seri menjadi 1 saja). Khusus untuk Spanyol, tanda-tanda hilangnya seri mereka sudah terlihat saat draft kalender musim ini hanya berisikan kata TBA untuk tanggal yang akhirnya menjadi seri mereka. Sedangkan seri MXGP Amerika Serikat musim depan akan berkurang karena mereka juga akan menggelar seri Motocross of Nations di bulan Oktober. Glen Helen sebenarnya adalah venue MXoN musim depan, tetapi di draft kalender masih tertulis TBA

USA FOCUS

Menarik untuk melihat sirkuit apakah yang akan digunakan untuk MXGP seri Amerika Serikat musim depan. Karena kalau mempertahankan trek musim ini (dibangun non-permanen di atas trek drag race 'zMAX Dragway'). Trek ini akan menjadi versi Motocross dari trek Daytona Supercross. Jujur saya bukanlah penggemar trek Motocross non-permanen, karena sangat plastik! 3 seri motocross ternama dibangun secara non-permanen, Assen, Lausitzring dan Miller Motorsport Park (ex-venue World Superbike) dan semuanya mengecewakan. Saya justru berharap seri MXGP Amerika Serikat bisa digelar di trek permanen yang 'Amerika' banget seperti Freestone mungkin? Semoga saja!




Bagus sih, rame sih, tetapi ini Motocross bukan Supercross! (Charlotte MXGP 2016)

3 TBA SERIES

Oiya, ada juga 3 seri TBA termasuk satu seri yang bahkan belum ketahuan siapa negara penyelenggaranya, apakah mungkin Spanyol atau USA 2? (atau USA 3 lebih tepatnya). Seri TBA lainnya adalah Italy 1 dan Jerman. Saya memprediksi seri Italy 1 akan menjadi milik Pietramurata (sama seperti tahun ini) atau Maggiora (yang tahun ini menggelar MXoN). Dan terakhir seri Jerman kemungkinan besar tetap berada di Teutschental, tetapi saya berharap seri mereka bisa 'pindah' ke Gaildorf atau sirkuit Jerman lainnya (biar gak bosen).

OPINION & FANTASY

Dari sekian banyak seri di kalender musim depan, saya tertarik dengan seri Belanda yang masih berada di Assen. Entah apa maksudnya seri 'MXGP yang digelar di sirkuit MotoGP' tersebut bertahan hingga 3 musim lamanya. Padahal jelas-jelas trek Assen 'gak masuk akal' dan akan lebih baik digelar di Lierop. Atau Valkenswaard jadi seri Belanda dan Bastogne (Belgia) jadi seri Eropa. Emang sih seri di Belanda jadi berkurang satu, tapi Bastogne 'kan sama saja masih termasuk Benelux.

CONCLUSION

Pada akhirnya dalam setiap postingan yang membahas kalender balap musim selanjutnya, saya selalu berharap ada perubahan-perubahan trek atau kalender sehingga saya bisa tahu lebih banyak lagi tentang sirkuit-sirkuit indah di seluruh dunia. Apalagi ini motocross kan? Pasti berhubungan dengan alam dan pemandangan di sekitar sirkuit.

Tentang Red Bull KTM MotoGP 2017 (Part 2) dan Waktu yang Tepat Untuk Pindah Tim!

Akhirnya Red Bull turun gunug juga!


Hola!

Saya pernah menulis tentang tim Red Bull KTM ini, Oktober 2015 lalu, saat tim baru saja mempublikasikan wujud motor mereka untuk MotoGP 2017. Delapan bulan kemudian tim ini sudah memastikan skuad dua pembalap mereka untuk debut (kedua) mereka di MotoGP.

Yamaha Tech 3 mencapai kesuksesan di MotoGP 2012 bersama pembalap Andrea Dovizioso dan Cal Crutchlow. Sayang kerjasama itu hanya bertahan satu musim saja karena Dovi memilih untuk 'pulang kampung' ke Ducati pada 2013. Setahun berselang giliran Cal yang ikut pergi ke Ducati, reuni singkat dengan Dovi, sebelum akhirnya pindah lagi ke LCR Honda.

Tetapi musim depan lebih spesial. Skuad Yamaha Tech 3 musim ini akan pindah bersama-sama ke Red Bull KTM musim depan. Smith dan Pol meninggalkan Monster demi Red Bull...

Keputusan keduanya untuk pindah menurut saya adalah keputusan yang baik. Mereka berdua masing-masing menghabiskan 4 dan 3 tahun di Yamaha Tech3 sejak debutnya di MotoGP. Dalam jangka waktu seperti itu, saat pembalap belum juga bisa berprestasi, pindah tim adalah opsi terbaik. Ada kalanya sukses bisa didapat di tempat lain bukan?

Dari sekian banyak pembalap MotoGP di grid saat ini, terhitung hanya Jorge Lorenzo, Marc Marquez dan Dani Pedrosa saja yang sangat setia dengan satu tim. Valentino Rossi tidak termasuk dalam daftar tersebut, meskipun sudah 11 tahun membela Yamaha, Vale pernah 4 tahun di Honda dan 2 tahun di Yamaha. Peristiwa pindahnya Vale dari Honda yang superior ke Yamaha yang lemah 12 tahun lalu adalah cerita terbaik sepanjang masa di MotoGP modern.

Ada pengecualian tambahan sebenarnya untuk Jorge yang akhirnya musim depan akan pindah ke Ducati, mengakhiri 9 tahun kerjasamanya dengan Yamaha.

11 tahun, 9 tahun, tetap tidak akan bisa mengalahkan kesetiaan Dani Pedrosa ke Honda (16 tahun) atau Marc Marquez dengan Repsol (sejak meniti karier di CEV). Perpanjangan kontrak Marc dengan HRC hingga 2018 membuat dirinya akan membalap untuk Repsol Honda selama 6 tahun. Catatan yang cukup bagus!

Eh tapi ada satu lagi cerita tentang kesetian yang lebih mengagumkan. Tentu saja dari Jepang! Bahkan hampir mayoritas pembalap Jepang setia dengan tim atau brand yang membesarkan namanya. Misalnya saja Tadayuki Okada, Akira Yanagawa, dan alm. Norick Abe.

Khusus untuk yang terakhir, saya kagum banget, Norick Abe setia dengan Yamaha sejak 1994 hingga menjelang akhir hayatnya (2007). Meskipun sebenarnya ia memulai karier di All Japan bersama Honda sih...

