Tampilkan postingan dengan label Sirkuit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirkuit. Tampilkan semua postingan

News: The New Kyalami!

Update motorsport kali ini datang dari renovasi sirkuit Kyalami. Foto dari Google Maps memperlihatkan bagaimana layout sirkuit ini sekarang.





Home straight lebih 'panjang'

Chicane yang terbuang...

Unik juga kalau lihat foto sirkuit di google maps. Ada beberapa yang updatenya cepet, ada juga yang bertahun-tahun fotonya gitu aja terus. Misal Kyalami yang belum setahun direnovasi aja foto petanya udah langsung update. Sementara Silverstone yang sudah berubah sejak 2010 fotonya di google maps sekarang masih versi yang lama.

Layoyt lawas Kyalami dengan Chicane (T12)

Sirkuit Kyalami adalah sirkuit paling populer di Afrika Selatan dan pernah menggelar MotoGP, Formula 1, World Superbike dan A1GP. Ajang internasional terakhir yang digelar di sirkuit ini adalah World Superbike 2010.

Porsche x Kyalami

Juli 2014 sirkuit ini resmi dijual kepada Porsche South Africa seharga 205 juta Rand. Setelah itu langsung dilakukan perombakan sirkuit dengan fokus utama 4 apex pertama sirkuit. Terlihat setelah renovasi, Kyalami kini memiliki 5 apex di sektor pertama. Selain itu perubahan minor di chicane sebelum last corner yang kembali dihilangkan sehingga sekarang hanya berupa ‘kink’ saja. Juga perubahan T11 (Continental yang 'dimasukkan' lebih dalam lagi) yang membuat 2 short straight di sekitarnya menjadi lebih melengkung.

Apakah dengan renovasi ini event balap kelas dunia akan kembali lagi ke Afrika Selatan?

Mungkin saja! Tetapi kemungkinan besar terbatas untuk balap mobil dan balap Superbike. Karena untuk MotoGP sepertinya masih kurang aman, terlihat dari run-off area yang masih cukup sempit di beberapa tikungan cepat. Tetapi apapun itu, semoga Afrika Selatan kembali mewarnai dunia balap internasional lagi! Amin. (rz)

Analisis: Top 5 Sirkuit Baru yang 'Gagal' di Era Modern

Gagal disini ada dua definisi, (1) gagal memenuhi ekspektasi; membangun budaya motorsport lokal (2) gagal menjaga berlangsungnya sebuah kejuaraan untuk jangka waktu yang lama. Let's see!

P1 - ISTANBUL PARK

Contoh terbaik untuk 'kegagalan sebuah sirkuit modern'. Satu-satunya sirkuit internasional di Turki, pada awalnya diharapkan sebagai langkah awal terciptanya budaya motorsport lokal yang lebih baik. Memulai debut di 2005, sirkuit ini pernah menggelar banyak kejuaraan internasional seperti Formula 1, MotoGP, WTCC, Endurance, World Superbike, dan balap GT. Tetapi semua itu hanya sementara dan sekarang tidak ada lagi balapan internasional yang menggunakan lintasan Istanbul Park! World Superbike adalah kejuaraan internasional terakhir di sirkuit ini pada 2013 lalu. 

Sekarang hanya kejuaraan World RallyCross (WRX) yang digelar di sirkuit ini, tetapi hanya menggunakan sebagian kecil area sirkuit.


P2 - YEONGAM (Korea International Circuit)

Sirkuit ini didepak dari kalender F1 setelah hanya menggelar 4x balapan.Animo penonton yang minimalis serta venue yang kurang impresif adalah alasan utama hilangnya F1 dari Korea. Yeongam seolah-olah menjadi  bukti budaya motorsport lokal yang tidak berkembang dengan baik. Padahal negeri ini memiliki dua pabrikan mobil populer, Hyundai dan KIA, serta dua pabrikan ban yang ternyata lebih eksis di luar negeri; Kumho dan Hankook.

Sekarang hanya kejuaraan balap mobil GT level Asia yang digelar di sirkuit Yeongam. Sirkuit ini juga pernah dikabarkan akan menggelar balap Super GT Jepang tetapi akhirnya gagal terlaksana.

