Analisis; Bursa Pembalap 2016! (Part 1)

MotoGP 2015 sudah memasuki seri ke-13 di bulan September. Itu artinya tinggal dua bulan lagi (Oktober-November) tiap-tiap tim memastikan line-up pembalap untuk musim 2016. Tetapi berbeda dengan musim-musim sebelumnya (terutama saat terjadi eksodus rookie berkualitas), musim 2016 terasa sangat tidak menarik. Kenapa begitu?

Podium pertama Scott Redding justru diraih di masa-masa terakhirnya
bersama tim Marc VDS Racing, lebih tepatnya di seri ke-13!

Pertama, 16 kursi pembalap sudah terkonfirmasi sejak jauh-jauh hari. Rata-rata tim pabrikan hingga tim satelit sudah memastikan bahwa line-up musim 2016 sama dengan line-up musim 2015. Terhitung tim Movistar Yamaha, Repsol Honda, Ecstar Suzuki, Ducati Team, dan Monster Yamaha tidak mengubah line-up pembalapnya. Hanya ada 1 pembalap yang telah dipastikan pindah tim, yaitu Scott Redding (Marc VDS Racing > Pramac Racing). Itu artinya hampir tidak ada rookie 2016 yang bergabung dengan tim-tim mapan.

Kedua, dari 25 motor yang dikonfirmasi akan berlaga di MotoGP 2016, hanya tersisa 8 motor saja. 7 diantaranya adalah motor kelas Open. Hanya ada satu motor spek pabrikan (Marc VDS) yang kemungkinan besar akan digunakan oleh Tito Rabat.

Menurut saya beberapa tahun terakhir ini motor kelas Open justru 'merusak' karier pembalap. Apa gunanya menjadi juara di ajang balap lain jika hanya ingin bergabung ke MotoGP dengan motor kelas Open? Itulah yang dialami Eugene Laverty, Loris Baz, dan Stefan Bradl. Karier ketiganya meredup saat menunggangi motor kelas Open.

Tidak ada jaminan motor kelas Open akan kompetitif atau mampu menyaingi motor spek pabrikan membuat pembalap-pembalap top, para juara dari kelas atau ajang lain, kemungkinan besar akan berpikir 2 kali jika ditawari membalap dengan motor kelas Open.

Dan jika hal itu benar-benar terjadi, maka kedepannya hanya ada rookie-rookie kelas dua saja yang akan menerima tawaran membalap dengan motor kelas open. Kecuali mungkin untuk pembalap titipan misalnya Jack Miller (Honda) yang dititipkan ke tim LCR Honda. Kemungkinan besar ia akan menggantikan Dani Pedrosa di masa depan.

Kembali lagi ke topik awal. Menurut analisis saya, baru ada Tito Rabat yang sepertinya akan menggantikan Scott Redding di tim Marc VDS. Lalu yang menarik adalah Jack Miller. Posisinya di tim LCR Honda justru belum dikonfirmasi. Hal itu membuat saya, berimajinasi bagaimana kalau Miller 'disekolahkan' Honda ke kelas Moto2 dengan menggantikan posisi Tito Rabat di tim Marc VDS? Disitu ia akan mendapatkan rekan setim yang usianya hampir sama dan kemungkinan akan menjadi rivalnya, Alex Marquez.

Menarik untuk melihat tim Marc VDS Moto2 sebagai 'ajang seleksi' pembalap yang akan menggantikan Dani Pedrosa.

(bersambung) (rz)


EXTRA, Ekspektasi 2016, Sirkuit Baru! (Bagian 1)

Saya adalah tipe fans balap yang lebih suka melihat lintasan atau sirkuit baru dibandingkan kejuaraan yang akan berlangsung. Karena menurut saya, lebih banyak tahu tentang sirkuit-sirkuit di seluruh dunia adalah hal yang sangat menyenangkan. Tiap musim balap berganti saya selalu menanti berita-berita pasti hingga rumor tentang sirkuit-sirkuit apa saja yang bakalan digunakan musim selanjutnya.

Bukan cuma untuk musim-musim balap yang akan datang. Saya juga suka menjelajahi YouTube hanya untuk mencari kejuaraan-kejuaraan balap yang belum saya ketahui dari seluruh dunia. Begitu pula mencari video balap lawas hanya untuk mengetahui sirkuit-sirkuit yang sudah tidak lagi aktif atau untuk mengetahui layout lama sebuah sirkuit yang telah berbeda dengan versi modernnya.


Untuk musim balap 2016, beberapa sirkuit baru sudah masuk watch list saya dan sudah tidak sabar untuk melihatnya. Mayoritas adalah sirkuit-sirkuit jalan raya yang masih cukup sulit ditebak bentuk finalnya sebelum kita melihat free practice pertama. Karena hanya MotoGP yang disiarkan langsung di TV gratis Indonesia, untuk kejuaraan balap lainnya saya mengandalkan streaming dari internet. 

#1 BOSTON Street Circuit (IndyCar)

Boston Street Circuit

Untuk kesekian kalinya ajang balap IndyCar akan mendapatkan satu sirkuit jalan raya baru yang terletak di Boston Seaport District. Kejuaraan dengan nama Grand Prix of Boston ini rencananya akan digelar pada tanggal 4 September 2016 atau hampir setahun lagi. Semoga saja visual sirkuit ini bisa lebih baik dibandingkan sirkuit jalan raya Baltimore.