Analisis: Spanyol Mulai Luntur?

Jumlah mereka masih banyak, tetapi yang di depan semakin sedikit.


Oke, menjelang seri ke-7 MotoGP musim 2016, saya rasa ini adalah waktu yang tepat (meskipun sebenarnya saya juga baru menyadarinya) untuk mengatakan bahwa dominasi Spanyol sudah mulai luntur!

Saya tentu tidak berbicara tentang kelas MotoGP yang masih dikuasai Jorge Lorenzo dan Marc Marquez. Begitu pula Dani Pedrosa, Maverick Vinales dan Aleix Espargaro yang masih kuat di baris kedua. Tetapi memang kenyataannya, di kelas junior, terjadi penurunan prestasi (atau dominasi) pembalap Spanyol.

Lihat saja di klasemen Moto2. Hanya ada nama Alex Rins yang mengisi posisi 5 besar. Pembalap Spanyol terbaik lainnya, Luis Salom, berada di posisi ke-10. Berturut turut setelah itu ada Axel Pons (12), Julian Simon (21), dan Alex Marquez (22). Menarik saat melihat dua juara dunia GP125/Moto3 terlempar diluar 20 besar.

Lalu di kelas Moto3, Jorge Navarro juga berada di posisi kedua klasemen, 6 posisi lebih baik dari pembalap Spanyol lainnya, Joan Mir (rookie). Berturut-turut setelah itu ada Aron Canet (15/rookie), Juanfran Guevara (16), Jorge Martin (21) dan Maria Herrera (26).

Secara jumlah partisipan di masing-masing kelas, Spanyol memang masih mendominasi. Rata-rata ada 8 pembalap per kelasnya. Jumlah rookie lulusan CEV Repsol pun masih cukup bagus, 2 di Moto3 dan 4 di Moto2.

Tapi memang secara keseluruhn mereka sudah tidak mendominasi lagi. Tidak ada lagi 3-4 pembalap Spanyol yang bertarung sengit di pack terdepan lomba atau di klasemen. Semua lebih cair. Makin banyak pembalap dari negara lain yang ikut bersaing, termasuk Malaysia.

Sudah sejak dulu Spanyol menggilai balap motor (GP) lebih dari ajang balapan lainnya, termasuk World Superbike. Sirkuit-sirkuit permanen bertaraf internasional mulai muncul hingga Valencia (1999) lalu Aragon (2010). Kejuraan domestik dan internasional rutin digelar untuk meningkatkan mutu motorsport mereka. Tetapi dari semua usaha itu, mereka baru bisa meraih prestasi tertinggi saat Alex Criville memenangi GP500, tepat setelah Mick Doohan pensiun. Di tahun yang sama, Emilio Alzamora (GP125) juga meraih gelar juara dunia.





Dua kemenangan bersama di 1999 itu terbukti mampu melecut semangat Spanyol sehingga mampu mendominasi MotoGP lebih dari 15 tahun. Dani Pedrosa, Jorge Lorenzo, Alvaro Bautista, Julian Simon, Marc Marquez, Nicolas Terol, Maverick Vinales, Tito Rabat, dan Alex Marquez adalah juara-juara dunia asal Spanyol setelah era Alzamora-Criville.

Tidak bisa dipastikan apakah dominasi yang mulai meluntur tersebut hanya berlangsung musim ini atau sampai musim-musim selanjutnya, yang pasti Spanyol masih sangat antusias di olahraga ini. 17 pembalap di kelas Moto2 dan Moto3 jauh lebih banyak dari seluruh pembalap Asia yang ada musim ini. Mereka tetap menyalurkan bakat-bakat terbaik di negara mereka di MotoGP. Dan mungkin saja di tahun-tahun mendatang mereka bisa menang lagi, mendominasi lagi. Siapa yang tahu?

Yang terpenting adalah MotoGP harus selalu kompetitif tiap tahunnya!

Analisis; Penjadwalan Seri MotoGP 2016 'Terganggu' oleh Jadwal Formula 1

MotoGP Jepang musim ini akan berjarak 3 minggu dari seri sebelumnya di Eropa

Saya baru sadar kalau penjadwalan MotoGP musim ini menghasilkan 3 hal buruk dibandingkan 1 hal baik yang akan dirasakan oleh fans. 3 hal buruk tersebut adalah 3 kali penyelenggaraan seri MotoGP yang harus 'merasakan' jeda selama 3 pekan. Sementara 1 hal baik hanya penyelenggaraan seri Silverstone dan Misano yang musim ini digelar back-to-back atau hanya jeda 1 pekan saja.

Dari kebijakan tersebut, efek yang paling terasa adalah saat seri Catalunya, Assen, dan Sachsenring, menjadi sangat lama musim ini. Musim 2015 lalu rangkaian ketiga seri tersebut selesai dalam jangka waktu 5 pekan saja (1 balapan dalam 2 pekan). Tetapi musim ini bertambah menjadi 7 pekan atau 1 balapan dalam 3 pekan. Apalagi setelah seri Sachsenring langsung libur tengah musim selama 4 pekan lagi sampai seri Austria (Spielberg), alamak!

Kalau tidak salah ingat, 10 tahun yang lalu seri MotoGP Catalunya dan Assen hanya berjarak 6 hari saja. Race Catalunya hari Minggu & race Assen hari Sabtu. Rekor kah?

Satu lagi jeda 3 pekan terjadi antara seri Aragon dan 'tur Australasia'. Anehnya, ketiga jeda selama 3 pekan tersebut tidak pernah satupun terjadi di musim lalu. Jeda terlama musim lalu hanyalah jeda tengah musim selama 4 pekan yang merupakan rutinitas wajib tiap musimnya. Saya lalu bertanya, kenapa sampai terjadi jeda selama itu bahkan sampai 3 kali di MotoGP musim ini?

Saya lalu teringat oleh satu artikel di majalah F1 Racing beberapa tahun yang lalu yang menyebutkan bahwa, otoritas MotoGP dan Formula 1 bekerja sama untuk menciptakan satu jadwal yang tidak bertabrakan satu sama lain. Kemudian saya membuat perbandingan jadwal F1-MotoGP musim 2015 dan 2016, dan MUNCULAH satu kesimpulan bahwa perubahan jadwal MotoGP musim ini lebih disebabkan oleh membengkaknya seri F1 (dari 19 menjadi 21) juga efek renovasi sirkuit Sepang. Coba perhatikan perbandingan jadwal berikut ini.