P3 - BUDDH

Proses pembangunan sirkuit Buddh pernah termasuk ke dalam tayangan Megastructures dari National Geographic. Untuk lintasannya sendiri tidak terlalu istimewa karena bergaya khas Hermann Tilke (long straight, slow corner & elevation change), hanya main granstand yang istimewa karena menggunakan atap bergelombang layaknya bangunan stadion sepakbola masa kini.

Formula 1 berlaga di sirkuit ini hanya 3x saja (2011-2013). Permasalahan penjadwalan membuat sirkuit ini absen untuk F1 2014 dan direncanakan akan kembali pada 2015. Tetapi pergantian pengelola sirkuit Buddh justru membuat F1 tidak kembali lagi ke India pada 2015 dan 2016

P4 - PORTIMAO

Proses pembangunan sirkuit Portimao juga tergolong spesial karena cukup singkat, kurang dari setahun sirkuit ini beres dan langsung digunakan untuk balapan World Superbike 2008. Sirkuit ini berlisensi FIA Grade 2 dan FIM Grade A sehingga bisa digunakan untuk kejuaraan MotoGP dan balap mobil dibawah F1. Tetapi fasilitas yang lebih modern juga tidak berhasil memindahkan MotoGP Portugal dari Estoril ke Portimao. Bahkan setelah MotoGP Portugal dihapus dari kalender, sirkuit ini juga tidak bisa berhasil menyelamatkannya. Untuk balap mobil hanya A1GP dan GP2 yang pernah mampir di sirkuit ini masing-masing untuk satu seri saja.


P5 - DUBAI AUTODROME

Posisi ke-5 adalah tempat yang pas untuk sirkuit Dubai Autodrome, sirkuit modern bertaraf internasional pertama di Uni Emirat Arab (UEA). Sirkuit ini dinobatkan sebagai Home of National Motorsport, sehingga wajar kalau untuk level internasional sirkuit ini 'gagal' bersaing dengan Yas Marina yang lebih modern. Positioning sirkuit Dubai (nasional) dan Yas Marina (internasional) mungkin sebagai strategi motorsport di UEA. Tetapi dengan fasilitas yang baik di Dubai, seharusnya ada banyak kejuaraan balap internasional yang singgah di UEA!


Well, itulah 5 sirkuit gagal versi notumoto. Motto kami 'Komentar suka-suka, Analisis seenaknya!'
Ciaoo! (rz)

Analisis; Sirkuit Tercepat dan Terlambat di MotoGP (+)

Gak akan ada yang menyangka kalau sirkuit dengan trek lurus terpanjang di MotoGP, Circuit of the Americas (Austin) adalah sirkuit terlambat kedua di MotoGP diatas sirkuit Valencia. Hal ini menjadi catatan yang cukup unik mengingat hampir semua trek MotoGP yang dirancang oleh Hermann Tilke kecepatan rata-ratanya maksimal 171 km/h (Istanbul Park). Sirkuit Sepang sendiri termasuk sirkuit medium dengan kecepatan rata-rata 165 km/h. Berikut adalah data lengkapnya.
  1. 177.6 km/h         Phillip Island
  2. 173.7 km/h         Mugello
  3. 173.3 km/h         Rio Hondo
  4. 173.2 km/h         Assen
  5. 167.8 km/h         Aragon
  6. 166.7 km/h         Losail
  7. 166.3 km/h         Brno
  8. 165.3 km/h         Catalunya
  9. 163.7 km/h         Sepang
  10. 161.1 km/h         Indianapolis
  11. 161.0 km/h         Sachsenring
  12. 160.7 km/h         Le Mans
  13. 159.3 km/h         Jerez
  14. 158.6 km/h         Austin
  15. 154.4 km/h         Valencia (data 2014)
  16. 153.0 km/h         Silverstone (wet race, 173.3 km/h 2014)
  17. 147.5 km/h         Motegi (wet race, 163.2 km/h 2014)
  18. 146.6 km/h         Misano (wet race, 160.4 km/h 2014)
*Semua data adalah versi 2015, kecuali data sirkuit Valencia dan 3 sirkuit di musim ini yang menggelar wet race sehingga data 2014 juga ikut disertakan.

Dari data di atas terlihat, sirkuit-sirkuit dengan berkecepatan tinggi justru mampu menyajikan pertarungan yang menegangkan di musim ini. Phillip Island, Rio Hondo, Aragon, Losail adalah beberapa diantaranya. Sementara Mugello cukup terkenal dengan battle MM dan JL pada musim lalu.