#2 BAKU Street Circuit (Formula 1)

Baku Street Circuit

Akhirnya European Formula 1 Grand Prix kembali lagi ke kalender setelah sirkuit jalan raya di Baku, Azerbaijan, dikonfirmasi sebagai venue untuk seri ke-10 yang berlangsung pada tanggal 17 Juli 2016. Sirkuit ini cukup unik karena mempunyai flat out section sepanjang hampir 2,2 km.


#3 KUALA LUMPUR Street Circuit (V8 Supercars)

Kuala Lumpur Street Circuit
Petunjuk satu lap KL City Grand Prix bersama Craig Lowndes



Sirkuit ini sebenarnya sudah dipakai untuk ajang KL City Grand Prix pada awal Agustus 2015 kemarin. Tetapi untuk ajang balap resmi (championship), sirkuit ini baru akan dipakai untuk 2016 International V8 Supercars seri ke-9 pada 13-14 Agustus 2016.


#4 PARIS Street Circuit (Formula E)

Untuk musim balap Formula E 2015-16, terdapat 2 sirkuit baru yaitu untuk Paris ePrix dan satu sirkuit lainnya masih belum dikonfirmasi. Tetapi untuk gelaran Paris ePrix saja publik belum tahu layout atau lokasi trek yang akan digunakan seperti apa. Sirkuit Paris ini menggantikan sirkuit Monaco untuk regional Perancis/Monaco. Oleh karena itu kita berharap saja landscape eksotis kota Paris bisa digunakan sebagai latar dari sirkuit jalan raya yang akan dibangun besok (supaya tidak kalah dengan Monaco hehe).

Dari 4 sirkuit jalan raya baru diatas, 3 diantaranya sudah kita ketahui layoutnya. Ketiganya benar-benar dibangun di perkotaan padat dan menurut saya layoutnya sederhana tapi menantang. Dengan minimnya area untuk run-off menjadikan sirkuit-sirkuit tersebut menjadi sirkuit jalan raya yang sebenar-benarnya (tapi mungkin tidak untuk Baku, entahlah).

Yang pasti, musim 2016 juga patut kita tunggu-tunggu apakah renovasi sirkuit Sentul bisa dengan lancar terlaksana atau tidak. Plus dengan janji renovasi yang hanya satu tahun saja, berarti pada akhir 2016 sudah bisa kita lihat ujud baru sirkuit Sentul yang akan digunakan untuk MotoGP 2017. Semoga! (rz)

Review MotoGP San Marino 2015

Ini pertama kalinya saya bikin review balap MotoGP. Grand Premio TIM di San Marino e Della Riviera di Rimini adalah GP pertama yang akan saya review.

Entah berhubungan atau tidak, helm 'ikan' Vale merefleksikan
keadaan lintasan saat raceday, Bad luck Vale!

Oke. Sekali lagi gambling cuaca bikin MotoGP kali ini kurang seru. Kondisi kering-basah-kering membuat balap tidak lagi tentang aksi overtaking, tetapi lebih ke pemilihan strategi penggunaan ban dan kapan masuk pitlane untuk ganti motor.

Sampai lap 16 atau 17 saya lupa, Marquez sudah masuk pit untuk mengganti motornya ke settingan kering (settingan awal). Sementara itu Lorenzo dan Rossi masing-masing bergantian mengganti motor lap berikutnya.

Pitlane's traffic

Saya sangat terkejut ketika mengetahui perbedaan lap-time Rossi (P1) dan Marquez (P3 setelah ganti motor kedua) sekitar 6 detik per lap (lebih cepat Marquez). Wow! Disini optimisme saya kalau Rossi bakalan menang (atau podium) semakin menipis.

Coba hitung dengan perhitungan sederhana. Jika lap sebelum top 3 mengganti motor kedua cuma berbeda 2 detik diantaranya (+4s antara Rossi dan Marquez). Sementara anggap saja waktu yang dibutuhkan oleh masing-masing pembalap untuk mengganti motor dan melintasi pitlane adalah 20 detik, berarti Marquez sudah tertinggal 24 detik dari Rossi saat ia keluar dari pitlane.

Tapi dengan keuntungan 6 detik per lap yang dimiliki Marquez membuat ia hanya berjarak 12 detik saat The Doctor masuk ke pitlane 2 lap setelahnya. Otomatis setelah Rossi kembali ke lintasan, gap antara keduanya kini cuma sekitar 8 detik (20s-12s). Ditambah adaptasi lintasan setelah Rossi kembali, gap yang diciptakan tentu lebih besar lagi. (Perhitungan diatas hanya perkiraan saja biar lebih sederhana hehe).

Mengejar gap kurang lebih 8 detik di 5 lap menjelang finish untuk Rossi adalah hal yang mustahil. Terlebih setelah melihat hasil resmi yang dirilis MotoGP.com, gap sebenarnya antara Rossi (P5) dan Marquez (P1) adalah 33 detik. Wow!

Balap di kondisi tak menentu seperti MotoGP Misano ini memang cenderung mengundang drama. Semua pasti masing ingat bagaimana Alex Barros (Camel Honda), Marco Melandri (Fortuna Honda), dan Chris Vermuelen (Rizla Suzuki) secara tidak terduga menjuarai MotoGP Portugal 2005, MotoGP Australia 2006, dan MotoGP Perancis 2007 di kondisi yang serupa. Untuk MotoGP Misano kali ini kejutan terbesar menurut saya adalah hasil yang sangat tidak terduga yang diraih Bradley Smith, Scott Redding, dan Loris Baz (P2-P4). Catatan untuk Scott Redding, ia bahkan sempat terjatuh di awal lomba saat masih menggunakan motor kering di trek basah. Luck!