F1 'kewalahan' menerima 2 seri tambahan musim ini

Musim depan F1 akan tetap berjalan sekitar 21 seri, saya berharap MotoGP dan F1 bisa lebih baik lagi mengatuar penjadwalan seri mereka. Jangan sampai ada yang dirugikan (fans MotoGP) dengan 3x jeda selama 3 minggu seperti di musim ini. Lebih baik digelar bergantian tiap minggunya antara MotoGP dan F1.

Analisis Konflik Rossi-Marquez, Konflik Yang Muncul Tanpa Disengaja, Bukan Konspirasi!

Stop kebencian & dukung Vale 100%!


Respon fans pasca konflik Valentino Rossi dan Marc Marquez semakin tidak terkendali. Bahkan sampai mensyukuri jika Marc, Jorge, atau siapapun yang mungkin terlibat saat mereka crash atau terjatuh, dan berdoa supaya hal tersebut lebih sering terjadi di musim-musim depan. Buruk.

Hal tersebut sangat disayangkan karena cukup mencederai sportifitas di kalangan pendukung dan cukup ‘jahat’. Lalu apa bedanya kita dengan mereka kalau sama-sama ‘jahat’?

Saya selalu terbuka menerima banyak opini dan perspektif. Lalu untuk tulisan ini saya sedikit mengubah perspektif saya mengenai kejadian di Phillip Island hinga Valencia kemarin.

Bagaimana kalau semua kejadian yang berujung konflik tersebut muncul karena tidak disengaja ? 100% tidak disengaja.

Anggap saja Vale hanya ingin sedikit ‘memprovokasi’ lawannya dengan trik psikologis di GP Malaysia lalu. Ia mengungkap semua pandangannya tentang kejadian di Australia dengan tujuan  ‘memperingatkan’ Marc tentang aturan tidak tertulis.

Ia mungkin merasa pembalap yang berpotensi mengganggu battlenya dengan Jorge hanyalah duo Repsol Honda, yang justru tampil kompetitif di akhir musim. Dani Pedrosa sudah 30 tahun, kemungkinan besar ia sudah memahaminya. Yang tersisa cuma Marc, si pembalap muda yang kemungkinan belum terlalu paham. Oleh karena itu Vale ‘menyerangnya’ saat itu.

Kejadian di Phillip Island, menurut penjelasan Honda adalah Marc Marquez yang tidak ingin kejadian buruk di PI dua musim sebelumnya terulang kembali. Meskipun Marc tampil sebagai pole sitter, ia ingin tampil santai di race, menjaga ritme balap dan keausan ban, dan merencanakan serangan di akhir lomba.


Sialnya dengan strategi itu, saat balapan justru Marc ‘bergabung’ dengan Vale dan Iannone yang juga kompetitif. Mau tidak mau terjadilah battle ketat antara ketiganya plus Jorge di akhir lomba. Dan akhirnya munculah penilaian Vale (plus diamini Iannone) tentang race tersebut adalah ‘Marc ingin mendukung Jorge dengan menghambat kita di rombongan’. Mulai terlihat strategi menjaga ritme balap dan keausan ban di seri ini justru berakibat ‘fatal’ untuk Marc.
Next stop, GP Malaysia. Marc dituduh sengaja memberi jalan untuk Jorge dan sekali lagi menghambat Vale. Ceritanya di T4 saat ia melebar dan disalip Jorge. Ia pun kehilangan beberapa waktu (melorot hingga 2 detik). Celakanya lagi, di belakangnya kini The Doctor. Marc tampil secara maksimal saat bertarung dengan Vale. Itulah hal yang biasa dilakukan Marc tiap balapan.
Tetapi tidak untuk hari itu, kecepatan dan keagresifan Marc tersebut justru menimbulkan rasa frustasi bagi Vale. Ia mungkin terbayang, apakah prasangka yang ia kemukakan 3 hari sebelumnya akan terbukti benar? Apakah Marc tidak bisa mengerti apa maksud ucapan Vale adalah sebuah peringatan?
Dan akhirnya terjadilah insiden di lap ke-7. Vale melebar dan Marc tetap memaksa merebahkan motornya, padahal disitu tepat berada motor Vale. Saya kira maneuver ini tidak terlalu cerdas karena membahayakan kedua belah pihak. Marc mungkin belum mengerti peringatan Vale (the unwritten rules) dan ia tetap push 100%. Dan terjadilah crash.
Pasca GP Malaysia, semua sepakat untuk memulai hal yang baru di GP Valencia. Tetapi sekali lagi, sebuah kejadian semakin memperjelas tuduhan Valentino Rossi adalah benar adanya. Marc stuck di belakang Jorge sepanjang lomba. Tidak sekalipun ia melakukan percobaan overtaking meskipun gap keduanya hanya 0,3 detik saja. Honda sendiri berdalih hal tersebut disebabkan masalah di roda depan motor mereka.

Saya kira waktu itu tekanan paling besar justru dihadapi Marc. Jika ia memaksa overtake di saat Jorge sedang 100% mengejar gelar, dan hal buruk terjadi (misal Jerez 2013); tentu ia adalah sasaran utama kemarahan atas kegagalan Jorge. Tetapi jika tidak bertindak apapun, sekali lagi justru semakin membuktikan tuduhan Vale adalah benar. Situasi yang sangat tidak menguntungkan.

Puncak dari segala kontroversi adalah ketika Marc sangat agresif merebut posisinya kembali setelah tiba-tiba disalip oleh Pedrosa. Fans semakin mempertanyakan kenapa Marc tidak sekalipun mencoba menyalip Jorge? Padahal gapnya cukup dekat dan sirkuit Valencia (yang sempit dan pendek) masih sangat memungkinkan untuk menyalip (dibuktikan aksinya dengan Pedrosa tersebut dan Vale yang menyalip 21 pembalapd alap 13 lap).

Apakah Marc segan menyalip Jorge? Apakah semakin terbukti kecurigaan Vale? Meskipun berdalih problem di ban depan adalah penyebabnya, rasanya fans akan tetap sulit menerima fakta tersebut. Dan  saya rasa ‘kebencian’ terhadap Marc dan Jorge pun memuncak dan berlanjut hingga tahun-tahun setelahnya.