Sirkuit ini tidak cocok untuk MotoGP!

Sebaliknya, dari data diatas juga bisa disimpulkan kalau sirkuit-sirkuit lambat, terutama Austin, sangat tidak menarik untuk dijadikan sebagai venue balapan. Dari 9 pembalap yang kompetitif di babak kualifikasi (total hanya berjarak 1 detik antara grid 1 dan 9). Tetapi pada saat race hanya tersisa 3 pembalap saja yang bisa battle di depan. 

Sirkuit Austin ini berkarakter stop-and-go dengan banyak tikungan lambat. 3 tikungan lambat yang menurut saya paling menyebalkan adalah tikungan pertama serta 2 tikungan sebelum dan sesudah backstraight. Seharusnya hal ini bisa dijadikan pertumbangan kalau race seri Amerika Serikat lebih baik diadakan lagi di Laguna Seca yang sangat menantang!

Sementara itu sirkuit lain dengan kecepatan yang cukup lambat, terutama di Eropa, masih lebih baik dibandingkan Austin. Karena berkarakter technical, bukan stop-and-go seperti di Austin. Fakta menarik seputar kecepatan sirkuit dan hubungannya dengan race yang akan disajikan, bisa digunnakan sebagai pedoman perancang sirkuit dalam bekerja. Karena MotoGP lebih suka dengan sirkuit yang cepat atau lambat tetapi technical. #saran


Remus-Gosser, tantangan terberat

PLUS: Menarik untuk dinantikan aksi di sirkuit Spielberg (Red Bull Ring) musim depan dimana sirkuit ini juga berkarakter semi-stop-and-go dengan dua tikungan yang cukup tajam.


Update Sirkuit TT Assen (Pasca MXGP)

Beruntung MotoGP Assen digelar jauh sebelum MXGP Assen. Kalau tidak, pemandangan sirkuit sirkuit seperti inilah yang akan terlihat di MotoGP. Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, sirkuit motocross Assen untuk kejuaraan MXGP akhir Agustus 2015 kemarin dibangun diatas trek aspal dan rumput di sektor terakhir (triangle) sirkuit Assen. Hasilnya setelah ajang MXGP tersebut rumput-rumput di sisi lintasan rusak dan ditambah cuaca hujan jadilah kubangan air dan lumpur.


























Gambar diatas diambil dari kejuaran British Superbike seri ke-10 di sirkuit Assen, tepat 3 minggu setelah kejuaraan MXGP. Kotor deh :(

Well, meskipun kotor, saya kasih bonus aja deh highlights MXGP Assen 2015. Musim ini benar-benar kebangkitan tim-tim selain Red Bull KTM. Tidak ada nama-nama 'tradisional' seperti Antonio Cairoli dan Jeffrey Herlings yang mendominasi MXGP beberapa tahun terakhir.

Gantinya adalah Romain Febvre (Yamaha), Shaun Simpson (KTM), Max Anstie (Kawasaki), dan Tim Gajser (Honda) yang menjuarai MXGP seri Assen ini. Plus nama Glen Coldenhoff, crosser tuan rumah yang berhasil runner-up race 2. Uniknya ia memakai nomor start 259 (nomor James Stewart sebelum mendapatkan nomor karier). Merata juaranya!





Gak kalah menarik juga race ke-2 British Superbike seri Assen ini. Balapan ini digelar di kondisi trek yang gak menentu. Dan Linfoot berjudi dengan memakai ban basah di trek yang mulai mengering. Efeknya sih lumayan di awal race. Dari P8 di tikungan pertama hingga P1 di tikungan terakhir lap pertama. Tapi sayang hasil akhirnya ia hanya finish di posisi 22.

Tapi yang menarik juga adalah double win Josh Brookes (Yamaha). Dengan hasil seri Assen ini ia kini memimpin klasemen dengan keunggulan 26 angka dari Shane Byrne di posisi kedua (577). Selain itu performa Yamaha R1 yang dikendarai Brookes juga menunjukkan bahwa mesin ini sudah cukup siap untuk berlaga di World Superbike. Saya sendiri menunggu debut mesin ini di World Superbike (entah kapan), dan jika mendapatkan rider yang cocok; besar kemungkinan Yamaha R1 bisa langsung menjuarai WSBK. (Harapan saya duo America, Cameron Beaubier atau Josh Herrin bisa mengulang sukses Ben Spies di 2009 lalu).