Dan untuk MotoGP modern ini (1000cc), Marc Marquez adalah rider paling beruntung karena (seingat saya) dia berhasil menjuarai 3 GP di kondisi serupa. Selain Misano 2015, ia berhasil menjuarai Assen 2014 dan Sachsenring 2014. Sementara itu mungkin Valentino Rossi adalah rider yang selalu kurang beruntung. Setau saya ia belum pernah menjuarai balap di kondisi seperti ini. Bahkan memori terburuk adalah saat ia terjatuh di Le Mans 2009, beberapa lap setelah ia mengganti motornya.

Marc Marquez menjadi lebih santai menjalani sisa musim 2015.

Yang pasti posisi 5 Valentino Rossi kali ini setidaknya menambah keuntungan 11 poin di klasemen. 'Terimakasih' untuk Jorge Lorenzo yang DNF sehingga posisi keduanya kini di klasemen terpaut 23 angka. Dengan 5 balapan tersisa, pertarungan MotoGP menjadi lebih seru. Selisih 63 poin antara Rossi dan Marquez juga masih bisa dikejar tetapi kemungkinannya sangat tipis.

Klasemen MotoGP 2015 (setelah seri ke-13)

1              247         Valentino Rossi
2              224         Jorge Lorenzo (+23)
3              184         Marc Marquez (+63)
4              159         Andrea Iannone (+88)
5              135         Bradley Smith (+112)

#Sekali lagi Rossi kurang beruntung & strategi yang sangat jitu dari Marquez (belajar dari Aragon 2014 mungkin, hehe) (rz)

THE BEST LAST LAP BATTLE! Grand Prix Klasik Era 90'an

Sambil menunggu tayangan MotoGP San Marino 2015 yang tayang sore hari ini di Trans 7, tidak ada salahnya kita lihat lagi pertarungan-pertarungan menarik balapan kelas junior di Grand Prix era 90'an.

Pertarungan-pertarungan menarik dibawah ini baru saja saya ketahui setelah menjelajahi YouTube untuk menyaksikan Grand Prix klasik, terutama untuk kelas junior (250cc-125cc). Dan saya pilihkan battle lap terakhir di GP125 Spanyol 1995 dan GP250 Jerman 1997.


#1 Bagaimana Mengalahkan Lawan Menjelang 200 m dari Garis Finish ala Haruchika Aoki!




Tikungan 13 atau tikungan terakhir sirkuit Jerez adalah tempat favorit pembalap MotoGP untuk mengunci kemenangannya. Wajar saja karena tikungan tersebut adalah tikungan lambat dan garis finish sudah cukup dekat dari tikungan itu.

Tapi hal tersebut tidak terjadi di last lap battle antara Stefano Perugini dan Haruchika Aoki di kelas 125cc Jerez 1995 ini. Perugini yang masih memimpin balap hingga menuju garis finish justru dikalahkan Aoki yang sedikit sempat memperagakan teknik slip stream!

Terlihat dari video di atas bagaimana Haruchika Aoki memenangi balapan adalah teknik memilih racing line menjelang tikungan terakhir. Ia memilih racing line yang agak melebar (keluar) sementara Perugini lebih ke dalam. Dengan radius putar yang lebih panjang dibanding Perugini, Haruchika Aoki mempunyai keuntungan karena motornya bisa langsung berakselerasi dengan kencang saat keluar tikungan. Dan teknik menggiring lawan meliuk di main straight cukup untuk mengalahkan sang leader. What a race?!


#2 Kemenangan Luar Biasa Tetsuya Harada di Nurburgring 1997. Akselerasi yang mengagumkan!



Bagaimana mungkin seorang pembalap yang tertinggal hingga 1 detik dari pembalap terdepan hingga 3 tikungan terakhir tetapi justru berhasil memenangi lomba? Sekali lagi Tetsuya Harada-san menunjukkan kelasnya dengan satu teknik pengintaian lapangan yang luar biasa dan dengan sekali akselerasi yang mengagumkan ia berhasil memenangi balapan.

Kemenangan Harada juga tidak terlepas dari manuver berbahaya Olivier Jacque di chicane terakhir sirkuit Nurburgring. Pada waktu itu ia sedang berebut posisi terdepan dengan Max Biaggi. Karena manuver late braking yang tidak sempurna, membuat Biaggi maupun Jacque sama-sama terpaksa keluar dari racing line dan itu cukup memangkas banyak gap dengan posisi 3 (Ralf Waldmann) dan posisi 4 (Tetsuya Harada).

Harada yang melihat kondisi tersebut langsung saja menyalip Waldmann yang ikut panik dengan satu manuver cantik di exit chicane dan dengan sekali akselerasi ia juga mampu menyalip Biaggi dan Jacque yang juga sedang melaju pelan. What a race?!

Well, sekian dulu video edisi kali ini. Thanks banget untuk channel YouTube Tak525 dan whitewhiteaj plus MotoGP tentunya! (rz)

Opini; Sirkuit Baru MotoGP 2016 & Apakah Amerika Serikat Mulai Tidak Tertarik dengan MotoGP?

Oke, hari ini ada satu berita penting yaitu tentang kalender sementara MotoGP 2016 yang dirilis oleh Dorna. Dan dari 1 berita ini ternyata mempunyai banyak cerita di dalamnya. Apa sajakah itu ?