Dengan melakukan analisis seperti diatas semakin memperluas perspektif saya mengenai konflik antara Vale dan Marc. Konflik yang muncul karena suatu hal yang mungkin tidak disengaja. Yang saya sayangkan hanyalah kejadian di Sepang saat Marc ‘tidak memahami’ arti peringatan Vale. Mungkin karena ia masih sangat muda dan belum mengerti tentang ‘The Unwritten Rules’. Karena susah juga sengaja mengalah untuk duo Yamaha di saat motor Honda-nya berada di kondisi terbagus.
Vale dan Marc, dua sahabat yang kini ‘berseteru’ dan memungkinkan terciptanya Max baru bernama ‘MAX MARQUEZ’.


Note: Marc terbiasa tampil cepat dan agresif, karena tidak ada aturan yang melarang hal tersebut. Tetapi kebiasaan tidak selalu bisa dijadikan sebagai patokan kebenaran, karena arti sebuah kebenaran terkadang sangat tidak terbatas. Marc masih cukup muda dan perlu belajar banyak hal. Ia cuma sial musim ini...


Analisis; Lulusan GP2 yang (Mulai) Susah Masuk F1 & Gaya Baru Transfer Pembalap F1!


Davide Valsecchi (juara 2012), Fabio Leimer (juara 2013), dan Stoffel Vandoorne (juara 2015) adalah 3 driver juara GP2 yang sejauh ini belum turun di balapan F1. Hanya Jolyon Palmer (juara 2014) yang sudah memastikan kursi balap untuk #F12016 di tim Lotus, setelah setahun ini ia vakum balap dan hanya menjadi test-driver untuk tim tersebut.

Kesimpulannya adalah, beberapa tahun terakhir ini lulusan GP2 agak susah masuk ke F1; bahkan untuk juaranya sekalipun. Menjadi juara juga berarti sudah tidak boleh berlaga lagi di kelas tersebut untuk musim-musim selanjutnya. Dan akhirnya, untuk sekarang ini tittle juara GP2 hanyalah 'bonus'.

Melihat komposisi pembalap di tim F1 akhir-akhir ini, kita bisa memahami beberapa 'gaya' baru yang diterapkan oleh tim-tim F1. Misalnya saja;

  1. McLaren, Ferrari, Mercedes; masih mempertahankan pembalap top (yang usianya mungkin sudah tua). Raikkonen (36), Button (35), Alonso (34), Hamilton (30), Rosberg (30). Hanya Vettel yang sedang memasuki usia emasnya (28).
  2. Red Bull & Toro Rosso tergabung ke dalam keluarga Red Bull. Menjadi sangat sulit untuk menembus tim F1 mereka jika kamu bukan anggota akademi balap Red Bull.
  3. Lotus, Force India, Sauber; tim medioker yang butuh dana sponsor terutama dari pembalapnya. Sebut saja; Felipe Nasr (Banco do Brasil), Sergio Perez (Telmex), dan Pastor Maldonado (PDVSA).
  4. Williams, kombinasi pembalap veteran dan pembalap muda potensial (Massa, 33; Bottas, 26)
  5. Manor, satu-satunya tim papan bawah yang memang sangat butuh dana sponsor dari pembalapnya. sayang banget kalau Rio sampai gabung di tim ini :(
  6. Haas, tim baru yang memang butuh pembalap berpengalaman (Romain Grosjean) dan pembalap yang berasal dari Amerika Utara* (Esteban Gutierres/Meksiko)

Formula 1 modern sekarang ini berbeda jauh dengan F1 musim 2006-2007. Waktu itu minimal ada 2 lulusan GP2 yang bertarung di F1. Rata-rata dari mereka menggantikan driver-driver tua semacam Juan Pablo Montoya, Ralf Schumacher, hingga Jacques Villeneuve (rata-rata dari mereka memang sudah sepantasnya digantikan sih, meskipun misalnya Ralf dan Juan yang masih berusia 32 dan 31 tahun pada waktu mereka hengkang dari F1).

Kompleks juga ya persoalan transfer pembalap F1 modern ini... Harus ada teknik dan taktik untuk menaklukkan gerbang tinggi menuju F1. Salah satunya dengan mengincar posisi test-driver. Tidak masalah setahun atau dua tahun, tetapi kalau langsung menjadi opsi utama untuk direkrut tim 'kan enak juga, seperti Jolyon Palmer.

Finally, sorry to say untuk Rio Haryanto; sebaiknya niat ke F1 ditunda dulu gimana? Ingat Stoffel Vandoorne yang juara GP2, saya teringat komentar di sebuah forum (website balap) "Jika Stoffel Vandoorne saja tidak bisa masuk F1, berarti tidak ada yang cukup pantas -dari GP2 2015- untuk masuk ke #F12016.

(rz)

Analisis: Top 5 Sirkuit Baru yang 'Gagal' di Era Modern

Gagal disini ada dua definisi, (1) gagal memenuhi ekspektasi; membangun budaya motorsport lokal (2) gagal menjaga berlangsungnya sebuah kejuaraan untuk jangka waktu yang lama. Let's see!

P1 - ISTANBUL PARK

Contoh terbaik untuk 'kegagalan sebuah sirkuit modern'. Satu-satunya sirkuit internasional di Turki, pada awalnya diharapkan sebagai langkah awal terciptanya budaya motorsport lokal yang lebih baik. Memulai debut di 2005, sirkuit ini pernah menggelar banyak kejuaraan internasional seperti Formula 1, MotoGP, WTCC, Endurance, World Superbike, dan balap GT. Tetapi semua itu hanya sementara dan sekarang tidak ada lagi balapan internasional yang menggunakan lintasan Istanbul Park! World Superbike adalah kejuaraan internasional terakhir di sirkuit ini pada 2013 lalu. 

Sekarang hanya kejuaraan World RallyCross (WRX) yang digelar di sirkuit ini, tetapi hanya menggunakan sebagian kecil area sirkuit.


P2 - YEONGAM (Korea International Circuit)

Sirkuit ini didepak dari kalender F1 setelah hanya menggelar 4x balapan.Animo penonton yang minimalis serta venue yang kurang impresif adalah alasan utama hilangnya F1 dari Korea. Yeongam seolah-olah menjadi  bukti budaya motorsport lokal yang tidak berkembang dengan baik. Padahal negeri ini memiliki dua pabrikan mobil populer, Hyundai dan KIA, serta dua pabrikan ban yang ternyata lebih eksis di luar negeri; Kumho dan Hankook.

Sekarang hanya kejuaraan balap mobil GT level Asia yang digelar di sirkuit Yeongam. Sirkuit ini juga pernah dikabarkan akan menggelar balap Super GT Jepang tetapi akhirnya gagal terlaksana.