EXTRA, Ekspektasi 2016, Sirkuit Baru! (Bagian 1)

Saya adalah tipe fans balap yang lebih suka melihat lintasan atau sirkuit baru dibandingkan kejuaraan yang akan berlangsung. Karena menurut saya, lebih banyak tahu tentang sirkuit-sirkuit di seluruh dunia adalah hal yang sangat menyenangkan. Tiap musim balap berganti saya selalu menanti berita-berita pasti hingga rumor tentang sirkuit-sirkuit apa saja yang bakalan digunakan musim selanjutnya.

Bukan cuma untuk musim-musim balap yang akan datang. Saya juga suka menjelajahi YouTube hanya untuk mencari kejuaraan-kejuaraan balap yang belum saya ketahui dari seluruh dunia. Begitu pula mencari video balap lawas hanya untuk mengetahui sirkuit-sirkuit yang sudah tidak lagi aktif atau untuk mengetahui layout lama sebuah sirkuit yang telah berbeda dengan versi modernnya.


Untuk musim balap 2016, beberapa sirkuit baru sudah masuk watch list saya dan sudah tidak sabar untuk melihatnya. Mayoritas adalah sirkuit-sirkuit jalan raya yang masih cukup sulit ditebak bentuk finalnya sebelum kita melihat free practice pertama. Karena hanya MotoGP yang disiarkan langsung di TV gratis Indonesia, untuk kejuaraan balap lainnya saya mengandalkan streaming dari internet. 

#1 BOSTON Street Circuit (IndyCar)

Boston Street Circuit

Untuk kesekian kalinya ajang balap IndyCar akan mendapatkan satu sirkuit jalan raya baru yang terletak di Boston Seaport District. Kejuaraan dengan nama Grand Prix of Boston ini rencananya akan digelar pada tanggal 4 September 2016 atau hampir setahun lagi. Semoga saja visual sirkuit ini bisa lebih baik dibandingkan sirkuit jalan raya Baltimore.


#2 BAKU Street Circuit (Formula 1)

Baku Street Circuit

Akhirnya European Formula 1 Grand Prix kembali lagi ke kalender setelah sirkuit jalan raya di Baku, Azerbaijan, dikonfirmasi sebagai venue untuk seri ke-10 yang berlangsung pada tanggal 17 Juli 2016. Sirkuit ini cukup unik karena mempunyai flat out section sepanjang hampir 2,2 km.


#3 KUALA LUMPUR Street Circuit (V8 Supercars)

Kuala Lumpur Street Circuit
Petunjuk satu lap KL City Grand Prix bersama Craig Lowndes



Sirkuit ini sebenarnya sudah dipakai untuk ajang KL City Grand Prix pada awal Agustus 2015 kemarin. Tetapi untuk ajang balap resmi (championship), sirkuit ini baru akan dipakai untuk 2016 International V8 Supercars seri ke-9 pada 13-14 Agustus 2016.


#4 PARIS Street Circuit (Formula E)

Untuk musim balap Formula E 2015-16, terdapat 2 sirkuit baru yaitu untuk Paris ePrix dan satu sirkuit lainnya masih belum dikonfirmasi. Tetapi untuk gelaran Paris ePrix saja publik belum tahu layout atau lokasi trek yang akan digunakan seperti apa. Sirkuit Paris ini menggantikan sirkuit Monaco untuk regional Perancis/Monaco. Oleh karena itu kita berharap saja landscape eksotis kota Paris bisa digunakan sebagai latar dari sirkuit jalan raya yang akan dibangun besok (supaya tidak kalah dengan Monaco hehe).

Dari 4 sirkuit jalan raya baru diatas, 3 diantaranya sudah kita ketahui layoutnya. Ketiganya benar-benar dibangun di perkotaan padat dan menurut saya layoutnya sederhana tapi menantang. Dengan minimnya area untuk run-off menjadikan sirkuit-sirkuit tersebut menjadi sirkuit jalan raya yang sebenar-benarnya (tapi mungkin tidak untuk Baku, entahlah).