Pertama adalah tentang sirkuit-sirkuit baru yang selama ini diberitakan akan masuk ke kalender serta beberapa sirkuit yang harus angkat kaki di Grand Prix. Sirkuit Red Bull Ring (Spielberg) di Austria secara resmi masuk ke kalender. Perkiraan saya, GP Austria akan sedikit banyak menarik animo  penonton yang berasal dari Jerman karena kedekatan geografis dan budaya dua negara. Sementara itu sirkuit Condegua (GP Chile) tak nampak dalam kalender.

Osterreichring a.k.a Spielberg a.k.a Red Bull Ring (favorit)

Jumlah seri akan tetap 18 Grand Prix (sama dengan musim 2015) hasil dari dihapusnya GP Indianapolis. Slot waktunya persis diisi oleh GP Austria. Itu artinya sirkus MotoGP tidak usah ‘berkelana’ ke benua Amerika hanya untuk satu seri saja (Indianapolis). Sirkuit Spielberg sendiri adalah salah satu favorit saya. Sirkuit ini telah menggelar F1 lagi sejak dibeli oleh Red Bull. Treknya sangat indah, berada di pegunungan khas eropa tengah, dan banyak variasi elevasi. Salah satu bagian trek yang menurut saya paling menarik adalah trek lurus ketiga (antara R2/Remus dan R3/Gosser). Karakter trek lurus yang melengkung dan menurun plus jarak dengan pembatas trek yang cukup dekat, mengingatkan saya dengan backstraight sirkuit Salzburgring yang menurut Mick Doohan seperti "threading a motorcycle through the eye of a needle at 180mph whilst banging fairings with your competitors with armco barriers on each side"

Kedua, secara tidak langsung  dihapusnya GP Indianapolis menunjukkan bahwa Amerika Serikat mulai tidak tertarik dengan Grand Prix (atau balap motor secara keseluruhan). Kondisi yang ada saat ini sangat berbeda dengan 10 tahun lalu saat Laguna Seca kembali menggelar GP Amerika Serikat setelah 12 tahun absen. Amerika mulai kehilangan satu per satu Grand Prixnya. Dan pertanyaan apakah sirkuit CoTA (Austin) yang lebih kental dengan F1 akan berakhir sama dengan Shanghai atau Istanbul yang hanya bertahan beberapa musim saja? Ataukah GP AS akan kembali lagi ke Laguna Seca? Semoga saja.

Nicky Hayden, Laguna Seca 2005


Jika kita tarik ke belakang. kembalinya Laguna Seca pada 2005 lalu juga mencuatkan semangat juang pembalap Amerika Serikat hingga Nicky Hayden berhasil menjuarai MotoGP 2006. Pada waktu itu juga ada 5 pembalap dari benua Amerika (dari AS dan negara Amerika Latin) sebagai pembalap MotoGP regular (Hopkins, Roberts, Edwards, Porto, Barros). Jadi wajar jika MotoGP di Amerika mulai bergeliat lagi, apalagi ditambah munculnya the Elbows (Ben Spies) di pentas dunia. Buktinya adalah muncul GP Indianapolis (2008) yang disusul GP Americas (2013) dan GP Argentina (2014).

Tapi yang terjadi sekarang berbeda. Regenerasi pembalap dari benua Amerika (pada umumnya) kurang mulus. Praktis hanya Nicky Hayden dan Yonny Hernandez yang bertarung di kelas utama MotoGP. Josh Herrin yang musim lalu mencoba peruntungan di Moto2, musim ini kembali ke MotoAmerica karena gagal bersaing (karena cedera dan tim permasalahan internal tim Caterham).

Kompetisi dalam negeri Amerika Serikat (MotoAmerica) juga tengah mengalami krisis. Animo pembalap dan penonton yang semakin menurun (terutama di kelas Superbike) adalah salah satu masalah utama. Pengelola balapan juga dikritik karena tidak bisa menyajikan tontonan balap berkualitas yang ramah kepada penonton, jika dibandingkan dengan kompetisi superbike terbaik di dunia; British Superbike.

Hanya ada satu balap Grand Prix di Amerika Serikat adalah rekor terendah sejak 2008. Bahkan jika dibandingkan dengan dua musim lalu, jumlah balap internasional di Amerika Serikat menurun drastis. Dari 3 GP dan 1 Superbike pada 2013, menjadi hanya 1 GP dan 1 Superbike pada musim 2016.

Turunnya animo balap seperti di atas dan berimbas kepada jumlah pembalap yang beradu di pentas dunia sebenarnya pernah dialami Jepang pasca meninggalnya Daijiro Kato. Disusul dengan hilangnya sirkuit Suzuka dan meninggalnya Norick Abe plus Shoya Tomizawa. Kini Jepang hanya diwakili Takaaki Nakagami (23 th) di kelas Moto2. Pembalap lain yang dinilai lebih berpengalaman seperti Ryuichi Kyonari (BSB), Katsuyuki Nakasuga (MFJ-JSB1000) dan Yuki Takahashi (Asia) dirasa sudah cukup ‘tua’.
Takumi Takahashi, Motegi 2014

Harapan saya sih Takumi Takahashi (26 th, Honda) memulai debut di pentas dunia, hehe

. Salam speed (rz)

Opini; Sirkuit Yang Seharusnya Masih Menggelar MotoGP

Jujur saja, saya masih kurang puas dengan kalender MotoGP sekarang ini. Banyak sirkuit baru yang menggantikan sirkuit-sirkuit lama, tapi justru menurut saya kurang cocok untuk MotoGP. Kelima sirkuit yang seharusnya masih menggelar GP itu adalah:

Suzuka

Suzuka

Seharusnya MotoGP masih bertahan di sirkuit Suzuka dan mungkin Motegi tetap menggelar GP dengan title Pacific Grand Prix atau bahkan Asian Grand Prix (seperti di F1 ada European Grand Prix). Kenapa dua GP? Wajar saja sih, pabrikan Jepang kan dominan di MotoGP.