P3 - BUDDH

Proses pembangunan sirkuit Buddh pernah termasuk ke dalam tayangan Megastructures dari National Geographic. Untuk lintasannya sendiri tidak terlalu istimewa karena bergaya khas Hermann Tilke (long straight, slow corner & elevation change), hanya main granstand yang istimewa karena menggunakan atap bergelombang layaknya bangunan stadion sepakbola masa kini.

Formula 1 berlaga di sirkuit ini hanya 3x saja (2011-2013). Permasalahan penjadwalan membuat sirkuit ini absen untuk F1 2014 dan direncanakan akan kembali pada 2015. Tetapi pergantian pengelola sirkuit Buddh justru membuat F1 tidak kembali lagi ke India pada 2015 dan 2016

P4 - PORTIMAO

Proses pembangunan sirkuit Portimao juga tergolong spesial karena cukup singkat, kurang dari setahun sirkuit ini beres dan langsung digunakan untuk balapan World Superbike 2008. Sirkuit ini berlisensi FIA Grade 2 dan FIM Grade A sehingga bisa digunakan untuk kejuaraan MotoGP dan balap mobil dibawah F1. Tetapi fasilitas yang lebih modern juga tidak berhasil memindahkan MotoGP Portugal dari Estoril ke Portimao. Bahkan setelah MotoGP Portugal dihapus dari kalender, sirkuit ini juga tidak bisa berhasil menyelamatkannya. Untuk balap mobil hanya A1GP dan GP2 yang pernah mampir di sirkuit ini masing-masing untuk satu seri saja.


P5 - DUBAI AUTODROME

Posisi ke-5 adalah tempat yang pas untuk sirkuit Dubai Autodrome, sirkuit modern bertaraf internasional pertama di Uni Emirat Arab (UEA). Sirkuit ini dinobatkan sebagai Home of National Motorsport, sehingga wajar kalau untuk level internasional sirkuit ini 'gagal' bersaing dengan Yas Marina yang lebih modern. Positioning sirkuit Dubai (nasional) dan Yas Marina (internasional) mungkin sebagai strategi motorsport di UEA. Tetapi dengan fasilitas yang baik di Dubai, seharusnya ada banyak kejuaraan balap internasional yang singgah di UEA!


Well, itulah 5 sirkuit gagal versi notumoto. Motto kami 'Komentar suka-suka, Analisis seenaknya!'
Ciaoo! (rz)

Fun Analysis; Topi Podium!

Bridgestones Podium

*******

Kenapa topi yang digunakan pembalap di podium harus bertuliskan sponsor ban? Saya belum mengetahui jawaban pastinya, tetapi dari ‘topi’ ini kita bisa belajar beberapa hal baru.


Kuning Dunlop Klasik

Pertama, warna topi untuk tiap pabrikan ban ternyata berbeda; mungkin sebagai identitas untuk tiap-tiap pabrikan. Merah untuk Bridgestone, biru untuk Michelin, hitam untuk Pirelli dan Metzeler (karena satu induk perusahaan), dan kuning untuk Dunlop. Topi-topi ini umumnya dipakai oleh balapan internasional yang menerapkan aturan pemasok ban tunggal.

Sombrero!

Cowboy Hat

Kedua, jenis baseball cap adalah topi yang paling sering digunakan di podium. Tetapi untuk beberapa negara dan kesempatan tertentu, ada juga jenis topi lain yang digunakan. Seperti Sombrero untuk F1 Meksiko dan Cowboy Hat untuk F1 Amerika Serikat. Valentino Rossi juga pernah memakai topi Toga berwarna hitam (dengan logo kecil Michelin berwarna biru-putih) saat menjuarai MotoGP Mugello 2005. Dan memang untuk jenis topi-topi diatas, warna yang paling cocok digunakan adalah hitam. Kebetulan sekali Pirelli adalah sponsor ban F1. Coba bayangkan kalau topi Sombrero yang berukuran cukup besar berwarna merah atau biru, lumayan garing jadinya.

Ketiga, untuk kejuaraan yang tidak menerapkan aturan ban tunggal; tentu pihak promotor harus menyediakan topi yang berbeda sesuai dengan merk ban yang ikut di balapan. Seperti di Super GT Jepang yang diikuti Dunlop, Michelin, Bridgestone, dan Yokohama.

Beberapa merk ban lain juga cukup eksis di dunia motorsport. Firestone dan Hankook berperan sebagai pemasok band untuk kejuaraan IndyCar dan DTM. Untuk Firestone karena termasuk ke dalam keluarga Bridgestone, maka topi mereka berwarna merah dengan tulisan putih. Sementara Hankook menggunakan warna hitam dan tulisan berwarna putih, plus aksen di ujung topi depang berwarna oranye.

Warna hitam juga digunakan untuk Maxxis dan Yokohama. Maxxis yang lebih eksis di motocross memadukan warna hitam dengan warna tulisan berwarna oranye. Sementara Yokohama Tires yang menyupport beberapa tim di Super GT memakai warna putih untuk tulisan dan merah untuk logo. Ada juga Cooper Tires yang pernah mendukung A1GP di 3 musim pertamanya. Mereka menggunakan topi berwarna biru tua serta logo dan tulisan berwarna putih.

Cooper Tires A1GP

Nah, menjelang MotoGP Indonesia 2017; apakah pihak promotor lokal tertarik untuk menggunakan ide topi unik seperti poin kedua diatas? Indonesia sangat kaya budaya dan tradisi lokal, termasuk salah satunya desain-desain topi yang unik dan menarik. Apalagi keunikan topi Indonesia adalah bahannya yang alami dan mempunyai warna khas tersendiri. Menarik untuk dipertahankan warnanya dan dipadukan dengan logo-warna merk ban. 