Yang pasti, musim 2016 juga patut kita tunggu-tunggu apakah renovasi sirkuit Sentul bisa dengan lancar terlaksana atau tidak. Plus dengan janji renovasi yang hanya satu tahun saja, berarti pada akhir 2016 sudah bisa kita lihat ujud baru sirkuit Sentul yang akan digunakan untuk MotoGP 2017. Semoga! (rz)

Opini; Sirkuit Baru MotoGP 2016 & Apakah Amerika Serikat Mulai Tidak Tertarik dengan MotoGP?

Oke, hari ini ada satu berita penting yaitu tentang kalender sementara MotoGP 2016 yang dirilis oleh Dorna. Dan dari 1 berita ini ternyata mempunyai banyak cerita di dalamnya. Apa sajakah itu ?

Pertama adalah tentang sirkuit-sirkuit baru yang selama ini diberitakan akan masuk ke kalender serta beberapa sirkuit yang harus angkat kaki di Grand Prix. Sirkuit Red Bull Ring (Spielberg) di Austria secara resmi masuk ke kalender. Perkiraan saya, GP Austria akan sedikit banyak menarik animo  penonton yang berasal dari Jerman karena kedekatan geografis dan budaya dua negara. Sementara itu sirkuit Condegua (GP Chile) tak nampak dalam kalender.

Osterreichring a.k.a Spielberg a.k.a Red Bull Ring (favorit)

Jumlah seri akan tetap 18 Grand Prix (sama dengan musim 2015) hasil dari dihapusnya GP Indianapolis. Slot waktunya persis diisi oleh GP Austria. Itu artinya sirkus MotoGP tidak usah ‘berkelana’ ke benua Amerika hanya untuk satu seri saja (Indianapolis). Sirkuit Spielberg sendiri adalah salah satu favorit saya. Sirkuit ini telah menggelar F1 lagi sejak dibeli oleh Red Bull. Treknya sangat indah, berada di pegunungan khas eropa tengah, dan banyak variasi elevasi. Salah satu bagian trek yang menurut saya paling menarik adalah trek lurus ketiga (antara R2/Remus dan R3/Gosser). Karakter trek lurus yang melengkung dan menurun plus jarak dengan pembatas trek yang cukup dekat, mengingatkan saya dengan backstraight sirkuit Salzburgring yang menurut Mick Doohan seperti "threading a motorcycle through the eye of a needle at 180mph whilst banging fairings with your competitors with armco barriers on each side"

Kedua, secara tidak langsung  dihapusnya GP Indianapolis menunjukkan bahwa Amerika Serikat mulai tidak tertarik dengan Grand Prix (atau balap motor secara keseluruhan). Kondisi yang ada saat ini sangat berbeda dengan 10 tahun lalu saat Laguna Seca kembali menggelar GP Amerika Serikat setelah 12 tahun absen. Amerika mulai kehilangan satu per satu Grand Prixnya. Dan pertanyaan apakah sirkuit CoTA (Austin) yang lebih kental dengan F1 akan berakhir sama dengan Shanghai atau Istanbul yang hanya bertahan beberapa musim saja? Ataukah GP AS akan kembali lagi ke Laguna Seca? Semoga saja.

Nicky Hayden, Laguna Seca 2005


Jika kita tarik ke belakang. kembalinya Laguna Seca pada 2005 lalu juga mencuatkan semangat juang pembalap Amerika Serikat hingga Nicky Hayden berhasil menjuarai MotoGP 2006. Pada waktu itu juga ada 5 pembalap dari benua Amerika (dari AS dan negara Amerika Latin) sebagai pembalap MotoGP regular (Hopkins, Roberts, Edwards, Porto, Barros). Jadi wajar jika MotoGP di Amerika mulai bergeliat lagi, apalagi ditambah munculnya the Elbows (Ben Spies) di pentas dunia. Buktinya adalah muncul GP Indianapolis (2008) yang disusul GP Americas (2013) dan GP Argentina (2014).

Tapi yang terjadi sekarang berbeda. Regenerasi pembalap dari benua Amerika (pada umumnya) kurang mulus. Praktis hanya Nicky Hayden dan Yonny Hernandez yang bertarung di kelas utama MotoGP. Josh Herrin yang musim lalu mencoba peruntungan di Moto2, musim ini kembali ke MotoAmerica karena gagal bersaing (karena cedera dan tim permasalahan internal tim Caterham).