Oke, sirkuit Suzuka memang lebih disukai fans. Layoutnya teknikal, cepat, dan menantang. Selain itu akses fans di sirkuit ini lebih baik dibanding Motegi. Tapi masalahnya sirkuit Suzuka dinilai masih kurang aman untuk balap sekelas MotoGP. Mungkin lisensi sirkuit Suzuka FIM Grade B (maksimal hanya boleh menggelar balap Superbike).

Tapi jika ada sedikit keinginan untuk mempertahankan MotoGP dengan cara merenovasi sirkuit demi meningkatkan sisi keselamatan, Suzuka pasti bisa. Menurut analisis saya, masalah utama cuma pada R1, Spoon Curve dan 130R. R1 dan Spoon Curve cukup didesain ulang (diperpendek) untuk menyediakan extra run-off area. Kemudian untuk 130R, imajinasi saya sih sangat memungkinkan untuk dibuat chicane baru di sisi dalam 130R. Fungsinya untuk mengurangi kecepatan di exit 130R hingga Casino Triangle.

Dan pada akhirnya, semua itu tergantung keputusan Honda. Mengingat dua sirkuit di Jepang yang menggelar Grand Prix (F1 dan MotoGP), semuanya milik Honda.

Donington Park

Donington Park

Keputusan memindahkan venue British Grand Prix dari Donington Park ke Silverstone adalah salah satu keputusan yang paling saya sesalkan. Selama beberapa tahun mindset saya telah terbentuk bahwa; Silverstone itu untuk F1, dan Donington Park itu untuk MotoGP. Begitu pula saat rencana MotoGP Inggris akan diadakan di Circuit of Wales; saya masih pesimistis dengan CoW itu.

Trek Donington Park lebih cocok untuk MotoGP. Dilihat dari panjang trek yang cuma 4 km.Otomatis balap disana lebih banyak lapnya, lebih banyak tikungan, dan lebih banyak kesempatan overtake. Ditambah lagi sirkuit Donington Park lebih menantang karena variasi elevasi trek.

British Grand Prix seringkali digelar dalam kondisi wet race, termasuk di Silverstone. Tetapi drama yang tersaji di Donington Park jauh lebih mendebarkan dibanding di Silverstone 2015 kemarin. Tentu pecinta MotoGP masih ingat bagaimana Ralf Waldmann mampu menjuarai GP250 setelah tertinggal puluhan detik dari Olivier Jacque (P1) hingga 3 lap terakhir. Atau drama 12 pembalap yang berhasil finish di MotoGP 2005; waktu itu Valentino Rossi benar-benar mengukuhkan dirinya sebagai the Rain Master.

Laguna Seca

Laguna Seca

Jika disuruh memilih Laguna Seca, Austin, atau Indianapolis; tentu saya memilih Laguna Seca. Sirkuit ini cepat, roller-coaster, dan terbukti mampu menyajikan battle menarik. Contohnya saja MotoGP 2008 (Stoner vs Rossi) dan MotoGP 2013 (Marquez vs Rossi). Dan dari itu semua, daya tarik utama adalah chicane Corkscrew.

Tapi sayang, kejadian terakhir di sirkuit ini saat duo pembalap Spanyol tewas di race superbike MotoAmerica 2015 menimbulkan kekhawatiran tentang sisi keselamatan sirkuit Laguna Seca. Memang sih kejadian itu lebih kepada race accident. Tetapi kalau dilihat dari foto satelit, jarak dinding pembatas trek memang cukup dekat dengan sisi lintasan. Hmmm…

Estoril

Estoril

Estoril atau Grand Prix Portugal hanya menggelar balapan sebanyak 13 kali dari tahun 2000-2012. Jujur saya belum tahu kenapa GP tidak kembali lagi ke sirkuit ini. Memang kalau dilihat dari animo balap motor Portugal memang masih kurang, dibandingkan dengan negara tetangga ; Spanyol. Hanya Miguel Oliveira saja yang mampu kompetitif dan mewakili Portugal di MotoGP.

Terlepas dari itu semua, race MotoGP Estoril 2006 adalah bukti nyata bagaimana sirkuit ini mampu menghasilkan battle yang menarik. Layout sirkuit ini mirip dengan sirkuit Catalunya, tempat battle paling menarik selanjutnya, Rossi vs Lorenzo, terjadi 3 tahun setelah race 2006 tadi. Jadi sudah sangat jelas jika dua sirkuit dengan layout ala hewan kepiting ini sebenarnya ‘saudara jauh’, sama-sama mampu menghasilkan battle berkelas, hehe.

Phakisa

Phakisa

Kalau melihat Grand Prix sebagai kejuaraan dunia; sudah pasti mereka harus singgah di benua Afrika. Dan salah satu venue paling memungkinkan untuk menggelar GP adalah Phakisa Freeway (Welkom). Sirkuit ini terakhir kali menggelar GP pada musim 2004. Karakter sirkuit yang pendek-pendek dan mengalir (mirip dengan Assen) adalah jaminan race bakalan menarik.