Mungkin sudah bisa dipilih topi jenis apa yang akan digunakan? (rz)


Analisis; Sirkuit Tercepat dan Terlambat di MotoGP (+)

Gak akan ada yang menyangka kalau sirkuit dengan trek lurus terpanjang di MotoGP, Circuit of the Americas (Austin) adalah sirkuit terlambat kedua di MotoGP diatas sirkuit Valencia. Hal ini menjadi catatan yang cukup unik mengingat hampir semua trek MotoGP yang dirancang oleh Hermann Tilke kecepatan rata-ratanya maksimal 171 km/h (Istanbul Park). Sirkuit Sepang sendiri termasuk sirkuit medium dengan kecepatan rata-rata 165 km/h. Berikut adalah data lengkapnya.
  1. 177.6 km/h         Phillip Island
  2. 173.7 km/h         Mugello
  3. 173.3 km/h         Rio Hondo
  4. 173.2 km/h         Assen
  5. 167.8 km/h         Aragon
  6. 166.7 km/h         Losail
  7. 166.3 km/h         Brno
  8. 165.3 km/h         Catalunya
  9. 163.7 km/h         Sepang
  10. 161.1 km/h         Indianapolis
  11. 161.0 km/h         Sachsenring
  12. 160.7 km/h         Le Mans
  13. 159.3 km/h         Jerez
  14. 158.6 km/h         Austin
  15. 154.4 km/h         Valencia (data 2014)
  16. 153.0 km/h         Silverstone (wet race, 173.3 km/h 2014)
  17. 147.5 km/h         Motegi (wet race, 163.2 km/h 2014)
  18. 146.6 km/h         Misano (wet race, 160.4 km/h 2014)
*Semua data adalah versi 2015, kecuali data sirkuit Valencia dan 3 sirkuit di musim ini yang menggelar wet race sehingga data 2014 juga ikut disertakan.

Dari data di atas terlihat, sirkuit-sirkuit dengan berkecepatan tinggi justru mampu menyajikan pertarungan yang menegangkan di musim ini. Phillip Island, Rio Hondo, Aragon, Losail adalah beberapa diantaranya. Sementara Mugello cukup terkenal dengan battle MM dan JL pada musim lalu.

Sirkuit ini tidak cocok untuk MotoGP!

Sebaliknya, dari data diatas juga bisa disimpulkan kalau sirkuit-sirkuit lambat, terutama Austin, sangat tidak menarik untuk dijadikan sebagai venue balapan. Dari 9 pembalap yang kompetitif di babak kualifikasi (total hanya berjarak 1 detik antara grid 1 dan 9). Tetapi pada saat race hanya tersisa 3 pembalap saja yang bisa battle di depan. 

Sirkuit Austin ini berkarakter stop-and-go dengan banyak tikungan lambat. 3 tikungan lambat yang menurut saya paling menyebalkan adalah tikungan pertama serta 2 tikungan sebelum dan sesudah backstraight. Seharusnya hal ini bisa dijadikan pertumbangan kalau race seri Amerika Serikat lebih baik diadakan lagi di Laguna Seca yang sangat menantang!

Sementara itu sirkuit lain dengan kecepatan yang cukup lambat, terutama di Eropa, masih lebih baik dibandingkan Austin. Karena berkarakter technical, bukan stop-and-go seperti di Austin. Fakta menarik seputar kecepatan sirkuit dan hubungannya dengan race yang akan disajikan, bisa digunnakan sebagai pedoman perancang sirkuit dalam bekerja. Karena MotoGP lebih suka dengan sirkuit yang cepat atau lambat tetapi technical. #saran


Remus-Gosser, tantangan terberat

PLUS: Menarik untuk dinantikan aksi di sirkuit Spielberg (Red Bull Ring) musim depan dimana sirkuit ini juga berkarakter semi-stop-and-go dengan dua tikungan yang cukup tajam.


Analisis Spesial; Rio Haryanto ke F1, Maka....

Dahaga balap mobil hampir terobati,,,

Jika Rio Haryanto ke F1 maka...

F1 bakalan tayang lagi di TV nasional Indonesia.
Masak iya sih aksi pembalap negeri sendiri gak ditayangin? Hampir 2 tahun tayangan F1 absen di TV nasional Indonesia, masyarakatpun kecewa. Tetapi dengan masuknya Rio ke F1, otomatis tayangan tersebut akan kembali lagi di TV nasional Indonesia. Biar makin afdol tayangin juga sesi kualifikasinya.

Penggalangan dana harus tetap dilanjutkan
Penggalangan dana harus tetap berlangsung meskipun Rio sudah gabung tim Manor. Belajar dari pengalaman Max Chilton (ex-rekan Rio di GP2 dan pembalap Marussia/Manor), bertarung di tim papan bawah dengan modal membawa dana sponsor gak akan bertahan lama. Kalau prestasinya gitu-gitu aja dan sponsor ngerasa rugi, dukungannya bisa dicabut. Maka mengantisipasi hal itu tentu harus ada dana cadangan untuk tahun-tahun kedepannya. Tentu dibarengi performa drivernya sendiri yang harus ciamik sehingga bisa dikontrak tim lain, sebagai test-driver pun nggak masalah.

Larisin dagangan milik sponsor Rio..
Yang biasanya pake oli A, B, C, sekarang mulai dibiasakan menggunakan oli Pertamina. Begitu pula untuk sponsor-sponsor lain yang sekarang ini masih abu-abu (belum jelas). Prediksi saya sih maskapai penerbangan, operator telekomunikasi, industri makanan dan industri pertambangan akan mendukung Rio di F1. Semoga saja.. amin.

Perlukah Indonesia bikin balapan F1?
Nggak usah mikirin hal-hal kayak gitu! Dananya gede banget dan gak ada efek apapun untuk Indonesia. Kalau gak bisa nyuguhin sirkuit ciamik macam Spa-Francorchamps, nasib Indonesia bakalan seperti Korea dan India. Apalagi kita sudah kalah sama Malaysia dan Singapura. Mending dukung pembalapnya aja tampil di F1. Lumayan kan kalau pembalapnya bisa menang di Malaysia atau Singapura? hehe.

Drama (Jelang) MotoGP Malaysia 2015; Kabut Asap Hingga Konspirasi?!

  • Kabut asap diatas sirkuit Sepang mengganggu pernafasan, penglihatan, dan operasional siaran langsung via helicopter. Race dibatalkan? check
  • Andrea Dovizioso terjebak kabut asap dan harus berkendara 7 jam menuju sirkuit Sepang via laut-darat. check
  • Heboh press-con jelang GP weekend, Marquez berusaha membantu Lorenzo? check


Haze everywhere near Sumatera #pedulikabutasap

Well, menjelang GP Malaysia 2015; perang urat syaraf dan psikologis sudah mulai dilancarkan pembalap. Belum lagi masalah kabut asap yang mengancanm GP akhir pekan nati. Race dibatalkan?

Dari 3 berita diatas saya tertarik membahas berita terakhir. Sebuah pernyataan mengejutkan yang disampaikan oleh Valentino Rossi pada press-con hari ini (22/10). Yuk kita bahas langsung!