Kompetisi dalam negeri Amerika Serikat (MotoAmerica) juga tengah mengalami krisis. Animo pembalap dan penonton yang semakin menurun (terutama di kelas Superbike) adalah salah satu masalah utama. Pengelola balapan juga dikritik karena tidak bisa menyajikan tontonan balap berkualitas yang ramah kepada penonton, jika dibandingkan dengan kompetisi superbike terbaik di dunia; British Superbike.

Hanya ada satu balap Grand Prix di Amerika Serikat adalah rekor terendah sejak 2008. Bahkan jika dibandingkan dengan dua musim lalu, jumlah balap internasional di Amerika Serikat menurun drastis. Dari 3 GP dan 1 Superbike pada 2013, menjadi hanya 1 GP dan 1 Superbike pada musim 2016.

Turunnya animo balap seperti di atas dan berimbas kepada jumlah pembalap yang beradu di pentas dunia sebenarnya pernah dialami Jepang pasca meninggalnya Daijiro Kato. Disusul dengan hilangnya sirkuit Suzuka dan meninggalnya Norick Abe plus Shoya Tomizawa. Kini Jepang hanya diwakili Takaaki Nakagami (23 th) di kelas Moto2. Pembalap lain yang dinilai lebih berpengalaman seperti Ryuichi Kyonari (BSB), Katsuyuki Nakasuga (MFJ-JSB1000) dan Yuki Takahashi (Asia) dirasa sudah cukup ‘tua’.
Takumi Takahashi, Motegi 2014

Harapan saya sih Takumi Takahashi (26 th, Honda) memulai debut di pentas dunia, hehe

. Salam speed (rz)

Opini; Sirkuit Yang Seharusnya Masih Menggelar MotoGP

Jujur saja, saya masih kurang puas dengan kalender MotoGP sekarang ini. Banyak sirkuit baru yang menggantikan sirkuit-sirkuit lama, tapi justru menurut saya kurang cocok untuk MotoGP. Kelima sirkuit yang seharusnya masih menggelar GP itu adalah:

Suzuka

Suzuka

Seharusnya MotoGP masih bertahan di sirkuit Suzuka dan mungkin Motegi tetap menggelar GP dengan title Pacific Grand Prix atau bahkan Asian Grand Prix (seperti di F1 ada European Grand Prix). Kenapa dua GP? Wajar saja sih, pabrikan Jepang kan dominan di MotoGP.

Oke, sirkuit Suzuka memang lebih disukai fans. Layoutnya teknikal, cepat, dan menantang. Selain itu akses fans di sirkuit ini lebih baik dibanding Motegi. Tapi masalahnya sirkuit Suzuka dinilai masih kurang aman untuk balap sekelas MotoGP. Mungkin lisensi sirkuit Suzuka FIM Grade B (maksimal hanya boleh menggelar balap Superbike).

Tapi jika ada sedikit keinginan untuk mempertahankan MotoGP dengan cara merenovasi sirkuit demi meningkatkan sisi keselamatan, Suzuka pasti bisa. Menurut analisis saya, masalah utama cuma pada R1, Spoon Curve dan 130R. R1 dan Spoon Curve cukup didesain ulang (diperpendek) untuk menyediakan extra run-off area. Kemudian untuk 130R, imajinasi saya sih sangat memungkinkan untuk dibuat chicane baru di sisi dalam 130R. Fungsinya untuk mengurangi kecepatan di exit 130R hingga Casino Triangle.

Dan pada akhirnya, semua itu tergantung keputusan Honda. Mengingat dua sirkuit di Jepang yang menggelar Grand Prix (F1 dan MotoGP), semuanya milik Honda.

Donington Park

Donington Park

Keputusan memindahkan venue British Grand Prix dari Donington Park ke Silverstone adalah salah satu keputusan yang paling saya sesalkan. Selama beberapa tahun mindset saya telah terbentuk bahwa; Silverstone itu untuk F1, dan Donington Park itu untuk MotoGP. Begitu pula saat rencana MotoGP Inggris akan diadakan di Circuit of Wales; saya masih pesimistis dengan CoW itu.