Dan menurut saya jika Phakisa ingin kembali menggelar GP (atau Superbike seperti tahun 2014 yang kemudian gagal); sirkuit ini harus berbenah memperbaiki akses atau infratruktur penunjang guna meningkatkan animo penonton lokal dan global. Terlihat dari foto satelit ini, sirkuit Phakisa seperti in the middle of nowhere dengan tribun penonton yang minimalis (hampir sama dengan gurun Losail)


Kalender MotoGP Ideal (20 balapan)
  1. Losail
  2. Suzuka
  3. Sentul*
  4. Rio Hondo
  5. Laguna Seca
  6. Jerez
  7. Le Mans
  8. Mugello
  9. Catalunya
  10. Assen
  11. Sachsenring
  12. Phakisa
  13. Brno
  14. Spielberg
  15. Misano
  16. Donington Park
  17. Motegi
  18. Phillip Island
  19. Sepang
  20. Valencia

(rz)

Klasik! Valentino Rossi Jatuh Saat Battle di GP250 Johor, Malaysia 1998

Tidak ada salahnya sembari mendukung Valentino Rossi menjuarai gelar Grand Prix ke-10'nya kita lihat kembali aksi Vale junior saat masih bertarung di kelas GP250 ini.

Valentino Rossi yang terkenal jago overtaking dan setiap manuvernya selalu mulus (tidak membahayakan siapapun) justru pernah sial saat disalip oleh lawannya.

Musim 1998 adalah musim debutnya di kelas GP250. Vale memulai musim dengan buruk saat ia DNF di balapan pembuka di Suzuka, Jepang. Beruntung ia bisa bangkit di seri kedua di Johor, Malaysia.

Tapi sayang, setelah ia berhasil memimpin lomba di lap ke-26, ia harus mendapatkan perlawanan sengit dari veteran GP250 di lap ke-28 (lap terakhir); Tetsuya Harada. Manuver Harada-san di tikungan terakhir itu justru direspon dengan sangat buruk oleh Valentino Rossi. Ia highside saat keluar tikungan dan berakhir DNF untuk keduakalinya di awal musim.

Tanpa banyak basa-basi lagi, lihat saja aksi seru video ini. Terimakasih untuk channel whitewhiteaj. Oiya, di channel itu masih banyak video balapan lainnya. Termasuk battle menarik di lap terakhir yang berujung crash. Selamat menyaksikan! (rz)


Favorit: Budaya Motorsport Jepang

Jika disuruh menyebutkan 2 negara dengan budaya motorsport terbaik, tanpa ragu saya akan menjawab Jepang dan Amerika Serikat-lah 2 negara itu. Memang saya sengaja mengesampingkan negara-negara lain seperti Inggris, Perancis, Italia, Jerman, dan Australia. Kenapa Jepang? Karena disana sangat komplit! Simpel dan efisien.

Dari segi infratruktur balap, Jepang mempunyai Suzuka, Motegi, Fuji, Sugo, Okayama, Autopolis, dan Tokachi. Satu sirkuit kini telah menjadi properti private dari Mazda, yaitu sirkuit Mine. Hampir semua ajang balap mayor di dunia pernah digelar di negara ini. Mulai dari NASCAR hingga World Superbike.

Salah satu hal yang menjadi favorit saya adalah generasi emas pembalap Jepang di GP dan Superbike pada era 90'an hingga awal 2001. Waktu itu hampir di setiap GP Jepang di sirkuit Suzuka atau Motegi, juga Superbike di Sugo; pembalap asal Jepang selalu mendominasi race, baik itu pembalap reguler ataupun wildcard. Beberapa diantaranya bahkan mampu memenangi titel juara dunia, seperti Tetsuya Harada, Daijiro Kato, dan Haruchika Aoki.

Selidik punya selidik, ternyata generasi emas itu muncul karena iklim kompetisi dalam negeri yang cukup baik. Selain itu rata-rata pembalap di generasi emas itu lahir pada tahun 1965-1975 (plus minus 2 tahun), sehingga usia saat mereka berlaga di kejuaraan nasional awal 90'an sekitar dibawah 25'an tahun.

Golden era tersebut lahir juga karena infrastruktur balap yang memadai. Terhitung 4 sirkuit internasional hadir di era 90'an, Sugo, Autopolis, Okayama, dan Motegi (serta beberapa sirkuit level klub lainnya). Tentu saja sinergi iklim kompetisi yang baik, dukungan manufaktur dari The Big 4 serta infrastruktur balap yang baik adalah kunci kesuksesan generasi 90'an ini. Salah satu bukti nyata adalah kesuksesan pembalap Jepang, baik reguler ataupun wildcard, saat balapan GP singgah di sirkuit mereka. Untuk predikat local hero, favorit saya adalah Norick Abe dan Daijiro Kato.

Ngomongin soal The Big 4 alias Honda, Yamaha, Kawasaki, dan Suzuki; kiprah keempatnya sudah tidak diragukan lagi di Grand Prix. Mungkin cuma Kawasaki yang belum menunjukkan tajinya.

Tetapi di kancah World Superbike, The Big 4 sudah cukup mendominasi. Terhitung sejak 2005, keempat pabrikan tersebut berhasil mengantarkan pembalapnya memenangi title juara dunia World Superbike. Dan uniknya, keempat pembalap juara dan satu kemungkinannya adalah pembalap yang berasal dari negara berbahasa nasional Inggris.