Marquez dianggap membantu Lorenzo dalam GP Australia minggu lalu.


Lho kok gitu? Bukannya MM93 overtake JL99 dan berhasil mengamankan 5 poin untuk Rossi? Kalau nggak gitu selisih poinnya sekarang cuma 6 saja lho.


Drama MotoGP emang lebih seru dibanding F1 sekalipun

Pernyataan singkat diatas memang benar. Tetapi Rossi punya perhitungan lain setelah membaca data teknis balapan. Singkatnya, atau kesimpulannya, Marquez adalah manusia tercepat dalam GP Australia tersebut. Dengan paket motor dan fisik yang ada, ia seharusnya bisa lolos di depan sendirian (atau setidaknya bertarung dengan Lorenzo) dan membiarkan pembalap lain dibelakangnya mendekat ke depan.

Tetapi yang terjadi di atas lintasan tidak seperti itu. Meskipun akhirnya Marquez tetap menjadi pemenang setelah melewati battle of group yang ketat, Marquez dianggap sengaja melaju pelan dan terlibat dalam rombongan Rossi-Iannone.

Ia dianggap sengaja menahan Rossi dan Iannone sepanjang balapan untuk kemudian gaspol di akhir lomba, menyalip Lorenzo dan menang. Memang terlihat licik, tapi itulah strategi balapan. Sah-sah saja. Keputusan Marquez menyalip Lorenzo juga bisa dianggap sebagai 'membayar' kesalahannya menahan Valentino Rossi sepanjang lomba.

Kemungkinan besar Rossi berniat untuk mendekat kepada Lorenzo dan memaksa terjadinya battle yang ketat karena dia yakin Lorenzo selevel dengan dirinya, Dengan begitu kemungkinan Rossi finish di depan Lorenzo (berapapun posisinya) semakin terbuka lebar. Tetapi hal tersebut tidak terwujud karena Marquez "mengganggu" sehingga Lorenzo berhasil menciptakan pace yang sempurna dan gagal didekati Rossi.

Percaya nggak? Entahlah. Kalaupun benar gak akan ngaruh apa-apa, sah-sah saja karena itu strategi balapan. Tapi aneh juga, balapan terbaik dekade ini terindikasi sebagai settingan yang direncanakan oleh Marquez. Keren lho! Bisa-bisa kemudian Marquez dijuluki the Director (nyaingin the Doctor-nya Valentino Rossi) hehe...

Saya lebih mengira kalau ini sebagai perang psikologis. Sebuah warning untuk Marquez agar tidak mengganggu battlenya dengan Lorenzo. Mungkin Rossi teringat kejadian Toni Elias yang menggagalkan kemenangannya di Estoril 2006 disaat ia bertarung ketat dengan Hayden di tabel klasemen.

Yang pasti, drama ini akan terus berlanjut hingga setidaknya 8 November. Akan sangat menarik ditunggu akhir dari MotoGP Silly Season 2015 ini (eits, kenapa Silly Season? tunggu jawabannya di posting selanjutnya!). Keep on fight guys! (rz)

*tulisan diatas merupakan hasil analisis pribadi dari berita yang dimuat di crash.net ini.


Belajar Sejarah; Tim Movistar Junior 125cc dan Nomor Start Berdaya Magis?!

Australia 2001. Full team, perawakan Joan Olive (kiri)
hampir mirip Tito Rabat...

Gila aja! 5 tahun lebih mengikuti dunia motorsport, belajar sejarah hal-hal lainnya, baru kali ini saya tahu kalau debut Dani Pedrosa dan Casey Stoner itu di tim yang sama! Cuma bedanya pada waktu itu (2001) status Pedrosa adalah pembalap reguler, sementara Stoner wildcard. Kalau begitu jadi semakin jelas kenapa nomor start Stoner adalah #27 dan mungkin kesuksesannya di GP juga terpengaruh oleh nomor start tersebut. Kenapa begitu?

Casey Stoner 2001, mirip Adam Ciancarulo

Sebelumnya, saya cuma tahu kalau Telefonica Movistar Junior Team hanya berisi Toni Elias, Joan Olive, dan Dani Pedrosa. Ketiganya diasuh oleh manager yang eks-pembalap GP, Alberto Puig. Sebagai pembalap yang masih muda, urusan nomor start ternyata masih ditentukan oleh tim dan uniknya berurutan sesuai usia masing-masing pembalap.

Salah satu nomor start legendaris #24 (baca: Estoril 2006)

Toni Elias (24), Joan Olive (25), Dani Pedrosa (26). Cuma Toni Elias dan Dani Pedrosa yang masih mempertahankan nomor pilihan Puig tersebut sampai sekarang (dan menjadi salah dua nomor legendaris di MotoGP). Dan entah ada hubungannya atau tidak, cuma Joan Olive yang prestasinya biasa-biasa saja (tidak mampu menjadi juara dunia seperti Elias atau Pedrosa), terutama sejak naik kelas ke 250cc musim 2003 dan mengganti nomor start-nya!

Stoner #27. Kayak pernah tau helm OGK...

Lalu Stoner #27. Ia adalah anggota terbaru di tim Movistar Junior (sekaligus yang termuda). Otomatis mendapatkan nomor 27. Pada musim 2001, ia cuma turun di seri Inggris dan Australia sebagai pembalap wildcard. Waktu itu ia memakai nomor start 73 dan finish ke-17 di Donington dan mencetak 4 poin dengan finish ke-12 di Phillip Island. Kenapa 73? Mungkin karena aturan pemilihan nomor start untuk pembalap wildcard.

Stoner 2011, sepuluh tahun setelah debut (2x juara dunia MotoGP)

Semusim berikutnya Casey Stoner mulai memakai nomor start 27 sampai pensiun di akhir musim 2012. Hanya dua kali ia mengganti nomor menjadi 1 saat berstatus sebagai juara dunia bertahan (dan sayangnya justru gagal mempertahankan gelar).

Tapi ngeri juga kali ya... Elias, Pedrosa, dan Stoner tetap mempertahankan nomor pemberian Alberto Puig, dan ketiganya berhasil menjadi juara dunia. Sayang sekali Joan Olive ganti nomot start -_- / Arti sebuah dedikasi! (rz)

Analisis Motocross; Kalender Balap MXGP 2016!

Halo ASIA!