Trek Donington Park lebih cocok untuk MotoGP. Dilihat dari panjang trek yang cuma 4 km.Otomatis balap disana lebih banyak lapnya, lebih banyak tikungan, dan lebih banyak kesempatan overtake. Ditambah lagi sirkuit Donington Park lebih menantang karena variasi elevasi trek.

British Grand Prix seringkali digelar dalam kondisi wet race, termasuk di Silverstone. Tetapi drama yang tersaji di Donington Park jauh lebih mendebarkan dibanding di Silverstone 2015 kemarin. Tentu pecinta MotoGP masih ingat bagaimana Ralf Waldmann mampu menjuarai GP250 setelah tertinggal puluhan detik dari Olivier Jacque (P1) hingga 3 lap terakhir. Atau drama 12 pembalap yang berhasil finish di MotoGP 2005; waktu itu Valentino Rossi benar-benar mengukuhkan dirinya sebagai the Rain Master.

Laguna Seca

Laguna Seca

Jika disuruh memilih Laguna Seca, Austin, atau Indianapolis; tentu saya memilih Laguna Seca. Sirkuit ini cepat, roller-coaster, dan terbukti mampu menyajikan battle menarik. Contohnya saja MotoGP 2008 (Stoner vs Rossi) dan MotoGP 2013 (Marquez vs Rossi). Dan dari itu semua, daya tarik utama adalah chicane Corkscrew.

Tapi sayang, kejadian terakhir di sirkuit ini saat duo pembalap Spanyol tewas di race superbike MotoAmerica 2015 menimbulkan kekhawatiran tentang sisi keselamatan sirkuit Laguna Seca. Memang sih kejadian itu lebih kepada race accident. Tetapi kalau dilihat dari foto satelit, jarak dinding pembatas trek memang cukup dekat dengan sisi lintasan. Hmmm…

Estoril

Estoril

Estoril atau Grand Prix Portugal hanya menggelar balapan sebanyak 13 kali dari tahun 2000-2012. Jujur saya belum tahu kenapa GP tidak kembali lagi ke sirkuit ini. Memang kalau dilihat dari animo balap motor Portugal memang masih kurang, dibandingkan dengan negara tetangga ; Spanyol. Hanya Miguel Oliveira saja yang mampu kompetitif dan mewakili Portugal di MotoGP.

Terlepas dari itu semua, race MotoGP Estoril 2006 adalah bukti nyata bagaimana sirkuit ini mampu menghasilkan battle yang menarik. Layout sirkuit ini mirip dengan sirkuit Catalunya, tempat battle paling menarik selanjutnya, Rossi vs Lorenzo, terjadi 3 tahun setelah race 2006 tadi. Jadi sudah sangat jelas jika dua sirkuit dengan layout ala hewan kepiting ini sebenarnya ‘saudara jauh’, sama-sama mampu menghasilkan battle berkelas, hehe.

Phakisa

Phakisa

Kalau melihat Grand Prix sebagai kejuaraan dunia; sudah pasti mereka harus singgah di benua Afrika. Dan salah satu venue paling memungkinkan untuk menggelar GP adalah Phakisa Freeway (Welkom). Sirkuit ini terakhir kali menggelar GP pada musim 2004. Karakter sirkuit yang pendek-pendek dan mengalir (mirip dengan Assen) adalah jaminan race bakalan menarik.

Dan menurut saya jika Phakisa ingin kembali menggelar GP (atau Superbike seperti tahun 2014 yang kemudian gagal); sirkuit ini harus berbenah memperbaiki akses atau infratruktur penunjang guna meningkatkan animo penonton lokal dan global. Terlihat dari foto satelit ini, sirkuit Phakisa seperti in the middle of nowhere dengan tribun penonton yang minimalis (hampir sama dengan gurun Losail)


Kalender MotoGP Ideal (20 balapan)
  1. Losail
  2. Suzuka
  3. Sentul*
  4. Rio Hondo
  5. Laguna Seca
  6. Jerez
  7. Le Mans
  8. Mugello
  9. Catalunya
  10. Assen
  11. Sachsenring
  12. Phakisa
  13. Brno
  14. Spielberg
  15. Misano
  16. Donington Park
  17. Motegi
  18. Phillip Island
  19. Sepang
  20. Valencia

(rz)