  1. 2005 Suzuki - Troy Corser AUS
  2. 2007 Honda - James Toseland GBR
  3. 2009 Yamaha - Ben Spies USA
  4. 2013 Kawasaki - Tom Sykes GBR
  5. 2015 Kawasaki - Jonathan Rea GBR (kemungkinan besar)

Jangan lupakan juga di Motocross (MXGP atau AMA/Amerika Serikat). Yang terbaru adalah Romain Febvre menjuarai MXGP 2015 bersama Yamaha YZF450!


********************

Jepang adalah sedikit negara yang mampu menggelar kejuaraan nasional balap mobil single seater yang levelnya diatas Formula 3. Super Formula atau dulu dikenal dengan nama Formula Nippon adalah balap mobil single seater kasta kedua yang menjadi destinasi pembalap yang ingin atau yang tersingkir dari arena GP dunia. Kazuki Nakajima, Vitantonio Liuzzi, dan Narain Karthikeyan adalah beberapa contohnya.

Toyota dan Honda bersaing menciptakan mesin yang mumpuni untuk ajang balap ini. Sementara itu Dallara didaulat menjadi penyuplai sasis (Dallara adalah penyuplai sasis untuk balap GP2 dan Indycar). Pembalap-pembalap Jepang dan internasional saling bertarung di kejuaraan ini. Uniknya, sebagian besar dari mereka juga turun di balap Super GT Japan (Grand Touring) karena sistem sharing driver yang digunakan.

Ngomongin soal Super GT, balap ini adalah salah satu balapan GT di dunia dimana semua mobil yang berlaga di kelas utama adalah mobil lokal (satu lainnya adalah balap DTM Jerman). Honda, Lexus (Toyota) dan Nissan adalah pemain utama di Super GT kelas GT500 (kelas utama). Tiap-tiap pabrikan diwakili oleh beberapa tim dan masing-masing tim hanya mengutus satu mobil saja.

Ini adalah salah satu favorit saya karena tiap-tiap mobil dinamai dengan nama sponsor mereka. Misalnya Keihin NSX, Motul GTR, atau Petronas RCF. Di negara lain, misalnya di NASCAR, tiap-tiap mobil dinamai berdasarkan nomornya, misal #43 atau #7.


********************

Well, beberapa hal patut kita contoh dari kesuksesan Jepang di dunia balap motor; terutama munculnya generasi emas 90'an yang sangat mengerikan tadi. Juga kemampuan Jepang menghidupi kejuaraan nasionalnya dengan balap-balap mobil berkelas dari manufaktur ternama di dunia. Sepertinya hanya ada beberapa negara yang mampu seperti mereka.

Spanyol yang mendominasi GP akhir-akhir ini pun saya rasa masih butuh banyak waktu untuk menyamai prestasi Jepang mendominasi motorsport dalam dan luar negeri. Salut (rz)

Analisis (Lanjutan); Betapa Bahayanya Tikungan Tajam & Lambat!

Menyambung tulisan kemarin tentang bahayanya T12 (tikungan terakhir) sirkuit Buriram; saya baru sadar beberapa sirkuit di dunia telah memodifikasi sirkuit dengan menghilangkan tikungan-tikungan tajam yang super lambat demi meningkatkan keselamatan, khususnya untuk balap superbike.

Salah satunya adalah sirkuit Monza dengan chicane pertama yang cukup lambat dan rawan kecelakaan. Apalagi diawali dengan main straight yang cukup panjang, lap pertama tikungan pertama menjadi sangat beresiko. Oleh karena itu khusus untuk balap Superbike sirkuit ini menyediakan variasi chicane yang bisa dilibas lebih cepat.

Chicane lambat (kiri) digunakan untuk balap mobil, sementara chicane
yang lebih cepat (kanan) digunakan untuk balap motor

Penampakan chicane baru untuk balap motor (SBK Monza 2013)
Ada juga T8 atau tikungan pertama setelah back straight sirkuit Assen yang juga dimodifikasi ulang untuk balap motor sehingga rider bisa lebih cepat masuk dan keluar tikungan. Dan salah satu tikungan lambat paling berkesan menurut saya adalah tikungan terakhir sirkuit Laguna Seca. Semua pasti masih ingat bagaimana teknik late braking Valentino Rossi pada 2008 mampu membuat Casey Stoner kelabakan dan akhirnya terjatuh. Atau pada MotoGP 2005 saat Marco Melandri dan Alex Barros kecelakaan di lap pertama.

Jadi menurut saya sih, tikungan lambat seperti di sirkuit Buriram memang gak cocok untuk balap motor. Kayaknya harus dirubah menjadi lebih rounded supaya bisa dilibas dengan kecepatan motor yang lebih ideal.

Analisis; Kenapa Tikungan Terakhir Buriram International Circuit Rawan Kecelakaan?

Hal inilah yang (menurut saya) paling sering dibahas host tayangan balap ARRC 2015 seri Thailand di iNewsTV akhir pekan kemarin. Kenapa sering banget terjadi kecelakaan di tikungan terakhir (T12) sirkuit Buriram?

Well, karena saya adalah analisis motorsport amatir; saya pengen berpendapat sedikit mengenai hal tersebut sesuai dengan keamatiran saya :D



Buriram T12 "The Slowest Corner"

Seperti yang kita tahu, layout trek Buriram itu cukup simple sebenernya. Trek model huruf U dengan satu sisi lebih panjang dibanding sisi lainnya yang lebih berkelok-kelok. Secara umum model trek seperti ini mirip dengan sirkuit Queensland Raceway di Australia, simpel.