Anda pecinta travelling dan motocross? Berbahagialah karena tahun depan akan ada 2 seri MXGP yang akan digelar di Thailand dan Malaysia yang hanya berjarak satu minggu saja. Seri di Thailand masih menunggu konfirmasi, sementara seri di Malaysia sudah dipastikan akan digelar di sirkuit Sepang.

  1. 27 Februari // MXGP of Qatar (Losail)
  2. 6 Maret // MXGP of Thailand (Suphanburi/TBC)
  3. 13 Maret // MXGP of Malaysia (Sepang)
  4. 27 Maret //MXGP of Patagonia-Argentina (Neuquen)
  5. 3 April // MXGP of Leon-Mexico (Leon)
  6. 17 April // MXGP of Europe (Valkenswaard, Belanda)
  7. 1 Mei // MXGP of Latvia (Kegums)
  8. 8 Mei // MXGP of Germany (Teutschenthal)
  9. 15 Mei // MXGP of Trentino (Pietramurata, Italia)
  10. 29 Mei // TBA
  11. 5 Juni // MXGP of France (St Jean d’Angely)
  12. 19 Juni // MXGP of Great Britain (Matterley Basin)
  13. 26 Juni // MXGP of Lombardia-Italy (Mantova)
  14. 24 Juli // MXGP of Czech Rep (Loket)
  15. 31 Juli // MXGP of Belgium (Lommel)
  16. 7 Agustus // MXGP of Switzerland (Frauenfeld/Gachnang)
  17. 28 Agustus // MXGP of The Netherlands (Assen)
  18. 3 September // MXGP of the Americas (Charlotte Motor Speedway)
  19. 11 September // MXGP of the USA (Glen Helen)
  20. 25 September // Motocross of Nations (Maggiora, Italia)


Dari kalender sementara tersebut bisa kita pelajari beberapa hal, khususnya mengenai trend pemilihan venue untuk MXGP dan perkembangan Motocross modern ini.

EKSPANSI ASIA

Setelah Jepang terdepak dari kalender MXGP pada 2008, baru pada 2013 MXGP kembali ke Asia tepatnya di Losail, Qatar. Untuk musim 2016 seri Asia akan bertambah menjadi 3 setelah seri Malaysia masuk ke kalender. Lumayan untuk menambah jam internasional pembalap Asean.

Lalu Indonesia? Hanya disaat kejurnas Motocross atau Supercross bisa tayang di TV dan mendapatkan rating yang bagus. Ditambah berkembangnya kultur Motocross yang kuat di tanah air barulah Indonesia akan kembali menggelar GP. Kangen juga nonton seri GP di Indonesia seperti seri klasik MXGP Yogyakarta 1996 ini. Yuk nonton!



7 GRAND PRIX DI 3 NEGARA!

Dari sekian negara hanya Belanda, Italia, dan Amerika Serikat yang menggelar lebih dari satu seri di negara mereka. Hal ini sama dengan Spanyol, Amerika Serikat (lagi), dan Italia di MotoGP. Italia selalu mendapatkan minimal 2 seri MXGP tiap tahunnya. Di Amerika Serikat baru mulai 2016 akan menggelar 2 GP di waktu yang berdekatan. Hal ini berkaitan dengan ekspansi MXGP di Amerika Utara yang ingin menggelar balapan di West Coast dan East Coast.

Belanda juga sama saja, tetapi bedanya sejak tahun ini kejuaraan diselenggarakan di Valkenswaard dan TT Assen. Pemilihan TT Assen menggantikan Lierop berkaitan dengan konsep penyelenggara yang ingin venue bergaya ala ‘stadium’ seperti Supercross tetapi dengan karakter Motocross.

STADIUM-STYLE VENUE

Seperti yang saya bahas di poin sebelumnya, untuk musim 2016 kira-kira akan ada 3 venue bergaya ala ‘stadium’ layaknya venue Supercross. Yaitu; Assen, Sepang, dan Charlotte Motor Speedway. Hanya satu venue di Thailand yang saya belum mengetahui layout dan lokasinya seperti apa. Kalau trek Losail sih trek non permanen yang hanya memanfaatkan lahan kosong di dalam sirkuit dan jadilah night race motocross yang… sepi.

Mungkin penyelenggara ingin memanfaatkan tribun sirkuit untuk memanjakan penonton, tetapi tetap saja trek ini kurang diminati fans karena mencampur adukkan Motocross dengan Supercross. Yang terjadi di Amerika Serikat, seri Utah National di Miller Motorsport Park sudah didrop dari kalender untuk musim 2016 dan digantikan trek klasik Southwick (Moto-X 338). Hal tersebut menunjukkan seri dengan trek non-permanen kurang disukai fans (setidaknya di Amerika Serikat). Mungkin berbeda dengan fans di Eropa yang menikmati balap motocross di TT Assen. Prediksi saya untuk trek di Sepang kemungkinan besar akan dibangun di depan tribun backstraight. Untung saja F1 dan MotoGP digelar di akhir tahun sehingga masih cukup waktu untuk memperbaiki sirkuit pasca MXGP.

SAYONARA!

Beberapa seri MXGP yang dulu selalu muncul di kalender kini, satu per satu mulai hilang. Mulai dari seri Portugal (Agueda), Bulgaria (Sevlievo), dan kemungkinan besar musim depan akan kehilangan seri Spanyol dan Swedia. Hal seperti itu biasanya disebabkan animo penonton, pembalap, atau organizer lokal yang sudah menurun dan tidak menguntungkan lagi di mata penyelenggara.

Dari kalender sementara hanya tersisa satu seri yang akan belum fix. Kemungkinan besar salah satu dari dua seri tersebut akan menjadi pengisinya. Tetapi saya memprediksi seri Swedia akan tetap di kalender musim depan. Kenapa? Karena Spanyol kurang begitu greget kalau soal Motocross. Berbeda dengan mereka di MotoGP.

Well then, banyak kejutan-kejutan baru di MXGP musim depan yang mungkin akan menyenangkan. Setidaknya masih ada beberapa trek klasik seperti Glen Helen, Valkenswaard, Loket, St Jean d’Angely, dan trek terbaik MXGP 2015, Neuquen, yang akan berpadu dengan trek-trek gaya baru seperti Assen, Sepang, dan CMS. Sangat menarik karena di Amerika Serikat sendiri, karena musim depan justru seluruh seri akan benar-benar kembali ke 'trek alam' dan tidak akan ada lagi artificial track. (rz)