U-Style, Queensland Raceway

Satu-satunya catatan tentang tikungan terakhir ini adalah, T12 adalah tikungan paling lambat dari seluruh tikungan di trek Buriram (juga cenderung datar!). Dan kalau kita melihat sirkuit-sirkuit di dunia yang sering menggelar balap MotoGP, Superbike atau Formula 1; tikungan terakhir yang cenderung tajam dan lambat memang rawan banget kecelakaan. Apalagi kalau race berjalan ketat dan para pembalap berduel sengit sampai tikungan terakhir.

Contohnya tikungan terakhir sirkuit Jerez dan Valencia. Battle Lorenzo-Marquez atau Rossi-Gibernau adalah bukti nyata. Lalu tikungan terakhir sirkuit Valencia, buat yang masih inget; battle  for 1st place antara Carlos Checa dan Max Neukirchner di race pertama World Superbike 2008 memakan korban saat keduanya bersenggolan dan terjatuh. Beruntung Checa masih bisa lanjut ke garis finish di posisi 5 tapi sayang Max justru retired.

Atau battle di Formula 1 Spa-Francorchamps 2008 antara Kimi Raikkonen dan Lewis Hamilton menuju chicane terakhir. Keduanya bersenggolan dan memaksa Raikkonen retired. Hamilton yang selamat dan podium 1 harus rela terkena penalti karena dianggap bersalah atas kejadian tersebut dan gelar juaranya pun dicabut.

Jadi kesimpulannya, tikungan terakhir yang tajam dan cenderung lambat (apalagi datar) memang sangat rawan kecelakaan, apalagi jika race berlangsung ketat dan tikungan terakhir adalah 'kesempatan terakhir untuk menang' (apalagi kalau race-nya macam kelas Underbone/AP250 yang selalu ketat dan tikungan terakhir menjadi segala-galanya -_-). (rz)

Sirkuit Motocross Assen, Gaya Baru Sirkuit Motocross Modern?

Akhir pekan lalu saya ‘dikejutkan’ oleh seri ke-16 MXGP yang berlangsung di sirkuit legendaries, TT Assen.  Sebenarnya pemilihan venue sirkuit Assen untuk gelaran MXGP of The Netherlands ini sudah diketahui sejak awal musim, tapi detail layout atau bentuk sirkuit motocrossnya baru saya ketahui kemarin (maklum sudah jarang update berita MXGP, kecuali bagian Ryan Villopoto atau Romain Febvre).

Kembali ke topik awal, beberapa tahun yang lalu memang sudah sering sirkuit-sirkuit aspal terkenal yang menjadi venue kejuaraan motocross. Misalnya sirkuit Donington Park dan Franciacorta yang menggelar kejuaraan MXoN 2008 dan 2009. Tapi waktu itu sirkuit motocross dibangun di lahan kosong di bagian dalam atau sekitar sirkuit. Tapi untuk sirkuit TT Assen ini tidak!


Sirkuit non-permanen ini 80% dibangun diatas lintasan aspal yang sudah ada (menimbun lintasan aspal dengan tanah dan pasir). Area start diposisikan di chicane terakhir sebelum trek lurus sirkuit Assen. Trek tanah dan pasir, khas MXGP di area Benelux, kemudian menjalar hingga depan tribun utama sirkuit (area kosong sebelah main straight) kemudian ke pit lane (!) dan berakhir di tempat parkir sirkuit sebelum kemudian kembali ke garis finish di sebelah area start.


Area start trek MXGP Assen 2015
Layout trek MXGP Assen 2015 (sebelum revisi)
Gambar layout trek di atas adalah versi awal sebelum sektor di depan tribun utama dipanjangkan hingga melintasi mayoritas main straight dan pit lane sirkuit Assen.

Layout yang ‘tidak biasa’ ini sebenarnya pernah dilakukan sirkuit Lausitzring untuk menggelar MXGP of Germany pada 2013. Lausitzring adalah sirkuit tri-oval khas balap Amerika Serikat yang pernah menggelar kejuaraan World Superbike dan A1GP di "Infield Track"-nya.

Pada waktu itu sebagian besar trek diposisikan di run-off area tikungan pertama "Infield Track". Trek tersebut kemudian menjalar hingga sebagian braking area di ujung main straight sirkuit. Tapi sayangnya sirkuit motocross non-permanen ini hanya digunakan sekali saja dan tidak berlanjut untuk tahun-tahun setelahnya. Wajar sih, soalnya waktu itu sirkuit Lausitzring hanya sebagai ‘pengganti’ karena sirkuit utama MXGP of Germany, Teutschental, akan digunakan untuk venue MXoN 2013.

Trek MXGP Lausitzring 2013

Tapi ternyata respon fans untuk sirkuit non-permanen seperti ini justru cenderung negatif. Karakternya lebih mirip sirkuit supercross dan menghilangkan sisi 'alami' yang sangat kental di sirkuit motocross pada umumnya. Jadi wajar jika sirkuit ini tidak terlalu awet dan hanya sekali digunakan Lausitzring.

Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa sirkuit seperti ini muncul lagi dan kali ini justu ada di sirkuit legendaris, TT Assen? Padahal masih banyak sirkuit-sirkuit motocross berkualitas di Belanda.

Dan akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan (analisis pribadi). Sirkuit non-permanen seperti ini ingin memanfaatkan tribun penonton yang sudah ada sebagai salah satu keunggulan untuk menarik perhatian penonton lebih baik lagi. (rz)